Padepokan Witasem
kepak sayap angsa, padepokan witasem, prosa liris
Kepak Sayap Angsa

Lelaki dengan 1000 Wajah Perempuan

Aku mempunyai nama Dyah Murti Hansa Gurunwangi,  putri perempuan dari Rakai Panangkaran. Sejak kecil, aku tinggal bersama kakekku, Han Rudhapaksa.

Namun orang-orang dari dusun di sisi utara Merbabu mengenalku sebagai Ayudhya, putri perempuan dari Bhumi Mataram. Sejak kecil aku tinggal bersama Mbok Darmi, yang akan menempaku menjadi calon ratu.

Kalian perlu tahu bahwa sebagian orang juga memanggilku Putri Bulan dari negeri awang-awang. Mereka memujiku dan kerap memberiku gelar “Kekasih Pangeran Kegelapan.”

Adakala, ketika aku berkuda di sepanjang Kali Praga, mereka yang berjumpa denganku sering menghadapkan wajah ke samping kiri atau kanan. Mereka mengenalku Retno Sulimbuk. Aku tidak salahkan mereka. Di hadapan mereka, aku mengaku bahwa aku dibesarkan oleh kemiskinan yang mencengkeram tlatah pesisir laut selatan.

Jangan panggil aku Retno, tapi panggil aku Limbuk, karena itu panggilan paling cocok untukku yang lemu ginuk-ginuk.

Pada dinding padepokan yang berbahan kayu, aku menggurat tulisan Abdi Centring Manik Mayang Sunda, kembang Pajajaran nu dimumule jagad ku welas asih. Singa oge luluh ka sim kuring. Bapak Prabu Susuk Tunggal nitipkeun Centring Manik ngawujud kabagjaan, beban, tur nalangsa ngahiji dina hiji waktu. Eta sabab, kuring hese ngeclak cai panon, sanajan hate dareuda.

Aku pikir itu harus abadi. Aku mempunyai kesedihan bila engkau ingin tahu. Oleh orang-orang di sekitar rumahku, di Cirebon, aku dikenal dengan sebutan panjang : Marpuah Seterong Ala Kadarmas. Bersama mereka, aku kerap meluangkan waktu untuk memenuhi kegemaranku, berjalan telanjang kaki di pesisir pantai. Aku lahir di kota ondel-ondel. Tak banyak yang istimewa padaku, namun tetap saja banyak lelaki tergila-gila. Emakku pusing, mantera pengasihan pemberiannya untukku mujarab. Tanpa peduli pada kutu air di kakiku, mandor beristri lima itu masih saja sibuk merayuku, aku mual.

“Aku rindu kekasihku, Kakang Jaka Tarup. Lelaki tampan dari desa sebelah. Esok dia akan datang melamarku.” Gigi yang tanggal dua di depan menjadikan bibirku, yang tersenyum, semakin manis.

Maaf jika terlalu memaksa. Karena aku perempuan berhati keras yang bernama Gendhis Arum Aryati. Banyak suara yang membingungkan burung gereja. Mereka menyatakan bahwa aku terlahir di lereng barat gunung Merapi, aku tumbuh menjadi perempuan keras. Banyak keinginan juga kemauan. Aku lancang membabat habis mulut-mulut nyinyir di sepanjang jalan.

“Minggiro, aku arep liwat, selak kepuyuh”.

Wimala Sumantri — putri pertama camat Salakedaden yang terletak di kaki gunung Merbabu – tertawa mendengar kisahku. Aku bergeming meski di sini dingin Aku tidak membutuhkan jaket penghangat.  Sebab Seunggigi putra Jan Tanur selalu menemani dengan foto terpajang rapi di dinding kamar.

Aku lelaki yang bernama Rengganis. Bukan penguasa tlatah Argopuro. Bukan pula keturunan Prabu Brawijaya. Aku hanya cah nganu dari lereng barat Gunung Lawu. Walau aku tak semlohai seperti Ratna Sulimbuk, tak seindah Centring Manik, tak segenit Meysarrow, tapi cah kae pernah tergila-gila padaku.

Kabar buruk bagi pemujaku. Aku cinta mati pada cah kae. Seperti tumbu ketemu tutup. Kadhung cocok. Tidak  butuh tutup yang lain. Selama masa panjang pageblug, aku mengubah suasana diri dari keruwetan duniawi. Jalan-jalan santai sambil menikmati cuitan burung di hutan belantara yang dikenal keramat. Konon, hutan itu dikenal sering mendatangkan kemumetan senantiasa abadi.

Sekilas mengenai kehidupanku di Rawapening. Aku terkenal dengan nama Rinie Soerini. Aku bukan Danyang Penguasa Rawapening. Bukan pula patung cantik yang bersemayam di Candi Gedhong Songo. Aku hanya perempuan pendiam yang dibesarkan di tengah keindahan lima gunung. Tumbuh mekar dalam asuhan burung-burung.

Aku tidak cekatan, bahkan seringkali lamban. Aku menyukai ketenangan. Namun, diamku kerap membuat aku terlibat dalam kesulitan. Padahal aku hanya sedang belajar bercengkerama dengan onak dan duri samudera kehidupan. Hingga lalai jika ada Huey, Dewey, Louie, yang butuh sentuh dan perhatian.

Duh Gusti, jebule medeni tapi ngangeni. Seperti cah kae. Minggiro, aku arep liwat, selak kepuyuh.

Sebuah permainan lelaki yang berwajah perempuan dengan tubuh tanpa payudara yang kerap bersuara parau. “Minggiro, minggiro, aku arep liwat, selak kepuyuh.”

Related posts

Urung

Yekti Sulistyorini

Tenggelam

kibanjarasman

Sobekan Roti Perawan

kibanjarasman

Sepenggal Kisah Tentang Kita

kibanjarasman

Leave a Comment