Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 39 – Pandan Wangi Sebagai Penantang

Orang-orang yang berada di sekitarnya pun berdebar-debar. Pasukan yang dilaporkan penghubung pada ketua regu jaga bukan termasuk orang yang sedang ditunggu. Mereka tahu itu adalah sekelompok prajurit yang datang dari kotaraja. Mereka berdebar karena mereka adalah pengawal dari pedukuhan kecil yang kekuatannya tidak sebanding dengan prajurit dari ibukota. Tapi mereka tetap berbesar hati karena keberadaan Pandan Wangi.

Ketua regu jaga kemudian mengutus seorang pengawal untuk meneruskan kabar pada Pandan Wangi, lalu mereka menunggu. Ya, mereka menunggu perintah dari Pandan Wangi sekaligus juga menanti kedatangan prajurit yang sepak terjangnya  mengguncang tanah Jawa.

Pandan Wangi tidak segera mengatakan sesuatu pada penghubung yang dikirim oleh ketua regu. Dia menarik napas sejenak lalu menenangkan diri. “Baiklah, aku segera ke garis depan,” ucap Pandan Wangi kemudian. “Sekarang, aku minta kau katakan pada pengawal yang berada di tiga sisi pedukuhan agar tetap waspada.”

“Saya, Nyi,” sahut penghubung itu lalu beranjak dari hadapan Pandan Wangi.

Pandan Wangi mengambil sebatang lembing lalu menggantungkannya di lambung kuda. Sekejap kemudian kuda Pandan Wangi segera melesat, melewati regol dan gardu jaga lalu berhenti di samping tanda batas wilayah pedukuhan. Dia seorang diri seperti sedang menunggu pasukan berkuda yang berderap ke tempatnya. Ketika para penunggang kuda itu berada dalam jangkauan, Pandan Wangi melemparkan lembing ke arah pasukan berkuda Mataram.

Seorang senapati yang berada di bagian terdepan memberi tanda agar rombongannya berhenti ketika lembing menancap tepat beberapa langkah di depannya. “Apa gerangan maksud perempuan itu?’ tanya senapati yang tampaknya berusia muda itu dalam hati.

Dari kejauhan, Pandan Wangi melihat ke belakang. Akankah ada pertumpahan darah di antara sesama orang Mataram? Tapi dia berhati tegar demi tujuan yang terpatri kuat dalam hatinya. Sejenak kemudian, Pandan Wangi menggunakan lengan sebagai isyarat agar senapati itu maju mendekat padanya.

Senapati muda itu menarik napas panjang tapi dia tidak segera menuruti keinginan Pandan Wangi. Justru tatap matanya mengamati ruang terbuka yang membentang di depannya dengan sejumlah pertanyaan. Akankah ada semacam perangkap yang tersembunyi dari pandangan mata? Senjata rahasia atau orang-orang yang berlindung di balik kerapatan tanaman liar menjadi dua sebab kecurigaannya. “Katakan, siapakah engkau yang berani menantang kami, prajurit Mataram?” tanya senapati muda itu dengan lantang.

 Pandan Wangi hanya tersenyum. Dia tidak mengenal pemimpin prajurit Mataram yang berusia muda itu. Namun, sekali lagi, melalui gerakan tangan, dia meminta senapati Mataram itu bergerak maju ke arahnya.

Lelaki muda yang mengenakan pakaian kebesaran seorang senapati itu tetap bergeming. Dia masih duduk di atas punggung kuda dengan rasa geram yang mulai merambat pelan. Menurutnya, sikap Pandan Wangi benar-benar tidak menunjukkan rasa hormat pada prajurit Mataram.  “Apakah harus mengenalkan diri padanya sebagai pelajaran pertama?” dia bertanya dalam hati, pada dirinya sendiri.

“Anak muda,” seru Pandan Wangi yang sengaja mengabaikan kedudukan senapati itu sebagai pemimpin prajurit. “Dengan maksud apakah kau membawa banyak orang ke pedukuhan kecil ini?”

“Sialan!” umpat senapati muda itu dalam hati. Nyaris saja dia menggebrak kudanya untuk menerjang Pandan Wangi yang seolah sedang menantangnya. Tapi dia teringat pesan Pangeran Purbaya yang memintanya bersikap hati-hati pada Pandan Wangi.

“Pengawal pedukuhan ini masih terlampau kuat jika kau hanya mendatangkan segelintir orang berkuda dan prajurit pejalan kaki,” Pandan Wangi kembali berseru. “Pulanglah, pedukuhan ini bukan tempatmu bermain.”

Ucapan terakhir Pandan Wangi sudah jelas merupakan pukulan pertama untuk menggedor kesabarannya. Mungkin perempuan itu sedang menjajagi penguasaan dirinya. “Aku harus dapat menahan diri,” tegas senapati Mataram itu pada dirinya sendiri. Setelah merenung sejenak, pemimpin prajurit itu berkata lantang, “Aku datang di bawah panji Mataram. Harap Nyai sukarela membuka jalan.”

Yang terhormat para penggemar kisah silat. Padepokan Witasem kerap melakukan kegiatan sedekah pada hari Jumat. Untuk itu, kami sering menggalang dana dan berharap dukungan Panjenengan untuk kegiatan tersebut. Donasi bisa dikirimkan ke rekening BCA 8220522297 atau BRI 3135 0102 1624530 atas nama Roni Dwi Risdianto atau dengan membeli karya yang sudah selesai. Konfirmasi tangkapan layar pengiriman sumbangan dapat dikirim melalui Hanya WA Bersama pengumuman ini, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Rahayu.

Pandan Wangi kembali mengembangkan senyum dan sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar ketika prajurit muda itu menyebut-nyebut Mataram. “Karena engkau berlindung di bawah panji, aku semakin yakin bahwa pedukuhan ini memang bukan tempat bermain yang pantas untukmu. Aku punya saran yang baik kau dengarkan.”

Laki-laki muda itu mendengus lalu sedikit menggeram. Tampaknya perempuan di depannya itu memang benar-benar merendahkan dirinya. Tapi, sekali lagi, senapati ini menguatkan hati agar tidak mudah terpancing kata-kata pemimpin pengawal pedukuhan itu. Dari ayahnya dan juga Pangeran Purbaya, senapati ini mengetahui bahwa perempuan di depannya itu cukup tangguh dan berpengalaman di medan pertempuran. Maka, bisa jadi, saat ini dimanfaatkan olehnya untuk memukul mundur pasukan Mataram tanpa banyak mengeluarkan tenaga, demikian isi pikiran senapati muda usia itu. Untuk itu, pemimpin prajurit Mataram itu pun memilih untuk diam lalu menunggu pergerakan Pandan Wangi.

Waktu mengambang pelan. Pandan Wangi hanya membutuhkan sedikit pengamatan sebelum pada kesimpulan bahwa senapati muda itu melancarkan serangan balik melalui sikap diam.

“Bila tidak ada keberanian pada usiamu yang mungkin seukuran jagung muda, aku pikir kau harus segera membawa kembali orang-orang di belakangmu itu. Tidak perlu ada yang dikerahkan di tempat ini. Kau dapat katakan pada atasanmu bahwa Pedukuhan Jagaprayan memang berada di atas kalian. Mundur lalu pulanglah, anak muda.”

Ucapan Pandan Wangi benar-benar mampu membakar perasaan para prajurit Mataram, termasuk pemimpin mereka. Ini penghinaan yang dinyatakan secara terbuka, pikir kebanyakan dari mereka. Lantas, salah seorang penunggang kuda yang menempati sayap utara bergerak menghampiri pemimpin mereka.

“Pangeran,” ucap lurah prajurit yang terlihat berusia lebih banyak dari orang yang dipanggil pangeran itu. “Saya pikir Pangeran lebih baik mendekat padanya lalu lihat apa kemauan perempuan itu. Kita terlalu banyak membuang masa dengan percakapan yang saling memanasi ini.”

“Saya memang berpikir demikian, Paman,” sahut senapati muda Mataram itu.

“Mungkin dia bisa sedikit melunak setelah mengetahui jati diri Pangeran,” tambah lurah dari pasukan berkuda.

“Baiklah,” ucap senapati muda Mataram lalu mengarahkan kudanya ke arah Pandan Wangi.

“Berhati-hatilah, Pangeran. Mungkin saja mereka telah menyiapkan senjata rahasia atau penyerang gelap pada jarak ini,” kata lurah prajurit.

Orang muda yang disebut pangeran itu mengangguk kemudian berucap, “Terima kasih. Tapi saya tidak melihat pergerakan sedikit pun dari balik rimbun tanaman liar atau pepohonan. Baiklah, saya ke sana.” Pangeran muda itu pun menderap kuda. Debu-debu mengepul sedikit dari bawah ekor kuda.

Sejenak kemudian, senapati Mataram itu sudah berhadapan dengan Pandan Wangi. “Aku telah ada di depanmu. Katakan siapa dirimu,” ucap senapati tersebut sambil sekali lagi mengamati lingkungan sekitar.

Untuk beberapa lama, Pangeran Selarong dapat menilai bahwa seandainya pecah benturan keras di tempat itu, maka itu akan menjadi keadaan yang tidak menguntungkan bagi pasukannya. Pasukan berkuda sudah pasti tidak mendapatkan ruang yang leluasa untuk bertempur karena jalan terapit dinding tebing dan dataran menurun yang agak curam. Tapi apabila dia memaksa menerjang maju sampai gardu, itu pun tidak segera menjamin kemenangan. Tidak jauh dari tempat mereka bicara terdengar gemericik air dari parit yang terlindung rimbun semak-semak. Dalam pikiran pangeran Mataram itu, parit tersebut dapat menjadi tempat berlindung bagi para penyerang gelap seandainya Pandan Wangi menghendaki. Tapi dia hanya mendengar air yang berisik saja. Meski demikian, senapati muda itu tidak mengurangi kewaspadaan. Bagaimanapun, seseorang yang berani mengusik ketenanngan Mataram itu berarti telah mempunyai rencana yang cukup matang. Kesabaran para pemanah dapat dilatih hingga sasaran berada dalam jangkauan, pikirnya.

“Hal sederhana semacam ini menjadi berbelit ketika seseorang sedang mencari celah dari sekitarnya,” sahut Pandan Wangi tegas seolah mengetahui bahwa  Pangeran Selarong sedang memperkirakan kedudukan pemanah pedukuhan.

“Hal sederhana untuk mengulur waktu adalah mengalihkan pertanyaan,” ucap senapati muda itu.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 119 – Batas Tipis Takdir Glagah Putih

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 14 – Peringat Bahaya dari Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 46 – Pandan Wangi adalah Ancaman Nyata

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.