Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 26 – Pedukuhan Janti

Badai yang melanda Pedukuhan Janti mengamuk semakin hebat. Pengikut Raden Atmandaru yang berhasil melintasi deretan pohon kelapa semakin bertambah. Namun demikian, pengawal kademangan tetap memberi perlawanan dengan mengejar mereka, berkelahi beradu dada tetapi musuh mereka masih berada selangkah di depan. Pasukan Raden Atmandaru meladeni gebrakan demi gebrakan pengawal kademangan dengan punggung menghadap daerah dalam.  Pengikut Raden Atmandaru jarang melakukan serangan balik, mereka justru mengambil langkah mundur setapak demi setapak. Dengan cara seperti itu, mereka semakin melesak masuk ke dalam wilayah pedukuhan. Hal itu tidak disadari oleh pengawal kademangan hingga perintah Ki Gatrasesa yang disebarkan dari mulut ke mulut tiba di pendengaran mereka.

“Bakar lumbung dan gudang-gudang makanan!” Demikian isi pesan Ki Gatrasesa yang terkurung di dekat dinding yang segaris lurus dengan deretan pohon kelapa. Tempat itu mulai menjadi pusat pertempuran ketika sayap utara makin terkikis dan ambrol.

Bulan tidak lagi memancarkan sinar keperakan. Bahkan sepertinya ia semakin muram ketika memandang wajah Pedukuhan Janti. Langit tertutup awan meski hujan belum tentu rela untuk datang. Dalam waktu itu, Ki Gatrasesa dengan wajah tengadah berkata, “Menjadi kesalahanku apabila pedukuhan ini jatuh ke tangan musuh. Kita akan berada dalam genggaman manusia-manusia yang tak bermasa depan.”

Seorang pengawal yang tengah merawat dan mendapinginya menyahut, “Tidak semestinya Ki Gatra berucap seperti itu. Meski nantinya kita jatuh terlentang, bukankah pertolongan akan datang bila harapan dapat dijaga?”

“Betul, tetapi setidaknya kita harus mampu melewati perjalanan sulit dengan waktu yang tidak dapat diperkirakan,” lemah Ki Gatrasesa mengucap kata. Pengawal itu menjawab dengan wajah tenggelam dalam kemuraman.

Mereka berdua menyadari betapa sulit melewati waktu dalam cengkeram orang yang belum dikenal watak dan perilakunya. Bayang-bayang hari yang sulit melintas jalan pikiran keduanya dalam wujud seram dan bersuara pilu.

Pada saat perintah Ki Gatrasesa untuk membakar lumbung dan gudang perbekalan telah sampai pada pengawal yang bertugas menyalakan api, maka orang itu terpana sewaktu melihat bayangan orang memasuki sebuah lumbung lalu terlihat api menyala dari bagian dalam!

“Kiranya ini.. Hey, ada apa lagi?” Pengawal itu berteriak-teriak dengan gugup. Namun ketika dapat menguasai diri, ia berlari menuju tempat Ki Gatrasesa.

“Kiai,” kata pengawal dengan napas tersengal-sengal, “bukankah perintah membakar lumbung datang dari sini?” Ia maksudkan bahwa perintah itu berasal dari Ki Gatrasesa.

“Betul, aku yang memerintahkan itu,” jawab Ki Gatrasesa dengan mata penasaran. “Apa yang terjadi?”

“Mereka pun..  Mereka juga.. Ternyata mereka pun membakar tempat-tempat yang Kiai maksudkan,” ucap pengawal yang memutih pucat wajahnya.

Menerima laporan tentang keadaan yang semakin memburuk, Ki Gatrasesa pun terbatuk berat. Desahnya, “Ini semua adalah kesalahanku yang terlambat maupun membuat gambaran tentang serangan mereka. Oh, bagaimana aku dapat berdiri di depan Ki Rangga dan Ki Demang? Bisa kalian bayangkan wajah Ki Swandaru Geni bila mendengar kekalahan ini?”

Perawatnya berkata kemudian, ”Kiai, kita belum kalah. Meski pedukuhan jatuh, tetapi kita belum sepenuhnya kalah.”

Ki Gatrasesa dengan maja terpejam lalu ucap kata, “Baiklah, aku tidak ingin berdebat mengenai kalah atau menang, tetapi dapatkah kalian melihat penghubung dari pedukuhan induk atau Jati Anom? Mengapa mereka belum juga datang? Atau mungkin seorang dari kalian telah berjumpa dengan peronda dari barak Jati Anom? Yang pasti adalah kita terputus dari luar.”

Dua orang yang berada di dekat Ki Gatrasesa tersentak! Mereka memang belum mendengar kabar tentang penghubung dan prajurit peronda dari Jati Anom. Mereka menunggu Ki Gatrasesa membuat keputusan.

“Apakah kita dapat bertahan?” bertanya Ki Gatrasesa pada pengawal yang bertugas membakar lumbung.

“Saya tidak dapat menjawab itu, Kiai. Mereka berbuat seperti yang kita perbuat.”

“Ki Rangga berharap bahwa dengan membakar lumbung dan gudang perbekalan akan membuat mereka lumpuh bila akhirnya dapat menguasai pedukuhan. Tetapi sepertinya mereka lebih maju dari perkiraan Ki Rangga.” Napas berat Ki Gatrasesa mendesak keluar. “Walau kita terputus, mungkin pula akan terasing, namun perlawanan harus tetap berjalan. Surata, engkau pergilah melihat Pedukuhan Gondang Wates lalu carilah kabar tentang keadaan di sekitar pedukuhan ini. Aku akan ke banjar. Kita bertemu di sana.”

“Kiai, Anda tidak dapat bergerak atau berjalan jauh. Kita terkurung di tempat ini.”

Ki Gatrasesa mengangkat pandang mata, terlihat olehnya bahwa pengawal kademangan tidak akan dapat menjangkau banjar pedukuhan. Kepungan lawan semakin rapat dan jumlah pengawal yang roboh kian bertambah. Ia pun dapat melihat warna merah menjilat kaki langit. Empat lumbung dan tiga gudang perbekalan telah membara. Sedih dan resah tak dapat lari darinya. Sekilas ia memandang Surata dengan sinar mata gelisah.

“Saya akan mencari jalan untuk mencapai Gondang Wates. Semoga dapat melaporkan keadaan terakhir pada Kiai atau siapa saja yang mungkin dapat meneruskan pada Wisuda… atau siapa saja agar kita dapat tertolong sesegera mungkin.” Sinar mata Surata berkilat dan semangatnya masih hebat.

Related posts

Kiai Plered 9 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 8 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 7 – Pedukuhan Janti

kibanjarasman

Kiai Plered 66 – Gondang Wates

kibanjarasman

Leave a Comment