Dilihat 334 kali
Sebelum ledakan itu terjadi…
Dua wujud Ki Kebo Surongudan yang turut bertarung di sisi kanan dan kirinya bergerak mendekat sangat cepat. Menyatu kembali menjadi wujud tunggal Ki Kebo Surongudan.
Sesaat setelah itu, tubuh Ki Kebo Surongudan tampak bergetar pendek. Bukan tubuhnya yang bergerak, tetapi seolah ada kekuatan besar yang masuk dan berhimpun di dalam dirinya meski itu sebenarnya darinya juga.
Di bawah pusarnya, pusat tenaga cadangan Ki Kebo Surongudan seperti bergolak. Seluruh kekuatannya yang kembali menyatu itu dipadatkan pada satu titik di dalam tubuhnya.
Bersamaan dengan keanehan itu, tanah di bawah dua kakinya berderak halus. Dalam waktu yang hampir bersamaan, telapak tangannya mendorong cepat ke depan dada.
Dan pada saat itulah—tenaga cadangan yang telah dihimpun penuh di pusat tubuhnya meluncur deras melewati dada, bahu dan kedua lengannya. Mungkin secepat suara orang berteriak yang kemudian terdengar dari jarak lima langkah. Mungkin lebih cepat lagi.
Dengan satu hentakan pendek—dia menghantamkan seluruh kekuatan itu keluar melalui dua telapak tangannya.
Agung Sedayu ternyata juga bergerak dalam waktu yang nyaris tak dapat dibedakan. Dua wujudnya yang sejak awal tidak benar-benar terpisah—seolah hanya melekat tipis di sisi tubuhnya—mendadak kembali menyatu penuh.
Begitu rapat dan begitu cepat hingga mata biasa hampir tidak dapat menangkap perubahan itu. Yang terlihat hanya tubuh Agung Sedayu yang tetap diam.
Namun di dalam dirinya, tenaga cadangan yang semula tersebar pada tiga wujud itu serentak berhimpun. Pusat tenaga di dalam tubuh murid Kyai Gringsing itu mendidih seperti kawah Merapi.
Kurang dari sekejap, gelombang tenaga cadangan Agung Sedayu bergetar begitu kuat hingga ujung kainnya berkibar-kibar.
Satu tangan Agung Sedayu bergerak pendek di depan dada.
Menyambut hantaman Ki Kebo Surongudan begitu terbuka.
Lalu, ledakan hebat pun menggelegar, mengejutkan burung-burung yang sedang berloncatan liar di antara dahan dan ranting. Gelegar yang mampu menghentikan laju Kinasih ketika hendak mengejar dua anak buah Ki Kebo Surongudan.
Jarak sudah tak lagi terkungkung dalam jangkauan satu langkah, dan waktu yang sedikit akhirnya memberi kesempatan bagi Ki Kebo Surongudan untuk menilai lawannya itu. Orang ini sempat menduga lawannya memang dapat melakukan hal serupa.
Baginya, Agung Sedayu terlalu tinggi ilmunya untuk tidak membaca maksud pengerahan tenaga sebesar itu.
Namun yang membuat Ki Kebo Surongudan sedikit meremang adalah kenyataan bahwa Agung Sedayu ternyata sama cepatnya dengan dirinya. Bukan lebih lambat. Bahkan mungkin lebih cepat seandainya senapati Mataram itu yang memulai serangan.
Menurut Ki Kebo Surongudan, sebenarnyalah dia tidak memberi musuhnya itu jarak waktu sama sekali. Dia sadar untuk pengerahan tenaga cadangan sehebat itu membutuhkan perubahan tata aliran tenaga cadangan yang rumit dan sangat berbahaya bila terlambat sepercik saja, tapi Agung Sedayu melakukannya hampir bersamaan.
Waktu di antara mereka mungkin bahkan tidak selebar rambut atau barangkali lebih tipis lagi daripada jeda mata sebelum berkedip penuh.
Dan pada saat itulah—dua tenaga raksasa itu bertabrakan dalam jarak kurang dari selangkah.
Kini mereka terpisah sekitar lima langkah.
Lubang besar masih menganga di antara keduanya. Debu halus belum sepenuhnya turun ke tanah, sementara daun-daun kering masih beterbangan pelan dihembus sisa gelombang tenaga cadangan yang belum benar-benar lenyap.
Mereka saling pandang dengan berbagai penilaian dalam pikiran masing-masing.
Hanya saja, Agung Sedayu sudah merambah ke persiapan berikutnya. Besar kemungkinan lawannya itu akan mengerahkan puncak ilmunya, puncak yang sama dengan Raden Atmandaru maupun Bango Lamatan: Panglimunan.
Ki Kebo Surongudan mulai bergerak, menggeser langkah ke samping. Mulanya pelan lalu meningkat sedikit cepat dan lebih cepat. Dia sengaja memutari Agung Sedayu. Mungkin untuk mempersempit sudut gerak senapati Mataram itu, mungkin juga untuk menghindar dari serangan kilat berupa sinar yang ditembakkan dari mata lawan atau barangkali untuk memancing ketenangan murid Kyai Gringsing tersebut. Entahlah.
Tapi saat itu lingkaran Ki Kebo Surongudan belum mencapai setengah garis lengkung.
‘Dalam pada itu’, Ki Kebo Surongudan sadar bahwa lawannya tidak akan membiarkan ilmu Panglimunan berkembang sempurna. Namun demikian, dia pun waspada atas sinar aneh memancar keluar dari mata Agung Sedayu—ilmu yang pernah didengarnya dari mulut orang-orang persilatan dengan nada antara penasaran dan tidak percaya.
Agung Sedayu tetap berdiri tenang dengan wajah tunduk, tajam memandang ke arah kaki. Di dalam hati, senapati Mataram itu telah mengambil keputusan: tidak akan mengeluarkan ilmu pamungkas dari sepasang matanya.

Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline atau berminat untuk versi cetakan, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Agung Sedayu sadar, pertarungannya hampir tidak mungkin tidak menarik perhatian dunia persilatan. Sedangkan kabar datangnya banyak orang dari berbagai perguruan telah didengarnya dari petugas sandi dan peronda pasukan khusus, Sukra dan para pengawal Menoreh. Bukan tidak mungkin juga saat itu sudah ada banyak mata tersembunyi di sekitar perkemahan—mengintai dari balik pepohonan, dari semak-semak yang rapat. Dan tidak mungkin dia dapat memantau seluruhnya.
Maka Sedayu bertekat tidak membuka seluruh rahasia ilmunya di hadapan terlalu banyak orang.
Terlebih lagi, ilmu itu bukan sekadar ilmu kemenangan. Itu adalah ilmu yang mempunyai batas dan sejauh ini dirinya sangat teguh menjaga rapat-rapat.
Karena itulah Agung Sedayu segera mengalihkan persiapan ilmu yang lain: jalur Ki Waskita.
Perubahan itu tidak tampak dari luar. Namun pendengarannya seperti merambat lebih jauh menembus desir daun dan mengikuti derap angin dari dalam hutan. Bahkan perubahan aliran hawa di sekitar tubuh Ki Kebo Surongudan dapat dirasakan olehnya.
Sementara itu, gerakan melingkar dari Ki Kebo Surongudan semakin cepat, tiga langkah kemudian tubuhnya tampak kabur, selangkah kemudian batas antara tubuh dan bayangannya mulai sulit dibedakan lalu menghilang!
Agung Sedayu masih berdiri tenang. Jika dia bergerak sekarang, maka yang akan dilakukan lawannya masih sulit ditebak meski dia punya perkiraan. Tapi ini adalah perang tanding, siapa dapat berani memastikan ilmu dan siasat masing-masing orang?
Barisan berkuda Menoreh terpaku memandang ke arah Agung Sedayu dan Ki Kebo Surongudan. Tidak banyak suara terdengar. Bahkan ringkik kuda pun seperti mereda sendiri oleh tekanan suasana yang semakin berat.
Ki Lurah Sora Sareh menggenggam tombak pendeknya semakin erat. Tatap matanya tajam menyorot gelanggang utama tanpa berkedip sedikit pun.
Di dekatnya, Sayoga berdiri dengan dada masih turun naik. Pedang kayunya tergenggam erat sementara matanya mulai menangkap perubahan aneh pada tubuh Ki Kebo Surongudan yang semakin kabur.
Sukra memaksa dirinya tetap tegak. Darah masih tampak menetes tipis dari beberapa goresan tapi perhatian anak muda itu sepenuhnya tertuju pada Ki Lurah, Agung Sedayu.
Pandan Wangi perlahan menahan napas.
Sedangkan Kinasih tampak semakin tegang. Gadis itu seperti sedang berusaha menangkap gerakan terkecil di sekitar Ki Kebo Surongudan yang cepat memudar dari pandangan lalu menghilang.
“Panglimunan…” desis seseorang lirih.
Beberapa anak buah Ki Kebo Surongudan yang terikat di dekat batang pohon mulai menunjukkan wajah penuh harapan. Terkekeh pelan.
“Sedayu bakal kalah.”
“Menoreh bakal menangis malam ini.”
Namun sejumlah pengawal dan prajurit berkuda hanya menoleh singkat dengan sorot mata keras dan geram sebelum kembali memusatkan perhatian ke gelanggang utama. Tidak ada yang menanggapi ucapan mereka dengan seloroh.
Karena mereka sendiri tahu—sesuatu yang sangat besar segera terjadi.
Dari sisi gelanggang, orang-orang itu menyaksikan pertarungan yang sulit dipahami. Mereka hanya melihat Agung Sedayu bergerak menghantam ruang kosong di sekelilingnya. Kadang dia meloncat, kadang tubuhnya berputar cepat sambil melontarkan pukulan dan tendangan ke udara tanpa arah yang jelas.
Jaka Awar-Awar yang berada di sisi barat arena pertarungan bersama Ki Warujayeng di sampingnya tekun mengamati sambil mengernyitkan dahi.
Dalam pandangan orang kebanyakan, Agung Sedayu seolah sedang kehilangan kewarasan karena bertarung melawan udara kosong.
Namun dua orang itu mengerti yang sebenarnya terjadi. Ki Kebo Surongudan tidak meninggalkan gelanggang. Hanya saja, wujud saudara tunggal ilmu dengan Raden Atmandaru itu memang lenyap dari tangkapan mata kebanyakan orang.
Tiba-tiba terdengar dentuman pendek yang mengguncang udara di sekitar gelanggang. Debu dan kerikil kecil berhamburan seolah dua lapis tenaga cadangan baru saja berbenturan keras di satu titik yang tidak terlihat.
Namun anehnya, orang-orang tetap tidak dapat melihat lawan Agung Sedayu. Yang tampak hanyalah tubuh Agung Sedayu yang bergeser cepat sambil melontarkan serangan ke ruang kosong, kemudian disusul ledakan-ledakan tenaga yang memecah udara.
Beberapa orang bahkan mulai menahan napas. Mereka hanya dapat menduga-duga letak Ki Kebo Surongudan dari arah dentuman dan pusaran debu yang tiba-tiba muncul lalu lenyap, dari arah Sedayu menghadapkan tubuh dan wajah.
Sekali waktu tubuh Agung Sedayu terdorong surut beberapa langkah seakan dihantam tenaga yang sangat kuat dari arah depan. Tumitnya menggores tanah ketika menahan keseimbangan.
Namun dalam waktu yang hampir bersamaan, kurang dari sekedipan mata, Agung Sedayu justru meloncat maju sambil melancarkan serangan balasan yang beruntun. Kedua lengannya bergerak cepat memecah udara kosong di hadapannya.
Terdengar lagi benturan keras yang menggetarkan dada orang-orang yang menyaksikan. Tetapi sesaat kemudian tubuh Agung Sedayu terhuyung menyamping. Bahunya berputar miring, kakinya kehilangan pijakan, dan hampir saja jatuh berguling di tanah andaikan tidak cepat menancapkan ujung kakinya dalam-dalam.
