Dapat dianggap bahwa Wong Awulung dan Gita Nervati bermalam dengan selimut gelap. Api unggun itu sebenarnya tidak cukup hangat untuk menghadang udara dingin dan tak pula layah sebagai penerangan. Tapi mereka membutuhkan api hanya sekadar nyala saja, tak lebih.
Tiba-tiba muncul seekor harimau putih keluar dari gelap hutan, memotong semak-semak di pinggir tanah lapang tanpa suara. Tubuhnya besar dan panjang, bulunya pucat keperakan terkena cahaya api. Langkahnya tenang. Binatang itu tidak menunjukkan sikap sedang mengancam atau terancam. Kepalanya justru bergerak perlahan ke kanan dan kiri seakan sedang meneliti keadaan di sekitar perkemahan.
Wong Awulung yang sejak tadi duduk bersila langsung membuka kuda-kuda. Begitu pun Gita Nervati yang mengetahui kehadiran makhluk itu.
Mereka nyaris serentak bangkit berdiri, bersiaga lalu menyebar, mengambil jarak kanan dan kiri. Sikap tubuh dua orang kepercayaan Dyah Murti langsung berubah siaga.
Harimau putih itu tetap tenang, berjalan mendekati api unggun. Lalu, tanpa suara geraman sedikit pun, binatang itu merebahkan tubuh di dekat dua orang tersebut. Matanya yang tajam justru memandang ke arah rimba gelap di belakang perkemahan, seolah ikut mengawasi setiap gerak yang tersembunyi di dalam malam.
Sikap itu malah membuat suasana terasa semakin ganjil.
Wong Awulung menyipitkan mata. “Bukan binatang ini biasa…” gumamnya lirih tanpa menurunkan kewaspadaan.
Gita Nervati melirik cepat.
Baru saja Wong Awulung hendak menggeser langkah, tiba-tiba terdengar suara perempuan yang lembut dan tenang dari sekitar mereka, tanpa arah yang jelas karena pelan tapi menggema.
“Jangan…”
Ucapan itu begitu jelas, tapi siapa yang berbicara?
“Itu kawan kalian.”
Mendadak seluruh gerakan Wong Awulung tertahan. Dia seperti mengenal suara itu. Suara yang sama saat melarang mereka pergi dari tempat pengintaian. Gita Nervati bahkan lebih dulu bersikap tenang ketika sadar bahwa Dyah Murti hadir di dekat mereka.
Sedangkan harimau putih itu masih tetap berbaring tenang, ekornya bergerak perlahan menyapu tanah, seolah benar-benar memahami setiap kata yang baru saja terdengar.
Hening merayap panjang setelah suara perempuan tanpa wujud itu lenyap ditelan malam.
Tidak ada seorang pun yang segera berbicara.
Api unggun tinggal menyisakan bara merah redup. Kadang terdengar bunyi kayu patah kecil disambar panas yang hampir mati. Cahaya yang tersisa tidak cukup untuk menerangi tanah meski berjarak dua langkah dari sisa nyala.
Seekor burung malam melintas rendah di atas pepohonan.
Kepaknya memecah sunyi sesaat sebelum kembali lenyap ke dalam gelap.
Tonggeret tiba-tiba menjerit nyaring dari arah hutan sebelah timur. Suaranya panjang dan keras seolah memberi tanda datangnya sesuatu yang tidak wajar.
Harimau putih tadi mendadak bangkit. Tubuhnya mrendah seolah akan menerkam mangsa. Sepasang matanya menatap lurus ke arah depan perkemahan.
Pada saat berikutnya, hawa dingin menyapu tanah lapang. Menyusup hingga tulang belulang. Daun-daun kering beterbangan tipis.
Wong Awulung merasakan perubahan itu. “Ada yang datang…” desisnya perlahan.
Sikap Gita Nervati bahkan lebih sangar. Dia sudah menggenggam senjatanya berupa pedang tipis dan sepasang kakinya merenggang rendah. melangkah setengah tindak ke depan. Tatapannya tajam searah dengan pandangan harimau putih.
Sejumlah bayangan bergerak sangat cepat. Melayang sangat rendah. Mendadak muncul dari kegelapan dan hanya terpisah jarak kurang enam langkah dari Wong Awulung dan Gia Nervati.
Sekelompok sosok berjubah hitam meluncur deras dan gerakan mereka tidak seperti manusia berjalan. Tubuh-tubuh itu seolah hanya menyentuh bumi setipis daun kering. Mungkin juga memang tidak bersentuhan dengan tanah karena kabut putih tipis berputar seiring dengan kedatangan mereka.
Bukan kabut biasa.
Asap pucat itu bergerak melingkar seperti memiliki kehendak sendiri. Kadang membentuk wajah samar yang ambyar tertiup angin malam lalu menyatu kembali.
Aura yang memancar dari rombongan itu terasa liar dan kejam. Hawa pembunuh!
Mendadak beberapa bara api unggun padam sendiri.
Gita Nervati merasakan telapak tangannya dingin.
“Makhluk apa mereka…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Harimau putih itu tiba-tiba menggeram panjang, menerkam bayangan misterius yang menebar ancaman ketika lengan mereka terangkat tinggi, mengayun pedang berbahan batu granit yang pantulannya mampu menyilaukan mata biasa.
Lompatan harimau itu bukan seperti harimau biasa. Tubuh besar berwarna pucat itu berputar ringan di udara, lalu mendarat miring dengan gerakan kaki yang aneh—terlalu teratur untuk seekor binatang liar seakan ada seorang pendekar berada di dalam tubuhnya.
Dan tepat saat itu—enam bayangan hitam bergerak serentak!
Kabut putih menyembur dari bawah jubah compang-camping mereka. Dalam waktu kurang dari sekedipan mata, enam bayangan menyambar Wong Awulung dan Gita Nervati dari berbagai arah.
“Singkir!” bentak Gita Nervati lalu menerjang maju nyaris bersamaan dengan Wong Awulung.
Tetapi harimau putih lebih cepat. Tubuhnya melesat rendah menyilang di depan mereka.
Dua sosok berjubah langsung menyabetkan senjata panjang berwarna gelap ke arah kepala harimau. Cahaya bulan memantul redup di permukaan granit hitam senjata itu.
Percikan putih meledak di udara.
Harimau itu menepis serangan dengan kibasan kaki depan, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan yang mustahil dilakukan seekor binatang. Punggungnya melenting, kaki belakang menghantam dada salah satu bayangan hitam seperti tendangan seorang ahli silat.
Kabut putih berguncang keras.
Sosok berjubah itu terlempar mundur, namun tubuhnya pecah menjadi asap sebelum kembali menyatu beberapa tombak jauhnya.
Wong Awulung tersentak kecil melihat sepak terjang harimau putih itu. “Itu bukan gerakan harimau…” gumamnya dalam hati.
Belum habis keterkejutannya, tiga bayangan lain meluncur menyerangnya. Wong Awulung segera menyongsong dengan cakram bergerigi tajam bertaburan batu granit di atas lempengnya. dengan pukulan tenaga dalam. Serangannya menghantam tepat tubuh lawan tapi kemudian menabrak udara kosong ketika tubuh berjubah hitam tersebut buyar menjadi kabut tipis.
“Paman!” seru Gita Nervati.
Pengawal kepercayaan putri Rakai Panangkaran ini sibuk menahan dua penyerang lain. Senjatanya beberapa kali menebas cepat, namun selalu mengenai asap hitam dingin yang kepyar, berputar lalu membentuk tubuh kembali.
Mereka seperti bertarung melawan bayangan malam. Tapi anehnya, justru serangan dari bayangan-bayangan itu terasa nyata. Setiap pedang mereka yang terbuat dari batu granit dapat menjadikan kulit terasa perih sekalipun belum bersentuhan. Lebih ganjil lagi, senjata-senjata itu dapat membentur pedang Gita Nervati maupun cakram Wong Awulung dengan bunyi keras seperti baja beradu baja, seperti batu beradu dengan batu.
Rupanya kejanggalan dari lawan mereka itu berlapis-lapis. Ketika bertemu senjata Gita Nervati atau Wong Awulung, pedang mereka seolah berubah menjadi benda padat yang nyata. Ketika serangan mereka dapat menembus pertahanan dua orang itu, senjata mereka seperti tiada saat menggapai tubuh lawan mereka.
Tubuh dari banyak bayangan itu gumpalan asap hitam yang terus berubah bentuk. Tapi pedang-pedang itu bergerak seperti benar-benar digenggam tangan berdaging yang tak kasatmata. Ada tenaga, ada dorongan dan ada gerakan nyata yang terlihat di balik kepulan asap itu.
Aura pembunuh dapat dirasakan oleh Wong Awulung dan juga Gita Nervati.
Sementara di bagian lain, harimau putih terus bergerak liar di tengah kepungan. Kadang menerkam seperti binatang buas, kemudian pada saat berikutnya tubuhnya berputar ringan dengan langkah-langkah pendek yang teratur seperti menyerupai manusia yang sedang bersilat.
Namun, semakin diamati, rupanya harimau putih itu juga menyimpan banyak keganjilan. Gerakannya memang ganjil. Dia dapat tiba-tiba menjungkirbalikkan tubuh ketika melayang—salto— lalu memutar ke samping disertai serangan-serangan yang mematikan.
Kabut putih berputar mengikuti setiap gerakannya.
Dua bayangan hitam meluncur bersamaan dari kanan dan kiri.
Cahaya bulan memantul redup pada bilah pedang granit mereka.
Dua sabetan panjang menembus tubuh harimau putih itu tapi tidak terjadi sesuatu pun pada binatang itu. Tidak ada darah. Tidak ada tubuh terbelah. Pedang-pedang itu seperti hanya melewati lapisan asap dingin.
Harimau putih tetap menggeram keras, melenting mundur sesaat. Di bawah kulitnya muncul garis samar kemerahan, lalu lenyap kembali ditelan kabut putih yang bergerak di sekujur tubuhnya.
Wong Awulung yang melihat kejadian itu langsung menyadari sesuatu. “Serangan mereka tidak dapat melukai tubuh…” desisnya.
Belum selesai ucapannya, satu bayangan hitam telah muncul di depannya. Pedang granit menyambar lurus ke arah dada. Wong Awulung mengelak ke samping tapi geraknya terlambat. Sabetan pedang hitam itu menebas lambungnya.
Namun aneh—tidak ada luka robek. Bilah pedang itu seperti masuk melewati tubuh tanpa menyentuh daging. Tetapi seketika rasa perih yang sangat dingin menjalar di bawah kulitnya.
Seperti ada ribuan duri yang dingin merambat di dalam urat.
Wong Awulung mendengus tertahan lalu mundur dua langkah.
Di sisi lain, Gita Nervati mengalami hal yang sama. Satu sabetan menekan pundaknya. Pakaiannya tidak terkoyak. Namun wajah perempuan itu langsung berubah pucat. Rasa pedih panas dingin menjalar dari bawah kulit hingga ke dada.
“Ini bukan pedang biasa…” katanya lirih sambil menahan napas.
Gita Nervati lagi-lagi melompat mundur sambil memutar pedang, menangkis hujan tusukan yang datang silih berganti. Sabetan demi sabetan masih dapat dielakkan hingga satu sambaran pedang granit melintas tipis di depan wajahnya.
Dorongan angin dari tenaga musuhnya itu meninggalkan rasa dingin yang membuat pipinya terasa perih.
Harimau putih mengaum keras. Suaranya memecah malam seperti gema ledakan. Kabut putih di sekitar tubuhnya bergulung semakin tebal.
Enam bayangan hitam itu cepat menoleh ke sumber suara lalu menghentikan gerakan tapi hanya sekejap. Kemudian menerjang dua orang lawan mereka dalam formasi serangan baru.
Pada waktu yang sangat singkat itu, Wong Awulung sempat menarik napas panjang lalu bergerak memutar. Dia sedang berpikir bahwa seharusnya ada usaha darinya untuk mengambil waktu tapi tidak perlu terburu-buru. Dia sadar jika dirinya dan Gita Nervati membutuhkan jalan untuk keluar dari tekanan. Maka pengamatan tajam pun segera dilakukan oleh panglima yang matang dalam pertempuran ini.
Agar dapat bertahan, maka serangan total tidak perlu dilakukan tapi cukup digunakan untuk mengulur waktu sambil mencari titk kelemahan lawan-lawannya. Wong Awulung lantas memutuskan untuk mengubah siasat demi menemukan celah
Benar. Setiap kali pukulan atau senjata mendekat, tubuh bayangan hitam itu selalu buyar sesaat menjadi kabut tipis. Namun sesudah serangan lewat, bentuk mereka kembali seperti semula.
“Mereka adalah asap dan tetaplah asap,” gumam Wong Awulung lirih. “Setidaknya bukan benda padat.”
Sambil tetap berlari-lari menghindari serangan lawannya yang berupa bayangan, Wong Awulung berpaling ke arah lain. Dia melihat harimau itu sedang menerkam satu sosok berjubah.
Serangan itu sangat ganas dan beruntun sehingga makhluk berupa asap itu tidak sempat kembali ke bentuk semula. Kerapatan serangan itu hanya menyisakan batang pedang saja yang tampak utuh. Lainnya? Berantakan. Asap hitam itu melayang-layang tanpa bentuk.
Namun keadaan itu tidak berlangsung lama ketika bayangan lain menusuk lambung harimau dari samping. Tusukan yang begitu deras dan sangat kuat hingga bayangan itu pun turut menembus tubuh harimau!
Harimau mengaum dashyat hingga menggetarkan udara di atas gelanggang perkelahian.
Wong Awulung menarik napas panjang lalu melontarkan tubuh ke samping, menghindari serangan hebat kemudian melepaskan serangan balik. Wong Awulung tidak lagi memusatkan serangannya pada tubuh lawan, tapi seluruh yang berada di sekitarnya. Maka tangan Wong Awulung berputar-putar ke depan, samping, atas dan bawah. Dia sedang berusaha menciptakan gelombang besar dari udara sekitar.
Benar, asap akan terkikis oleh aliran udara.
Wong Awulung menyerang dengan badai yang mulai terbentuk dari putaran lengannya. Angin pukulannya itu akhirnya sanggup membuat kabut tercerai-berai.
“Ikuti aku!”seru Wong Awulung pada Gita Nervati.
Gadis muda yang sebenarnya memiliki kemampuan tinggi menoleh cepat, mengangguk lalu mulai menjauhi bayangan-bayangan yang terus datang menyerang. Akhirnya dia mengerti maksud dari Wong Awulung.
Senjata Gita Nervati pun berubah alirannya. Pedang itu tidak lagi menusuk cepat ke arah bayangan hitam tapi membentuk garis-garis panjang yang tidak terputus. Kilau pedangnya seolah menjadi selubung cahaya ketika memantulkan sinar yang datang dari bulan purnama.
Kepercayaan diri gadis ini kembali pulih setelah didera kebingungan untuk beberapa lama. Untuk pertama kali, dia cukup berani membenturkan pedangnya dengan senjata lawan.
Sejenak keadaan mulai berubah dengan perkembangan dari siasat tempur dua punggawa Medang Kemulan itu. Mereka memberi pelawanan sengit meski masih belum menemukan cara untuk menghalau sekelompok kecil bayangan berjubah itu.
