0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 30 – Rusuh! Bentrokan Pengawal Menoreh

Dilihat 182 kali

Mereka mengenali beberapa potong pembicaraan yang cukup untuk mengetahui orang-orang baru itu dan tempat asal mereka. Terlebih lagi ketika salah seorang dari pendatang itu tanpa sengaja menyebut arah lereng tempat mereka mendirikan kemah.

Salah seorang dari ketiga orang itu menarik napas panjang. Rahangnya mengatup keras, tapi matanya menatap mangkuknya.

“Mereka rupanya tidak tahu diri dan tidak mengenal tanah yang dipijak,” desisnya sangat pelan. “Mereka sepertinya memang meremehkan kemampuan pengawal Menoreh.”

“Kita tidak akan membela pengawal Menoreh,” sahut kawannya lirih.

“Jangan di sini.” Orang ketiga mengangkat tangannya sedikit, meminta dua kawannya menahan diri. “Kita tidak sedang membela Menoreh dan Mataram. Tapi aku sedikit berharap mereka segera bertemu dengan dua itu, Menoreh dan Mataram.”

Keduanya segera diam. Mereka sudah menduga Dusun Separang bukan tempat yang bebas bagi orang-orang asing untuk bertindak sembarangan. Tiga orang ini sudah mengalami sendiri di lereng Gunung Kendil keberanian dan ketangguhan pengawal Menoreh dan prajurit Mataram. Mereka pun sadar bahwa orang-orang Menoreh dapat mengawasi tanpa harus menonjolkan diri, dan justru itulah yang membuat banyak orang segan.

Mereka bertiga pun menyelesaikan makan mereka tanpa tergesa-gesa. Mereka membayar makanan, lalu keluar lebih dahulu menuju arah permukiman liar di lereng Gunung Kunir..

Buku ketiga—Geger Alas Krapyak—menempatkan Tanah Perdikan Menoreh dalam pusaran konflik terbuka. Gerakan makar yang selama ini bergerak di balik bayang mulai menampakkan wujudnya, memaksa para tokoh utama mengambil sikap yang tak lagi bisa ditunda.

Di tengah ketegangan itu, muncul benturan langsung antara kepentingan kekuasaan, kesetiaan pribadi, dan harga diri perguruan.

Buku ini memperlihatkan bahwasanya kekerasan tidak selalu hadir sebagai perang besar, tapi juga dapat menjangkau serangkaian provokasi, tuduhan, dan pengkhianatan kecil yang terakumulasi. Pertarungan tidak hanya terjadi di medan laga, tetapi juga dalam pikiran: siapa yang patut dipercaya? siapa yang diam-diam menunggu saat menusuk dari belakang? siapa yang berkacak pinggang dengan bodoh?

Melalui buku ini pula, versi lain dari kematian Panembahan Hanykrawati dihadirkan dengan cara yang senapas dengan dunia kanuragan.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki versi PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline atau versi cetakan, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

Di bawah bayangan pohon-pohon besar yang berada di sisi jalan antara Dusun Separang dan Gunung Kunir, mereka menunggu dengan sabar.

Mereka ingin memastikan orang-orang baru itu keluar dari kedai untuk menjernihkan persoalan.

Tiga orang dari kelompok Ki Kamejing itu menunggu tidak jauh dari kedai, bernaung di bawah pohon randu yang tumbuh di pinggir jalan dusun. Mereka tidak banyak bicara. Sesekali hanya saling bertukar pandang sambil memperhatikan setiap orang yang keluar masuk Dusun Separang.

Waktu terasa mengapung lebih lambat.

Matahari telah naik cukup tinggi ketika akhirnya tiga orang dari rombongan Ki Jabon Seta tampak keluar dari kedai. Mereka berjalan santai tanpa menunjukkan kewaspadaan berlebihan. Salah seorang bahkan masih mengunyah potongan tebu sambil tertawa kecil mendengar cerita kawannya.

Mereka mengambil jalan menuju lereng Gunung Kunir, menyusuri pematang dan bulak-bulak kering yang panjang. Angin siang bertiup tipis mengangkat debu tanah yang pecah-pecah karena lama tidak turun hujan.

“Sekarang,” gumam salah seorang pengikut Ki Kamejing.

Ketiganya bergerak mengikuti dari belakang.

Mereka menjaga jarak cukup jauh pada mulanya. Namun ketika rombongan itu sampai di sebuah jembatan kecil dari batang kelapa yang melintang di atas saluran kering, langkah mereka dipercepat.

“Berhenti!”

Tiga orang dari kelompok Ki Jabon Seta serentak menoleh.

Salah seorang di antara mereka menyipitkan mata. “Ada perlu apa?”

Orang yang berada paling depan dari kelompok Ki Kamejing melangkah naik ke jembatan kecil itu. Sorot matanya cukup tajam dengan wajah menekan kemarahan.

“Kalian terlalu banyak bicara di kedai.”

Seorang pengikut Ki Jabon Seta tertawa pendek.

“Kami tidak mengenal kalian tapi kalau telinga kalian panas mendengar kenyataan, itu bukan urusan kami.”

Wajah orang Ki Kamejing itu menegang. “Kalian datang sebagai pendatang, tetapi mulut kalian sudah lebih tajam dari parang.”

“Kami hanya mengatakan apa yang kami dengar,” sahut yang lain cepat. “Atau jangan-jangan kalian memang termasuk orang-orang yang lari terbirit-birit dari lereng Kendil itu?”

Ucapan itu seperti menyiram bara dengan minyak.

Seorang dari Ki Kamejing maju selangkah, tetapi kawannya menahan lengannya lalu berkata sambil mengacungkan jari pada pengikut Ki Jabon Seta. “Kalian rupanya merasa diri cukup tinggi hanya karena baru datang dari Menoreh.”

“Dan kalian rupanya punya kesabaran yang sangat tebal. Setbal daun randu yang kering,” jawab orang Ki Jabon Seta. “Perguruan yang kuat tidak akan goyah hanya oleh beberapa kata.”

“Kuat?” suara orang Ki Kamejing mulai meninggi. “Bagus. Aku ingin melihat bukti kekuatan perguruan kalian yang tidak akan goyah dengan ucapan.”

“Buktikan saja,” balas salah seorang lawannya sambil menyeringai tipis. “Atau jangan-jangan kalian hanya pandai bersembunyi di dalam kedai?”

Suasana segera menegang.

Angin yang melintas di bulak kering terasa seperti berhenti sesaat. Enam orang itu saling berhadapan di kedua sisi jembatan kecil. Tidak seorang pun mau mundur.

Tatapan mereka mulai berubah tajam. Tangan-tangan yang semula bersiap untuk sebuah perkelahian pun bergerak perlahan, menyiapkan diri.

Ketegangan yang menggantung di atas jembatan kecil itu akhirnya pecah.

Tidak seorang pun benar-benar dapat memastikan orang yang lebih dahulu bergerak. Yang terdengar mula-mula hanyalah bentakan pendek, lalu tubuh-tubuh itu berkelebat hampir bersamaan.

Seorang pengikut Ki Kamejing menerjang dengan pukulan lurus yang cukup kuat. Lawannya dari kelompok Ki Jabon Seta menghindar miring sambil membalas dengan kibasan tangan yang cepat ke arah leher. Benturan tenaga terjadi begitu keras hingga batang-batang kayu jembatan bergetar.

Pada saat yang sama dua orang lainnya sudah saling menyambar. Debu tanah beterbangan ketika kaki-kaki mereka menghentak pematang kering.

Orang-orang Ki Kamejing bertarung dengan tenaga wadag yang padat dan menghimpit, sedangkan lawan-lawannya pun tampaknya juga masih menjajagi pihak seberang. Dalam beberapa gebrakan saja suara benturan tangan dan kaki mulai memecah kesunyian bulak.

Salah seorang dari kelompok Ki Jabon Seta melompat tinggi sambil memutar tubuhnya. Tendangannya menyambar kepala lawan. Tetapi orang Ki Kamejing itu justru menyambutnya dengan dua tangan terbuka.

Benturan keras terjadi.

Tubuh keduanya terdorong ke belakang, kehilangan pijakan di atas jembatan sempit.

Mereka jatuh bersama-sama ke dasar sungai kering di bawahnya, berguling di antara batu dan rumput liar, namun hampir seketika bangkit lagi sambil terus menyerang tanpa memberi kesempatan.

Di sisi lain jembatan, sepasang petarung lain bernasib sama.

Seorang pengikut Ki Kamejing menyeruduk maju dengan bahu dan lutut sekaligus, memaksa lawannya mundur tergesa. Orang dari kelompok Ki Jabon Seta itu meloncat ke samping, tetapi ujung kakinya menginjak batang kelapa yang licin.

Lawan yang sudah tersulut amarah segera menerkam lalu mereka kehilangan keseimbangan, terjatuh melewati sisi jembatan dan menghantam lereng sungai yang dangkal dengan suara berdebam keras.

Kini perkelahian pecah di dua tempat sekaligus.

Di bagian sungai dangkal, empat orang itu saling menyerang dalam jarak dekat. Percikan air dan kerikil basah beterbangan terkena tendangan dan pijakan mereka. Kadang-kadang tubuh seseorang tampak terlempar menghantam dinding tanah sungai sebelum kembali melompat menyerbu.

Sementara itu dua orang yang masih berada di atas jembatan masih saling serang dan menekan.

Tidak ada lagi kata-kata. Yang terdengar hanyalah bentakan, cacian dan umpatan.

Benturan-benturan keras yang memecah udara siang itu ternyata tidak luput dari perhatian orang-orang Separang.

Seorang petani yang sedang memeriksa pematang di ujung bulak sempat mendengar suara kayu patah disusul raungan yang cukup keras. Mula-mula dia mengira hanya keributan para penggembala yang sedang beradu lari atau ketangkasan lainnya. Tapi semakin lama, suara-suara itu tikdal agi terdengar seperti suara anak-anak gembala tapi ada pergulatan yang saling mengancam.

Wajahnya berubah tegang. Segera saja dia meninggalkan pematang lalu berlari menuju dusun.

Tidak lama kemudian dia sudah berdiri terengah-engah di hadapan Benthik, kepala pengawal Dusun Separang, yang saat itu sedang berada di kebun singkong bersama tiga orang kawannya.

“Ada perkelahian di jembatan bulak kering!” katanya cepat. “Orang-orang asing!”

Benthik yang bertubuh pendek kekar itu segera berdiri tegak. Sorot matanya tajam meski wajahnya tetap tenang.

“Berapa orang?”

“Enam… atau lebih. Aku tidak melihat jelas. Tetapi mereka bertempur seperti orang-orang berilmu.”

Benthik tidak bertanya lagi. Dia memandang tiga kawannya sekejap. Mereka segera mengerti.

Tanpa banyak bicara, empat pengawal Dusun Separang itu langsung bergerak meninggalkan sawah. Lumpur masih melekat di kaki mereka ketika mereka berlari menyusuri pematang menuju arah bulak kering.

Benthik berada paling depan. Tubuhnya yang pendek justru membuat langkahnya ringan menembus jalan sempit di antara galengan. Sesekali dia melompati saluran kecil tanpa mengurangi kecepatan.

“Awas,” katanya pendek tanpa menoleh. “Kalau benar orang-orang berilmu, jangan masuk terlalu dekat sebelum melihat keadaan.”

Ketiga kawannya mengangguk.

Semakin dekat mereka ke arah jembatan kecil itu, suara benturan tenaga terdengar semakin jelas.

Disusul suara batu longsor dan kayu berderak.

Ketika mereka mencapai tepian bulak terakhir, Benthik segera mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.

Dari kejauhan tampak dua orang masih bertarung di atas jembatan sempit, sementara empat lainnya berkelahi sengit di bagian sungai.

Mata Benthik menyipit.

“Gila,” desis salah seorang kawannya. “Mereka bertempur seperti tidak di dusun orang.”

Benthik tidak segera menjawab.

Dia memperhatikan beberapa gebrakan dengan cermat. Lalu perlahan wajahnya berubah semakin keras. “Ini bisa menyeret banyak orang kalau tidak dihentikan sekarang.”

Benthik tidak menunggu lebih lama lagi.

“Pisahkan mereka!” bentaknya pendek.

Tubuhnya segera meluncur menuruni lereng sungai. Tiga kawannya menyusul dari arah berbeda, bergerak cepat memotong jalur para petarung yang sedang dikuasai kemarahan.

Namun keadaan rupanya telah melampaui sekadar pertengkaran biasa.

Di tepi sungai, dua orang yang sedang bertarung bahkan tidak menoleh ketika Benthik datang. Salah seorang dari kelompok Ki Kamejing sedang menghujankan pukulan bertubi-tubi, sementara lawannya dari kelompok Ki Jabon Seta membalas dengan serangan-serangan pendek yang cepat dan tajam.

“Berhenti!” bentak Benthik.

Tetapi bentakan itu tidak dapat menembus lingkaran perkelahian yang terjadi tanpa perhitungan.

Benthik, tanpa ragu menerobos masuk di antara keduanya. Kedua tangannya bergerak serentak, mendorong dada salah seorang dan menangkis pukulan yang lain. Dua orang itu terpental menjauh beberapa langkah.

“Aku bilang berhenti!” Bentik membentak.

Tetapi yang terdorong itu justru melompat maju lagi dengan wajah membara. Dalam keadaan seperti itu, batas antara keberanian, kenekatan, dan perhitungan telah menjadi kabur.

Orang itu bahkan tidak lagi peduli orang yang berdiri di hadapannya. Satu pukulan berat meluncur langsung ke arah Benthik.

“Bodoh!” geram kepala pengawal dusun itu. Dia melompat sedikit surut, lengannya berayun pendek lalu menghantam siku lawannya.

Orang itu terpekik tertahan dan terhuyung mundur. Namun pada saat yang hampir bersamaan, seorang lain dari kelompok Ki Jabon Seta datang menyerang dari samping karena mengira Benthik sedang membantu dirinya.

Benthik memutar tubuh. Kakinya menebas pinggang orang Ki Jabon Seta. Penyerang itu jatuh terguling di antara batu-batu sungai.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.