Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 28 – Maut di Lereng Utara Gunung Kendil

Dua petarung yang berilmu sangat tinggi itu kemudian bergeser setengah lingkaran. Menghentak tenaga cadangan. Berbalas serangan secara beruntun seperti kilat patah: kiri–kanan–atas. Setiap sambaran meninggalkan bunyi—desis, mendecit, menggaung tipis lalu  memantul pada kabut, menggema dan benar-benar pertarungan puncak yang sangat berisik!

Raden Atmandaru merendah, lalu meloncat pendek; lutut naik, udara terhisap, Agung Sedayu memiringkan dada, kemudian membalas serangan dengan sapuan kaki menebas silang ke lambung, dada, kepala tapi semua serangan mereka hanya menampar udara kosong.

Hujan tersibak oleh gelombang tekanan tenaga cadangan yang terungkap tanpa halangan. Genangan air dan lumpur bergetar serempak seolah ada belasan gajah melintas dengan denyut yang sama. Jarak pertarungan yang sangat dekat itu sama sekali tidak memberi waktu untuk napas panjang. Jarak mereka; tiga langkah. Tidak lebih.

Agung Sedayu memutar pinggang, memukul beruntun siku-kepalan beruntung dengan garis kaki melengkung. Raden Atmandaru membalas dengan tendangan menyilang. Dua serangan berpapasan; udara di tengah meledak kecil, menyibak kabut menjauh setapak.  Mereka berhenti sekejap untuk menakar lawan dalam ruang sempit.

Pertarungan berlanjut. Pukulan, tangkisan, tendangan, langkah pendek—semuanya terjadi di satu lingkaran sempit. Gaung dan desis yang timbul mengikuti getar tenaga cadangan terdengar menumpuk tak beraturan seperti bunyi tebing yang longsor.

Lingkar perkelahian meluncur deras tapi dalam garis patah-patah. Berpindah-pindah mematuhi setiap kaki yang menjejak tanah. Setiap hentakan kaki akan mengubah arah gelanggang kecil. Udara – yang kemudian terayun oleh gerak lengan dan kaki yang terus bersilang – terperangkap lalu menjadi pihak ketiga yang menghantam dengan liar. Udara pejal berkekuatan tinggi bergantian menggedor pertahanan Agung Sedayu dan Raden Atmandaru. Ternyata alam terpancing untuk ikut serta bertarung. Benar-benar mencekam. Tidak ada satu pun yang selamat dari amuk udara yang terperangkap.

Jarak yang tak lebih dari tiga langkah rapat seakan menjadikan gelanggang pertarungan seperti batu padat yang memantul dengan kekuatan yang sama ganasnya.

Pertarungan sangar atau mungkin tepatnya pergumulan hebat itu bergeser lagi. Bentuk luar perkelahian mereka seakan-akan menjadi bola yang berputar sangat cepat yang terus berubah arah. Memantul dinding cadas, membentur tebing batu—bergeser cepat, menanjak mengikuti kemiringan tebing yang curam, hingga akhirnya mereka seolah terpaku pada tebing utara Gunung Kendil yang hampir tegak lurus!

Dalam posisi yang mustahil bagi petarung kebanyakan, tangan mereka menancap sebagian ke dalam celah batu dan tanah cadas sebagai tambatan agar tidak terlempar ke jurang di bawah kepekatan kabut. Pertarungan kini hanya dilakukan oleh satu tangan yang bebas. Satu lengan yang tersisa itu bergerak dengan kecepatan luar biasa; menyambar, menangkis, dan memukul di antara desau angin lembap dan bunyi rintik yang tetap deras. Beradu telapak kaki seakan-akan sedang menaiki anak tangga pendapa!

Setiap benturan mengirimkan rambatan tenaga cadangan yang menyusup ke dalam tebing, membuat kerikil dan lumut berjatuhan, tersapu oleh gerakan mereka yang liar tapi dengan kekuatan yang terukur.

Pertempuran yang menempel pada tebing itu makin sulit dipercaya! Jika saja ada saksi  mata dan keadaan berlangsung dengan cahaya yang cukup, maka orang itu hanya dapat ternganga tanpa kata-kata!

Hawa panas mulai terasa. Apakah itu karena Agung Sedayu sedang mengetrapkan ilmu kebal atau Raden Atmandaru yang sedang menghentak menuju puncak? Tidak tahu. Yang pasti hanya satu hal:  lepasan hawa panas itu mampu mengeringkan benda basah dalam jarak dekat. Tetes hujan langsung mengering sekejap saat menyentuh kulit.

Lingkar pertarungan itu bahkan sekali-kali melayang di udara saat keduanya melenting menjauhi dinding batu, beradu serangan di udara, sebelum kemudian kembali menempel pada tegaknya tebing. Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika dinding tebing yang menjadi tumpuan akhirnya menyerah; retakan menjalar cepat lalu longsor, membawa bongkahan batu dan tanah luruh ke bawah.

Di antara tanah yang ambrol dengan suara gemuruh, sekalipun terkesan tergelincir, tapi mereka turun dalam kewaspadaan tinggi. Begitu kaki menyentuh pijakan di dasar lereng, keduanya langsung terlibat dalam adu kekuatan yang dahsyat. Benturan tenaga itu membuat tekanan hebat yang memaksa mereka terdorong mundur hingga empat langkah. Seketika, gerakan liar itu terputus. Mereka berdiri tegak dan diam membeku. Hanya sisa suara gemuruh dari tebing yang longsor tadi yang masih terdengar, menggaung rendah di antara sela-sela lembah yang tertutup kabut.

Alam seperti mengambil tempat menjadi pengadil yang tidak pandang bulu. Suasana di lereng utara itu berubah menjadi jauh lebih mencekam. Kabut yang semula hanya menutup pandangan kini menebal dengan sangat cepat, seolah-olah gumpalan awan turun dan membeku di sekeliling mereka. Hujan semakin rapat. Air meluap dari ceruk-ceruk tinggi tebing, meluncur deras mengikuti jalur longsoran, membawa batu dan tanah melewati tempat mereka berdiri.

Dalam waktu singkat, air yang keruh itu telah mencapai pinggang. Aliran yang semakin kencang itu menghantam kaki. Batu-batu dengan berbagai ukuran menabrak dinding pertahanan Agung Sedayu dan Raden Atmandaru.

Jarak mereka tak sampai lima langkah. Untuk ketinggian ilmu mereka dan pengenalan singkat medan pada saat itu, lima langkah sudah cukup untuk saling merasakan napas, cukup dekat untuk saling mengakhiri perjalanan.

Namun alam memutuskan lain. Kabut menutup ruang di antara Agung Sedayu dan Raden Atmandaru seperti lembaran tebal yang ditarik kasar. Pandangan mata, tumpuan utama ilmu andalan Agung Sedayu, tercerabut. Segala garis bayangan dan arah menjadi lebur, mata hanya menangkap putih keruh yang bergerak.

Agung Sedayu menahan diri. Dia sadar bahwa sekali memaksa, maka bahaya akan menebas dirinya dengan cara lebih kejam.

Air yang telah mencapai pinggang menarik-narik tubuhnya dari samping, menghantam kaki dengan kekuatan beragam dan tak beraturan. Batu-batu kecil memukul kaki, yang besar menghantam kuda-kuda, menggeser pijakan.

Di seberang, Raden Atmandaru merasakan hal yang sama getir. Ilmu puncaknya—pusaran api yang sanggup membelit Agung Sedayu—menuntut keheningan dan ruang yang jelas.

Alam merenggut segala kelebihan mereka berdua tanpa ampun dan tanpa sisa.

Mereka berdiri, nyaris saling sentuh, tetapi terpisah oleh kehendak alam. Air keruh berdesir di antara tubuh, membawa tanah dan batu. Dalam kebutaan yang sama, dua pendekar besar itu tertahan oleh pengadil yang tak pilih kawan maupun lawan.

Air deras mengalir dari samping dengan tiba-tiba dan kejam. Arus menghantam tubuh mereka seperti tangan raksasa ketika mengibas pepohonan—tangan yang berusaha mendorong, lalu melemparkan mereka berdua ke dasar jurang yang tak tampak mata.

Namun mereka tidak kehilangan lawan.

Agung Sedayu menutup mata sesaat. Dia membaca perubahan dengan cara lain: getar di telapak kaki, sudut hantaman air pada betis, nada gemuruh batu yang terseret. Arus dari timur membelokkan pusaran kecil di sekeliling tubuh lawan—sebuah kekosongan halus yang tak kasatmata, tapi dapat dirasakan olehnya. Yah, Agung Sedayu tahu bahwa lawan masih di hadapannya, bergeser setengah langkah, menahan arus dengan kekuatan yang tak mau menyerah.

Raden Atmandaru pun demikian. Dia membiarkan hujan dan kabut berlalu tanpa dilawan, menajamkan rasa pada pergeseran alam. Air yang menghantam dari samping memantul berbeda ketika bertemu tubuh lain; gelombang kecil beradu, suaranya pecah. Di sela benturan itu, dia merasakan getaran bukan disebabkan batu maupun lumpur/ Sesuatu itu enggan bergeser tempat. Tanpa melihat, dia tahu jarak cukup rapuh tapi nyata.

Arus timur makin mengganas!

Air bertahan dengan kekuatan dorongnya. Batu-batu terus berdatangan menghantam menyilang, memaksa Agung Sedayu dan Raden Atmandaru menguatkan kaki. Mereka berada pada arah utara dan selatan, berhadap-hadapan dengan panggraita yang ditunjang kemampuan membaca alam, dan kesadaran bahwa alam sedang membaca mereka.

Dalam kebisingan hujan dan gemuruh longsoran, mereka  mencapai pengetahuan yang bersandar pada kenyataan: selama arus itu ada, mereka tahu persis kedudukan lawan.

Seseorang membiarkan air mengambil alih, lalu menggeser pusat beratnya mengikuti dorongan, mendekat hingga nyaris tak berjarak. Tenaga cadangan dikerahkan hingga puncak; menghanyutkan tubuh sendiri sebagai senjata. Dia mengapung sedikit di bawah permukaan air.

Seseorang yang lain lebih memilih diam. Bukan ketenangan, tapi sedang menunggu alam memberinya pemahaman. Itu penantian yang tegang sekaligus melelahkan. Seluruh perhatiannya melekat pada perubahan kecil: tarikan air yang mendadak lurus, batu yang beradu lalu terdiam. Alam memberi tanda.

Benturan terjadi—sekali saja. Tangan dengan tangan.

Tidak ada suara meledak, hanya hentakan pendek yang membuat air terbelah sesaat. Tenaga beradu, lalu dilepaskan bersamaan oleh arus yang tak memihak. Air memuncrat tinggi. Salah satu pemilik tenaga cadangan merasakan pantulan yang mendorong jauh ke dalam sumber ilmunya. Menghancurkan organ bagian dalam. Dua tubuh lenyap dari pandangan, ditelan kabut dan pusaran yang mengamuk.

Beberapa lama kemudian, di dekat tepian, seseorang muncul. Air mendorongnya dengan kasar, sementara di lengannya tergantung tubuh lain yang tak lagi melawan. Agung Sedayu menyeret tubuh dingin Raden Atmandaru yang terdorong kuat oleh arus. Kaki murid Kyai Gringsing itu terpeleset berkali-kali. Dia menggertakkan gigi, memaksa tubuhnya mencapai tanah yang lebih tinggi. Dengan sisa tenaga, dia menggendong tubuh diam yang bertambah berat oleh air dan lumpur, lalu melangkah keluar dari lembah.

Suasana kembali sunyi seperti saat sebelum kedatangan mereka berdua.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 24 – Kepompong Kabut Duel Puncak Nyi Banyak Patra

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 79 – Penjegalan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 20 – Agung Sedayu dan Raden Atmandaru: Saling Mengintai di Dalam Kabut

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.