Bab 3 - Mara Bebaya

Mara Bebaya 1 – Wong Awulung Mendengar Bisikan Perempuan Tanpa Wujud

Fajar datang menggantikan malam yang tahu diri untuk pergi. Kehadirannya hanya ditandai dengan perubahan warna langit yang perlahan memudar dari kelam menuju terang kebiruan. Udara masih dingin dan basah oleh sisa malam, sementara halaman belakang kediaman yang ditempati Dyah Murti masih tampak lengang.

Namun demikian, di balik keheningan itu, langkah-langkah yang berayun tenang mengarah ke kandang kuda dengan penuh kehati-hatian.

Wong Awulung dan Gita Nervati akan memulai perjalanan yang diawali oleh perintah tak biasa yang keluar dari bibir Dyah Murti.

Pagi itu menjadi awal dari perjalanan yang sarat ketidakpastian.

Tanpa menarik perhatian, mereka bersiap meninggalkan tempat yang selama ini memberi rasa aman menuju arah yang hanya dipandu oleh bayangan penglihatan yang  belum teruji tapi mampu memberikan bukti.

Wong Awulung dan Gita Nervati pun segera mempersiapkan diri tanpa menarik perhatian siapa pun. Kuda-kuda pilihan dibawa keluar dari kandang pada saat fajar belum sepenuhnya menyingkap kabut tipis yang menggantung di kaki gunung. Tanpa pengiring, tanpa panji, mereka melintasi jalan-jalan kecil yang jarang dilalui, menuju lereng Merbabu sebagaimana yang terbayang dalam penglihatan Sang Hyang Dyah Murti.

Sepanjang hari mereka berkeliling, menyusuri padang-padang rumput yang terbentang luas, menuruni lembah kecil, lalu kembali mendaki jalur berbatu yang licin oleh sisa embun. Matahari bergerak perlahan dari ufuk timur menuju barat, namun tidak satu pun tempat yang benar-benar menyerupai gambaran yang mereka cari. Beberapa kali Gita Nervati menghentikan kudanya, menatap jauh ke cakrawala seakan mencoba mencocokkan setiap lekuk tanah dengan bayangan dalam benaknya.

“Tidak ada yang tepat,” gumamnya lirih.

Wong Awulung mengangguk pelan, meski sorot matanya tetap tajam mengamati sekitar.

“Penglihatan Sang Hyang tidak pernah keliru,” katanya tenang. “Barangkali yang keliru adalah cara kita membacanya.”

 

Menjelang senja, angin dari puncak Merbabu mulai turun membawa hawa dingin. Bayangan pepohonan memanjang, dan suara hutan perlahan menggantikan riuh siang. Mereka berhenti di sebuah dataran sempit yang dikelilingi ilalang tinggi.

Gita Nervati menarik napas panjang. “Kita telah memutari lereng ini hampir seharian. Jika tempat itu ada, seharusnya kita telah menemukannya.”

“Belum tentu,” jawab Wong Awulung. Dia menunduk, berlutut lalu menyentuh tanah dengan ujung jarinya, mencoba merasakan sesuatu yang tak kasatmata. “Ada kemungkinan tempat itu tidak menampakkan dirinya pada siang hari atau mungkin tidak di sekitar Merbabu.”

Gita Nervati menoleh cepat. “Maksud Paman…?”

Wong Awulung berdiri perlahan, menatap ke arah barat yang mulai temaram. “Kita menunggu malam.”

Sesaat, hanya sedikit udara berderak yang memberi tanggapan.

Gita Nervati terdiam sejenak, memandang punggung pegunungan yang mulai larut dalam bayang senja. Kemudian menggeleng pelan, sesuatu sedang dipikirkanseolah menepis kemungkinan yang sejak tadi membelenggu pikirannya.

“Paman,” katanya hati-hati, “bagaimana jika kita keliru sejak awal? Bagaimana jika tempat yang dimaksud Sang Hyang bukan berada di sekitar Merbabu atau Menoreh? Seperti yang Paman katakan tadi, mungkin tidak di sekitar sini.”

Wong Awulung mengangkat wajahnya, menautkan alis kemudian mengucap perlahan. “Lanjutkan.”

“Ada satu wilayah yang terlintas dalam benak saya,” ujar Gita Nervati. “Jauh di utara… pesisir. Daerah Jati Raga.”

“Jati Raga?” ulang Wong Awulung, matanya menyipit.

“Ya. Calon mempelai untuk Sang Hyang, Poh Sangkhara,” lanjut Gita Nervati. “Dia bukan orang yang mudah ditebak. Wilayahnya terbuka, padang-padang luas di dekat pesisir… dan cukup terpencil dari pengawasan langsung Maharaja. Jika ada gerakan yang ingin disembunyikan, tempat seperti itu lebih masuk akal.”

Wong Awulung menatap ke arah gelap yang menutupi puncak Merbabu.

“Padang rumput… tanah lapang…” gumamnya pelan. “Bisa jadi bukan di sini. Dan bisa ada di semua wilayah.”

Gita Nervati menambahkan, “Dan jika kita terus mencari di tempat yang salah, kita hanya membuang waktu. Sementara yang dimaksud Sang Hyangmungkin sudah selangkah lebih maju.”

Hening sesaat menyelimuti mereka, sebelum akhirnya Wong Awulung mengangguk mantap.

“Baik,” katanya. “Kita ke sana.”

 

Malam itu juga, tanpa kembali ke pusat, mereka memutar perjalanan. Jalur menurun mereka tempuh dengan hati-hati, melewati hutan-hutan gelap yang hanya diterangi cahaya bulan yang samar. Kuda-kuda mereka bergerak cepat tapi terjaga. Dua hewan ini seakan mempunyai penglihatan yang tidak biasa—seolah ada yang menunjukkan keadaan sehingga tidak terjerembab, menabrak akar besar yang melintang, bahkan seolah tahu ada tikungan tajam di depan.

Hari-hari berikutnya mereka habiskan dalam perjalanan panjang menuju utara. Lereng-lereng hijau perlahan berganti dengan dataran yang lebih landai. Udara menjadi lebih hangat, dan aroma daun basah samar tercium di antara hembusan angin.

Semakin mendekati Jati Raga, suasana berubah. Rumah-rumah menjadi lebih jarang. Pategalan tidak banyak ditanami pohon pisang tapi pohon yang tidak berbuah.

Gita Nervati memperlambat kudanya ketika mereka mencapai sebuah tanjakan rendah yang menghadap ke hamparan luas di kejauhan. Dia menyipitkan mata. “Itukah?” katanya pelan.

Di hadapan mereka terbentang padang yang luas, terbuka, seakan tidak berujung, dengan latar samar garis datar bagian bawah perbukitan di kejauhan.

Wong Awulung menatap lama, lalu berkata lirih, “Tempat seperti ini… lebih menyerupai yang dimaksud.”

Namun sorot matanya tidak sepenuhnya lega. Pengerahan kekuatan untuk menajamkan penglihatan pun dilakukan.

“Tersembunyi dan tampak seperti gundukan tanah hitam yang tidak beraturan,” lanjutnya, “berbahaya. Mereka bersiap dengan berbagai senjata.”

Benar, itu bukan gundukan tanah. Itu adalah ratusan tenda penyamaran yang terbuat dari kain kasar berlapis daun dan lumpur kering. Sebuah perkemahan prajurit yang rapi dan tertata. Ada perencanaan yang cukup matang di balik yang terlihat oleh Wong Awulung dan Gita Nervati.

Dari samping batu besar, Wong Awulung yang sudah turun dari kuda mengamati sebuah panji hitam berekor tumpul yang berkibar samar ditiup angin gunung. Di atas kain panji itu, samar-samar terlihat lambang dari sebuah kekuatan yang membuat pikiran Wong Awulung bekerja lebih keras.

“Angkatan bersenjata Jati Raga,” desis Wong Awulung. “Mereka tidak seharusnya berada di wilayah ini. Jarak tempat ini dengan Kotaraja, meski masih cukup jauh, tapi mereka hadir tanpa pemberitahuan. Kita dapat katakan jarak ini terlalu dekat untuk sebuah pasukan tak dikenal yang bersiap membuka pertempuran.”

Gita Nervati merasakan kebenaran muncul perlahan lalu berusaha menampilkan bentuk.  Penglihatan Dyah Murti yang semula dianggap bualan kini menjelma menjadi ancaman nyata yang mengerikan. Pasukan Jati Raga sedang bersembunyi di sana, bergerak seperti hantu di bawah hidung Rakai Panangkaran, menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

“Kita sudah melihat apa yang perlu dilihat, Paman. Perintah Sang Hyang adalah melakukan pemeriksaan demi memastikan kebenaran penglihatan,” kata Gita Nervati dengan berbisik.

Wong Awulung mengangguk tanpa kata-kata. Seandainya itu benar adalah kekuatan bersenjata Jati raga, lalu apa alasan mereka berkumpul di sana? Memang hamparan di kaki gunung itu masih termasuk wilayah Jati Raga tapi Poh Sangkhara adalah bawahan Rakai Panangkaran, pikir Wong Awulung.

Namun demikian, senapati Medang yang disegani itu memutuskan untuk kembali ke ibukota. Dalam bayangannya, laporan pada Dyah Murti dapat dilakukan oleh Gita Nervati. Dan dia akan menunggu segala sesuau menjadi lebih jelas.

“Tidak dapat begitu saja Paman lepaskan,” terdengar suara perempuan berbisik sangat dekat di telinga wong Awulung.

Wong Awulung tersentak kecil. Bukan karena takut, tetapi karena suara itu datang begitu dekat, seolah bibir yang berbisik menempel di telinganya. Dia menunduk, memusatkan perhatian dengan sebuah pertanyaan, apakah dia mengenali perempuan itu?

“Tidak dapat begitu saja Paman lepaskan.”

Suara perempuan itu terdengar lagi. Lembut, tetapi mengandung tekanan yang sukar dibantah.

Suara jangkrik dan tonggeret terdengar tumpang-tindih, berusaha saling mengalahkan dan menjadi yang lebih kencang.

Kemudian suara itu hadir lagi. “Bertahanlah di tempat pengamatan ini. Jangan bergerak sebelum aku mengatakan sesuatu.”

Wong Awulung menahan napas. Tatapannya kembali mengarah pada hamparan tanah lapang di bawah lereng. Cahaya api unggun tampak kecil dari kejauhan, tetapi cukup untuk memperlihatkan bayang-bayang orang bergerak perlahan.

“Apakah mereka hendak memberontak?” tanyanya lagi.

Di sampingnya, Gita Nervati menoleh tiba-tiba.

“Paman…” bisiknya pelan. “Apakah Paman bertanya pada saya?”

Wong Awulung memandang ke arahnya. “Kau mendengar sesuatu?”

Gita Nervati menggeleng perlahan dengan wajah sedikit tegang. “Tidak. Hanya saja, saya merada seseorang juga berada di tempat ini.”

Angin dingin melintas di sela pepohonan. Sesaat kemudian Gita memejamkan mata rapat-rapat. Ada helaian rambut panjang menyapu pipinya. Lembut. Basah oleh embun malam. Namun rambutnya sendiri terikat kuat di belakang kepala. Waktu yang sama, bau tubuh manusia—harum dan desah napas jelas mencapai indra Gita Nervati.

“Sang Hyang,” ucapnya lirih.

Dahi Wong Awulung mengerut lalu mengangguk. Jika dia mendengar suara, Gita Nervati merasakan kehadiran putri Rakai Panangkaran di tempat itu.

Sunyi.

Wong Awulung membatin, bagaimana mungkin seorang gadis yang dikunci di bilik tanpa cahaya bisa melihat gerakan pasukan yang terkubur di balik keheningan Pegunungan Kendeng di bumi tengah?

Malam itu, mereka melewatkan waktu tanpa dapat memejamkan mata. Di antara gundukan hitam itu kadang tampak bayangan orang bergerak. Mungkin sedang meronda atau keperluan yang lain, tapi Gita Nervati dan Wong Awulung tetap meningkatkan kesiagaan.

Kesiagaan yang juga didampingi pertanyaan besar, apakah akan ada darah yang tumpah di Kotaraja? Jika tidak esok, pekan depan atau bulan depan?

 

 

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.