Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 25 – Pedukuhan Janti

Sedikit tidak percaya, Wisuda memandang wajah Mangesthi dengan mata terbelalak. Namun ia segera sadar bahwa dara cantik di hadapannya telah melempar banyak pengawal dari lingkar perkelahian. “Dan itu tentu bukan kebetulan,” gumam Wisuda dalam hatinya.

Wisuda beringsut selangkah mundur lalu merendahkan tubuh. Ia bertekad untuk mengikat lawannya dalam perkelahian terpisah agar tidak semakin banyak pengawal yang terjengkang. Diawali dengan dengusan kuat dari hidungnya, Wisuda kembali menyerang dengan tendangan menyamping. Meski gerakan Wisuda tergolong cepat namun dapat dihndari Mangesthi dengan keluwesan gerak. Perempuan ini mengelak dan, dalam penglihatannya, tendangan itu dapat diduga arah dan perkembangan serangan selanjutnya.

Tingkat kemampuan Wisuda belum mencapai tataran yang dikuasai oleh Mangesthi, dengan demikian, perkelahian pun tidak seimbang. Mangesthi yang berloncatan dengan gerakan-gerakan indah seolah-olah sedang menjadikan Wisuda sebagai barang mainan. Tubuh Mangesthi berkelebat sangat cepat, bahkan seperti lenyap dan berubah menjadi bayangan-bayangan yang berjumlah banyak. Dalam waktu itu, Mangesthi seperti banyak melewatkan kesempatan untuk membalas serangan! Ia lebih banyak menghindar, menjauh, atau mungkin cenderung meremehkan lelaki yang disegani oleh pengawal kademangan.

Kemampuan tinggi Mangesthi jelas terlihat betapa mudah dan leluasa ia bergerak di barisan pengawal Sangkal Putung. Sesekali ia justru menerjang pengawal kademangan, melukai dan merobohkan mereka lalu kembali meladeni Wisuda dengan gerak tipu yang berlandas pada kecepatan geraknya.

loading...

Mangesthi mengeluarkan suara yang melengking tinggi! Sejumlah pengawal seperti terbelenggu rantai baja karena tiba-tiba mereka tidak dapat bergerak ketika suara nyaring itu memasuki pendengaran lalu mengunci persendian. Tidak terkecuali Wisuda. Kebekuan itu berlangsung singkat tetapi kemunduran pengawal segera terjadi. Bila sebelumnya Mangesthi leluasa melempar pengawal kademangan, yang terjadi berikutnya adalah barisan sayap utara Raden Atmandaru melesak masuk! Memukul mundur pengawal kademangan yang tidak dapat bergerak untuk sesaat. Sungguh dan benar-benar raihan besar ketika pasukan Raden Atmandaru mampu mengambil waktu sempit yang dibuka oleh Mangesthi.

Seruan untuk mundur pun tiba-tiba menggema di bagian utara barisan pengawal. Makin banyak orang yang roboh, meskipun tidak terbunuh, tetapi luka-luka yang diderita telah menghalangi mereka untuk bertahan pada garis pertahanan semula.

Mereka harus mundur lalu bertahan di dekat pohon kelapa yang tumbuh berjajar atau terlindas derap pasukan Raden Atmandaru yang kian ganas.

Sewaktu ia dapat menggerakkan tubuhnya kembali, Wisuda terlambat menghindari tusukan prajurit Raden Atmandaru, pundaknya tergores cukup dalam tetapi ia berusaha menghambat laju pergerakan musuh mereka.  Mangesthi melihat pergerakan orang yang berusaha mengikatnya dalam pertarungan terbatas. Ia menghampiri dengan gebrakan yang menggetarkan Wisuda. Dua tangan Mangesthi mendorong ke depan, mengarah dada musuhnya, lalu serangkum angin dahsyat menyapu WIsuda yang kemudian terjengkang lalu bergulingan.

“Apakah engkau memang tidak tahu diri? Apakah engkau termasuk orang-orang bodoh yang sering gagal melihat kenyataan? Enyahlah dari sini. Engkau dapat berkelahi melawanku lagi setelah bertemu dengan Agung Sedayu,” ucap Mangesthi merendahkan.

“Sombong!” Wisuda mengangkat pedangnya lurus mengacu angkasa. Meski napasnya sesak dan pandang mata menjadi kabur, Wisuda masih menunjukkan gelora semangat untuk bertahan. Namun tiba-tiba sebuah benda menancap pada pahanya. Tanpa dapat dilihat oleh Wisuda, Mangesthi menggunakan ranting sepanjang dua kali jari telunjuk lalu menyambitkannya dan menghunjam setengah bagian pada tubuh musuhnya.

Wisuda menahan teriak kesakitan lalu terkejut ketika meraba pahanya yang tiba-tiba terluka. Ia tidak mencabut ranting agar darahnya tidak deras mengucur keluar. Dillihatnya Mangesthi pergi meninggalkan gelanggang perkelahiannya. Perempuan itu berjalan cepat menuju deret pohon kelapa yang menjadi garis akhir pertahanan Pedukuhan Janti. Dengan langkah tersaruk-saruk, Wisuda berusaha mengejar. Keheranan timbul dalam pikirannya ketika pasukan Raden Atmandaru melewatinya tanpa menyerang!

“Siasat macam apakah ini? Mereka melewatiku tanpa sedikit pun berusaha menebaskan senjata atau memukulku dari belakang,“ ruas pikiran Wisuda bertanya dengan seru.

Wisuda terus berjalan cepat dengan langkah terseok dan benaknya berusaha mencari jawaban atas sikap pasukan Raden Atmandaru. Tidak ada orang yang menyentuh Wisuda walau mereka menyalip dengan jarak begitu dekat. Sangat dekat. Hanya setengah bentangan lengan! Tetapi, mengapa mereka tidak menyerang? Mereka bahkan dapat membunuh Wisuda dengan benda tajam menembus punggungnya, tetapi mereka tidak melakukan itu!

Mangesthi, yang masih dapat dilhat oleh Wisuda, kembali mengeluarkan suara yang sangat keras, “Agung Sedayu!”

Ramai pengikut Raden Atmandaru yang meneriakkan nama Agung Sedayu, sehingga perbuatan itu  diduga oleh pengawal kademangan sebagai tanda kehadiran Agung Sedayu di laga Pedukuhan Janti. Mereka memang berharap Agung Sedayu atau bantuan datang untuk mereka. Tetapi orang yang mereka tunggu tidak menampakkan diri, yang terjadi justru di luar harapan!

Semakin nama Agung Sedayu bergaung, semakin deras pasukan Raden Atmandaru membanjiri garis akhir benteng pertahanan mereka. Ternyata nama Agung Sedayu adalah pertanda bagi pasukan Raden Atmandaru untuk cepat menerobos garis akhir Pedukuhan Janti!

Wisuda menyaksikan dengan keheranan luar biasa! Ia berada di belakang barisan pengikut Raden Atmandaru, tetapi ia tidak ingin salah perkiraan. Sekilas ia menoleh ke belakang punggung, maka terlihat empat orang berjalan di belakangnya. “Mereka dapat mengeroyok lalu membunuhku kapan saja, tetapi mereka ternyata hanya mengiringiku. Apakah mereka menghendaki semua pengawal terkurung di pedukuhan?” kembali hati Wisuda bertanya. Kemudia ia menatap ke depan, ke deretan pohon kelapa, dan dilihatnya di sana hanya sedikit perkelahian yang terjadi. Wisuda dapat melihat bahwa orang-orang Raden Atmandaru lebih banyak menghindari pergumulan agar lekas dapat menyusup ke tengah wilayah lawan.

Wedaran Terkait

Kiai Plered – 83 Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 88 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 87 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 86 – Randulanang

kibanjarasman

Kiai Plered 85 – Randulanang

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.