Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 54

“Rasanya aku salah orang ketika melontarkan ungkapan mengenai Kakang Untara. Adakah pintu keluar yang lain di rumah ini?” gumam Swandaru dalam hati dan wajahnya menampakkan pergulatan batin yang mendalam.

Pangeran Purbaya menggeleng-geleng heran, lanjutnya, “Aku sudah menyelidiki Raden Atmandaru sejak pertempuran kalian di Lemah Cengkar. Kegaduhan yang disebabkan Ki Saba Lintang adalah…hmm… mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai pengalih perhatian atau sebuah tepukan di atas permukaan. Aku katakan sebagian pendapat tamtama sandi, Raden Atmandaru telah membuat persiapan jauh lebih dulu dibandingkan Ki Saba Lintang. Raden Atmandaru menggunakan pertempuran Lemah Cengkar sebagai alat ukur mengenai kekuatan Mataram dari segi kemampuan prajurit dan persenjataan. Oh ya, tentu ia sudah mempunyai bekal keterangan bahwa Sangkal Putung adalah lumbung pangan yang makmur dan sejahtera. Hanya saja, kau harus ingat tanpa perlu besar kepala, alasan Raden Atmandaru memilih Sangkal Putung sebagai tempat untuk mengadakan pertikaian terbuka tidak saja didasari pada kesuburan tanah kademanganmu. Itu bukan alasan satu-satunya.”

“Pangeran,” ucap Swandaru dengan gagap seolah sedang menahan resah yang kian membesar dalam hatinya. Ia sungguh-sungguh tersudut dengan keterangan Pangeran Purbaya meski tidak menunjuk secara langsung pada hidung atau jidatnya. Swandaru hanya perlu membela diri saja. “Pangeran…apakah…apakah saya menunjukkan watak sebagai orang yang sering besar kepala?”

“Dari sikapmu ketika mengiringi Raden Atmandaru dan seorang wanita lain memasuki kademangan, aku menilainya dari keputusanmu itu.”

loading...

“Bagaimana Pangeran tahu?” Pertanyaan itu menggema di dalam ruang-ruang kosong yang berada di dalam pikiran Swandaru. Bahkan, muncul gelisah dalam hatinya bila Pangeran Purbaya juga mengetahui hubungan gelapnya dengan Nyi Gandung Jati. Sekejap kemudian, ia memaki dalam hati tentang kebodohannya ketika berkuda membelah malam lalu menemui ayahnya dan Sekar Mirah. Meski demikian, Swandaru mencoba menghibur diri dengan menegaskan dalam hati, bahwa ia sedang di bawah pengaruh ramuan ajaib Ki Sekar Tawang.

“Aku tidak perlu bercerita padamu tentang, bagaimana aku tahu?” ucap Pangeran Purbaya seakan dapat mendengar pertanyaan yang berjalan hilir mudik dalam diri Swandaru. “Tidak hanya aku yang tahu. Agung Sedayu dan Ki Patih Mandaraka pun mengetahui peristiwa memalukan itu.” Pangeran Purbaya menatap tajam wajah Swandaru yang diliputi ketegangan. Ia melanjutkan lagi, “Tidak semestinya engkau datang ke Sangkal Putung dengan persoalan yang sanggup mengoyak keutuhan yang terbina sejak lama. Di sini, di Gondang Wates, aku dapat memberi hukuman mati dengan alasan pembelotan. Ki Gede Menoreh tidak akan menentang keputusanku. Tidak ada orang yang akan melakukan itu. Panembahan Hanykrawati, Ki Patih Mandaraka dan  Ki Rangga Agung Sedayu adalah pengecualian. Swandaru, yang akan kita hadapi adalah sebuah tindak pembangkangan yang tidak berlandas kebencian atau kekecewaan. Aku hanya membutuhkan sebuah bukti bahwa engkau masih mempunyai kesetiaan pada Mataram. Kesetiaan yang tidak tergantikan oleh uang, kedudukan, tunggangan atau pun perluasan wewenang kekuasaan. Tidak, aku tidak ingin kau berpikir bahwa Mataram akan menganugerahimu kewenangan seperti yang dimiliki Tanah Perdikan Menoreh. Mertuamu sudah menanam jasa demikian banyak pada ayahku, Panembahan Senapati. Demikian pula ayah dan kakeknya ke atas walau mereka tidak atau belum termasuk wilayah Mataram, tetapi kesetiaan mereka pada raja-raja sebelum ayahku tidak perlu disangsikan. Sedangkan, atas kedekatanmu dengan Ki Ambara dan Raden Atmandaru, bagaimana aku dapat membawa usulan yang baik itu ke hadapan Panembahan Hanykrawati dan Ki Patih Mandaraka? Satu yang pasti aku ingat adalah ayahku pernah berhubungan dekat denganmu, hanya saja, jangan itu kau jadikan penyebab yang dapat mengalihkan perhatian Mataram.”

arya penangsang, jipang, penaklukan panarukan, panderan benawa
Tetapi hal yang sama tidak berlaku bagi Arya Penangsang, Keteraturan penempatan bangku mengundang kecurigaan Adipati Jipang ini.

“Terima kasih karena Pangeran masih mengingat keadaan kami di masa lalu. Mengenai Raden Atmandaru, saya sudah tidak berhubungan lagi dengan orang itu. Harap Pangeran tidak salah membuat penilaian.”

“Pernah dan tidak pernah adalah dua hal yang berlainan arti dan bertolak belakang. Kisah itu, bila tersebar, akan menempatkanmu pada kedudukan yang tidak lagi dapat dihormati oleh banyak orang. Sepanjang hidupmu akan menjadi bahan olok-olok dan aib besar pada harga diri keluargamu. Bila kau bertanya mengenai kedudukanmu, Swandaru, Mataram masih berbelas kasih padamu. Sehingga, aku pikir memang tidak sepatutnya engkau dihukum meski terbilang sulit dikendalikan. Namun, jangan pula berpikir bahwa Mataram masih membutuhkanmu. Ini adalah sudut pandang yang semestinya dapat kau pegang bahwa antara Mataram dan Sangkal Putung, atau Mataram dan Swandaru adalah kesatuan yang tumbuh dari jalinan pengertian yang sangat kuat. Meski kau dapat dinyatakan bersalah karena membawa masuk Raden Atmandaru dan membuat beberapa kesepakatan jahat, meski dengan alasan itu aku dapat membunuhmu, tetapi aku menghargai hubungan baikmu dengan mendiang Panembahan Senapati. Aku dapat mengabaikan kemarahan ini dengan mengingat itu dan seluruh anggota keluargamu Maka tinjaulah Ki Tumenggung Untara dari sudut lain. Pembicaraan mengenai Mataram, itu berarti tidak sebatas pada singgasana Panembahan Hanykrawati tetapi seluruh kehidupan yang sudah berputar dan sedang berlangsung di dalamnya. Tanggung jawab dan tugasnya lebih berharga dari kehidupannya sendiri. Untara, sudah tentu, tidak akan membiarkan Mataram menjadi sasaran atau sesuatu yang dapat dipermalukan oleh hasrat Raden Atmandaru. Untara sudah mendapatkan bagian tersendiri untuk menunaikan tanggung jawabnya, dan sebaiknya engkau menjaga jarak ketika membicarakan hal itu.”

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 8

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 55

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 53

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.