Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 29 – Duka Memayungi Gunung Kendil

Lamat-lamat dari jarak yang tidak diketahui, Pandan Wangi mendengar suara gemuruh —dan dia tahu itu berasal dari tanah longsor dan banjir bah. Sejenak dia memandang Kinasih yang tampak kepayahan karena pengerahan kecepatan yang melebihi batas, lalu berkata, “Kita tidak tahu yang sedang terjadi. Mudah-mudahan ada perlindungan dan keselamatan dari Yang Maha Agung.”

Kinasih mengangguk sambil menyerahkan keputusan akhir pada Pandan Wangi.

Erat tangan Pandan Wangi menggenggam lengan Kinasih, memandunya ke jalur awal —tempat pemanah pasukan khusus berjaga. Pandan Wangi akan memberi perintah agar mereka menjemput Sukra dan Sayoga. Setelah itu semua, mereka akan berdampingan menuju jalur selatan Gunung Kendil.

Setelah nyala perlawanan pengikut Raden Atmandaru padam, perintah mundur ditegakkan di seluruh medan oleh Ki Lurah Sanggabaya. Suasana tidak serta-merta menjadi sunyi tapi pekerjaan berat yang harus diselesaikan tanpa mengenal perbedaan.

Di lereng barat, orang-orang turun perlahan sambil membawa luka dan tubuh-tubuh yang mendingin ke jalur selatan. Pembedaan hanya pada penempatan jasad-jasad yang telah selesai menjalani hidup. Luka dibersihkan seadanya; kain disobek untuk membalut, tanah disingkirkan dari wajah.

Di medan timur, kabut masih menggantung setinggi dada. Di sana, pekerjaan dilakukan dengan isyarat tangan. Panah dicabut satu per satu dari tanah dan batang pohon, ditumpuk rapi agar tak lagi melukai langkah. Perisai yang retak disandarkan, bilah yang patah dikumpulkan.

Di jalur selatan, tampak sejumlah orang sibuk merawat yang terluka. Sebagian lagi menyelaraskan yang gugur pada arah jalan pulang. Tak ada ratap yang pecah. Hanya harapan terbaik saja yang terucap dalam hati masing-masing.

Di bawah suram nyala obor dan oncor, parit purba menjadi saksi bisu. Satu per satu tubuh yang dingin diberi penanda sederhana di permukaan tanah. Perkemahan Raden Atmandaru sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang berdiri sebagai pemenang. Yang hidup sebagai orang kalah merasa dimanusiakan. Setiap orang belajar menahan diri di hadapan akhir. Pada saat itu, pangkat, panji, dan kemarahan ditanggalkan. Yang tertinggal di lereng Gunung Kendil adalah pelajaran.

Agung Sedayu muncul dari kabut tanpa tanda kemenangan. Langkahnya berusaha tegak meski tertatih. Di lengannya, jasad Raden Atmandaru terbaring—kepala disangga, kain dirapikan sekadarnya, wajah menghadap langit yang belum sepenuhnya cerah. Tidak ada seruan. Tidak ada aba-aba. Orang-orang yang melihat segera menepi, memberi lorong sunyi.

Agung Sedayu tidak menurunkan beban itu dengan tergesa. Setiap matanya mengerjap, itu seperti sedang meminta izin pada tanah yang baru saja ditenangkan. Ketika dia berhenti, jasad itu dibaringkan perlahan di atas alas sederhana. Tangannya tinggal sejenak, memastikan sikap tubuh lurus, memastikan martabat tidak tertinggal di medan.

“Buatlah peristirahatan yang pantas untuknya,” ucap Agung Sedayu perlahan pada seorang prajurit yang berada di dekatnya.

Beberapa orang ikut mendengar lalu menjalankan perintah. Mereka mulai menggali tanah dengan alat seadanya sambil bertanya dalam hati; mengapa ada perintah itu? Bukankah orang yang akan dikuburkan itu otak dari segala kekacauan di Mataram? Tapi pertanyaan itu tidak terucap. Masing-masing orang paham bahwa jawaban akan muncul jika waktunya tiba.

Nyi Banyak Patra datang mendekat, mengulurkan tangan menyentuh dada Raden Atmandaru lalu mengangguk. “Dia memaksakan diri,” ucap guru Kinasih itu lantas berhenti sejenak. “Saya sudah dapat meraba bagaimana pertarungan Ki Rangga dengannya berlangsung.“

Kalimat itu terpotong ketika Nyi Banyak Patra mengalihkan pandangan pada prajurit yang sedang menggali tanah, katanya kemudian, “Angger sudah melakukan yang semestinya.”

Agung Sedayu menunduk lalu menarik napas panjang tapi dia memilih diam. Namun hati dan pikirannya berbicara: permusuhan berhenti pada napas terakhir, dan yang tersisa hanyalah kewajiban manusia terhadap manusia.

Di hadapan tubuh Raden Atmandaru, kenangan adu siasat dan rancangan sedikit menggenang lalu meresap. Yang ada kemudian adalah duka yang harus dijaga agar tidak menjadi kebencian. Dalam pikiran Agung Sedayu yang tersisa hanyalah; dia sedang menghormati Pemilik Kehidupan, terlepas dari sepak terjang orang yang membujur di depannya.

Dari jalur yang berbeda dengan Agung Sedayu sebelumnya, iring-iringan kecil Pandan Wangi tiba tanpa bunyi. Mereka datang seperti aliran air yang menemukan jalan sendiri — wajah duka, pakaian basah dengan langkah wajar tanpa pancaran bangga selamat dari jalur utara. Mata mereka menyapu sisa-sisa medan: wajah sayu dari kebanyakan orang.

Pandan Wangi berhenti pada jarak yang pantas. Dia membutuhkan ruang untuk menerima kenyataan tanpa harus membiarkan kesedihan maupun kebanggaan datang mencampurinya. Orang-orang di sekitarnya mundur beberapa langkah, mengikuti Pandan Wangi memanjatkan ucapan yang tidak dilantangkan.

Satu pengertian yang lahir tanpa paksaan: perang telah berlalu, musibah telah terjadi, dan tugas manusia berikutnya adalah merawat sisa-sisanya dengan tenang sambil memutar lagi roda kehidupan.

Satu demi satu berbenah diri, menggabungkan diri pada kelompok masing-masing lalu meninggalkan Gunung Kendil. Barisan terakhir menyisir tanah, memastikan tak ada yang tertinggal sendirian. Ketika semua selesai, mereka mundur dengan langkah tertib, meninggalkan medan yang telah dirapikan sebisanya.

Waktu masih belum memberi tanda yang jelas ketika medan mulai berdenyut kembali.  Gunung Kendil tetap bersikap tenang sambil menutup rapat semua peristiwa yang terjadi di atasnya. Melalui gesekan daun dan rintik gerimis, Gunung Kendil mengumumkan bahwa perang adalah musibah. Musibah tidak pernah memilih hari baik, tidak pernah menghitung umur, dan tidak menimbang kesiapan dan ketidaksiapan. Musibah adalah beban yang harus ditanggung demi kelanjutan hidup.

Payung duka, ini membentang untuk dua kubu yang berseteru. Kemenangan selalu meninggalkan sisi kehilangan untuk dikenang. Kekalahan datang untuk menyalakan yang biasanya padam.

Payung duka, ini membentang untuk dua kubu, sederhana untuk bertahan dan sederhana menerima kekalahan.

Beberapa hari kemudian, Menoreh bergerak pelan menemukan lalu memutar kembali kehidupan di atasnya. Jalan setapak kembali dilalui dengan perasaan tenang. Perempuan turun ke pancuran membawa tempayan; anak-anak menyusuri tepi kebun dengan suara yang tidak ditahan. Asap dapur naik lagi. Pasar induk dan sekitarnya mulai berdenyut karena kesinambungan. Malam-malam kembali diisi lampu minyak, tetapi obor tidak lagi dipasang di sudut-sudut dengan sikap waspada.

Para lelaki bekerja tanpa banyak bicara. Setiap bunyi kayu patah membuat bahu menegang sesaat; setiap desing angin di lereng mengundang tatap yang terlalu cepat. Lalu mereka menarik napas, melanjutkan pekerjaan. Begitulah Pegunungan Menoreh mengerakkan orang-orang agar mengisi lubang yang dilampaui berulang-ulang.

Menjelang senja di hari-hari berikutnya, Tanah Perdikan Menoreh memanggil para peronda dan pengawal dusun dan peduukuhan untuk menjalankan kebiasaan lama. Kabut memang masih menjadi selubung, tapi Menoreh memilih menjadi sahabat.

Suasana duka belum sepenuhnya bergeser arah dari Tanah Perdikan. Sebagian orang sudah membicarakan ketiadaan Swandaru. Sebagian bertanya keberadaannya, sebagian lagi tidak peduli. Pada sudut lain pedukuhan induk, orang-orang bahkan mencibirnya.

“Sejak Ki Rangga datang, aku tak pernah melihat Ki Swandaru,” bisik seorang pedagang di pasar, sambil menimbang beras, “padahal biasanya dia selalu hadir di banyak keramaian. Bahkan aku pun tak melihatnya  di kediaman Ki Gede beberapa hari saat berita duka itu merebak. Yah, duka yang ternyata bukan duka sebenarnya.”

“Di Gunung Kendil pun katanya dia tidak terlihat,” sahut pembeli lain, nada suaranya setengah mencibir, “katanya berilmu tinggi, tapi saat perang terjadi, hanya pengawal dusun yang justru bertempur.”

Di gardu jaga, dua lelaki menatap ke arah sawah yang menguning.

“Orang-orang bertanya ke mana Swandaru pergi,” kata yang lebih tua, “seakan Tanah Perdikan ini terlalu sempit baginya.”

“Entah,” jawab kawannya singkat, “di ladang pun tak ada kabarnya—yang tersisa hanya suara orang mempergunjingkan.”

“Mungkin dia sudah putus asa,” ucap orang pertama.

“Sebabnya apa?” sahut kawannya. Orang pertama mengangkat bahu. Katanya kemudian, “Aku dengar Ki Swandaru dijadikan tahanan rumah oleh Pangeran Purbaya. Tapi tidak ada yang tahu, apakah Pangeran Purbaya bersedia membebaskannya atau bahkan memperberat hukuman.”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 67 – Persiapan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 2 – Pandan Wangi Gugat

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.