Padepokan Witasem
kepak sayap angsa, padepokan witasem, prosa liris
Kepak Sayap Angsa

Emoh, Jum! Itu Jerawat! Bukan, itu kawat!

Ketika penaku tumpul

Tak selarik kalimat aku tuliskan

Pun sebuah kata untuk mengungkap

 

Ketika penaku tumpul

Bayangan pria berblangkon menari lunjak-lunjak

Bahkan sesekali ece-ece

Tapi ajining diri sedang mumbul

 

Moh! Aku emoh

Di zaman purba sudah aku turuti segala maunya

Mendaki Gunung Salak, menyelam ke Sungai Brantas, bahkan menahan bekunya musim bediding di lereng Pananjakan

Katamu, di sana aku akan temui pena ajaib

Nyatanya, aku malah tersuruk njegur jurang

 

Pria berblangkon ngajak gelut

Lukaku babak belur

Tapi tak ada darah yang terciprat

Aneh … aneh tapi kangen

 

Lelaki dengan blangkon berjalan sempoyongan menuju warung Mbok Jum. Kalau sedang mumet, kopi Mbok Jum mampu mengurai keruwetan otaknya.

“Mumet neh, Pur?”

“Lha nduwe konco ra ono akhlak, Mbok. Proyek aku sek mikir, aku sek usul. Dicolong sakpenake, aku ra diakoni! Njaluk digaplek!”

 

Pria berblangkon ajak berkelahi

 

“Gowonen mrene tak uleke!”

Kopi dengan asap menari-nari membuat Purwo tak tahan untuk segera menyesapnya.

 

Srupuuut!

 

Kafein dari segelas kopi meluncur ke otak kusut Purwo. Mengurai keruwetan dan menenangkan hatinya. Sitik.

“Bakwane… Iki lomboke!”

“Sek marai bakwan enak ki lomboke Mbok. Tapi ra tahu muni, lomboke enak. Mesti bakwane sek enak. Lha lombok teko meneng ae, ra nduwe ati. Lha aku?”

“Gedeek?”

“Yo mesti!”

“Gedeeek?”

“Yo jelaaaas!”

“Gedeeek?”

“Takon meneh? Cetooo, Mboook!”

“Aku loro, Mbok masio ra metu getihe.”

 

Lukaku babak belur

Tapi tak ada darah yang terciprat

 

Tatap mataku.

Bola bening yang mulai suram itu ingin menyampaikan padamu.

“Aku lelah, tapi aku tak menyerah.”

Pendar-pendarnya tak seindah dulu.

Meredup, namun tak menutup.

Sendu, menahan rindu.

 

Tatap mataku.

Di sana masih ada asa. Jiwa yang meronta. Menolak lupa.

 

Tatap mataku.

Ada keyakinan di sana.

 

Aku Gendhis Arum Aryati yang menari bersama hujan ditemani pria berblangkon.

Basah. Luruh sudah air mata.

Menjawab tanya, kapan hujan bulan Juli datang lagi?

 

Satu, dua, tiga … dan ratusan titik keringat pun melesak. Bayangnya makin mendekap kuat dan mengerat, seperti waktu itu.

 

Tobat, tobat!

Soto babat dicampur kawat.

Di depan pria berblangkon, perempuan itu berkisah, “Piye putuku mau sehat, nyari vaksin aja susahe ora mekakat. Mau dapat yang murah, harus rela antri hingga baju basah oleh keringat.”

‘ndak mau antri ya ke dokter anak sana, mak. tapi yo bayare mahal, bisa bangkrut sampeyan,’ celetuk bapak parkir sambil melambaikan tangan, mengatur motor dalam barisan yang kian mengular.

 

Tobat, tobat!

Soto babat dicampur kawat.

 

Di depan pria berblangkon, perempuan itu melanjutkan kisah, “Belajar menulis puisi rindu malah diguyu putuku, dipaido Ki Guru. Lha wong saya ini rindu berat.

Bukan rindu blangkon, surjan lurik dan sarung palekat.

Bukan pula rindu dokter ganteng yang senyumnya memikat tapi rindu vaksin gratis untuk wong melarat.

Luwih becik nrima ing pandum.”

 

Mengapung dan bergelung di dalam angin.

Aku ingin mengatakan

Cinta menggantung di kelopak bunga.

Tersiram embun pagi, lalu mati.

 

Oh!

 

Embun menggantung di ujung dedaunan.

Menyimpul rindu dalam diam.

Wajahnya semakin lekat meski waktu terlewat.

Rasa pun tak mau luruh, bergelayut di relung hati.

Related posts

Urung

Yekti Sulistyorini

Tenggelam

kibanjarasman

Sobekan Roti Perawan

kibanjarasman

Sepenggal Kisah Tentang Kita

kibanjarasman

Leave a Comment