Dilihat 329 kali
Dan di tengah gelanggang —tiga wujud Ki Kebo Surongudan mulai menutup Agung Sedayu dari tiga arah berbeda. Namun hanya sekali serangan mereka berhasil menembus pertahanan senapati tangguh Mataram itu.
Di sela kerumitan pikirannya memecahkan tembok Sedayu, yang dapat dilakukan Ki Kebo Surongudan adalah memperpanjang serangan. Dalam waktu yang sama pula, dia merasa harus lebih berhati-hati karena tersimpan kemungkinan Sedayu sedang mengulur waktu sebelum menjebaknya.
Yang paling penting, kemudian menurutnya, adalah melepaskan jarak. Maka demi tujuan itu, Ki Kebo Surongudan melambari setiap serangannya dengan tenaga cadangan yang berhawa panas. Dia tahu bahwa lawannya juga dapat berbuat serupa, tapi tidak ada salah untuk mencoba sehingga mereka dapat terpisah oleh jarak.
Segera saja, sebelum matanya berkedip, Agung Sedayu merasakan serangan hawa panas yang menyambar-nyambar wajah dan seluruh bagian depan tubuhnya. Karena perubahan itu, maka Agung Sedayu merayap naik sampai ke puncak kemampuan jalur ilmu Ki Sadewa. Hingga saat itu, dia belum banyak menggunakan ilmu yang diwarisinya dari Kyai Gringsing.
Sejenak kemudian, lengan dan kaki Sedayu seolah berubah menjadi sekeras baja tapi itu bukan ilmu kebal. Pelepasan ilmu Ki Sadewa yang sangat jarang digunakan Agung Sedayu itu adalah puncak ilmu yang dibacanya di sebuah gua di Jati Anom.
Ki Kebo Surongudan kembali terpana. Dia terjerat kebekuan di dalam hati merasakan sendiri kedahsyatan ilmu Agung Sedayu.
Sesekali mereka sama-sama mendaratkan hantaman dan daya tahan dua orang itu pun mungkin setara sehingga setiap serangan tidak sampai melukai kulit, tapi menggetarkan bagian dalam, tulang, kulit dan urat saraf. Mereka juga saling merasakan sengatan yang nyeri luar biasa menjalar cepat di bawah kulit.
“Senapati edan!” umpat Ki Kebo Surongudan.
Dia tahu bahwa kerasnya tubuh Agung Sedayu bukan berasal dari ilmu kebal, tapi selubung tenaga cadangan yang seolah mempunyai kehendak untuk melindungi sekujur tubuh pemiliknya.
Menjadi lebih sulit lagi karena tiga wujud Agung Sedayu sama sekali tidak terlontar. Dua wujud itu masih melekat meski kadang timbul dan tenggelam setiap kali Ki Kebo Surongudan bergeser tempat. Jika tiga wujud lawannya berada di depan dan menyebar, wujud Agung Sedayu segera menyatu dengan tubuh asli. Terjadilah kemudian seolah satu melawan tiga.
Jika dua wujud Ki Kebo Surongudan mengepung dari kiri dan kanan, dua wujud Agung Sedayu akan meladeni keduanya tanpa terlepas dari tubuh asli. Sehingga yang demikian itu membuat kekuatan mereka menjadi timpang. Karena Ki Kebo Surongudan seolah membagi kekuatan menjadi tiga bagian, sedangkan Sedayu masih berkekuatan penuh.
Ketimpangan itu segera disadari oleh Ki Kebo Surongudan. Akhirnya justru dia terlebih dulu dapat kehabisan tenaga, maka dua wujudnya pun kembali menyatu.
Pertarungan masih berjarak sangat dekat dengan satu perubahan lagi yang dilakukan Ki Kebo Surongudan. Dia menekan Agung Sedayu semakin berat karena kekuatannya kembali utuh dan tidak terbagi. Sambaran tangan dan kakinya seakan mempunyai bentuk seperti pedang yang tajam pada dua sisinya. Serangan-serangannya pun semakin tajam dan berbahaya.
Agung Sedayu mengakui bahwa lawannya kali ini benar-benar ulet dan gigih dengan sebangsal ilmu yang tersimpan. Murid Kyai Gringsing ini mulai dapat merasakan kulitnya terasa pedih karena sayatan dari sambaran angin tenaga cadangan lawan.
Tapi senapati Mataram ini tidak segera mengerahkan ilmu kebalnya. Dia menggandakan kekuatan ilmu Ki Sadewa sampai lapisan tertinggi maka yang terjadi kemudian seakan udara bergulung-gulung hendak membelit Ki Kebo Surongudan.
Maka pertahanan Agung Sedayu bukan saja semakin rapat, tapi sekaligus pula menjadi badai serangan yang tidak masuk akal sama sekali. Udara panas yang terlontar dari setiap serangan Ki Kebo Surongudan seperti terhisap lalu berbalik ke sumber serangan.
Itu jelas rumit!
Tanpa pikir panjang, Ki Kebo Surongudan berlompatan panjang. Dirinya seolah enggan melayani pertarungan jarak dekat melawan Agung Sedayu. Berikutnya, dia lebih banyak berlompatan menghindar, menjauh dan Agung Sedayu terus memburunya.
Sempat terpikir olehnya untuk menggunakan senjata, tapi cambuk Sedayu jelas akan memperoleh keuntungan karena juluran panjang. Maka dalam keadaan itu, Ki Kebo Surongudan terus menjaga jarak dengan lontaran pukulan jarak jauh yang sangat kuat. Begitu kuatnya maka setiap hantaman yang meleset lalu membentur tanah akan menimbulkan ledakan dan getaran yang mengguncang lutut.
Ketika Agung Sedayu sibuk berlompatan dengan kecepatan luar biasa, Ki Kebo Surongudan seperti mendapatkan waktu dan ruang untuk melepaskan ilmu andalannya, Panglimunan.
Sedikit jauh dari dua petarung luar biasa yang sedang mempertaruhkan nama baik perguruan, Ki Sanumerta lambat laun menyadari bahwa dirinya sedang dipaksa bertarung di luar kebiasaannya sendiri.
Meskipun pedangnya terus berputar, bergerak cepat dan berbahaya, tetapi Kinasih selalu lebih cepat berpindah tempat. Gadis ini tidak menghindar tapi sebaliknya; menutup ruang gerak atau memotong kemungkinan lawannya melimbungkan tubuh. Pergerakan murid Nyi Banyak Patra ini cukup sederhana tapi kecepatannya sangat mewah.
Dan itulah yang membuat Ki Sanumerta semakin panas hati—merasa dipermainkan atau membuat dirinya terlihat bodoh di depan Kinasih. Lebih-lebih senjata Kinasih tidak pantas digunakan untuk bertarung melawan orang setingkat dirinya yang mendapat kehormatan khusus di sekitar Perguruan Cucuk Maruta.
Ranting di tangan Kinasih deras mematuk pergelangan tangan, batang leher bahkan cukup berani meneobos bagian tubuh paling lemah, mata.
Ki Sanumerta membentak keras sambil memutar pedang. Tenaga cadangannya mengalir sangat deras lalu menabrak senjata Kinasih. Maka ujung ranting terpotong dan serpihannya berhamburan tanpa arah.
Tapi Kinasih tidak terperangah karena terjangan hebat itu. Dia justru sangat berani membalas serangan saat pedang lawan belum menyelesaikan putaran. Kaki Kinasih bergeser sedikit lalu sisa ranting itu menyambar dari arah berbeda. Serangan yang sangat cepat, tajam dan menyulitkan lawannya.
Ki Sanumerta menggeram hebat. Pedangnya berputar semakin keras, meraung dahsyat hingga suaranya jauh melampaui batas perkemahan!. Sekali-sekali sambaran anginnya memecahkan batu kecil dan membabat rumput liar padahal tidak tersentuh oleh bilah pedang.
Akhirnya ujung pedang yang masih berjarak sejengkal itu menembus pertahanan Kinasih. Kulit gadis yang berasal dari Pengging itu menitikkan darah. Meski begitu, dia masih cukup tenang. Tatapan matanya dingin seolah cairan merah yang meleleh itu seperti setetes keringat saja baginya. Serangan dahsyat Ki Sanumerta itu belum sanggup menggoyahkan hati Kinasih yang sekokoh batu karang.
Kinasih tidak berpikir untuk mengganti rantingnya. Bahkan dia merendahkan sepasang lututnya dengan sikap tempur yang garang, menggenggam sisa panjang ranting yang ada, siap menyerang lawan dengan segenap kemampuan.
Ki Sanumerta menyeringai tipis. “Apakah sikapmu itu untuk menyambut luka baru atau menyerahkan diri bulat-bulat padaku? Marilah, aku tidak akan kuasa menolakmu.”
Ucapan terakhir itu, kalimat itu terakhir itu seolah menjadi pemicu ledakan yang dahsyat. Kinasih yang mulanya tidak berpikir menuntaskan lawannya dengan pengerahan ilmu simpanan, tiba-tiba mengubah pendiriannya. Dia tidak terpancing tapi kesadaran untuk memberi lawannya sebuah pelajaran penting.
Kinasih menyerang dengan kecepatan luar biasa hingga mata Ki Sanumerta seakan terkunci. Mulutnya ternganga lebar.
Ketika dia akan berkedip, Kinasih masih merunduk lurus di depannya.
Ketika dia membuka mata, gadis itu melesat luar biasa deras dengan ujung ranting yang langsung menembus dadanya!
Ki Sanumerta terpental dengan ranting menancap tubuh. Meski begitu, dia berusaha mengayunkan pedang mendatar ke leher Kinasih. Kinasih memutar tubuh. Tapi Ki Sanumerta rupanya tidak mengenal kata menyerah. Dengan sisa tenaga, dia melemparkan pedang ke arah pergerakan Kinasih.
Bilah itu meluncur berputar cepat ke arah dada Kinasih.
Beberapa orang berseru kaget.
Jarak mereka terlalu dekat!
Kinasih memiringkan tubuh, tetapi ujung pedang itu masih menggores sisi luar lengannya. Kain di dekat bahu robek dan darah segar memercik tipis. Dia sedikit terdorong ke samping, sejenak langkahnya terhuyung kemudian meraih sebatang ranting yang berada di dekat kakinya.
Sambil menahan luka akibat ranting yang masih menancap, Ki Sanumerta segera menyambar kembali pedangnya dengan wajah tampak puas sekaligus menahan perih. “Ternyata kau tidak terlalu cepat!”
Namun perhatian Kinasih tidak berubah. Dia bahkan tidak melihat luka di lengannya. Tatap matanya lurus memandang Ki Sanumerta.
Orang itu terhuyung maju. Apakah itu jebakan limbung?
Kinasih masih menunggu dan memperhatikan dengan kecermatan tinggi. Kaki itu terlalu terbuka.
Kinasih bergerak lagi secepat luncuran yang pertama. Mendekat pada bagian lemah pertahanan Ki Sanumerta. Pedang orang itu berayun naik dengan maksud menolak sambaran ranting Kinasih tapi gadis itu cepat membelokkan arah pergelangan seperlunya. Melemparkan ranting dari jarak yang sudah tidak mungkin dihindari Ki Sanumerta. Begitu cepat hingga nyaris tak tertangkap pandangan Ki Sanumerta sendiri.
Sebatang lagi menancap ke dada orang yang bergelar Mliwis Logrok tersebut. Kinasih tidak berhenti. Laju tubuhnya masih memungkinkan menusukkan satu serangan lagi.
Sikunya menghantam rusuk Ki Sanumerta.
Tubuh Mliwis Logrok itu terpental, hanyut mengikuti aliran tenaga cadangan murid Nyi Banyak Patra itu, terlempar hingga beberapa langkah jauhnya dengan napas yang sudah terputus.
Kinasih memandang lekat tubuh Ki Sanumerta yang tergolek di tanah selama beberapa tarikan napas. Tidak ada luapan perasaan dengan kemenangan itu. Gadis muda tersebut segera mengalihkan pandangnya ke gelanggang lain.
Di kejauhan, Agung Sedayu masih bergerak cepat memburu Ki Kebo Surongudan. Ledakan-ledakan kecil tenaga cadangan sesekali mengguncang tanah di sekitar mereka. Udara panas berputar-putar seperti pusaran yang saling membelit.
Di sisi lain, Pandan Wangi juga masih bertempur keras di tengah lingkar perkelahian yang belum menunjukkan tanda akan surut.
Kinasih mengamati semuanya dalam waktu singkat. Kemudian berjalan ke belakang sambil mengusap lengan yang meneteskan darah tipis.
Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan pertarungan itu diam-diam membuka jalan ketika Kinasih berjalan melewati mereka. Tidak ada seorang pun yang menahan. Tidak pula di antara mereka berkata-kata padanya. Semua tahu bahwa gadis itu bukan benar-benar orang Menoreh tapi mulai dianggap sebagai keluarga dekat Ki Gede Menoreh. Maka rasa segan dan hormat pun memenuhi perasaan mereka.
Kinasih kemudian berhenti tidak jauh dari deretan kuda para pengawal Menoreh. Dia tidak bekata sedikit pun lalu berdiri di dekat seekor kuda sambil kembali memusatkan perhatian pada pertempuran Pandan Wangi—yang menurutnya segera usai.
Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Arena Pandan Wangi.
Gelanggang ini ternyata penuh desir angin yang berputar liar hingga menyebabkan debu-debu terangkat, meliuk-liuk dan menyesakkan napas serta kelilip di mata.
Dalam waktu itu, Ki Centhong Slobog agaknya sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Napasnya memburu kasar. Keris panjang di tangannya berputar semakin ganas hingga suaranya menggaung seperti ribuan lebah. Setiap sambaran selalu didahului lepasan tenaga cadangan yang sangat tajam yang mampu memotong dahan meski kerisnya sendiri belum benar-benar menyentuh dahan itu.
Namun Pandan Wangi tetap bergerak tenang dengan kecepatan terukur. Tidak terlalu cepat tapi selalu dapat melindungi dirinya dari kejaran tenaga cadangan musuh yang sangat tajam.
Ki Centhong Slobog terus memburu dan menerjang. Dia bertarung seperti harimau kelaparan. Keris panjangnya menyambar beruntun dari bawah, memotong naik ke arah dada, lalu berubah menusuk lambung dalam satu aliran gerak yang nyaris tak terlihat putusnya.
Pedang kanan Pandan Wangi tetap berputaran seolah sedang membuat perisai berbentuk kubah cahaya, sementara pedang kirinya masih sering bertahan sejajar lengan dan hanya bergerak bila diperlukan tanpa kesan terburu-buru, namun selalu muncul ketika mendapatkan celah untuk menyerang.
Bunga api meletik.
Tata gerak benar-benar anggun tapi menyimpan bahaya besar. Setiap putaran pedang seolah mengandung jebakan halus. Sedikit saja lawan terlambat menarik tenaga, bilah tipis itu akan langsung menemukan urat maut.
Ki Centhong Slobog mulai terdesak.
Sudah berulang kali dia sering kehilangan arah dan keseimbangan. Terlebih pada saat Pandan Wangi mulai mrambat menuju puncak kemampuan, sambaran keris Ki Centhong Slobog selalu dapat dipatahkan sebelum tenaga penuh sempat terbentuk. Bahkan putaran pedang Pandan Wangi sendiri seperti perlahan menyeret dirinya masuk ke tenaga cadangan yang bergulung-gulung tapi tak tampak mata biasa. Hanya daun kering saja yang menjadi tanda kehebatan pusaran tenaga cadangan Pandan Wangi.
Mata lelaki berubah menjadi gelap. Dia sadar.bila pertarungan terus berlangsung seperti ini, dirinya pasti tumbang.

Tidak ada jalan keluar yang mengizinkannya keluar dengan selamat. Maka pikirannya dipenuhi kegilaan nekat. Dalam benaknya hanya tersisa satu keinginan: bila dirinya jatuh, maka Pandan Wangi pun harus turut binasa. Tiji tibeh, tiba siji tiba kabeh.
Saat itulah Pandan Wangi melihat celah kecil pertahanan lawan meski seujung lidi.
Kaki kirinya berputar ringan. Tubuhnya miring bagai daun tertiup angin. Pedang kanan menekan keris lawan ke bawah, sementara pedang kiri meluncur deras menuju leher.
Ki Centhong Slobog terkejut bukan main tapi dia tidak ingin lagi menghindar. Dia lebih memilih untuk menabrak jalur pedang Pandan Wangi demi membuka ruang bagi serangan terakhirnya. Dalam jarak sedekat itu, keris panjangnya langsung menghunjam ke arah lambung perempuan tersebut tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri.
Ujung keris merobek sisi perut Pandan Wangi.
