0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 22 – Udara yang Bergetar!

Dilihat 131 kali

Namun perhatian Sayoga telah terlalu tersita untuk menutup kelemahan yang diketahui lawannya. Dengan begitu, dia sengaja mempercepat putaran tongkatnya dan juga menggandakan kecepatan gerak agar lawannya tidak berkesempatan merusak keseimbangan.

Meski demikian, Jaka Awar-awar selalu berhasil mengambil sudut yang mendorong gelanggang bergeser mendekati barisan berkuda Menoreh.

Sayoga melenting sambil menghantam dari atas.

Jaka Awar-awar menangkis ringan, lalu memutar tubuhnya ke samping. Gerakan itu sangat wajar. Namun tanpa disadari oleh Sayoga, serangan susulannya justru menyeret pusat perkelahian  lebih dekat ke arah para penunggang kuda.

Sementara itu, di sisi lain gelanggang, Ki Warujayeng yang berjuang keras menjatuhkan Sukra tiba-tiba menangkap arah perubahan itu. Sepasang matanya segera memandang sekilas ke arah Jaka Awar-awar. Sekejap kemudian, dia dapat menilai dan segera mengerti maksud kawannya itu.

Tiba-tiba serangannya terhadap Sukra meningkat jauh lebih ganas dari sebelumnya.

Kapak pendeknya atau baliung itu berputar cepat menyerang bertubi-tubi disertai udara bergulung-gulung karena kibasan tenaga cadangan mendorong Sukra terus bergerak surut. Anak muda itu masih mencoba bertahan dengan serangan-serangan liar yang meledak-ledak.

Satu serangan mematikan Ki Warujayeng datang, Sukra meloncat menghindari sambaran baliung yang mengarah dada. Serangan luput lalu menghantam tanah hingga batu-batu kecil beterbangan.

Namun Ki Warujayeng terus memburu lagi seperti serigala yang enggan kehilangan mangsa. Satu tebasan rendah menyambar kaki. Ketika Sukra meloncat menghindar, baliung itu justru berputar naik dari arah samping. Anak muda ini memutar tongkatnya dengan tenaga penuh.

Benturan itu membuat tubuh Sukra bergeser beberapa langkah lalu melompat pendek agar tidak terjatuh. Tanpa dia sadar, arahnya jsutru semakin dekat dengan barisan berkuda Menoreh yang makin gelisah menyaksikan dirinya terdesak hebat.

Ki Warujayeng sengaja mempertahankan tekanan itu.

Dari kejauhan, Jaka Awar-awar pun melakukan hal serupa.

Dua gelanggang yang berbeda perlahan bergerak menuju satu titik yang sama—tepat di sekitar pasukan berkuda dan Kinasih yang siaga menjaga Pandan Wangi dari hamburan batu dan tenaga liar.

Tiba-tiba mata Jaka Awar-awar menyala tajam. Mungkinkah dia sudah merasa saat yang ditunggunya telah tiba?

Di antara kekuatan besar yang beradu dengan Sayoga, tubuhnya mendadak berputar tajam satu langkah. Gerakan yang sangat cepat sehingga Sayoga mengira lawannya sedang menata serangan berikutnya.

Namun dalam sekejap berikutnya, Jaka Awar-awar justru melenting menyamping secepat anak panah yang terlempar dari busur. Arah serangannya sama sekali berubah.

Sayoga terkejut, segera menguasai diri tapi musuhnya sudah beberapa langkah di sampingnya.

Pada kesempatan itu, sejumlah pengawal berkuda juga terkejut ketika Jaka Awar-awar melesat deras ke arah mereka dengan kekuatan penuh.

Hanya sekejap.

Padahal jarak antara gelanggang dan barisan berkuda masih sekitar lima belas langkah. Tetapi bagi kecepatan Jaka Awar-awar, jarak itu seolah tidak lebih dari satu kedipan mata.

“Hantam!” perintah Ki Lurah Sora Sareh saat sadar ada perkembangan tajam yang mengarah barisannya.

Terlambat.

Jaka Awar-awar telah menerjang barisan berkuda dengan serangan yang tak kalah daya rusaknya dengan angin prahara. Senjatanya berputar pendek disertai ledakan tenaga yang memaksa dua penunggang kuda menyingkir kacau.

Seekor kuda terluka, yang lain meringkik keras.

Barisan yang semula rapat mendadak goyah.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Warujayeng pun meningkatkan tekanannya terhadap Sukra. Kapak pendeknya sangat ganas membacok, menebas datar diikuti sapuan tendangan yang cukup rumit dilakukan. Itu bukan lagi serangan untuk menekan, tapi dapat membuat tubuh Sukra terpotong-potong menjadi banyak bagian.

Sukra bertahan sekuat tenaga.

Tongkatnya berputar hebat menahan serangan dari berbagai arah. Namun bagi orang setingkat Ki Warujayeng, kelelahan Sukra yang ditahan itu sudah lebih dari cukup.

Ujung gagang baliung menghantam pundak Sukra keras sekali.

Anak muda itu terpelanting mundur sambil menggertakkan gigi menahan nyeri. Dia cepat bangkit, merunduk.

Tapi tampaknya Sukra belum benar-benar seimbang dengan kuda-kuda yang baru saja tersusun ulang saat Ki Warujayeng menerobos jarak.

Hampir semua orang terkejut ketika sasaran Ki Warujayeng ternyata bukan Sukra!

Orang itu dahsyat menerkam barisan berkuda—dalam waktu berdekatan dengan serangan Jaka Awar-awar.

Seorang pengawal tersambar hingga jatuh dari kudanya. Kuda-kuda lain semakin gugup lalu bergerak kacau. Sebagian penunggang terpaksa menarik kendali keras-keras agar barisan mereka tidak saling bertabrakan.

Keributan pun pecah seketika.

Teriakan pengawal bercampur ringkik kuda memenuhi halaman pertempuran.

“Lindungi Nyi Pandan Wangi!”

“Jangan biarkan mereka lolos!”

“Rapatkan barisan!” perintah Ki Lurah Sora Sareh.

Namun kekacauan singkat itu ternyata memang telah diperhitungkan dan diharapkan oleh kedua orang tersebut. Meski gagasan awal berasal dari Jaka Awar-awar lalu mereka bergerak tanpa aba-aba.

Semesta Kitab Kyai Gringsing

Di antara barisan yang buyar dan perhatian yang terpecah, Jaka Awar-awar serta Ki Warujayeng saling melirik sekilas. Tanpa perlu sepatah kata pun, keduanya bergerak hampir bersamaan—meloncat keluar dari keributan seperti dua bayangan lalu menyusur sela-sela kekacauan, menghilang di balik rimbun semak dan pepohonan yang rapat.

Beberapa pengawal mencoba mengejar.

“Tahan!” seru Ki Lurah Sora Sareh.

Sebenarnya Kinasih masih sempat mencegah kekacauan itu sebelum berkembang semakin jauh.

Sejak tadi gadis itu memang terus mengawasi perubahan arah gelanggang Jaka Awar-awar dengan tatapan tajam. Nalurinya sudah menangkap sesuatu yang tidak beres ketika anak muda itu perlahan menyeret pusat perkelahian mendekati barisan berkuda.

Bahkan sesaat sebelum Jaka Awar-awar melenting keluar dari gelanggangnya, Kinasih telah bersiap.

Namun pada saat itulah—terdengar bentakan keras dari arah pertarungan Agung Sedayu tiba-tiba mengguncang perhatian semua orang. Ledakan dua tenaga raksasa yang membuat tanah berlubang dan udara bergetar sangat kuat.

Kinasih pun tersentak. Dalam satu tarikan napas, pikirannya berubah. Apa yang terjadi pada Ki Tumenggung?

Pertanyaan itu melintas cepat dalam benaknya hingga tanpa sadar dia menoleh ke arah sumber bentakan.

Dan hanya dalam kelengahan sesingkat itu, keadaan berubah.

Ketika Kinasih kembali memandang ke arah barisan berkuda, keributan telah pecah.

Kuda-kuda bergerak liar. Para pengawal saling berseru kacau. Beberapa orang tampak berusaha menahan penunggang yang hampir terjatuh.

“Licik!” desis Kinasih. Dia melesat cepat menerjang kerumunan, tapi terlambat.

Di kejauhan, dua bayangan telah meluncur keluar dari lingkar kekacauan menuju gelap pepohonan.

Kinasih hampir saja mengejar saat terdengar suara Pandan Wangi dari belakang.

Cah Ayu!”

Gadis muda itu berpaling.

Pandan Wangi berdiri sambil menahan sakit pada lambungnya yang terluka. Dia menggeleng dengan sorot mata tenang.

“Cukup,” katanya perlahan dan tegas. “Jangan ada lagi yang terluka.”

Kinasih masih memandang ke arah hutan dengan rahang menegang.

“Kita cukupkan saja hari ini,” lanjutnya. “Kita menunggu Kakang Sedayu yang masih bertarung.”

Perlahan Kinasih menarik napas panjang.

Dua bayangan itu meluncur cepat menembus gelap rimbunan hutan. Dedaunan yang mulai kering basah bergesekan oleh tubuh mereka yang berkelebat rendah di antara batang-batang pohon.

Jaka Awar-Awar yang berada di depan sekali-kali menoleh ke belakang. Dia memperlambat larinya.

Ki Warujayeng yang mengikutinya rapat segera menyamai langkahnya.

“Apakah mereka mengejar?” tanya Jaka Awar-awar lirih.

Mereka berhenti di samping pohon besar yang akarnya mencuat dari tanah. Hutan tampak gelap dan sunyi, hanya desir angin yang bergerak di antara daun-daun.

“Tidak,” jawab Ki Warujayeng kemudian.

“Baguslah. Kalau gadis muda itu terus mengejar, kita mungkin tidak sempat dapat tiba di tempat ini.”

Ki Warujayeng mengangguk setuju. Lawan Kinasih, Mliwis Logrok, adalah orang yang lebih tinggi tingkat ilmu daripada dirinya dan Jaka Awar-awar tapi terbunuh di tangan gadis itu. Maka selanjutnya dapat dibayangkan keganasan tersembunyi di balik wajah yang penuh pesona itu.

“Aku tidak menyangka lawanku ternyata mempunyai ilmu yang sulit dinalar,” ucap Jaka Awar-awar lalu berkisah singkat mengenai Sayoga dengan pedang kayunya.

“Kita bernasib sama,” sahut Ki Warujayeng. “Anak itu cukup liar dan ganas. Aku kira dia sedang kelelahan karena tiba-tiba ada penurunan kekuatan.”

Sejenak mereka mematung.

Jaka Awar-awar menoleh pada Ki Warujayeng, bertanya, “Kyai, apakah kita sebaiknya kembali ke perkemahan?”

“Mereka pasti menangkap kita,’ jawab Ki Warujayeng belum mengerti maksud pemuda itu.

“Kita meninggalkan gelanggang tanpa izin Ki Kebo Surongudan dan itu salah,” sahut Jaka Awar-awar tapi suaranya tidak mengandung penyesalan. “Pertempuran sudah selesai. Seandainya Ki Centhong Slobog dan Ki Sanumerta tidak terbunuh lebih cepat, mungkin kita masih berada di sana. Jadi, aku kira kita kembali untuk memastikan keadaan.”

“Keadaan yang seperti apa?”

Jaka Awar-awar menarik napas panjang dengan bahu terangkat. “Setidaknya jika Ki Kebo Surongudan terbunuh oleh Sedayu, kita masih dapat menghormati usahanya.”

“Jika kita tertangkap?”

“Berarti memang di sinilah kita semuanya berakhir,” sahut pendek Jaka Awar-awar.

Ki Warujeyeng merenung sesaat lalu mengangguk perlahan.

“Mari, kita kembali ke perkemahan,” katanya lirih.

Sejenak keduanya terdiam. Barangkali sedang membayangkan tekanan tenaga cadangan yang saling berbenturan. Pertempuran itu bukan lagi sekadar adu ilmu kanuragan, tetapi ada keselamatan dan harga diri dari perguruan besar yang berumur tua.

Bentakkan keras itu memang pantas menjadikan Kinasih cemas, demikian pula yang dirasakan oleh Pandan Wangi.

Rahayu

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

Di gelanggang Agung Sedayu, sebuah lubang besar menganga dan cukup untuk memasukkan seekor kerbau di dalamnya. Udara di sekitarnya seperti baru saja mendapatkan hembusan sangar dari angin yang meluncur turun dari lereng Merapi. Sejumlah pohon masih tampak bergoyang terhantam gelombang tenaga cadangan yang berhamburan liar.

Dua petarung itu terlihat sudah berada cukup jauh, oh, bukan itu hanya lima langkah saja. Dan sepertinya mereka,… sedang bersiap melakukan sesuatu yang besar.

Ki Kebo Surongudan berdiri dengan sepasang mata menatap lurus Agung Sedayu yang tegak dan tenang di hadapannya. Debu berlomba-lomba turun seperti ingin menghindar dari tabrakan yang mungkin terjadi lagi.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.