Dilihat 472 kali
Sementara itu, suasana di sekitar arena masih terasa tegang. Tidak seorang pun benar-benar mengetahui akhir dari permintaan itu. Diterima atau atau justru menjadi awal benturan baru.
Pandan Wangi mengangguk.
Orang-orang bernapas lega meski belum longgar. Sebagian merasa heran dengan keputusan Pandan Wangi dan juga sikap Agung Sedayu. Sulit dimengerti, pikir mereka.
Ki Lurah Sora Sareh masih menimbang karena keributan itu menyangkut juga keselamatan seluruh isi barak pasukan khusus. Selain itu juga dapat dianggap sebagai ancaman bagi Mataram. Tapi atasannya langsung, Ki Tumenggung Agung Sedayu, sudah tentu akan berada di depan bila ada pertanyaan atau hal yang lain. Keyakinan itulah yang kemudian membuatnya berkata, “Bawalah dengan penuh hormat dan penghargaan.”
Jaka Awar-awar memberi hormat kepada Agung Sedayu, Ki Lurah Sora Sareh, Pandan Wangi, dan orang-orang yang berdiri mengelilingi arena. Setelah itu dia membungkuk perlahan di sisi tubuh Ki Kebo Surongudan.
Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh orang tua itu ke pundaknya lalu beranjak pergi. Ki Warujayeng berjalan di sisinya.
Tidak ada yang menghalangi ketika mereka melangkah meninggalkan perkemahan. Orang-orang hanya memandangi mereka dalam diam hingga bayangan dua orang itu lenyap di antara pepohonan.
Agung Sedayu kemudian berpaling kepada Ki Lurah Sora Sareh. “Ki Lurah bisa lakukan tindakan selanjutnya yang diperlukan,” katanya pelan.
“Saya, Ki Tumenggung,” jawab Ki Lurah Sora Sareh sambil membungkuk hormat. Sejumlah perintah pun diberikan pada Sukra, Sayoga dan barisan berkuda.
Setelah itu Agung Sedayu menghampiri Pandan Wangi, memeriksa luka lambungnya. Kemudian berbicara singkat dengan Kinasih perihal luka yang diderita Pandan Wangi. Percakapan itu berlanjut saat mereka bertiga berjalan beriringan menjauhi perkemahan.
Arena pertempuran itu pun perlahan-lahan mulai dikosongkan, sementara orang-orang masih menyimpan kesan mendalam atas pertarungan yang baru saja mereka saksikan. Beberapa pengawal bercakap sesama mereka. Demikian pula sejumlah prajurit Mataram. Bahkan percakapan itu terus berlanjut setelah gelanggang benar-benar ditinggalkan. Mula-mula hanya berupa seloroh pendek tentang dentuman tenaga cadangan yang membuat tanah berlubang besar, tentang Ki Kebo Surongudan yang mampu lenyap dari pandangan mata, lalu tentang Agung Sedayu yang tetap dapat melayaninya seolah mengetahui setiap perpindahan lawan. Sedikit yang bicara tentang keputusan Pandan Wangi.
Namun semakin jauh mereka berjalan meninggalkan perkemahan, nada percakapan perlahan berubah menjadi kekaguman yang sulit disembunyikan.
“Baru kali ini aku melihat orang bertarung seperti itu,” kata seorang prajurit berkuda sambil menuntun kudanya perlahan.
“Kau masih beruntung dapat melihatnya,” sahut kawannya. “Aku bahkan lebih banyak mendengar dentuman daripada melihat gerak mereka.”
Yang lain tertawa pendek lalu berkata, “Tapi Ki Tumenggung tetap berdiri.”
“Bukan hanya berdiri,” timpal seorang pengawal Menoreh. “Dia masih sempat memikirkan keadaan Nyi Pandan Wangi.”
Percakapan-percakapan serupa pecah dalam kelompok-kelompok kecil. Para pengawal berbicara sesama mereka. Prajurit berkuda saling mengingat bagian pertarungan yang sempat tertangkap mata. Bahkan ada yang berbantahan tentang cara Agung Sedayu dapat mengetahui letak Ki Kebo Surongudan ketika ilmu Panglimunan mencapai puncaknya.
Sedikit demi sedikit mereka pun berpisah menurut tugas dan arah masing-masing.
Sebagian kembali menuju barak pasukan khusus bersama Ki Lurah Sora Sareh. Sebagian lain bergerak ke gardu-gardu jaga di sekitar pedukuhan induk. Ada pula yang mengawal tandu dan kuda menuju kediaman Ki Gede Menoreh.

Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis. Kontribusi untuk versi cetakan:
Toh Kuning – Benteng Terakhir Kertajaya, 124 hal, 115 rb
Bara di Borobudur, 225 hal, 130 rb
Langit Hitam Majapahit, 155 hal, 120 rb
Penaklukan Panarukan, 566 hal, 175 rb
Seluruhnya hard cover dan hitam putih
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki versi PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline atau versi cetakan, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Namun di barak pasukan khusus, suasana belum benar-benar tenang. Beberapa prajurit yang baru kembali dari pasar induk masih membicarakan keributan yang nyaris pecah. Ketika kabar mengenai pertempuran di perkemahan sampai pada mereka, percakapan segera berubah arah. Nama Agung Sedayu disebut berulang-ulang dengan nada penuh hormat.
“Ki Tumenggung benar-benar menghadapi Panglimunan?”
“Dan mengalahkan orang itu,” sahut yang lain pelan.
Beberapa prajurit muda tampak menyimpan sorot mata yang berbeda. Seolah-olah mereka baru saja mendengar kisah ngayawara yang hidup kembali di depan mata. Bahkan orang-orang yang biasanya keras bicara pun menjadi lebih berhati-hati ketika menyebut nama Agung Sedayu. Ada rasa hormat dan kagum dan ada pula yang seakan memendam rasa tidak percaya.
Di gardu-gardu jaga pun demikian.
Para peronda yang bertugas di simpang jalan, dekat pasar maupun pinggir pedukuhan berbicara lirih tentang dentuman yang sempat mereka dengar dari kejauhan. Ada yang mengaku melihat burung-burung beterbangan dari arah perkemahan. Ada pula yang mengatakan tanah di bawah gardu sempat terasa bergetar.
“Kalau Ki Tumenggung sampai kalah,” kata seorang pengawal tua sambil memandang jalan di depannya, “suasana di Tanah Perdikan tidak lagi sama.”
Yang lain mengangguk perlahan.
Mereka bangga. Mereka merasa aman karena orang seperti Agung Sedayu masih berdiri di pihak Menoreh. Tetapi di balik rasa hormat itu, diam-diam terselip pula perasaan getir yang sulit dijelaskan.
Beberapa orang teringat pada Pancuran Watu Item. Kenangan melintas di dalam hati masing-masing. Terbitlah kembali dua lelaki muda yang cukup mapan dala kanuragan, tapi pada saat itu Agung Sdayu dan Swandaru masih belum seperti sekarang. Celah gelisah pun menganga semakin lebar. Kemungkinan buruk yang hampir mungkin tidak dapat dihindari lagi, pikir mereka.
Malam hampir menjelang ketika beberapa lampu minyak mulai dinyalakan di pendapa dan halaman samping kediaman Ki Gede Menoreh. Udara dingin turun perlahan dari lereng Merapi saat suasana di sekitar rumah induk Tanah Perdikan masih belum benar-benar reda. Sejumlah pengawal Tanah Perdikan tampak lalu-lalang dengan sikap lebih waspada dibanding biasanya.
“Belakangan ini terlalu banyak orang datang ke Menoreh,” desis seorang pengawal pelan pada kawannya. “Seorang kawan di Separang mengatakan sejumlah pendatang sempat meminta izin untuk mendirikan padepokan di sana. Tapi bekel dusun sepertinya belum memberikan izin. Katanya, kata bekel, Ki Gede juga harus tahu mengenai perkembangan itu.”
Seseorang mengangguk. Dia berkata, “Jadi, memang sebagian besar orang yang datang bukan untuk berdagang.” Lantas terdengar hela napas cukup panjang dari mulutnya.
Di sudut lain halaman belakang, seorang pengawal berkata lirih, “Sepertinya tanah ini sedang didatangi sesuatu sejak perlawanan Raden Atmandaru diselesaikan.”
Dua orang mengangguk.
Satu orang berkata, “Kita sudah mendengar perkelahian Sukra di dekat Ringinlarik. Kemudian tadi pagi terjadi lagi, bahkan sudah melibatkan barak pasukan khusus.”
“Meski kita berhasil mengendalikan keadaan, tapi sepertinya kita akan bekerja lebih keras lagi,” timpal seseorang yang dari tadi diam mendengarkan.
Dia menegakkan punggung, menghembus napas panjang, lalu berkata lagi, “Apalagi saat ini kita tidak dalam keadaan yang cukup baik.”
“Mengapa begitu?” tanya temannya.
“Nyi Pandan Wangi sedang terluka,” jawab orang yang menegakkan punggung. “Bukan tidak percaya pada Ki Tumenggung maupun Ni Kinasih, tapi agaknya luka Nyi Pandan Wangi tidak dapat sembuh dalam dua atau tiga hari ini.”
“Ah, iya…,” kata pengawal lain. Wajahnya tampak gelisah. “Pertarungan di Pancuran Watu Item akan terjadi sebentar lagi.”
Beberapa orang hampir menarik napas serentak. Pandangan mereka terbelah.
Dengan banyaknya orang mendatangi Tanah Perdikan sambil membawa serta berbagai keperluan dan kepentingan, luka yang dialami Pandan Wangi menjadi tanda bahwa kekuatan mereka tidak lagi utuh. Menoreh tidak dalam keadaan baik. Saklipun masih ada Nyi Dwani dan Kinasih, tapi Pandan Wangi mempunyai wibawa yang tidak berada pada dua perempuan tersebut.
Sebagian menatap langit, sebagian lagi tunduk ke bawah.
Bagi mereka semua, perang tanding Pancuran Watu Item bukan hanya dianggap ajang pembuktian yang lebih kuat antara Agung Sedayu dengan Swandaru, tapi kehidupan di Tanah Perdikan sendiri hingga beberapa waktu mendatang. Bahkan Kademangan Sangkal Putung pun masih terimbas pula.
Dalam waktu yang sama, Ki Gede sedang mendengarkan penuturan Agung Sedayu yang disampaikan cukup tenang. Mulai dari perkembangan di Kotaraja sampai benturan keras di perkemahan. Walaupun ringkas tapi Ki Gede sudah mendapatkan intisari dari seluruh keterangan Agung Sedayu.
“Padahal tidak ada orang yang menyaksikan perkelahian Angger dengan Raden Atmandaru tapi orang-orang gencar membicarakannya,” kata Ki Gede usai Agung Sedayu menutup kalimat terakhirnya.
Tatap mata Ki Gede menerawang sejenak lalu dia berkata lagi, “Tapi mungkin saja kabar seperti itu tersebar semakin luas dan semakin dipercaya setelah perondaan ketiga beberapa waktu lalu.”
Agung Sedayu mengangguk.
Di dalam pringgitan itu tampak pula Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata. Sementara Pandan Wangi tidak turut dalam perbincangan penting itu karena luka yang dideritanya. Semakin dia banyak istirahat, maka semakin cepat pula harapannya untuk pulih. Baik Agung Sedayu dan Kinasih yang sama-sama memahami pengobatan sudah mengusahakan sampai batas puncak pengetahuan mereka.
Sebenarnya Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata ingin mengatakan sesuatu terkait perang tanding Pancuran Watu Item, tapi mereka memilih menahan diri. Keadaan itu tidak dapat lagi dibatasi dan dilihat sebagai persoalan yang harus dihadapi Ki Gede dan keluarganya. Tetapi, untuk mengangkat persoalan itu di depan Ki Gede sudah jelas harus disertai alasan yang tepat sebagai jalan masuk.
Ki Jayaraga tampak berpikir keras. Dalam benaknya, boleh jadi Ki Gede sudah menyadari setiap langkah yang harus dilakukan. Tapi menurut Ki Jayaraga, keadaan itu tetaplah harus disampaikan agar Ki Gede tetap tegar berdiri sebagai pengayom dan sekaligus penopang kehidupan di Menoreh. Jika sebelumnya ada Pandan Wangi rajin serta giat menyokong banyak hal, tapi perempuan tangguh itu sedang terluka. Mau tidak mau, dengan segala keterpaksaan, keadaan sudah pasti berbeda.
Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat dan menggerus wibawa Ki Gede, Ki Jayaraga menghadapkan wajah lurus pada Agung Sedayu. Guru Glagah Putih itu kemudian bersuara, “Ki Tumenggung, barangkali Anda sudah mengetahui keributan di pasar induk, jadi biarkan kami yang sudah senja ini depat mengetahui lebih banyak rencana pasukan khusus, terutama bagi para pengawal mengenai tertib keamanan di Tanah Perdikan.”
Agung Sedayu mengangguk. Dia mengerti maksud permintaan Ki Jayaraga yang sengaja mengalihkan pertanyaan pada dirinya.
Namun sebelum Agung Sedayu membuka kata, Ki Gede mengangkat tangannya perlahan. Katanya tenang, “Kyai, sebenarnya saya juga bermaksud menanyakan itu pada Angger Sedayu. Tapi ada beberapa keadaan yang mengganjal, tapi terima kasih karena Kyai berkenan mengungkap itu pada Angger Sedayu.”
Sejenak dia mengatur napas, lalu berkata lagi, “Kita semua sudah mendengar keterangan bahwa ada sebagian masa lalu yang kembali datang hari ini. Saya mendengar ada nama Ki Ajar Tal Pitu, Empu Pinang Aring dan satu atau dua orang lagi yang saya kurang mengerti. Tapi langkah pengamanan tetap tidak dapat digebyah uyah seperti yang baru kita lakukan pada kelompok Ki Kebo Surongudan.”
Mpu Wisanata merasa lega. Dadanya bergerak turun dan naik sedikit longgar. Persoalan ini memang sulit didekati dengan ketegasan karena dapat dianggap hantam krama pada semua pendatang.
Benarlah dugaannya bahwa Ki Gede sendiri mempunyai ganjalan untuk menyatakan terus terang di hadapan mereka. Alasan yang harus dihormati karena salah satu nama orang yang berperang tanding nantinya adalah Swandaru. Maka dia pun berharap Agung Sedayu dapat bersikap sebagaimana mestinya senapati dan juga orang yang akan menjalani perang tanding tersebut.
Sedikit senyum mengembang tapi seketika menghilang dari wajah Agung Sedayu. Dia mengerti harapan dari tiga lelaki sepuh di depannya tapi kegetiran serta merta menguasai kembali hatinya.
Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Sebagai senapati yang memegang tugas pengamanan wilayah Mataram, dia tidak dapat bertindak menurut kepentingannya sendiri, apalagi membuat aturan yang memberi kesan bahwa dirinya sedang mencari kemenangan sebelum perang tanding berlangsung. Sikap berat sebelah bukan saja melukai hati banyak orang, tetapi juga dapat menjatuhkan wibawa Ki Gede di hadapan semua orang, termasuk Mataram. Maka dia pun memahami sepenuhnya kegelisahan yang tersembunyi di balik sikap hati-hati Ki Gede dan dua sesepuh lainnya.






