Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 51

Sementara itu, di dalam kereta, Ki Demang berbisik, “Jika benar, maka sekarang inilah waktu yang disiapkan untuk membunuh Ki Patih.”

“Bukankah kita sudah bersiap untuk itu, Ki Demang?”

“Benar, namun sepertinya ini sangat berbeda dengan rencana siasat mereka sebelumnya.”

“Saya tidak mengerti.”

Sejenak Ki Demang Brumbung menatap wajah Sukra yang sama sekali tidak memperlihatkan gelisah, lalu katanya, “Ya, engkau tidak terlibat di Slumpring sejak awal. Marilah, kita tunggu gerakan mereka.”

Di tengah-tengah ruang pikirannya, Sukra mengingat segala latihan yang diperolehnya ketika bergabung dalam barisan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Baik pemimpin pasukan khusus maupun Prastawa, setahunya, belum mengajarkan cara penyergapan atau melepaskan diri dari jebakan. Walaupun demikian, ia banyak mendengar penuturan peronda maupun orang-orang yang lebih tua tentang kenyataan, bahwa penyergapan dan perangkap adalah salah satu cara memenangkan peperangan. Oleh karena itu, Sukra tidak menganggap kejadian yang sedang berlangsung di sekitarnya berasal dari buah pikiran yang hebat.

Pada sisi seberang, kebanyakan para pengikut Raden Atmandaru mulai menggerutu di dalam hati masing-masing. Menunggu pergerakan dari dalam kereta menjadi sesuatu yang sangat membosankan, walau pada mulanya mereka sangat senang menerima tugas itu dari Ki Panji Secamerti. Suasana semakin gelap, dan Ki Plaosan tidak lagi bersuara keras menantang mereka. Itu semua menjadikan keadaan kian mencekam. Bagaimana tidak? Mereka hanya melihat Ki Plaosan duduk mematung cukup lama. Tidak ada bagian tubuhnya yang bergerak untuk memulai sebuah serangan atau membentuk pertahanan. Bila ada gerakan, itu berasal dari dua ekor kuda penarik kereta.

Ya, menurutku cukup aneh bila seseorang bicara dengan suara yang terdengar seperti tembang yang melenggang, mengarungi suasana kelam di dalam ruangan. Di dalam gelap, aku tidak dapat melihat banyak benda. Ini seperti waktu berendam di Kalingan pada purnama ketujuh ketika bulan terlihat telanjang.

Nir Wuk Tanpa Jalu 1

Sejauh waktu melayang pergi, Ki Plaosan hanya sibuk menenangkan kuda-kuda itu. Tentu saja, bagi pasukan Raden Atmandaru, itu menjadi hinaan bagi mereka. Apakah kebanyakan prajurit Mataram memang selalu menganggap ringan keadaan? Apakah mereka memandang kemampuan sendiri lebih tinggi dari orang lain? Prajurit Raden Atmandaru telah menyaksikan banyak latihan yang dilakukan orang-orang Mataram, dan itu tidak bernilai lebih di hadapan mereka. Biasa saja, pikir kebanyakan dari mereka. Ketika mereka yakin akan dapat menghabisi nyawa Ki Patih Mandaraka sejak perintah penyergapan diterima, awal malam itu, keresahan deras membuncah dalam hati masing-masing orang. Mereka menghendaki bukti dan akan membuktikan bahwa mereka lebih tangguh dari prajurit Mataram. Ditambah dengan kehadiran Ki Manikmaya di tengah-tengah mereka, maka mereka menginginkan ajang sesungguhnya untuk membuktikan kekuatan Ki Patih Mandaraka yang banyak disebut sebagai yang terbaik di Mataram. Wajar bila gelisah mulai menyerang mereka, adakah waktu akan memberi mereka kesempatan lagi untuk mengakhiri hidup Ki Juru Martani?

Demikian juga yang sedang dipikirkan oleh Ki Manikmaya. Beradu dada dengan seorang patih yang dipercaya mempunyai sebangsal ilmu akan mengubah pandangan orang padanya. Rasa hormat dan pengakuan pada wibawa ilmu dan perguruannya akan menjadi perbincangan orang-orang di seluruh Mataram. Sebagai orang yang pernah menyadap ilmu dari wilayah Banyubiru, Ki Manikmaya tidak merasa perlu untuk menang, dan ia juga tidak pernah berpikir untuk kalah. Cukup berkelahi, satu lawan satu, itu saja. Sekalipun pada awalnya ia menolak untuk turut dalam ajakan makar, namun pada akhirnya menyatakan setuju ketika mengetahui sebuah rencana yang bertujuan membunuh Ki Patih Mandaraka. Bahkan, ia menawarkan diri sebagai orang yang akan membendung kehebatan ilmu salah satu tiang penyanggah Mataram itu. Ia tidak menginginkan kedudukan atau imbalan tanah untuk menghadapi Ki Patih Mandaraka. Tanpa rasa hormat maupun segan, katanya pada Raden Atmandaru, ketika itu, “Kematian Ki Patih Mandaraka adalah hadiah untukmu. Aku hanya ingin ada orang yang menyaksikan pertarungan itu, lalu mereka sebar luaskan berita kemenanganku. Dan tak perlu lagi engkau mencariku meski tahta Mataram telah berada dalam genggamanmu.” Raden Atmandaru yang biasa dalam sanjungan dan penghormatan, merasa begitu perih, tetapi ia harus menyamarkan perubahan air mukanya. Walau harus terhina, kekuasaan adalah tujuan. Menemui orang ini hanyalah cabang dari perjalanan, batin Raden Atmandaru sewaktu menemui Ki Manikmaya di sisi candi tua yang terletak di utara Gunung Telomoyo.

Sekalipun Ki Panji Secamurti memegang kendali dalam penyergapan dengan dua puluh lima orang pembantu, itu tidak menjadikannya gegabah untuk memberi tanda menyerang. Ia sadar bahwa kemampuannya jauh berada di bawah Ki Patih Mandaraka. Oleh karena itu, dalam hatinya, Ki Panji lebih memilih untuk membiarkan Ki Manikmaya sebagai pembuka serangan.

“Inilah saat untuk membuka mata Mataram, bahwa ada orang lain yang setangguh dan sekuat dua orang pemimpin mereka. Inilah saat untuk membuktikan segala yang aku himpun sebagai kekuatan, dan mengakhiri keuletan niat Ki Juru Martani yang ingin melanggengkan diri,” ucap Ki Manikmaya dalam hati. Ia mulai mengatur napas, menghimpun kekuatan dengan mengadakan perhitungan ulang mengenai siasat serangan tunggal. Sekarang, setelah menunggu lama aba-aba serangan dari Ki Panji Secamerti yang tak kunjung ada, Ki Manikmaya berpendapat bahwa ia yang akan memegang kendali. Ia akan mengawali usaha pembunuhan dengan cara yang dikuasai. “Dan inilah, inilah yang akan aku lakukan,” tekadnya dalam hati. “Aku akan menyerang lalu menghabisi Ki Juru Martani. Bila aku gagal, setidaknya itu memang bukan tujuanku yang utama.”

“Ki Juru Martani!” bentakan Ki Manikmaya terdengar menyakitkan telinga yang mendengarnya. Orang-orang terkejut mendengarnya, bahkan dua orang tergelimpang jatuh ketika suara itu menghantam dadanya. Dinding kereta terguncang hebat! Tubuh Ki Manikmaya meluncur deras dengan sepasang lengan mengembang, menyambit kuda, lalu dua binatang itu berdiri kaku.

Tidak ada yang menyangka perbuatan Ki Manikmaya.

Tidak juga guru Kinasih meski sebelumnya ia telah merasakan getaran dari kekuatan yang tidak asing baginya. Namun gerak pembuka Ki Manikmaya berada di luar perkiraannya. Sekelebat, dengan kecepatan yang luar biasa, guru Kinasih melayang lalu mendaratkan sepasang kaki pada atap kereta kuda. “Aku yang berada di sini!”

Dari balik kegelapan malam, pengikut Raden Atmandaru terkejut luar biasa. Begitu pula Ki Plaosan, Sukra dan Ki Demang Brumbung yang segera berpikir, mungkinkah Ki Patih menyimpan kejutan dengan adanya seseorang bersuara perempuan yang sedang berada di atas kereta?

“Benarkah? Benarkah itu adalah perempuan durhaka yang meninggalkan perguruan?”

Derai tawa guru Kinasih terdengar seperti orang yang tidak merasa perlu untuk menjawab. Katanya kemudian, “Oh, rupanya engkau yang menjadi pemimpin mereka. Tidak heran, tidak heran aku begitu mengenal watak tenaga yang memancar dalam sekejap.”

Suara berdesing sangat keras mengarah pada guru Kinasih.

Perempuan renta itu terlihat tenang ketika mengibaskan lengan, menghalau serangan jarak jauh Ki Manikmaya, angin tajam membelah udara malam begitu senyap, banyak ranting yang patah dan dua orang harus bermandi darah tanpa tahu datangnya hamburan liar tenaga cadangan dari dua orang yang sepertinya saling mengenal.

Kemudian perintah guru Kinasih pada dua orang yang berada di dalam kereta, “Keluarlah kalian.”

Di dalam kereta, Ki Demang Brumbung memerintahkan Sukra berbuat sama dengannya sebagai perlindungan pertama : serangan tiba-tiba, meski tak terarah, adalah pertahanan pertama ketika kita tidak mengetahui kedudukan musuh. Sekejap kemudian, pintu kereta terbuka lebar, dua orang melesat keluar sambil melepaskan serangan berupa pisau-pisau kecil ke sembarang arah.

Ki Panji Secamerti melengkingkan perintah dengan suara nyaring. Senjatanya berkelebat seolah terbang mengarah pada Ki Plaosan yang telah melompat turun dan berdiri di samping dua ekor kuda yang membeku.

Tiba-tiba pecahlah pertempuran yang tidak seimbang dalam jumlah. Perkelahian yang sangat buas dan benar-benar sangar ketika tiga orang dari Mataram dikeroyok dua puluh satu pendukung makar. Dua kubu saling serang dengan cara yang liar dan sungguh-sungguh seperti berada di luar kendali. Mereka sangat buas, termasuk Sukra yang tiba-tiba terkejut dengan perkembangannya sendiri. Sukra nyaris tidak mampu menguasai gelora kekuatan yang berada di dalam dirinya, tetapi ia tidak sempat memikirkan itu. Yang ada di dalam benaknya adalah bertahan dan bertahan dari serangan yang dilakukan oleh para pemberang.

Ya, laskar makar begitu geram dan berang karena campur tangan seorang perempuan yang ternyata mampu mengimbangi pukulan jarak jauh Ki Manikmaya. Mereka lampiaskan itu dengan menyerang tiga orang yang dianggap kaki tangan Ki Patih Mandaraka. Mereka sangat bernafsu untuk membunuh. Wajah-wajah dengan sorot mata haus darah memandang Sukra bertiga seperti kelinci segar yang harus dihisap darahnya hingga mengering.

Dua langkah di depan dua ekor kuda.

“Bagaimana seorang murid durhaka kini tiba-tiba menjadi pembela Mataram?”

“Engkau mengulang lagu yang sama meski waktu telah berjalan puluhan tahun, Dandang Waras. Aku tidak pernah berniat ataupun berbuat sebagai pengkhianat. Itu adalah anggapan yang muncul karena engkau baru dapat berpikir setelah menempatkan selangkangan berada di depan.” Kata-kata tajam dan mengerikan keluar dari bibir guru Kinasih.

“Perempuan yang masih bermulut keji!”

“Sesukamulah bicara tetapi itu adalah kenyataan.”

“Supaya engkau tahu dan mengerti, kini tidak ada lagi Dandang Waras, dan itu bukan pula namaku sebenarnya. Orang mengenalku sebagai Ki Manikmaya, dan mereka menyebut nama itu dengan kebanggaan.”

“Syukurlah, aku harus berterima kasih pada Ingkang Maha Agung karena engkau telah kembali pada jalan yang benar.”

“Binatang jalang!” desis Ki Manikmaya dengan kegeraman yang sulit diungkap dengan kata-kata. Perempuan renta yang sebaya dengannya adalah orang yang dianggapnya bertanggung jawab ketika Ki Gede Banyubiru mengusirnya dari padepokan.

“Aku telah berada di sini sekarang. Apakah engkau berniat melanjutkan perbincangan dengan cara keras atau meninggalkan gelanggang? Dan, sepertinya, aku yakin bila engkau akan pergi dari tempat ini dan membiarkan mereka terbunuh di hadapanku lalu menyebarluaskan berita bohong di Banyubiru, bahwa aku adalah pembantai orang-orang tak bersalah. Terserah padamu, Kiai.”

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 63

kibanjarasman

Leave a Comment