“Jadi, siapakah orangnya dan bagaimana?” Ki Wira Sentanu berkata pelan, “ternyata dia tidak benar-benar terikat.”
Ki Suralaga menggeleng, mengusap wajah lalu berkata, “Dia tidak terikat tapi mungkin kita terlalu meremehkannya.”
“Bukan meremehkan sebenarnya, tapi kita terhalang oleh pengaruh Sinuhun dan juga Pangeran Purbaya.”
Percakapan berhenti sesaat di antara mereka.
Anggapan mereka bahwa Agung Sedayu tertancap mati di Kepatihan ternyata menemui kenyataan yang berbeda. Dari percakapan prajurit ronda, meski sama sekali tidak pernah meninggalkan Kepatihan dan orang-orang mereka tidak melaporkan pertemuan Sedayu dengan orang lain, tapi pengembangan barak terus berjalan. Bahkan berdasarkan gambar tangan Sedayu sendiri!
Bagi Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga, Agung Sedayu itu seakan mempunyai banyak tangan yang tidak terlihat, tetapi sanggup menggerakkan banyak hal. Termasuk mengecoh mereka berdua.
Ki Wira Sentanu mengatupkan rahang. “Kalau begitu… barak dan Tanah Perdikan masih di berada di bawah kendalinya.”
Ki Panji Suralaga mengangguk lalu meninju udara dua atau tiga kali.
“Tenanglah, kita masih punya banyak waktu. Ini menjadi kenyataan yang benar-benar terbuka dan peringatan bahwa kita salah membaca keadaan,” ucap perlahan Ki Wira Sentanu.
Ki Suralaga tidak menyangkal. “Kita terperdaya.”
Dia diam sejenak, kemudian bertanya seperti pada dirinya sendiri, “Tapi, bagaimana dia melakukan itu?”
Ki Wira Sentanu menggeleng. “Aku tidak pernah mendengar Pangeran Purbaya membicarakan Sedayu sejak orang itu di Kepatihan. Tidak pula dalam percakapan ringan di antara pangeran, terutama Pangeran Selarong yang kerap bicara lantang.”
Pikiran mereka bergerak cepat, membuka lintasan-lintasan baru yang berisi dugaan serta kemungkinan.
“Jika dia dapat melakukan itu, hanya datang ke Keraton untuk persetujuan Sinuhun, lalu kembali ke Kepatihan kemudian tampak diam,” ucap lirih Ki Wira Sentanu kemudian, “itu bisa berarti bahwa sesungguhnya dia justru berada pada kedudukan paling kuat. Kedudukan yang mungkin tidak tersentuh oleh Pangeran Purbaya sendiri.”
Ki Suralaga menatapnya lantas mengangguk.
“Benar,“ dia mendesah. “Meskipun dari luar Pangeran Purbaya banyak mewakili Sinuhun tapi aku tidak pernah sekalipun mendengar ada bantahan. Semuanya dijawab dengan ‘ya, setuju, lanjutkan’. Seperti itulah yang terjadi di antara tiga orang itu.”
Berikutnya, tidak ada lagi pujian yang tersisa untuk keputusan Sunan Agung maupun siasat Pangeran Purbaya. Yang ada hanyalah kegeraman yang harus segera disingkirkan jika mereka ingin membuang Agung Sedayu dari kotaraja selamanya.
Malam kemudian datang menyapa kotaraja. Suara kentongan dengan nada tertentu telah terdengar sebagai penanda waktu.
Di samping kedai yang terletak di belakang Keraton.
Ki Wira Sentanu berdiri menempel pohon waru yang sangat besar. “Kita harus mengubah cara. Kita mungkin sedang tidak berhadapan dengan lelaki bodoh yang bahkan kita anggap tidak tahu cara menikmati wanita.”
Ki Suralaga mengangguk pelan.
Sejak percakapan singkat pada malam itu, Ki Wira Sentanu mulai bergerak. Kebiasaannya sehari-hari mendadak berubah seperti putaran roda yang melaju dari turunan. Dari penyendiri yang terkesan menahan kata-kata menjadi orang yang mulai menyapa dan mengobrol meski tidak sepenuhnya berubah tiba-tiba.
Dia tidak lagi bersandar pada dugaan atau pengamatan panjang. Ki Wira Sentanu mulai menyelami, menggali dan melibatkan diri pada percakapan ringan di sela pergantian tugas pelayan, di kedai belakang, bahkan sekadar mendengarkan keluhan mereka yang merasa lelah dengan tugas rutin. Demi Agung Sedayu, tentu saja.
Dari situ, Ki Wira Sentanu mulai merangkai banyak potongan kecil.
“…pembangunan sanggar sudah hampir selesai…”
“…katanya Ki Sanggabaya yang mengatur, tapi perintahnya jelas dari Ki Tumenggung melalui kain yang bergambar…”
“…bahkan kayu dari Tanah Perdikan sendiri…”
“…tidak banyak keputusan susulan dari Keraton karena …”
Setiap potongan terasa sederhana tapi jika disusun, maka seluruhnya mengarah pada satu hal yang sama: Agung Sedayu.
Ki Wira Sentanu mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman karena kegagalannya memahami cara kerja lawan. Lebih lanjut, dia mencoba masuk lebih dalam.
Beberapa kali dia sengaja memancing percakapan.
“Apakah Ki Tumenggung tidak terlalu jauh mencampuri urusan Tanah Perdikan?” tanyanya suatu malam pada seorang prajurit yang baru saja datang dari perondaan sampai batas Tanah Perdikan Menoreh.
Prajurit itu mengangkat bahu. “Kalau bukan beliau, siapa lagi yang bisa menyatukan barak dan Tanah Perdikan?”
Jawaban itu sederhana, wajar dan sesuai kenyataan.
Namun bagi Ki Wira Sentanu, itulah masalah paling besar.
Tanah Perdikan Menoreh tidak akan berarti tanpa Mataram. Mataram tidak akan berdiri kuat tanpa sokongan Tanah Perdikan.
Tidak ada celah.
Seolah-olah segala sesuatu berjalan sendiri tanpa ada campur tangan dan keputusan penting dengan kendali yang kuat.
Hari demi hari berlalu dan terasa kian sempit seiring dengan barak yang meningkat pesat.
Banyak anak muda berdatangan dari segala penjuru ke pinggiran timur kotaraja untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Mataram. Searah dengan itu, Pangeran Purbaya dan beberapa pemimpin prajurit seperti Pangeran Selarong dan Pangeran Mangkubumi mulai memilah lurah prajurit yang akan dikirim ke barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.
Jika ada bagian yang meningkat, Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga pun tidak ketinggalan, baik kegelisahan maupun pergerakan mereka.
Mereka belum menemukan titik lemah Agung Sedayu. Bahkan masih belum memperoleh jawaban: bagaimana Sedayu mengirim orang? Apakah dari gerbang utama Kepatihan atau butulan? Prajurit rendah atau perwira menengah?
Ki Panji Suralaga belum mendapatkan pencerahan Setiap obrolan dan kerumunan yang diikuti masih menutup diri dari keinginannya. Di Keraton, di barak prajurit pengawal raja dan ibukota, Ki Panji Suralaga belum menemukan orang yang benar-benar berada di luar pengaruh Agung Sedayu. Sepertinya semua orang, termasuk Pangeran Purbaya, tunduk pula di bawah tumenggung baru itu. Ini gila! Pikir Ki Panji Suralaga.
Pada suatu malam, Ki Suralaga menemui Ki Wira Sentanu.
“Tidak ada jejak, tidak ada ucapan. Sedayu benar-benar menjadi hantu yang bergentayangan meski di siang bolong,” kata Ki Panji Suralaga dengan geram.
Ki Wira Sentanu menatapnya sejenak. Ucapnya kemudian, “Mungkin ada yang kita lewati.”
Ki Panji Suralaga menggeleng kemudian mengangguk. “Tidak. Ini bukan soal melihat atau mengamati. Ini…” dia berhenti, mencari kata yang tepat, “seperti menghadapi sesuatu yang sudah tertanam sebelum kita menyadarinya.”
Ki Wira Sentanu berdiam diri, menunggu kelanjutan ucapan adik seperguruannya itu.
“Semakin kita mencari,” lanjut Ki Panji Suralaga, “semakin jelas bahwa kita semakin menjauh darinya.”
Ki Wira Sentanu lalu berkata, “Mungkinkah memang kita melewati sebuah bagian atau tempat?”
Ki Panji Suralaga tidak menjawab.
Malam di dalam lingkungan Keraton terus berputar seperti biasa, tidak ada yang mengejutkan maupun kejanggalan. Redup bahkan kadang-kadang mendekati suasana remang-remang.
Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga masih berdiri berhadapan, ketika percakapan terhenti.
Tiba-tiba desir langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Ki Wira Sentanu sedikit memiringkan kepala, sementara Ki Panji Suralaga menahan napasnya. Langkah kaki yang pasti bukan langkah prajurit yang berat dengan senjaya yang bergesek.
Langkah itu semakin dekat. Sesaat kemudian, bayangan muncul di tikungan lorong. Pangeran Purbaya kemudian melintasi persimpangan beratap jerami, lalu berhenti sejenak ketika melihat dua orang berada di sisi lorong.
“Ki Wira Sentanu. Ki Panji Suralaga,” sapanya tenang tapi suara dan sinar matanya menunjukkan perhatian yang sangat penting untuk dicatat.
Mereka berdua membungkuk hormat.
“Pangeran.”
Pangeran Purbaya menatap bergantian, membaca sesuatu yang tampaknya masih mengapung di antara mereka.
“Masih terjaga larut malam?” tanyanya ringan. “Adakah sesuatu yang mengusik keamanan? Ki Sanak berdua dapat meminta prajurit untuk memeriksa keadaan.”
Ki Wira Sentanu menjawab lebih dahulu, nada suaranya terkendali. “Sekadar berbincang, Pangeran.”
Pangeran Purbaya mengangguk kemudian senyum tampak mengembang. Lalu katanya, “Keraton memang tidak pernah benar-benar tidur. “Jika tidak ada hal mendesak, sebaiknya berada di dalam ruangan. Orang dapat curiga lalu melaporkan pada saya atau Pangeran Selarong dengan dugaan yang macam-macam. Sebaiknya Ki Sanak menghindari itu.”
Kalimat itu terdengar seperti tamparan halus bagi dua orang itu.
Ki Panji Suralaga menunduk lebih dalam. “Baik, Pangeran.”
Pangeran Purbaya tidak melanjutkan, mengangguk singkat, lalu melangkah melewati mereka dengan tenang. Desir langkahnya kembali menjauh, perlahan larut dalam keheningan malam.
Beberapa saat setelah itu, suasana tetap hening.
Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga tidak segera melanjutkan pembicaraan.
Pandangan Ki Wira Sentanu menatap arah kepergian Pangeran Purbaya, tapi pikirannya sudah bercabang-cabang. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa lawan yang tidak terlihat itu telah menguasai pikiran dan perasaannya.
Sedangkan Ki Panji Suralaga dapat melihat kembali ke dalam dirinya. Karena pertemuan singkat Pangeran Purbaya, persoalan jalur hubungan Agung Sedayu ternyata menyisakan kemungkinan: adakah yang masih dapat disembunyikan atau akhirnya akan terputus di tengah jalan?
Malam kembali mengambil alih.
Sebenarnyalah jalur kerja orang-orang kepercayaan Agung Sedayu memang berjalan sangat baik jika tidak dapat dikatakan sempurna. Seluruhnya tidak tergantung pada satu orang dan satu jalan saja.
Di Kepatihan, Kinasih tetaplah seorang murid Nyi Banyak Patra yang rajin berlatih di sanggar tertutup dan terbuka. Dia juga tampak ringan membantu tugas pelayan Kepatihan sehingga sama sekali tidak menarik perhatian. Tetapi dari waktu ke waktu, dia keluar melalui pintu butulan yang jarang diawasi dengan ketat.
Waktunya tidak tetap.
Kadang pagi, kadang menjelang senja, atau bahkan saat orang-orang mulai mengurangi kewaspadaan di malam hari. Penampilannya pun sering berubah: kadang sebagai pelayan yang membawa belanjaan, kadang sebagai perempuan yang berjalan keluar dari Kepatihan seakan seperti pedagang yang diundang masuk untuk jajanan kecil para pelayan.
Tidak ada alasan untuk mencurigainya—Nyi Banyak Patra di belakang itu semua.
Di luar Kepatihan, untuk jalur kotaraja dan Kali Progo, Sukra dan Sayoga bergerak dalam peran yang sama-sama samarnya. Mereka tidak menggunakan penyamaran yang sama dari waktu ke waktu. Tidak menetap sebagai satu jenis pedagang. Hari ini mereka membawa gerabah, esok wedang hangat, di lain waktu makanan keliling.
Perubahan itu untuk menghapus jejak jika ada yang mengenali atau mengikuti Kinasih sejak keluar dari Kepatihan. Sukra dan Sayoga bergantian berada di belakang Kinasih, memutus jalur pengamatan seseorang yang mungkin saja mengikuti gadis itu.
Pada akhirnya, mereka bertiga mendekat dan merapat pada satu titik penghubung: lingkungan rumah keluarga Ki Rangga Sanggabaya.
Pertemuan berikutnya pun tergantung perintah Sedayu melalui Kinasih: Apakah besok sore? Dua hari lagi pada pagi hari? Dan seterusnya. Yang pasti mereka pernah berjanji di luar perintah.
Pertemuan pun terjadi dengan percakapan pendek, pertukaran barang dagangan atau bahkan lemparan benda seakan Sayoga atau Sukra adalah pemuda yang menggoda Kinasih.
Dari situlah seluruh keterangan dan perintah bergeser tempat.
Setelah itu, Kinasih kembali ke dalam Kepatihan, melanjutkan perannya seolah tidak pernah meninggalkan tempatnya. Sementara Sukra dan Sayoga tidak berlama-lama di sekitar kota. Mereka kembali ke tepian Kali Opak atau Kali Progo secara bergantian. Jika salah seorang membutuhkan waktu untuk berlatih, maka satu orang yang akan pergi ke Kali Progo, menjumpai Ki Demang Brumbung atau Ki Lurah Sora Sareh yang melebur di antara orang-orang yang menyeberang atau berdagang.
Di sekitar tempat penyeberangan itulah keterangan dan perintah berpindah tangan.
Ki Demang Brumbung tidak selalu hadir sebagai rangga. Dia datang seperti orang kebanyakan. Ki Lurah Sora Sareh pun demikian: hadir tanpa wibawa prajurit yang melekat padanya.
Semuanya menyamar dan tidak membawa nama. Mereka bertemu untuk saling menukar potongan-potongan keterangan. Pandan Wangi pun sekali-kali menitipkan pesan. Dan akhirnya, setiap orang mengetahui bagiannya masing-masing, tetapi tidak seluruhnya. Yang dibawa Ki Demang Brumbung pada hari ini, baru akan diketahui setelah Ki Rangga Sanggabaya mengungkapkan isinya. Yang menjadi perintah untuk Pandan Wangi pun tidak akan dibuka oleh utusan dari barak pasukan khusus tapi Ki Gede dipastikan dapat membacanya.
Mereka tidak bertemu tapi mereka berada di badan sungai yang berhulu dan muara yang sama. Dengan cara itu, tidak ada satu jalur pun yang dapat diikuti hingga tuntas. Seandainya salah satu orang terbunuh atau bocor, lawan hanya mendapatkan sepenggal yang tidak berarti. Jejak sudah hilang ketika pembawa pesan ditiadakan.
Maka ketika Ki Wira Sentanu berusaha menemukan Agung Sedayu sebagai satu sosok yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dia justru berhadapan dengan sesuatu yang dirancang terpisah dan tidak teratur sejak awal.
Bahkan di dalam Keraton, di bawah pengamatan Pangeran Purbaya sekalipun, jalur Sedayu bergerak seperti bayangan pada malam hari. Tidak terasa, tidak teraba dan tidak pula berdesir.
Hubungan sandi itu terlihat sebagai bagian dari kehidupan yang berjalan semestinya.
Hanya Yang Maha Agung, Ki Patih Mandaraka, Nyi Banyak Patra saja yang tahu cara Sedayu menggerakkan kekuatan di sekitarnya.
