Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 9 Pertempuran Panarukan

Panarukan 20

Beberapa lama kemudian Semambung melangkah memasuki ruangan yang dipenuhi orang-orang ang mempunyai kecakapan khusus dalam peperangan. Sebenarnya ia ingin menolak panggilan itu, tetapi kemudian prajurit mengatakan bahwa ia dibawah perintah Gagak Panji. Lalu dengan terpaksa Semambung berjalan mengikuti prajurit jaga itu. Dengan perasaan tak menentu karena tidak merasa pantas untuk berkumpul dengan orang yang berkedudukan tinggi, Semambung melangkah ke tempat Gagak Panji.

“Pangeran.” Semambung memberinya hormat.

“Aku bukan pangeran!” desis Gagak Panji.

“Terserah apa yang Pangeran katakan.” Semambung pun berdiri di belakang Gagak Panji.

Seluruh mata memandang sosok Semambung yang pada saat itu mengenakan kain putih panjang dan rambut terurai lepas menutup setengah wajahnya. Ia menyembunyikan wajah di balik bahu Gagak Panji.

“Bersikaplah layaknya seorang senapati!” pelan berkata Gagak Panji padanya. ”Angkat wajah dan kepalamu, Semambung!”

“Saya bukan senapati, Pangeran.”

“Jika demikian maka engkau adalah seorang raja. Bersikaplah selayaknya seorang raja.”

“Jika aku seorang raja maka kau adalah hambaku, Pangeran.”

“Aku terima!” Mendadak Gagak Panji memindahkan tubuhnya di belakang Semambung dengan gerakan yang sangat cepat. Kedua tangannya mendorong Semambung untuk maju dua langkah. “Inilah Semambung!” seruan lantang Gagak Panji pada orang-orang yang berada dalam ruangan.

“Anda gila, Pangeran!” Gemas Semambung melihat perbuatan Gagak Panji namun tepuk tangan orang-orang membuat Gagak Panji mengabaikan Semambung.

Mpu Badandan bangkit dari tempat duduknya kemudian, ”Semambung!”

Sedikit kikuk Semambung membungkuk lalu, ”Hamba, Yang Mulia.”

“Justru kau adalah seorang raja, Hyang Semambung,” sahut Mpu Badandan berkedip pada Gagak Panji.

Semambung mengusap wajahnya yang memerah kemudian katanya, ”Itu karena Ki Rangga adalah orang yang sesat dan suka menebar berita keliru.”

Gelak tawa senopati mendengar kata-kata Semambung.

Setelah mereka merendah tawa, Mpu Badandan tegas berkata pada Semambung, ”Semambung, atas perkenan Gagak Panji sebagai orang yang mengenalmu sedari kalian masih sangat muda. Dan pula atas kepentingan Blambangan, aku mengangkatmu sebagai orang yang menggantikan kedudukan Ra Kayumas mulai esok hari hingga peperangan ini usai.”

“Mpu Badandan pasti telah keliru dalam memandang saya,” berkata Semambung, ”saya bukanlah seorang prajurit jadi tidak ada landasan yang dapat secara tiba-tiba mengubah kedudukan dari seorang pengembara lalu menjadi orang dengan kekuasaan seperti tumenggung.” Ia berhenti sejenak lalu menoleh pada Gagak Panji, katanya, ”Sudah barang tentu ini semua karena ulah Ki Rangga.” Sorot mata Semambung menyiratkan kejengkelan luar biasa. Namun Gagak Panji hanya tersenyum padanya.

“Katakan sesuatu, Pangeran. Katakan bila mereka salah!” desis Semambung.

Gagak Panji mengangguk lalu melangkah maju kemudian berdiri di samping Mpu Badandan. Lantang ia berkata, ”Semambung. Kau memintaku untuk mengatakan bahwa para senapati termasuk Mpu Badandan telah salah dalam memilihmu. Lalu aku berdiri di sini untuk menyatakan bahwa satu-satunya kesalahan itu adalah kau memilih menjadi temanku. Dan seorang teman baik tidak akan menolak permintaan kawannya.”

“Pangeran!” teriak Semambung keras-keras. Beberapa senopati terhenyak kaget dengan sikap Semambung. Menurut mereka, tidak sepantasnya diungkapkan mengingat di tempat itu hadir seseorang yang dipercaya untuk mengendalikan pasukan Blambangan. Namun ketika mereka menengok ke arah Mpu Badandan yang tersenyum, maka mereka mengerti bahwa Semambung akan menjalankan permintaan Gagak Panji sepenuh hati.  Maka hati mereka merasa lega karena selain kemampuan Semambung yang dikabarkan setara dengan Gagak Panji, juga karena Gagak Panji dapat dipastikan akan mendampingi mereka di atas samudera.

Gagak Panji lantas berbisik di dekat telinga gurunya lalu sekali-kali Mpu Badandan manggut-manggut mendengar bisikan murid satu-satunya itu. Tak cukup singkat Gagak Panji berbisik dengan gurunya, lantas ia meminta diri pada semua hadirin untuk meninggalkan ruangan bersama Semambung.

Sepeninggal Gagak Panji dan Semambung, Mpu Badandan melanjutkan perundingan mengenai siasat mereka selanjutnya. Dalam waktu yang sama, Gagak Panji sambil melangkahkan kaki bersama Semambung berkata, ”Kau akan didampingi oleh Lembu Srana.”

“Lalu?”

“Jika kau merindukan sebuah kekacauan yang sangat besar, esok pagi adalah saat terbaik untuk melakukannya. Dan aku tak akan jauh darimu. Kita lakukan apa yang pernah kita jalani berdua di masa lalu.”

“Pangeran,” kata Semambung kemudian, ”jika ada orang yang pantas disebut sebagai orang berpangkat tinggi dan telah menjadi gila, sudah pasti bahwa orang itu adalah Gagak Panji.” Tawa mereka berdua pun berderai. Sebenarnya pada masa lalu mereka ada pengalaman yang benar-benar melibatkan keduanya dalam kekacauan. Saat mereka mengikuti para peronda, mereka lebih sering menunjukkan sarang para penjahat yang biasa mengambil hewan ternak atau merampas harta benda para saudagar yang melintasi jalu Pegunungan Kendeng. Tetapi mereka lebih dahulu membuat permainan peran yang pada akhirnya membuat keadaan para penjahat menjadi kacau. Terkadang mereka tanpa merasa bersalah menuntun lembu serta kerbau keluar dari wilayah para penjahat menuju tempat para penjahat itu mengambilnya. Lalu setibanya di pedukuhan, mereka berteriak-teriak bahwa mereka telah mencuri kerbau. Ketika orang banyak keluar dan mengejar mereka, maka Gagak Panji dan Semambung berlari menuju sarang penyamun.

Tak terasa mereka berdua menikmati percakapan ringan tentang masa lalu yang seolah masih terasa baru seperti kemarin. Tibalah mereka malam itu di bawah sebuah tiang bambu yang menjulang tinggi dengan kain bergambar kebesaran Kadipaten Blambangan. Sejenak Gagak Panji menengadahkan wajahnya melihat kain yang berkibar-kibar terhembus angin yang datang dari samudera. Kemudian ia berkata, ”Kekacauan esok hari bukan karena kita menempatkan Demak sebagai penjahat.”

“Saya mengerti, Pangeran.”

“Keadaan ini sebenarnya sangat sulit untuk aku hadapi. Sepertinya aku tidak mempunyai pilihan yang terbaik. Kedua tanganku seolah terbelenggu untuk menahan Paman Trenggana agar tidak mendatangi tanah ini. Tetapi aku tidak mungkin meminta Eyang Tawang Balun untuk memerintahkan Hyang Menak agar menyerah.”

“Sudah tentu Pangeran Tawang Balun memiliki landasan yang sangat kuat hingga ia menyerahkan sepenuhnya keputusan Blambangan pada Hyang Menak.”

Related posts

Panarukan 9

kibanjarasman

Panarukan 8

kibanjarasman

Panarukan 7

kibanjarasman

Panarukan 6

kibanjarasman

Leave a Comment