Dilihat 122 kali
Kemakmuran Kademangan Grajegan menarik perhatian banyak pihak, termasuk lima pendekar misterius dari negeri seberang yang menawarkan diri menjadi pelatih pasukan pengawal. Namun di balik sikap ramah dan niat bekerja sama, tersembunyi kemampuan mematikan yang bahkan membuat para pemimpin Grajegan harus menguji mereka dengan penuh kewaspadaan.
Pendadaran berubah menjadi duel sengit ketika Siwagati, putri Ki Juru Manyuran , maju menghadapi Toa Sien Ting. Dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat, gadis itu memaksa pendekar asing tersebut bertahan mati-matian. Kehebatan Siwagati membuat para tamu dari negeri seberang terkejut—mereka tak pernah membayangkan seorang gadis Jawa mampu bertarung sekelas itu.

Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Kontribusi untuk versi cetakan:
Toh Kuning – Benteng Terakhir Kertajaya, hard cover, hitam putih, 124 hal, 115 rb
Bara di Borobudur, 228 hal, 130 rb
Langit Hitam Majapahit, 149 hal, 120 rb
Penaklukan Panarukan, 358 hal, 175 rb
Seluruhnya hard cover dan hitam putih
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki versi PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline atau versi cetakan, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Pertarungan semakin membara saat senjata dikeluarkan. Toa Sien Ting akhirnya terpaksa menggunakan tenaga inti untuk merobohkan Siwagati, memicu kemarahan Ki Wisanggeni yang langsung mengepung seluruh rombongan pendekar asing. Dalam sekejap, halaman rumah Ki Demang berubah menjadi medan perang yang nyaris memicu pertumpahan darah besar.
Di tengah ketegangan yang hampir meledak, kebijaksanaan Ki Sarwa Jala berhasil meredakan keadaan. Pendadaran yang semula dipenuhi kecurigaan justru berakhir dengan lahirnya sebuah kerja sama yang kelak memperkuat pertahanan Grajegan. Namun di balik perdamaian itu, masing-masing tokoh masih menyimpan rahasia, ambisi, dan kekuatan yang suatu hari bisa mengubah arah sejarah Majapahit.
