Padepokan Witasem
Namaku Senggani, Novel Prosa Liris, Sastra Indonesia
Bab 2 Sapa Kang Temen Bakal Tinemu

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 5

Bapak menyalakan batang rokok kelima. Asap bergulung memenuhi udara. Namun hembus angin segera menerbangkannya ke utara. Hening memeluk kami. Aroma kenanga, melati, mawar dan kanthil berbaur memenuhi penciuman kami.

Nyanyian tonggeret telah berganti riuh celoteh jangkrik ditingkahi suara cicir sesekali. Mengingatkanku pada cerita masa kecil bersama mbah putri. Jika suara cicir terdengar, beliau selalu ngendikan, “Yen cicir muni, kuwi mratandani yen ana bangsa alus lewat, Nduk.”

Ingatan itu sesaat membawaku ke masa lalu. Dada dan pikiranku terasa ringan, tanpa beban. Aku lupa tentang hubunganku dengan Rendra yang belum juga mendapat restu bapak. Aku lupa pada hubungan yang selalu membuatku sesak. Aku hirup udara malam sepuasnya, aku hembuskan keras-keras bersama seluruh sesak di dada.

Suara bapak menyadarkanku. “Nduk, kamu sudah ngantuk?”

Aku menggeleng, tapi aku sadar gelap malam menelan gerakan tubuhku, bahkan bayangan pun tidak tampak sama sekali. Cahaya bulan tanggal tua tak lebih terang dari nyala kunang-kunang atau lampu teplok yang dipakai kebanyakan warga desa.

Maka tanpa pikir panjang aku segera menjawab, “Dereng, Pak. Saya masih ingin ngobrol sama Bapak. Maukah Bapak cerita lagi tentang keris itu, mungkin dulu Mbah Kung pernah menceritakan asal-usulnya?”

Seperti biasa, bapak mengawali cerita dengan seteguk kopi. “Bapak tidak tahu banyak tentang keris itu, Nduk. Mbah Kung juga tidak pernah cerita. Bapak baru melihat keris itu saat mbah Kung menitipkannya untukmu.”

Yen ngaten, ceritakan saja tentang keris yang panjenengan pirsa.”

“Bapak punya beberapa keris dan sebagian juga dari Mbah Kung. Keris-keris itu memiliki cerita yang berbeda. Tapi pada dasarnya semua keris diciptakan untuk tujuan baik, itu bisa dilihat dari makna kata keris itu sendiri.”

Napa maknanipun, Pak?” tanyaku tidak sabar. Rasa ingin tahu mulai menggelitik hatiku.

Wong Jawa biasa memaknai sesuatu dengan melakukan jarwa dhosok atau pemenggalan kata.

Keris, jarwa dhosok dari ke dan ris. Ke berasal dari kata kekeran yang berarti pagar, penghalang, peringatan, atau pengendalian. Sementara ris, dari asal kata aris yang memiliki arti tenang, lambat atau halus. Sampai di sini kamu paham, Nduk?”

Related posts

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 7

kibanjarasman

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 6

Lina Boegi

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 4

Lina Boegi

Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 3

Lina Boegi

Leave a Comment