“Perhatian penuh,” ulang Ki Patih perlahan. “Aku tidak mengerti maksudmu dari istilah itu. Meski demikian, aku pun ingin menebak bahwa langkah Pandan Wangi adalah pernyataan bahwa hukuman dari Pangeran Purbaya untuk Swandaru adalah suatu kesalahan. Aku kira itu ada benarnya karena Swandaru tetaplah orang kuat yang berpikiran luas dan kemampuan bertempur yang mengerikan.” Ki Patih menatap tajam Agung Sedayu sedikit lama kemudian berkata, “Andaikata tebakan itu benar, Pandan Wangi tetap saja dapat dianggap keliru oleh sebagian orang. Penentangan keputusan dan penahanan petugas sandi Mataram adalah dua keadaan yang berbeda.”
“Apakah Ki Patih melihat Pangeran Purbaya membuka ruang untuk seseorang yang keberatan terhadap hukuman bagi Swandaru?”
“Aku tidak mendengarnya sama sekali,” jawab Ki Patih Mandaraka.
Terdengar helaan napas panjang dari Agung Sedayu. “Mungkin, mungkin saja karena dia tidak melihat sikap Pangeran Purbaya mengenai hukuman itu, Pandan Wangi akhirnya berbuat nekat.” Sejenak kemudian dia berhenti berkata-kata seolah ada yang salah dari ucapannya. “Bukan, maksud saya, dengan segala akibat yang mungkin sudah dipertimbangkan, Pandan Wangi lebih memilih untuk mengeraskan hati lalu mengambil sikap yang, saya kira cukup berani.”
Ki Patih Mandaraka tersenyum lalu berkata, “Sepertinya aku menangkap adanya pujian dari ucapanmu itu.”
Agung Sedayu tidak menunjukkan perubahan pada air muka maupun gerakan kepala. Dia dingin dan datar setelah Ki Patih mengatakan itu.
“Sedayu, ucapan itu tidak dapat dipungkiri memang ada kesan pujian dan kebanggaan. Lalu, apakah itu berarti kau mendukung keputusan Pandan Wangi?”
“Siapakah saya, Ki Patih? Mendukung hukuman mati dan menentang penunjukkan raja tentu bukan suatu pendapat atau keadaan yang dapat disamaratakan,” kata Agung Sedayu.
“Bila kau berkata demikian, orang lain pun bisa berpendapat yang berseberangan denganmu. Pangeran Purbaya, Raden Mas Rangsang atau Nyi Banyak Patra pun dapat menjadi pihak yang berada di depanmu,” ucap Ki Patih Mandaraka.
Agung Sedayu melihat kebenaran di dalam perkataan sesepuh Mataram tersebut. Setiap orang bebas mengarahkan pikiran masing-masing dan banyak alasan yang dapat dijadikan alasan oleh mereka. Murid utama Kyai Gringsing itu menunduk kemudian menarik napas panjang. “Tentu mustahil bagi saya untuk menentang Mataram, tapi juga cukup sulit bila harus berhadap-hadapan dengan Pandan Wangi,” kata Agung Sedayu kemudian.
“Rasa suka memang sulit untuk dibenamkan atau dilupakan,” ucap Ki Patih, “tapi aku yakin kau sudah menentukan arah atau kecenderungan. Semoga dimudahkan.”
Mendadak terdengar derap langkah terburu-buru yang menembus dinding ruangan. Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu cepat menatap pada pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan bangsal utama.
Seorang prajurit segera menampakkan diri setelah meminta izin untuk mengabarkan berita baru.
“Masuklah,” perintah Ki Patih Mandaraka.
Prajurit itu mengangguk pada Agung Sedayu lalu mengerling pada Ki Patih Mandaraka seolah bertanya, apakah Agung Sedayu dapat mendengar kabar yang dia bawa?
Ki Patih Mandaraka menggerakkan kepala diikuti ayunan tangan.
“Ki Patih, ada pergerakan yang mengejutkan dari Kraton,” lapor prajurit sandi.
Dengan alis bertaut, Ki Patih berkata, “Lanjutkan.”
“Sebaris pasukan berkuda dan pejalan kaki dengan senjata lengkap melekat pada dua satuan itu bergerak ke arah Sangkal Putung,” kata prajurit sandi.
Ketegangan segera meraih wajah Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu lalu menetap di sana. Setelah menenangkan diri, Ki Patih kemudian bertanya, “Seberapa lama waktu mereka bergerak dari kedudukanmu?”
“Bila mereka berjalan dengan kecepatan yang sama dengan ketika saya melihat, itu berarti kemungkinan mereka sudah mencapai seperempat jarak keseluruhan,” jawab prajurit sandi.
Ki Patih Mandaraka memandang wajah Agung Sedayu. “Kita tidak dapat mengatakan laporan ini datang terlambat karena Kraton memang sulit didekati,” kata patih Mataram tersebut. Agung Sedayu mengangguk maklum. Lalu Ki Patih mengucapkan perintah pada prajurit sandi, “Kau dapat kembali ke tempat semula.”
“Saya, Ki Patih,” kata prajurit sandi kemudian bergegas meninggalkan dua petinggi Mataram tersebut.
“Sedayu,” kata Ki Patih Mandaraka. “Bergegaslah menyusul mereka. Bawalah beberapa orang karena kau pasti membutuhkan dukungan. Berhati-hatila mengambil keputusan. Urusan ini akan cepat terbakar dan membesar apabila salah satu dari kalian tidak dapat menahan diri.”
“Segera, Ki Patih,” sahut Agung Sedayu lantas undur diri sambil menyusun rencana di dalam pikirannya. Pasukan berkuda itu jelas bergerak atas perintah Pangeran Purbaya, sedangkan prajurit pejalan kaki adalah satuan khusus yang dipimpin Pangeran Selarong. Ini bukan perkara mudah, pikir Agung Sedayu. Senapati Mataram itu bergegas menuju Sangkal Putung bersama dua orang pilihannya hingga kemudian berpapasan dengan Ki Lurah Sangayudan.
Sepintas jarak waktu antara Agung Sedayu dan pasukan yang berangkat dari Kraton tak terpaut jauh, tapi mereka akan tiba pada waktu yang berbeda. Dalam pikirannya, Agung Sedayu tidak berencana menghentikan laju pasukan karena perintah dari Ki Patih bukan berarti mengiringi atau menghentikan. Oleh sebab itu, Agung Sedayu dan pengiringnya menempuh jalur lain. Pemimpin pasukan khusus itu berniat menemui Pandan Wangi lalu berbicara sesuai dengan perkembangan dan segala kemungkinan. Memang itu membutuhkan waktu dan mempunyai akibat tersendiri. “… tapi itu lebih baik dibandingkan menghadapi segalanya tanpa persiapan,” ucap Agung Sedayu dalam hati.
Sementara di Jagaprayan, bekel pedukuhan dan para bebahu masih berusaha mencegah Pandan Wangi. Mereka menemui putri Ki Gede Menoreh itu di salah satu gardu yang terletak di samping pohon pre. Pada waktu itu, Pandan Wangi sedang memastikan gelar yang disusunnya dapat berjalan sesuai rencana.
“Nyi,” ucap bekel pedukuhan. “Saya tidak sedang berusaha mencampuri tindak keamanan ini. Tapi, apakah segala sesuatunya tidak berlebihan?”
Pandan Wangi memandang jauh ke arah tanah kelahirannya. “Pedukuhan ini bukanlah milik saya atau keluarga saya. Tanah ini adalah tempat Ki Bekel dan banyak orang dilahirkan, sumber makanan dan pula menjadi jalan hidup ribuan makhluk dari waktu yang tidak kita ketahui.” Lalu Pandan Wangi menghadapkan wajah pada bekel pedukuhan kemudian berkata lagi, “Sekian waktu lamanya, orang-orang pedukuhan dicekam oleh rasa takut dan khawatir. Sebagian orang memang tidak takut kehilangan nyawa tapi bagaimana dengan keluarga, sawah dan rumah mereka? Ada yang mendapatkannya sebagai warisan orang tua dan beberapa mengupayakan dari pertukaran yang wajar. Tentu mereka tidak akan mudah melepaskan pada penjarah seperti melontarkan batu ke sungai.”
Kata-kata Pandan Wangi memang bukan tanggapan yang dapat menenangkan orang-orang yang menemuinya. Tapi mereka, baik dengan terpaksa atau sukarela, percaya bahwa ungkapan itu menjadi gambaran bahwa Pandan Wangi menempatkan Jagaprayan pada tempat yang sama dengan Tanah Perdikan Menoreh.
Bekel pedukuhan pun seperti sudah enggan atau tidak menganggap penting keberatan mereka. Dia membalikkan tubuh lalu menghadap pada segenap bebahu pedukuhan. Katanya, “Keadaan memang seperti yang digambarkan oleh Nyi Pandan Wangi. Buat apa diperpanjang karena mungkin inilah jalan keluar terbaik bagi pedukuhan. Jika ini menjadi sesuatu yang salah, kita tahu sesuatu dianggap benar atau salah setelah mengalami atau mengetahui hasil akhir dari sebuah keputusan atau rencana. Tapi yang kita rasakan adalah gelora semangat penghuni pedukuhan untuk bertahan di bawah arahan Nyi Pandan Wangi. Semoga ada harapan besar yang menjadi nyata setelah ini semua.”
Yang terhormat para penggemar kisah silat.
Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.
Selang beberapa waktu, seorang pengawal menghampiri Pandan Wangi lalu membisikkan laporan terbaru. Peempuan tangguh itu mengerutkan alis tapi dia tidak berucap sepatah kata pun. Pandan Wangi mendapatkan kabar adanya dua pergerakan yang datang dari arah kotaraja. Tapi pergerakan itu sudah diperkirakan olehnya ; bahwa Kraton dan Kepatihan akan memantulkan gelombang yang sama keras dengan yang dikirim olehnya. Dengan diiringi tatap mata heran dan banyak pertanyaan dalam benak para pengawal, Pandan Wangi menjalankan rencana yang hampir tidak ada kesalahan – berlandaskan siasat perang. Dia menempatkan para pelontar senjata jarak jauh di garis depan dengan perintah ; tahan mereka di luar pedukuhan. Selapis di belakang jajaran itu, ada beberapa satuan khusus yang tersebar di tempat-tempat yang mudah untuk menyerang tapi sulit terjangkau lawan.

Seorang penghubung berlari sipat kuping mendekati gardu jaga yang terletak di depan regol pedukuhan. Napasnya masih terengah-engah ketika berkata, “Aku melihat serombongan orang datang dari timur.”
