Padepokan Witasem
Meraih Hatimu dalam Badai, Danur, novel baru, prosa liris
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut 2

Aku langsung melompat saat bus yang aku tunggu datang. Decit remnya tidak hanya membuat gigi ngilu. Tikus di selokan pun membekap telinga karena tidak tahan mendengar bunyinya. Seonggok bus tua dengan ongkos sangat murah menjadi pilihanku satu-satunya. Aku menuju ke satu kursi tersisa. Busanya sudah hilang hanya tertinggal sepotong papan. Penumpang bus sudah setengah penuh. Anak-anak sekolah, bapak-bapak yang hendak mencari nafkah, dan ibu-ibu yang pergi berbelanja. Aku tidak banyak berharap pada bus rongsok yang melaju seperti bekicot ini.

‘Bus seperti ini harusnya sudah dipensiunkan,’ batinku sebal.

Suasana di dalam bus sangat suram. Dari belakang aku memperhatikan rambut pak sopir yang gondrong tampak diikat menggunakan karet gelang, sepertinya bekas pengikat tempe. Tadi sekilas aku melihat, wajahnya kotor dan tahi di matanya belum sempat dibersihkan. Kelihatan sekali kalau dia belum mandi. Bisa jadi dia juga belum menggosok gigi, karena giginya tampak kuning seperti butiran jagung pakan ayam. Sambil mengemudi tangan kirinya memutar tombol mencari-cari gelombang siaran radio. Segera saja suara Bang Haji Rhoma Irama mengudara. Dia menyanyikan sebuah lagu berjudul Kegagalan Cinta.

Pak sopir mencoba memerangi keuzuran bus dengan rancak irama gendang, tetapi gagal. Mataku berkunang-kunang. Bau keringat bercampur bau solar dan bayangan gigi pak sopir membuat kepala pening dan perutku mual. Namun karena aku teringat ucapan bapak bahwa untuk mencapai sukses dibutuhkan sebuah perjuangan, maka aku terus bertahan.

Sejak kecil aku bukanlah murid yang pintar, meskipun aku selalu sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran. Tidak pernah terbersit sedikitpun untuk melakukan kenakalan seperti yang dilakukan teman-teman. Membolos, merokok, atau berpacaran. Pikiranku lurus seperti pohon sengon di ujung desa. Tidak lama lagi, pohon sengon akan mati dan berganti dengan tanaman pohon bakau yang akarnya rumit mencengkeram. Hal itu terjadi setelah aku bertemu dengan seseorang yang membuat duniaku jungkir balik tidak karuan.

Siang itu aku tengah duduk di lantai di depan kelas. Udara sangat panas. Di kejauhan aku melihat sesosok makhluk cantik tengah berjalan keluar dari ruang perpustakaan. Wajah yang putih tertutup sebagian oleh rambut panjang yang tertiup angin. Angin nakal itu sengaja mengejekku. Ia mendahului aku menyentuh dan membelai wajah ayunya.

“Hai, angin. Aku iri padamu!”

Aku ingin berteriak, tapi suaraku tertahan di ujung lidah.

Sepasang baju seragam putih abu-abu melekat erat di tubuhnya yang tinggi semampai.

Saat dia melangkah, aku seperti melihat peragawati yang sedang melenggak lenggok di panggung pertunjukan. Gadis itu lambeyane merak kesimpir, goyangan lengannya anggun ibarat sayap merak yang lunglai ke bawah.

Related posts

Wajah Kabut 8

kibanjarasman

Wajah Kabut 7

Wajah Kabut 5

Wajah Kabut 4

Leave a Comment