Dilihat 178 kali
Tampaknya mereka ingin menghabisi dua orang itu tanpa perlu bertanya dan tidak membutuhkan alasan. Maka prajurit Mataram yang sedang mengawasi pun tersentak. Dalam pikirannya muncul pertanyaan, apa alasan mereka semua ini? Apakah ini benturan dua perguruan jika mendasarkan pada nama yang didengarnya? Punjung mengusap wajah. Dia ingat nama Ki Ajar Tal Pitu, tapi dia belum pernah mendengar Ki Mahoni.
Pikiran prajurit itu juga merambah ke segi yang lain.
Jika orang-orang yang mengeroyok itu adalah penduduk kampung tersebut, sejak kapan mereka menghuni permukiman tersebut?
Punjung, prajurit dari pasukan khusus itu ingat bahwa permukiman itu dulu ditempati oleh orang-orang yang disembunyikan oleh Raden Atmandaru. Tapi ternyata mereka semua termasuk dalam regu yang bertugas khusus untuk membunuh Ki Gede Menoreh beberapa bulan yang lalu.
Jadi, besar kemungkinan para pengeroyok itu bukan berasal dari kelompok yang sama, pikir Punjung. Tapi, dari mana mereka datang lalu bertujuan apa di Tanah Perdikan?
Sejenak Punjung memperhatikan keadaan. Melerai mereka itu bisa menjadi pilihan tapi mungkin tidak berlangsung lama. Kemungkinan yang lain adalah delapan atau sepuluh orang justru akan mengeroyoknya. Dua kawannya memang tidak terlampau jauh, bahkan mungkin sudah mendekat. Tapi, tiga melawan sepuuluh? Kemudian tingkat kemampuan masing-masing orang?
Perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah itu berlangsung seru. Rupanya jumlah yang banyak itu tidak menjadi jaminan dapat menuntaskan urusan lebih cepat meski dua orang tadi sempat terjatuh pada gebrakan yang dilakukan orang yang mengusir mereka.
Orang-orang itu menyerang dua pengikut Ki Ajar Ental Sewu dari berbagai arah. Senjata mereka berayun deras tapi dua mangsa mereka ternyata bukan lawan yang lemah. Sebaliknya, mereka justru terlihat tangguh karena jumlah banyak itu belum juga mampu menekan lawan.
Punjung menebar pandangan. Mencari kemungkinan ada pergerakan tersembunyi di sekitarnya. Ketika tatap matanya kembali ke gelanggang perkelahian, dia tersentak. Betapa dua orang itu tiba-tiba terdesak cukup hebat.
Seolah sudah kehilangan akal sehat, Punjung tiba-tiba melompat keluar dari persembunyian, melesat deras lalu berteriak kencang, “Hentikan!”
Sesaat kemudian dia sadar. Dia seorang diri, lalu bagaimana tiba-tiba meninggalkan nalarnya?
Serentak orang-orang menghentikan pertempuran, menoleh cepat pada Punjung yang berdiri tegak dan wajahnya menyiratkan ketegasan yang samar terlihat karena cahaya remang-remang.
“Mewakili Prabu Pandita Hanykrakusuma, aku minta semua orang untuk berhenti!” tegas Punjung sambil diam-diam berharap dua kawannya segera datang.
Orang-orang di hadapannya menatap Punjung lekat-lekat. Dia ini, waraskah? Pikir mereka kebanyakan. Seorang diri melerai perkelahian yang tak beraturan di samping hutan yang sunyi.
Seseorang kemudian meraih pundak kawannya yang hendak menyerang Punjung.
“Tahan,” katanya pelan tapi cukup tegas. Dia sedang menduga bahwa orang itu tentu bukan orang dusun atau pemburu yang salah memasuki perkampungan. Mendengar orang itu menyebut nama penguasa Mataram itu dengan wibawa yang berbeda. Bisa jadi dia adalah prajurit Mataram, pikirnya.
Saat seorang lagi hendak maju menyerbu, orang itu berseru, “Tahan. Jangan gegabah.”
Lelaki yang berada di dekatnya kemudian bertanya, “Dia hanya seorang, mengapa kau takut membunuhnya?”
Orang itu menggeleng kemudian berkata, “Bukan takut tapi mungkin dia datang bersama sekelompok prajurit yang belum menampakkan diri.”
Kawan-kawannya bertukar pandang. Ada benarnya karena juga sudah mengetahui kabar terusirnya orang-orang yang sempat membuat kericuhan di barak pasukan khusus.
Tak lama dari peringatan itu, orang-orang pun mengambil jarak dari dua orang yang masih berada di tengah lingkaran.
“Ki Sanak berdua,” ucap Punjung. “Silakan meninggalkan tempat ini.”
Dua orang itu saling berpandangan sejenak lalu menoleh kepada Punjung. Tatapan mereka seakan tidak percaya, tapi pagi atau siang sebelumnya, prajurit Mataram dapat mendesak mundur tanpa perlu mengeluarkan darah. Maka kenyataan itulah yang akhirnya membuat mereka mematuhi permintaan Punjung. Namun baru selangkah, mereka berhenti sambil mengedarkan pandangan.
Punjung mengerti maksud dua orang itu, kemudian dia mengangkat tangan sambil berkata lantang, “Berilah jalan.” Ucapan itu seperti tidak mengenal rasa gentar meski ada debar dalam dada Punjung. Bagaimana jika mereka menolak perintahnya?
Orang-orang yang semula mengepung lantas melempar tatap mata tajam pada prajurit Mataram tersebut. Seorang diri tapi seakan benar-benar tidak takut mati dikeroyok. Apakah seperti itu jiwani seluruh prajurit Mataram? Jika benar, maka tujuan utama mereka tidak dapat dilakukan tergesa-gesa.
Ki Dawar Blandong mengangguk sedikit pada kawan-kawannya. Mereka pun menyibakkan kepungan.
Dua orang itu kemudian melangkah pelan melewati lingkar pengepungan. Langkah mereka tidak begitu tenang. Pandang mata mereka juga masih menandakan kecemasan.
Ketika sejajar dengan beberapa pengeroyok di tepi lingkaran, salah seorang dari mereka berkata dengan suara lirih, “Ki Ajar Ental Sewu dan orang-orang Perguruan Sadapati tidak akan berhenti sampai di sini.”
Ki Dawar Blandong menyambung tanpa menoleh, “Pergilah, kami tetap di sini.”
Suasana kembali tegang.
Dua orang itu sempat berhenti agak lama.
Punjung memandang punggung dua orang itu kemudian berseru lantang, “Teus bergerak. Jangan membuat masalah”
Tidak lama kemudian, dua orang kawan Punjung dari barak pasukan khusus datang memasuki permukiman dengan langkah lebar. Pandangan mereka segera menyapu keadaan yang baru saja mereda. Sekilas di malam yang temaram dengan sinar bulan terlihat beberapa orang berdiri dengan wajah tegang, sebagian lain sedang berbisik-bisik.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki file PDF Kuitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, kami akan kirimkan tautan agar tidak menyita banyak ruang di penyimpanan. Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem di SINI.
Matur nuwun
*gambar hanya contoh
Punjung dan dua kawannya agak lama mengawasi pergeseran dua orang itu sambil menjaga keadaan. Lurah muda ini sedikit lega bahwa dua prajurit itu tidak terlalu lama merapatkan diri padanya.
“Marilah.” Punjung melangkah terlebih dulu dengan kewaspadaan penuh. Dua kawannya cepat mengikuti. Langkah mereka cepat namun tetap berhati-hati. Ketika mereka sudah agak jauh dari permukiman, tepat di sebuah jalan sempit yang membelah bulak kering, Punjung tiba-tiba berhenti.
Dia memandang seorang kawannya lalu berkata tegas, “Engkau kembali ke barak pasukan khusus sekarang juga. Laporkan semua yang terjadi malam ini.”
Orang itu mengangguk.
“Kami tetap di sini,” lanjut Punjung.
Setelah kawannya bergegas pergi menembus gelap malam menuju barak, Punjung tetap berada di tempat itu bersama seorang lagi. Mereka berjaga sambil mengawasi pategalan gelap yang memisahkan permukiman dan tempat orang-orang Ki Ajar Ental Sewu bermalam di sekitar bulak Pringtali.
Kemarahan Ki Ajar Ental Sewu benar-benar meledak!
Orang yang dituakan oleh para cantrik Perguruan Sadapati itu tidak dapat menerima perlakuan kasar penduduk permukiman tersebut. Kemarahan itu diebabkan dua anak buahnya yang sebelumnya datang untuk mencari makan justru diperlakukan dengan buruk.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi orang-orang Perguruan Sadapati.
Ki Ental Sewu masih mempertimbangkan bawah dia tidak boleh ceroboh dengan menyerang permukiman malam itu juga. Ada dugaan muncul dalam pikirannya bahwa orang-orang pasukan khusus belum benar-benar meninggalkan kawasan itu.
“Setidaknya mereka tidak akan menunggu sepanjang hari besok,” kata Ki Ajar Ental Sewu pada muridnya yang tertua dari segi menerima pengajaran. “Malam hari ini hingga pagi, tiga prajurit itu pasti masih di sekitar permukiman atau mungkin juga ada di dekat kita.”
“Jika kita serang permukiman malam ini, mereka bisa apa?” tanya seseorang yang bercambang.
“Jangan bodoh,” tukas Ki Ental Sewu. “Mudah bagi kita untuk menghabisi mereka. Tapi, apakah engkau dapat bayangkan jika pemimpin mereka ternyata mengirim satu pasukan besar ke tempat ini? Mungkin kita masih bisa menang, tapi mereka adalah ratusan orang bersenjata. Sebaiknya kau gunakan otak dengan cukup baik.”
“Tapi kita tidak bisa membiarkan penghinaan itu berlalu begitu saja,” orang itu mencoba membantah.
“Diam!” bentak Ki Ajar Ental Sewu. “Kita hanya perlu melewatkan satu malam ini lalu memberi mereka pelajaran. Setelah itu kita kembali ke tujuan utama, Agung Sedayu. Apalagi kita banyak mendengar bahwa perang tanding antara dirinya dengan Swandaru akan terjadi.”
Punjung dan kawannya tiba-tiba bangun saat mendengar derap orang melangkah cepat ke arah permukiman. Dua prajurit ini bergantian jaga tapi mereka melakukannya sambil berbaring sehingga ketika udara meneruskan suara kaki-kaki berlari kecil, mereka pun cepat bersiap.
Baca pula Bara di Borobudur – Kisah petualangan era Majapahit di SINI
Beberapa bayangan berkelebat cepat.
Dalam waktu itu, sebelum fajar menyingsing, rupanya Ki Ajar Ental Sewu mengirim enam orang muridnya untuk mendatangi permukiman di Pringtali. Mereka datang bukan untuk menyerang secara terbuka, tapi menuntut pengakuan salah serta penebusan atas perlakuan yang dianggap mempermalukan Perguruan Sadapati.
Namun orang-orang di permukiman itu ternyata bukan penduduk biasa. Dengan sikap keras mereka memperkenalkan diri sebagai kepanjangan tangan sebuah perguruan tua yang masih memiliki hubungan ilmu dengan seorang tokoh sakti dari masa lampau bernama Empu Pinang Aring.
Mereka menolak tuntutan itu mentah-mentah.
“Dua orang itu memasuki perkampungan tanpa izin,” kata salah seorang di antara mereka. “Mereka datang pada malam hari dengan gerak-gerik mencurigakan. Kami tidak mempunyai kewajiban meminta maaf.”
Jawaban itu segera membuat suasana menegang.
Enam orang utusan Sadapati mulai berbicara dengan nada tinggi. Orang-orang permukiman pun tidak mau mengalah. Dalam waktu singkat cekcok melebar menjadi saling dorong dan ancaman terbuka.
Benturan keras pun pecah ketika salah satu dari pengikut Empu Pinang Aring menyerang barisan orang yang melabrak permukiman.
Jumlah orang yang mengaku satu jalur ilmu dengan Empu Pinang Aring ternyata memang cukup banyak. Tapi mereka tidak begitu mudah mengendalikan keseimbangan walaupun enam orang itu dikepung belasan orang dari segala penjuru angin.
