Padepokan Witasem
Namaku Senggani, Novel Prosa Liris, Sastra Indonesia
Bab 2 Sapa Kang Temen Bakal Tinemu

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 3

Bapak menyeruput kopi, menghisap rokok dalam-dalam, menghembuskan perlahan, lalu berkata, “Sebilah keris pusaka tidaklah terlahir begitu saja, pasti ada satu maksud tertentu atau sesuatu yang melatarbelakanginya, Nduk.”

“Misalnya, Pak?”

“Keris Kyai Nogososro, pertama kali diciptakan oleh Pangeran Sedayu atau yang dikenal dengan sebutan Empu Supa Mandrangi, atas titah Prabu Brawijaya. Pada waktu itu Majapahit sedang dalam keadaan genting dan mencekam karena sering terjadi bencana dan pemberontakan.

“Maka untuk meredam pagebluk tersebut, Prabu Brawijaya menitahkan kepada Empu Supa untuk membabar sebilah keris pusaka yang bermotifkan naga dengan seribu sisik. Mengandung makna bahwa pusaka tersebut adalah sebagai perlambang kekuatan untuk menolak dan membentengi kerajaan dari seribu bencana dan masalah.” Lirih suara Bapak nyaris tenggelam oleh nyanyian tonggeret di dahan pohon sengon.

“Apakah semua keris memiliki latar belakang sehebat Kiai Nogososro ini, Pak?”

“Keris Kiai Nogososro bukanlah keris biasa seperti keris pusaka pada umumnya, Nduk, tapi merupakan wahyu atau pulung kekuasaan. Konon yang memiliki keris Kiai Nogososro asli, maka dia pasti akan ketempatan pulung atau kekuasaan.

“Dan itu dipercaya sampai sekarang, Ani. Sehingga banyak orang memperebutkan keris itu demi sebuah kekuasaan,” tandas Bapak sambil menyalakan sebatang rokok.

Rombongan lebah berdengung di atas kepala, berputar-putar membentuk sebuah tanda tanya. Jika seperti itu, lalu untuk apa mbah Kung mewariskan keris itu padaku? Apakah ini ada kaitannya dengan sesuatu yang ada dalam diriku? Sesuatu yang aku anggap menyebalkan dan sangat mengganggu.

Apalagi keris itu merupakan wahyu kekuasaan, sedangkan aku? Kuasa apa yang aku miliki? Tidak satupun! Bahkan terhadap diriku sendiri yang masih sering diombang-ambingkan kenyataan dan kata hati. Dan jika benar keris itu seringkali diperebutkan, bukankah justru menambah masalah dalam hidupku?

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas, tak ubahnya lampu ribuan watt yang menerangi kepalaku. Padhang jingglang. Terang benderang.

“Ya, aku tahu sekarang!” Hatiku bersorak girang.  Mbah Kung mewariskan keris itu untuk menghalau daya gaib yang ada dalam diriku, agar aku merasa tenang dan tidak lagi terganggu.

“Senggani!” panggil bapak menyurutkan kegembiraanku. “Apa yang kamu pikirkan, Nduk?”

Related posts

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 7

kibanjarasman

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 6

Lina Boegi

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 5

Lina Boegi

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 4

Lina Boegi

Leave a Comment