Dilihat 320 kali
Namun pada saat yang sama—pedang Pandan Wangi menembus leher Ki Centhong Slobog dengan sudut miring yang dalam. Tubuh besarnya terdorong mundur sempoyongan, tetapi tidak langsung roboh. Bilah pedang Pandan Wangi ternyata masih menancap seolah menahan tubuh itu agar tetap berdiri.
Sesaat keduanya membeku dalam jarak sangat dekat.
Sambil menahan nyeri hebat di lambungnya, Pandan Wangi menarik pedangnya.
Bahaya masih dapat menerjang Pandan Wangi dari tiga gelanggang lainnya. Maka dari tepi gelanggang, Kinasih berkelebat secepat angin lalu merangkul tubuh Pandan Wangi yang mulai goyah. Sementara para pengawal berkuda cekatan melindungi dua perempuan tangguh itu dari incaran yang mungkin saja datang dari arena sekitar mereka.
Dengan langkah hati-hati, Kinasih memapah Pandan Wangi meninggalkan gelanggang,
“Mbokayu,” kata Kinasih menahan cemas. Luka di bagian perut Pandan Wangi tampak cukup dalam tapi Kinasih butuh waktu untuk memastikan sambil berharap segalanya berjalan baik.
“Bukan masalah, Cah Ayu,” ucap Pandan Wangi dengan napas berat.
Jari jemari Kinasih bergetar saat mulai merawat luka Pandan Wangi. Pikiran gadis itu sempat bercabang seandainya dia sedikit menahan diri, lawan Pandan Wangi sudah pasti berhadapan dengannya. Tapi, apakah suatu musibah itu dapat ditangkal dengan berandai-andai? Kinasih menggeleng sendiri.
Pandan Wangi mengangguk seolah tahu isi hati gadis yang sedang berjuang menutup aliran darahnya. Katanya,”Sudahlah, Mbok memang terluka tapi ini bukan akhir dari segalanya. Selanjutnya kita hanya dapat berusaha dan berharap welas dari Yang Maha Kuasa.”
Kinasih mengangguk lalu berpikir sesaat. Lantas mengatakan beberapa permintaan pada Ki Lurah Sora Sareh.
Sejenak setelah Kinasih mengakhiri ucapannya, pemimpin pasukan berkuda itu segera memerintahkan sejumlah orang untuk melakukan permintaan Kinasih. Di antaranya adalah mencari daun tertentu dan membuat tandu.
Ketika pertarungan Pandan Wangi mendekati puncak, keadaan yang tidak seimbang justru dialami oleh Sukra. Demikian pula Sayoga yang tampaknya mulai mendapatkan tekanan dari lawannya, Jaka Awar-awar.
Sukra, pengawal Menoreh yang bertempur meledak-ledak itu perlahan mulai terkikis kemunduran.
Sejak beberapa hari terakhir, sekitar saat-saat yang dekat dengan prondaan ketiga lereng Kendil, dia hampir tidak benar-benar memperoleh kesempatan untuk memulihkan daya tahan. Mulai pengintaian, penjagaan dan perondaan di sekitar Dusun Ringinlarik, lalu berangkat bersama Agung Sedayu menuju Kotaraja adalah pekerjaan panjang yang menguras kekuatan lahir maupun batin. Anak muda itu memang masih menyimpan daya tahan luar biasa, tetapi cadangan tenaganya bukan tanpa batas.
Pada benturan-benturan berikutnya, kekuatan Sukra mulai berkurang meski tidak menukik tajam.
Putaran tongkat Sukra memang masih cepat, namun perubahan hanya dapat diketahui oleh lawannya. Udara yang meraung-raung perlahan melemah.
Ki Warujayeng tajam menangkap perbedaan itu. Dia mulai menghitung waktu yang tepat sebelum mengeluarkan senjatanya, sebuah kapak pendek
Sukra pun berhitung tapi dia mulai menakar kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Maka pengawal Menoreh ini kemudian melompat surut.
Perubahan itu seolah semakin meyakinkan Ki Warujayeng. “Dia mulai banyak menghindar meski kemudian maju menyerang,” katanya dalam hati.
Sekejap kemudian, dia menerkam Sukra dengan sebuah kapak yang tiba-tiba berada di tangannya. Kapak kecil itu segera menggaung dengan getaran yang tak kalah hebat dengan putaran tongkat Sukra pada awal pertarungan.
Meski terkejut dengan ledakan serangan itu, Sukra tidak kehilangan kendali diri. Dia memang berubah tapi kali ini lebih sabar meladeni tekanan demi tekanan yang mengalir dari Ki Warujayeng.
Ki Warujayeng kini tidak lagi terburu-buru melayani benturan. Olah gerak Sukra seakan berada dalam kendalinya dan itu sangat jauh berbeda dengan permulaan. Orang ini bergerak sederhana. Mengelak dan menangkis tongkat Sukra dengan senjatanya sambil terus menerus mengukur kekuatan yang ada di dalam diri Sukra.
Benturan sangat keras kemudian terjadi. Keduanya sama-sama terdorong mundur beberapa langkah. Tapi, sejenak kemudian, mereka sudah saling berhadapan lagi.
Ki Lurah Sora Sareh tampak mengerutkan kening. Dia pikir sebenarnya Sukra sudah mencapai puncak, lalu apa yang sedang terjadi di gelanggang?
Kinasih dan Pandan Wangi pun sepertinya juga menyimpan pertanyaan yang sama. Sejenak mereka bertukar pandangan lalu Kinasih kembali melanjutkan pengobatannya pada Pandan Wangi.
Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem di [SINI].
Matur nuwun
Sedangkan pengawal berkuda Tanah Perdikan menyaksikan perkelahian Sukra mulai berdebar-debar. Darah mereka berdesir lebih cepat. Mereka pun tanggap keadaan: ada apa dengan Sukra?
Baik Sukra dan Ki Warujayeng sama-sama menerjang maju dalam waktu hampir bersamaan.
Perkelahian yang seru itu kembali berlangsung tapi menjadi semakin mendebarkan karena lawan Sukra tak lagi menyambar dengan tangan kosong! Orang ini begitu hebat memainkan kapak kecilnya yang pangkalnya adalah kayu berwarna hitam dengan mata kapak yang terbuat dari baja pilihan.
Ki Watujayeng memutar kapak dengan segenap kekuatan.
Dia mematuk, menyabet datar, menebas silang dengan kecepatan yang sulit dinalar. Sehingga yang terlihat oleh orang-orang di kejauhan adalah garis-garis cahaya yang sambung-menyambung. Sekali waktu, serangannya dapat menekan dan mengurung tongkat Sukra dan orang-orang pun dapat melihatnya ketika selubung warna tongkat Sukra tampak mengecil.
Meski kadang terasa kelelahan menderanya hebat, Sukra tetap mampu mempertahankan diri dengan sangat baik. Masih terlampau tangguh untuk dikalahkan dengan cepat. Di depan Ki Warujayeng, Sukra menolak kalah dengan cara yang mudah. Setidaknya, menurut Sukra, bisa jadi dia kalah tapi tidak harus jatuh terkapar. Maka sabetan tongkat Sukra pun tetap dapat menjangkau lawan yang mulai berkelahi terbuka.
Benar, Ki Warujayeng sendiri pun melakukan perubahan gaya bertempurnya. Jika semula dia lebih banyak bertahan untuk mengamati tata gerak lawannya itu sambil mengadu kekuatan dengan Sukra, sekarang dia berani menyerang. Sehingga kulit Sukra pun sedikit demi sedikit mulai tergores, namun anak muda tersebut benar-benar liat dan masih trengginas dengan segala sisa kekuatannya.
Namun begitu, Ki Warujayeng yang juga menyimpan sebangsal pengalaman tanding juga paham bahwa kejatuhan lawannya hanya masalah waktu. Tapi, sejenak dia pun berpikir, seandainya dia menang, entah Sukra mati atau tidak, lalu berikutnya apa?
Pada gelanggang Agung Sedayu masih terjadi benturan dua ilmu yang sangat dahsyat. Sedangkan di sisi lain, seorang kawannya yang berusia muda—Jaka Awar-awar—pun belum dapat melepaskan diri dari Sayoga.
Seandainya salah satu dari mereka tumbang, sementara barisan berkuda sudah siap dalam posisi, bukankah dirinya pun dapat ditangkap? Lebih buruk lagi, dikepung untuk dihabisi. Yah, lantas bagaimana? Apakah ada jalan terbaik?
Selanjutnya, Ki Warujayeng pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk menekan Sukra lebih hebat. Dia mendesak maju, mengurung Sukra dengan putaran kapak kecil yang luar biasa.
Perkelahian itu semakin lama seolah semakin dekat dengan batas akhir. Tongkat Sukra yang semakin lama semakin nggripisi dan serpihan kecil makin banyak berhamburan menjadi terlihat lebih pelan. Bukan karena tekanan lawan tapi tenaganya terkuras sedikit demi sedikit. Meski kadang pemuda Menoreh itu dapat menguasai keseimbangan, tapi Ki Warujayeng tetaplah bukan orang sembarangan. Musuh Sukra ini penuh perhitungan pada setiap serangan dan seakan tahu waktu untuk meredakan tekanan.
Walau demikian, petunjuk-petunjuk dari Kyai Bagaswara ternyata banyak menolong Sukra ketika dia tidak mendapat cukup ruang untuk lepas dari tekanan. Seakan-akan melangkah surut, Sukra melakukan lompatan harimau ke samping sambil mengibaskan tongkatnya ke lambung atau bagian tubuh lawan yang dapat dijangkaunya. Kerumitan tata gerak semacam itu akhirnya memaksa Ki Warujayeng kembali memutar otak lebih cepat. Tampaknya mudah untuk mengalahkan tapi Sukra masih menyimpan banyak kejutan.
Kulit Sukra makin penuh dengan warna merah yang bercampur dengan debu dan keringat, tapi Ki Warujayeng belum menemukan cara untuk benar-benar membuat anak itu tersudut seperti rusa di dalam jebakan.
“Terbuat dari apakah tubuh anak ini?” geram Ki Warujayeng dalam hati. Luka semakin banyak dan pasti menyebabkan kepedihan, lalu belum menampakkan tanda-tanda kemunduran?
Putaran kapak Ki Warujayeng semakin kuat. Gaung yang terdengar makin menyeramkan dan mulai mengikis desing tongkat musuhnya. Perkelahian meruncing semakin tajam ketika orang itu berlompatan dengan susunan gerak yang seolah mengepung Sukra dari segala penjuru. Tubuhnya berkelebat dan seperti hanya meninggalkan bayangan saja bagi orang yang melihat dari kejauhan. Kapaknya menyambar-nyambar dahsyat diikuti angin tenaga yang masih dapat menimbulkan nyeri pada kulit Sukra.
Sementara itu, sedikit pun tidak ada kesibukan dalam pikiran Sukra selain mempertahankan diri sekuat tenaga. Bahkan pikirannya pun sudah membuang jauh-jauh kesadaran bahwa dia sudah lelah!
Dalam waktu itu, Sukra sudah mencapai batas puncak pengerahan seluruh yang ada dalam dirinya. Lawannya memang sangat berbahaya, serangannya bukan untuk melukai tapi mematikan. Setiap langkah kakinya dan ayunan tongkat kini menjadi penentu hasil akhir.

Di tepi gelanggang, Pandan Wangi duduk bersandar dengan lambung yang sudah terbalut rapi dari kain ikat kepala seorang pengawal. Tatap matanya cemas memandang gelanggang Sukra.
“Dia sudah kehabisan tenaga, perlawanan itu terjaga karena semangat dan daya juangnya,” desisnya dalam hati.
Sedangkan Kinasih tegang melihat luka-luka Sukra yang arang keranjang. Pikirnya, dia mungkin tidak akan kehabisan darah karena itu luka-luka kecil tapi seberapa lama dia mampu menahan rasa nyeri?
Namun begitu, dua pendekar tangguh itu sadar bahwa mereka tidak dapat masuk gelanggang untuk memberi pertolongan. Harapan mereka hanya satu: Sukra selamat dengan keajaiban.
Sang Maharani: Pada bulan ketujuh di zaman Rakai Panangkaran
Beberapa waktu sebelum Ki Centhong Slobog tumbang di tangan Pandan Wangi, lawan Sayoga berkali-kali terkejut dengan ilmu yang digunakan pengawal Menoreh tersebut.
Setiap ayunan pedangnya seolah kehilangan tenaga setiap bersentuhan dengan pedang kayu Sayoga. Jika dia menambah kecepatan, Sayoga ternyata juga tidak tampak kedodoran untuk mengimbanginya.
“Setan! Orang-orang Menoreh sepertinya belajar dari demit penunggu Gunung Kendil,” geramnya dalam hati.
Pertarungan berlangsung cukup lama dan ketenangan Sayoga belum bergeser sama sekali.
Tapi ternyata Jaka Awar-awar bukanlah orang yang mudah terpancing perasaannya. Justru dia mulai menggerakkan otaknya untuk menemukan celah ilmu Sayoga.
Kini dia lebih banyak menghindari benturan senjata sambil menyusupkan pukulan atau tendangan yang tidak mematikan tapi dapat melumpuhkan. Bahkan beberapa kali seakan sengaja membiarkan dirinya terdesak hanya untuk mengamati ilmu yang dipancarkan oleh Sayoga.
Sekejap kemudian, Jaka Awar-awar melompat surut cukup jauh. Menata ulang kuda-kuda lalu menyerang Sayoga dengan sangat cepat. Seperti halnya Ki Warujayeng yang putaran kapaknya seakan menjadi garis tanpa putus, demikian pula serangan Jaka Awar-awar. Jalur pedang pemuda itu lebih mirip dengan perisai cahaya Pandan Wangi—rapat membungkus tubuhnya.
Perubahan keadaan yang berlangsung sangat cepat.
Namun anehnya, Jaka Awar-awar masih cenderung menghindari benturan senjata hingga dia menyusup masuk jangkauan serangan Sayoga sendiri
Jaka Awar-awar yang merasakan ada keanehan pada pedang kayu Sayoga pada benturan-benturan awal. Lawannya yang sedikit lebih muda darinya itu seolah dapat menghisap tenaga benturan lalu memantulkan lebih keras padanya. Setiap kali senjata mereka beradu, tenaga pukulannya seperti jatuh ke bidang lunak yang menyedot daya bentur sampai lenyap tidak berbekas. Tetapi serangan balasan Sayoga datang berlipat-lipat kerasnya.
Namun ketenangan yang dimiliki Jaka Awar-awar tampaknya memberi warna yang berbeda. Pengamatannya membuahkan hasil sehingga dia dapat memahami watak ilmu Sayoga meski baru sedikit.
Jaka Awar-awar tidak lagi membenturkan tenaga secara utuh, tapi yang tidak dilambari tenaga cadangan lagi. Hanya tenaga wadag. Yah, Jaka Awar-awar membenturkan kekuatan dengan mendasarkan ayunan pedang pada dorongan awal dan tenaga wadag. Dia cukup hebat ketika secara tepat memutus aliran tenaga cadangan sebelum terjadi tabrakan ilmu.
Sayoga mengerutkan kening sesaat ketika merasakan ada sesuatu yang berbeda: tenaga lawannya tidak dapat lagi diserapnya.
Sehingga yang demikian itu menjadi sebab serangan balik Sayoga sangat kuat.
Saat berada di atas angin, Jaka Awar-awa sempat melihat gelanggang di sekitarnya. Ki Kebo Surongudan rupanya masih mengerahkan kekampuannya berbagi wujud tapi lawannya dapat mengimbangi dengan baik. Sedangkan di sisi yang lain, Ki Warujayeng pun sudah menguasai keadaan.
Kemudian Jaka Awar-awar memandang dengan alis bertaut—barisan berkuda dan seorang gadis muda seakan menjadi penentu akhir dari seluruh pertempuran.
Jika dia menang, jalan keluarnya pun tidak mudah.
Secercah harapan tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Pusat perkelahiannya harus dapat digeser lebih dekat dengan pasukan berkuda lawan, tekatnya.
Sayoga belum menyadari perubahan kecil yang mulai terjadi di dalam gelanggang mereka. Bahkan dia mengira bahwa jarak sekitar lima belas sampai dua puluh langkah itu masih cukup aman dari barisan berkuda. Tidak akan membuat gangguan bagi mereka yang berada di tepi gelanggang.
Sejak Jaka Awar-awar menemukan celah pada watak ilmu musuhnya, pertarungan itu berubah arah. Dia tidak sekadar menyerang tapi benar-benar menyudutkan Sayoga dengan serangan membadai hingga tak ada kesempatan bagi anak muda itu untuk berpikir barang sejenak.
Jarak masih terjaga dan Sayoga merasa aman sehingga dia pun lebih mengandalkan kecepatan karena pengetrapan Serat Waja sudah mulai terhambat.
Bergeser dan terus bergeser sehingga Jaka Awar-awar yang semula berada di timur telah kembali ke tempat semula, timur. Lingkar perkelahian itu berputar tapi sejengkal demi sejengkal menjadi lebih dekat dengan barisan berkuda.
