Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 79 – Penjegalan

Di saat yang sama, Ki Garjita masuk dari arah berlawanan.

Ki Hariman sempat memutar tubuh, tahu ada gangguan tapi Ki Garjita sudah lebih dulu menutup ruang geraknya.

Empat kekuatan bertemu. Sejenak.

Tidak ada benturan besar.

Swandaru terdorong mundur setapak. Ki Hariman juga demikian.

Dua cambuk terjuntai panjang di permukaan lapangan yang kering dan berantakan.

Orang-orang yang berkerumun makin ternganga. Bagaimana tiba-tiba pertarungan berhenti lalu ki Astaman dan Ki Garjita juga ada di gelanggang? Bukankah mereka sejak tadi hanya berdiam diri?

Tidak ada yang bersuara keras. Hanya bisik-bisik pendek, kebingungan yang belum mendapatkan jawaban.

Hampir segenap pikiran dan perasaan seolah sepakat pada satu titik: betapa orang-orang yang berada di sekitar mereka menyimpan sesuatu yang nyaris tak terjangkau panca indera!

Ki Astaman melepaskan tangan Swandaru, perlahan. Dia maju selangkah. Tatapannya menyapu orang-orang yang masih berada di tepi lapangan. Suaranya terdengar lantang, “Jika ada yang meragukan arah dan akhir dari perguruan ini, aku hanya dapat katakan, ‘inilah jalur perguruan kita’.”

Dia berhenti sejenak sambil menatap wajah-wajah yang masih tampak linglung.

“Jalur Perguruan Orang Bercambuk.”

Suasana menjadi semakin hening dan senyap. Hanya desah angin dan gesekan daun saja yang tidak peduli untuk tetap bersuara.

Ki Astaman melanjutkan dengan nada suara yang tetap kuat dan berwibawa, “Kita memang tidak mendapat ilmu itu langsung dari Kyai Gringsing.”

Beberapa orang saling bertukar pandang.

“Tapi—” Dia menoleh sedikit pada Swandaru. “Ki Swandaru… akan mempermudah jalan itu bagi kalian.”

Itu penetapan dari kesepakatannya dengan Ki Garjita. Sebuah garis yang baru saja digambar di depan semua orang.

Di belakangnya, Swandaru berdiri diam. Napasnya masih berat, tapi sorot matanya sudah kembali terkendali. Ada gejolak di dalam dadanya tapi dia tidak membantah maupun menolak.

Di sisi lain, Ki Hariman juga berdiri tegak dan sikapnya cukup tenang. Menurutnya, semua yang baru saja terjadi hanyalah satu langkah dalam sesuatu yang lebih panjang. Dia sadar bahwa memang untuk menguasai seluruh bagian ilmu Orang Bercambuk, maka Swandaru adalah kunci yang tak terbantahkan. Bukan Ki Widura maupun perguruan di Jati Anom sendiri.

Orang-orang pun tidak lagi hanya kagum. Ada keyakinan yang tumbuh dan kebanggaan mulai mencari tempat di dalam hati masing-masing. Bahwa mereka tidak lagi sekadar berkumpul tanpa arah. Bahwa ilmu Orang Bercambuk itu memang sangat dahsyat! Di hadapan mereka, segalanya tergelar dan terlihat begitu jelas

Dari ujung barisan orang yang mengelilingi, suara itu mula-mula kecil lalu mendengung seperti sayap lebah.

“Kyai Gringsing…!”

Satu orang.

Dua.

Lalu menyusul dari berbagai arah, seperti bara yang tiba-tiba mendapat angin.

“Swandaru…!”

Nama itu menggema, bergantian, saling menyambung tanpa aba-aba.

“Kyai Gringsing!”

“Swandaru!”

“Kyai Gringsing!”

“Swandaru!”

Gelombang suara itu membesar dengan irama yang menjelaskan keyakinan yang bulat dan kepercayaan yang utuh.

Perguruan baru pun lahir tanpa menghadirkan nama

Swandaru berdiri di tengah itu semua. Sejenak dia seperti tidak percaya. Matanya menyapu orang-orang di sekelilingnya—wajah-wajah yang tadi hanya dianggapnya sebagai pengelana tanpa tujuan, kini, memandangnya dengan hormat. Ada pengakuan tinggi pada tatap mata mereka.

Saudara seperguruan Agung Sedayu itu lantas menarik napas dalam. Tiba-tiba ada dorongan yang muncul begitu saja tapi sangat kuat untuk menolak segalanya, dorongan untuk berkata bahwa ini terlalu jauh dorongan untuk menyatakan bahwa mereka tidak tahu yang sebenarnya mereka sebut-sebut.

Bahwa nama itu… bukan sesuatu yang bisa dibagi begitu saja.

Bibirnya sempat bergerak tapi gelombang batin yang lahir dari keyakinan kuat banyak orang itu mampu menghantamnya mundur. Hantaman yang jauh lebih kuat dan rapat untuk menekan keraguan agar tidak tumbuh.

“Swandaru…!”

“Swandaru…!”

Dan anehnya—sesuatu di dalam dirinya mulai melunak. Perasaan yang selama ini tersembunyi, yang mungkin tidak pernah diakuinya sendiri, perlahan naik ke permukaan.

Dihargai. Dihormati. Dengan alasan yang cukup mewah: bukan karena sebagai anak Demang Sangkal Putung, bukan sebagai menantu Ki Gede Menoreh, bukan pula karena hubungannya dengan Agung Sedayu. tapi karena kemampuannya sendiri. Hasil dari ketekunan berlatih, kegigihan untuk bertahan. Orang-orang itu melihat semuanya, menjadi saksi ketangguhan dan ketinggian ilmunya.

Swandaru menutup mata sekejap. Napasnya turun perlahan. Ketika membukanya kembali, Swandaru telah menerima sesuatu yang pernah diharapkannya seumur hidup. Namanya berdampingan dengan gurunya, sejajar dengan Agung Sedayu. Di dalam hatinya, Swandaru juga tahu bahwa segala sesuatu pasti punya batasan.

Sorak sorai masih berlangsung dan Swandaru menyongsongnya dengan dada teangkat, terbuka dengan perubahan yang nyata.

Pada hari ini, untuk pertama kali, nama Agung Sedayu tidak lagi berada selangkah di depannya.

Pada hari ini, bayangan panjang Agung Sedayu tersingkir dari segala arah. Saat-saat mendatang tidak akan ada lagi perbandingan yang diam-diam hidup di kepala orang lain.

Swandaru menarik napas panjang dengan pengakuannya pada dirinya sendiri. Kepalanya sedikit terangkat.

Sidanti, andaikata masih hidup, Swandaru akan datang padanya lalu menamparnya dengan kekuatan yang sama.

“Swandaru…” Nama itu kini terasa berbeda. Bukan sekadar tapi pengakuan atas keunggulan.

Ki Astaman dan Ki Garjita serta Ki Hariman perlahan mundur setpak demi setpak di belakang Swandaru.

Tidak terlihat garis-garis keberatan pada raut wajah mereka.

Bahkan Ki Astaman menarik napas lega karena rencana yang disusunnya telah menemukan bentuk.

Penjegalan

Udara Pegunungan Menoreh mengalir pelan membawa bau pembakaran dari tungku-tungku yang tersembunyi jauh di dalam rumah penduduk. Di halaman samping barak, beberapa kelompok prajurit yang baru saja menyelesaikan latihan dan pergantian jaga. Cakap dan senda gurau mereka ringan terdengar sebagai pelepas lelah.

Ki Wedoro Anom melangkah tegap memasuki barak dari pintu utama.

Seorang prajurit berdiri memberi hormat tanpa kata-kata. Meski demikian, tatap matanya menyiratkan penasaran.

Ki Rangga Wedoro Anom berdiri sejenak, mematung dengan pandangannya menyapu seluruh bagian barak yang dapat dijangkaunya. Sikapnya tidak berubah—datang, melihat, lalu bergerak. Hampir selalu demikian setiap kali dia menyambangi barak ketika Agung Sedayu tidak berada di tempat.

Seorang lurah muda menghampiri, ayun kakinya tidak tergesa tapi dia tetap menjaga sikap hormat.

“Ki Rangga.”

Ki Wedoro Anom mengangguk ringan. “Di manakah orang-orang?” Yang dimaksudkan olehnya adalah para pemimpin yang menjadi bawahan langsung Agung Sedayu seperti Ki Rangga Sanggabaya, Ki Demang Brumbung atau dua lurah lainnya.

“Seluruhnya sedang terlibat dalam tugas baru sesuai keputusan Ki Tumenggung,” sahut cepat lurah tersebut.

Ki Wedoro Anom mendengar itu dengan wajah datar.

Ki Tumenggung? Benar, dia sudah mengetahui Agung Sedayu mendapatkan anugerah kenaikan pangkat. Tapi, tumenggung di barak pasukan khusus, siapakah dia? Apakah Agung Sedayu atau orang lain? Seandainya itu adalah Agung Sedayu, sebenarnya, apa pertimbangan Keraton? Tak pantas, pikirnya.

Di sisi lain, apakah hanya dirinya yang tidak diberi tahu? Apakah ada pengecualian di barak ini? Pertanyaan-pertanyaan itu tetap muncul bergantian dalam pikiran Ki Wedoro Anom.

Dia kembali mengangguk tanpa ada tanggapan. Sejenak kemudian, Ki Wedoro Anom menoleh ke arah deretan bilik yang menjadi ruang kerja lurah berkemampuan khusus, lalu kembali pada lurah itu.

“Sudah barang tentu Ki Tumenggung telah memperhitungkan dan menimbang segalanya,” katanya tenang. “Hanya saja… jalur utara dan barat tidak selalu memberi tanda yang sama.”

Lurah itu mengerutkan kening. Dia bertanya, “Bagaimana maksud Ki Rangga?”

“Tidak ada maksud apa-apa. Hanya sebuah pendapat dari seorang prajurit saja,” jawab Ki Wedoro Anom sambil tersenyum. “Hanya  pengalaman lama. Kadang laporan datang lebih cepat dari peristiwa,  kadang terlambat tanpa sebab yang jelas.”

Lurah itu mengangguk sambil menebak maksud orang yang berdiri di depannya.

“Tapi aku tidak mudah untuk percaya. Semua orang di barak sudah mengetahui sepak terjangmu di Dusun Benda,” ucap lurah muda itu dalam hati. Tapi kepalanya merunduk kemudian beralih pada bangunan yang digunakan untuk merawat Ki Sor Dondong dan Ki Garu Wesi.

Ki Wedoro Anom bergumam pelan kemudian berkata, “Baiklah, aku ingin memeriksa keadaan sebentar. Selamat pagi.”

Dia berjalan menuju tempat perawatan tahanan meski sebenarnya dia tidak tahu dan nyaris bertanya pada lurah tadi, di mana dua tahanan perang itu dirawat? Ki Wedoro Anom menertawakan dirinya karena hampir keceplosan. Tentu sangat memalukan bila seorang petinggi pasukan khusus yang datang atas perintah langsung Pangeran Purbaya justru tidak mengetahui keberadaan tahanan penting.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 55 – Kemunculan Ki Hariman di Perguruan Orang Bercambuk

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 28 – Maut di Lereng Utara Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 43 – Agung Sedayu: Kebenaran yang Datang Terlambat

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.