0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 24 – Hening

Dironda 2399 kali

Pada waktu yang nyaris bersamaan dengan tuntasnya pertarungan Pandan Wangi, kerusuhan terjadi di pasar utama pedukuhan induk.

“Jangan percaya omongan orang-orang Menoreh!” teriak salah seorang dengan suara parau. “Ki Ajar Tal Pitu tidak mungkin kalah secara ksatria!”

Sorak setuju langsung menyambar dari sekelompok orang di belakangnya.

“Benar!”

“Sedayu curang!”

“Kalau bukan jebakan, mustahil Ki Ajar Tal Pitu roboh!”

Nama Ki Ajar Tal Pitu tiba-tiba bergema seperti genderang perang. Orang-orang yang masih memiliki hubungan dengan perguruan lawas mulai berdatangan, membawa kemarahan yang selama ini hanya berupa bara kecil. Selain itu, mereka datang karena berita kedahsyatan ilmu yang tersimpan dalam kitab Kyai Gringsing.

Seorang lelaki tua berjanggut tipis menuding ke arah kerumunan lain. “Orang-orang di perguruanku memanggilku Ki Ajar Ental Sewu. Aku adalah adik seperguruan dari Ki Ajar Tal Pitu. Dan aku mendengar bahwa Sedayu menyerang saat Ki Ajar sedang lengah!”

Kerumunan mulai terbelah. Sebagian orang memilih diam, tetapi yang lain mencoba membantah.

“Tidak, mustahil. Kalian tidak melihat sendiri! Itu sudah puluhan tahun yang lalu.”

“Ki Ajar Tal Pitu adalah pendekar besar jadi mana mungkin dikalahkan begitu saja dengan Sedayu yang saat itu baru masuk dua puluhan tahun!”

“Orang seperti dia tidak mungkin kalah!”

“Ada permainan licik!”

Makin lama nada mereka makin menyerupai hasutan. Bukan lagi sekadar pembicaraan pasar.

Orang-orang mulai waspada. Pedagang-pedagang buru-buru menutup dagangan mereka, sementara perempuan dan anak-anak menyingkir ke tempat lebih aman. Beberapa anak muda meninggalkan pasar dengan langkah cepat ke arah barak pasukan khusus dan rumah Ki Prastawa yang lebih dekat dengan pasar.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tersebar pula bisikan yang tajam dan berbahaya.

“Katanya Agung Sedayu memakai ilmu terlarang…”

“Perguruan Tal Pitu dijebak sejak awal…”

“Cukup!” Suara itu meledak dari tengah kerumunan seperti cambuk yang dilecutkan ke batu.

Beberapa orang tersentak. Bahkan hiruk-pikuk pasar seolah patah sesaat.

Dari sela orang-orang maju seorang lelaki berikat kepala hitam lusuh, dengan wajah keras dan tidak membawa senjata mencolok, tetapi sikapnya membuat beberapa orang tanpa sadar mundur setapak.

Tatapannya menyapu kerumunan yang mulai panas.

“Kalian ini, dari mana?” hardiknya.

Seorang pengikut Ki Ajar Tal Pitu langsung menunjuk marah. “Kau ini, pembela Agung Sedayu?”

“Kalau kalian benar-benar murid perguruan,” katanya sedikit rendah seperti mengabaikan pertanyaan itu,  “tentu tahu bedanya menuntut balas dan bikin keributan.”

Seorang pemuda bertubuh kekar mengangkat tangan, berseru, “Jangan menggurui kami!”

“Kau pikir keributan ini dapat selesai begitu saja dengan omong kosong seperti tadi?”

Pemuda itu diam sesaat, lalu berkata lantang, “Apakah itu tantangan?”

Lelaki itu menunjuk ke arah jalan besar pedukuhan induk. “Kalau kalian ingin rusuh… pengawal Menoreh dan prajurit Mataram akan turun.”

Kata-kata itu membuat beberapa wajah berubah.

“Dan kalau mereka datang,” lanjutnya, “tempat ini bukan lagi pasar. Ini jadi medan pembersihan. Kalian pasti dihalau pergi.”

Sebagian besar orang mengangguk, membenarkan ucapan orang itu. Mereka itu berasal dari banyak tempat meski sejumlah besar adalah orang Tanah Perdikan sendiri, lalu pedagang dari Kotaraja, Sangkal Putung , bahkan Jati Anom.

Mereka semua tahu cara pasukan Menoreh bergerak ketika keadaan dianggap mengancam keamanan wilayah. Cepat. Tegas. Kadang keras.

Lelaki itu kembali berkata, “Kalian mau menuntut kehormatan Ki Ajar Tal Pitu?”

Orang berikat kepala hitam seolah sedang mengabarkan sesuatu pada pengikut Ki Ajar Tal Pitu ketika matanya tajam menatap Ki Ajar Ental Sewu. “Seharusnya kalian dapat berpikir jauh.”

Kerumunan pendatang itu bergumam hingga terdengar seperti dengung lebah.

“Kalian tahu apa akibatnya kalau tuduhan jatuh tanpa alasan yang masuk akal? Apalagi ini terkait dengan Agung Sedayu? Itu sama halnya dengan menarik Ki Gede Menoreh.”

Tak ada yang menjawab. Hanya beberapa orang mulai saling pandang.

Saat itu, nama Agung Sedayu bukan nama biasa. Terlalu banyak orang mengetahui arti Agung Sedayu bagi Menoreh. Bukan sekadar seorang pemimpin pasukan, tapi sudah dianggap keluarga Ki Gede Menoreh. Bahkan oleh beberapa orang, Agung Sedayu sudah seperti anak mereka sendiri.

“Kalau kabar ini dianggap hasutan atau usaha kalian untuk memecah belah,” katanya, “Menoreh tidak akan tinggal diam.”

Suasana semakin mencekam. Nada orang itu seperti sebuah ancaman.

“Dua hari lalu,” katanya perlahan, “sekelompok orang sudah diusir keluar dari sini.”

Ada yang tampak terkejut. Ada pula yang langsung menunduk karena mengetahui sesuatu.

“Mereka membuat keributan,” lanjut lelaki itu. “Memang tidak di pasar seperti kalian. Mereka jauh lebih berani karena menantang Agung Sedayu di halaman barak pasukan khusus.”

Perbandingan yang terdengar seperti penghinaan bagi pengikut Ki Ajar Tal Pitu. Terasa seperti hantaman yang jauh lebih meremukkan dibandingkan pukulan.

Terdengar kemudian derap kaki terdengar dari arah salah satu jalan. Teratur dan rapi.

Orang-orang cepat menoleh.

Dari arah barak pasukan khusus muncul sekelompok prajurit berpakaian gelap, bergerak dalam barisan rapat. Orang paling depan adalah Glagah Putih dan Ki Prana Aji.

Kerumunan pasar yang tadi masih panas langsung surut beberapa langkah seperti diterpa angin dingin.

Glagah Putih berjalan tanpa banyak bicara. Sorot matanya menyapu seluruh pasar dengan ketajaman yang membuat beberapa orang buru-buru menyembunyikan senjata mereka.

Sementara Ki Prana Aji tampak lebih tenang.

“Bersihkan tempat,” perintah Glagah Putih yang ditujukan pada pasukan khusus.

Sejumlah orang segera menyingkir ketika pasukan khusus membentuk lingkaran dengan senjata teracu.

Tak jauh dari kedatangan pasukan khusus, derap lain kembali terdengar tapi dari arah rumah Ki Prastawa.

Orang-orang makin gelisah ketika melihat kelompok kedua memasuki pasar induk. Mereka adalah para pengawal Menoreh, bersenjata lengkap, bergerak cepat menutup jalan-jalan keluar pasar.

Pasar terkepung.

Rupanya laporan dari beberapa penduduk telah sampai jauh lebih cepat daripada perkiraan orang. Tanah Perdikan tidak menunggu kerusuhan benar-benar meledak.

Mereka bertindak segera.

Seorang lelaki di tengah kerumunan berbisik lirih, “Cepat sekali…”

Yang lain menjawab dengan wajah pucat, “Kalau seperti ini, orang yang berani macam-macam di Tanah Perdikan jelas sudah bodoh sekali.”

Glagah Putih mengedarkan pandangan lalu mengangguk pada beberapa bebahu dusun yang dikenalnya.

Ki Prana Aji melangkah maju perlahan. “Jika ada keberatan atau keluhan, kami persilakan datang ke barak atau kediaman Ki Gede. Kita duduk lalu bicara baik-baik.”

Rahayu

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Penaklukan Panarukan, 75 ribu, pdf

Versi cetak, pre order, 566 halaman, hard cover, hitam putih, 175 ribu

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Saat suasana di pasar induk mereda, di perkemahan justru semakin panas.

Agung Sedayu yang melapisi diri dengan ilmu kebal tingkat puncak tampak terdorong beberapa kali. Namun itu tidak berarti Ki Kebo Surongudan berada di atas angin. Hanya saja, bagi orang-orang yang melihat maka itu benar jika menilai Sedayu sedang terdesak.

Sebenarnyalah jangkauan gelombang panas itu justru sangat menyulitkan Ki Kebo Surongudan melancarkan serangan. Betapa tidak, ketika dirinya masuk dalam jangkauan ilmu kebal maka tubuhnya terasa sedang dipanggang di tempat pembakaran batu bata.

Sedayu, dengan caranya sendiri, mampu mengubah saluran ilmu kebalnya menjadi semacam daya gempur yang dapat dileburkan langsung ke dalam tata gerak maupun pusaran angin pukulannya. Akibatnya, setiap benturan tidak hanya menahan senjata lawan, tetapi juga balik merontokkan pertahanan Ki Kebo Surongudan dengan hawa panas yang membakar.

Bukan sekadar hawa sakti yang memancar liar, tetapi seperti gelombang udara yang mampu membakar daun atau ranting kering. Karena itu, setiap kali Ki Kebo Surongudan mencoba mendekat, kulitnya seakan disentuh bara yang menyala di dalam lingkar perkelahian.

Begitu hebat pertarungan itu—akibat dari hawa panas yang luar biasa—wujud Ki Kebo Surongudan yang lenyap dari penglihatan pun dapat diketahuinya. Getaran di wujud lawannya terlihat oleh Agung Sedayu seperti riak udara di atas batu cadas hitam yang dipanggang matahari.

Oleh sebab itu, Ki Kebo Surongudan tidak terhenti diserang rasa heran. Setiap kali dia menyerang,  Agung Sedayu selalu mampu menghindar pada saat yang tepat. Bahkan ketika dia mencoba melepaskan diri dan menjauh, murid Kyai Gringsing dapat memburunya seakan mengetahui dengan tepat keberadaan dirinya.

Sebenarnyalah, pengorbanan Agung Sedayu untuk mengubah saluran ilmu kebalnya menjadi hawa panas telah membuahkan hasil. Di arena itu, pemimpin pasukan khusus Mataram tersebut akhirnya  dapat menangkap perpindahan lawannya dengan penglihatan wadag.

Udara di sekitar Ki Kebo Surongudan terus-menerus bergoyang karena hawa yang demikian panas. Karena itulah, setiap gerakan orang itu tetap tampak sebagai riak samar, seperti gelombang panas di atas tungku perapian.

Dan itu sudah lebih dari cukup bagi Agung Sedayu.

Perkelahian semakin tidak dapat dipahami oleh semua orang yang melihat. Agung Sedayu mendadak turut lenyap—padahal dia menggandakan kecepatannya yang luar biasa.  Kinasih dan Pandan Wangi masih dapat mengikuti bayangan Agung Sedayu meski samar, tapi yang lain jsutru tidak dapat sama sekali.

Kecepatan seperti itu sudah tidak asing lagi bagi Pandan Wangi dan Kinasih maka pikiran mereka pun mengarah pada tujuan yang sama: apa yang sedang terjadi di gelanggang?

Pertarungan aneh itu berlangsung cukup lama hingga pada suatu saat, Agung Sedayu mengerutkan kening.

Dia melihat bahwa lawannya tidak lagi bertempur dengan kewaspadaan seorang berilmu tinggi. Ki Kebo Surongudan sedang memaksa melampaui batas kemampuannya sendiri.

Erangan napasnya terdengar sangat berat.

Mungkinkah Ki Kebo Surongudan tidak ingin menyerah dengan melepas ilmu puncaknya, Panglimunan? Dia tetap bertahan dengan kemampuan yang nggrigisi itu meski tubuhnya mulai melawan dan memberontak.

Orang-orang di sekitar masih belum dapat melihat sesuatu sedang terjadi di gelanggang selain Agung Sedayu yang berdiri tegang menghadapi ruang kosong. Kemudian pemimpin pasukan khusus Mataram bergeser selangkah surut—seakan sedang terjadi sesuatu.

Panglimunan yang menyelubungi dirinya rontok berantakan. Dan tiba-tiba saja tubuh Ki Kebo Surongudan tampak terhuyung beberapa langkah di hadapan Agung Sedayu.

Dia jatuh berlutut dengan tangan menekan tanah. Sesaat tubuhnya masih bergetar, lalu roboh ke samping tanpa bergerak lagi.

Arena itu pun menjadi senyap.

Tidak seorang pun benar-benar mengerti walau sebenarnya semua bertanya: apa yang telah terjadi?

Mereka hanya mengetahui satu hal—Ki Kebo Surongudan yang selama itu terlindung dalam panglimunan akhirnya dapat dijatuhkan oleh Agung Sedayu.

Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng seolah tersedak tenggorokan mereka. Apakah itu nyata? Benarkah Panglimunan tumbang di Tanah Perdikan oleh Agung Sedayu?

Untuk beberapa waktu, mereka hening sambil memejamkan mata.

Jaka Awar-awar lantas berdiri, berjalan pelan menuju arena pertempuran.

“Kau, mau ke mana?” tanya Ki Warujayeng.

“Ki Kebo Surongudan telah tiada,” jawab Jaka Awar-awar, “aku ingin meminta sesuatu yang khusus pada Sedayu.”

“Apa itu?”

“Aku meminta hak untuk menyempurnakan kematian Ki Kebo Surongudan. Setidaknya ini adalah cara untuk menghormati dirinya dan usahanya mati-matian mempertahankan ilmu perguruan.”

Ki Warujayeng menimbang sesaat, lalu bertanya lagi, “Bagaimana jika mereka menangkap kita?”

Jaka Awar-awar menggeleng lalu menghela napas panjang.

“Jika itu yang terjadi, maka berakhirlah perjalanan kita di tanah ini.”

Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng kemudian berjalan berdampingan menuruni lereng dengan langkah cepat. Ketika tiba di tanah datar, mereka setengah berlari mendekati pusat pertarungan. Pergerakan mereka tentu saja mengundang kewaspadaan para pengawal Tanah Perdikan.

Beberapa orang bahkan telah menggenggam senjata mereka erat-erat ketika dua orang itu semakin dekat ke arena.

Namun Agung Sedayu mengangkat tangannya sedikit. “Tahan.”

Mereka segera menahan diri dengan tatap mata tajam mengawasi setiap gerak Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng.

Dua orang itu berhenti beberapa langkah di hadapan Agung Sedayu. Sejenak Jaka Awar-awar memandang tubuh Ki Kebo Surongudan yang telah terbujur diam di atas tanah. Wajahnya menegang, tetapi tidak tampak gejolak berlebihan di matanya.

Dia berkata perlahan, “Agung Sedayu, aku datang untuk meminta satu hal.”

“Tunjukkan hormat. Beliau adalah tumenggung.”

Jaka Awar-awar menarik napas. Bukan ingin membantah tapi karena memang tidak tahu dan tidak mau tahu.

Agung Sedayu tidak segera menjawab.

“Baiklah,” ucap Jaka Awar-awar. “Ki Tumenggung, kami datang untuk satu keperluan. Kami ingin memperoleh hak untuk menyempurnakan kematian Ki Kebo Surongudan.”

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Pandang matanya turun pada tubuh lawannya yang tidak bernyawa lalu kakinya merendah, berlutut di samping jasad Ki Kebo Surongudan.

“Pertarungan ini memang urusan kami berdua,” katanya lambat tanpa mengurani kewaspadaan. “Tapi aku tidak mempunyai keberatan terhadap permintaanmu.”

Sejenak kemudian Agung Sedayu berpaling ke arah Ki Lurah Sora Sareh yang berdiri tidak jauh dari gelanggang. “Namun beliau dan Nyi Pandan Wangi adalah penanggung jawab pengamanan di tempat ini,” katanya pada Jaka Awar-awar. “Karena itu, bertanyalah pada beliau berdua.”

Jaka Awar-awar pun memutar tubuhnya perlahan menghadap Ki Lurah Sora Sareh lalu Pandan Wangi.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.