Padepokan Witasem
Bab 8 Tanah Larangan

Tanah Larangan 2

“Toh Kuning!” seru Ken Arok yang terkejut melihat sosok Toh Kuning berjalan mendekati kelompoknya.

Toh Kuning tersenyum saat memandang wajah Ken Arok. Ia berkata, “Kau tentu menduga bahwa berita tentang keberadaanku menetap di Alas Kawitan adalah berita bohong. Tetapi kau tidak mungkin menduga aku telah berdiri di hadapanmu sekarang.”

Ken Arok manggut-manggut sambil tersenyum lebar. Bahwa teman karibnya adalah orang yang berpikiran cerdas memang kuat berakar di dalam benaknya. “Tentu, tentu saja, aku tidak akan percaya dengan semua kabar yang bersinggungan denganmu. Toh Kuning, aku tidak mungkin dapat menyuruhmu pergi begitu saja ke Desa Gantar. Dalam perjalananku ini, aku bahkan sedang mencemaskan keadaan prajurit Tumapel yang tentu sudah kau lumat habis, namun ternyata kau memang pantas menjadi pendamping seorang raja,” kata Ken Arok.

“Gila!” Pamekas berseru takjub dengan ketajaman nalar Toh Kuning. Sejenak ia merasa lega bahwa rencana Toh Kuning sejauh ini telah berjalan lancar. Sebuah rencana yang benar-benar membuatnya hampir pingsan ketika mendengar  keputusan Toh Kuning untuk keluar dari barak pasukan khusus. Bahkan ia sempat menerima penentangan yang sangat keras dari kawan-kawannya pada saat di bangsal barak. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh anggota pasukan Toh Kuning yang lain. Kini mereka dalam semangat tinggi dan penuh rasa percaya pada Toh Kuning.

“Kita akan tercatat sejarah sebagai orang terlupakan namun mempunyai peran yang sangat penting,” bisik Pamekas pada kawannya yang berbaris di dekatnya. Satu per satu kelompok kecil dari pasukan Toh Kuning bermunculan dari balik pohon lalu menyusun gelar tertentu untuk mengepung kelompok Ken Arok yang berjumlah lebih sedikit dari mereka.

“Kembalilah ke Tumapel, Ken Arok!” Toh Kuning berkata dengan sorot mata membara seolah akan membakar hangus tubuh Ken Arok.

Mendung tebal dan bertumpang tindih datang membayang dalam pikiran Ken Arok. Pada dasarnya, Ken Arok tidak mempunyai sisi lemah dalam rencananya, tetapi, Toh Kuning adalah seorang prajurit yang selalu memasang layar yang cukup rendah. Oleh karena itu, pergerakan Toh Kuning benar-benar sulit dipantau oleh Ken Arok meskipun ia telah mengirim sejumlah petugas sandi untuk membayangi Toh Kuning. Sekian waktu ia mengamati pergerakan sahabatnya itu, dan sepanjang waktu itu pula sedikit yang diketahuinya. Hingga pada suatu saat, Ken Arok berpikir bahwa ancaman badai sebenarnya tidak pernah ada. Namun, pada siang hari itu, Toh Kuning seolah mengingatkan bahwa badai topan belum berlalu !

Ken Arok tidak pernah berpikir bahwa pasukannya akan kalah. Dukungan penuh dari orang-orang Kediri dan para pendeta menjadikannya sangat yakin dengan sebuah kemenangan besar. Ia tahu betul bahwa ucapan pendeta-pendeta yang berpihak padanya itu seperti setetes air yang menghalau dahaga di musim panas yang panjang. Ditambah sejumlah perwira Kediri yang diam-diam bergabung dengannya, maka Ken Arok dapat membuat perkiraan yang mendekati pikiran Mahesa Wunelang. Dengan demikian, siasat maupun rencana Kediri telah dapat dibaca olehnya.

Ken Arok menyahut, ”Kau hentikan saja mimpi itu, Toh Kuning. Kau bawa pergi seluruh pasukanmu sebelum kawan-kawanku menjadi lelah karena berkelahi denganmu.”

“Kau tahu, itu tidak akan aku lakukan,“ sahut Toh Kuning.

“Pasukanmu segera mati, Toh Kuning. Perintahkan mereka pergi jika kau benar-benar menyayangi mereka,” kata Ken Arok.

“Mereka memang akan mati. Dan mereka telah memilih tempat ini sebagai saksi bagi kematian mereka. Sekarang, coba kau pikirkan baik-baik. Jika kau pergi, kau akan pulang sebagai penguasa Tumapel tanpa gangguan dari Kediri. Aku akan menjadi jaminan apabila Sri Baginda memasuki Tumapel lalu menyerangmu,” Toh Kuning mencoba menawarkan jalan damai.

Ken Arok sepenuhnya menyadari bahwa pasukan Toh Kuning adalah sekumpuan orang yang tidak membenci kehidupan tetapi mereka tidak pernah melarikan diri dari kematian. Namun para pengikut Ken Arok terlambat untuk menyadari kemampuan tempur pasukan khusus Toh Kuning. Untuk sesaat Ken Arok membuat perbandingan yang ada di antara mereka. Ia melihat pasukan Toh Kuning mempunyai kemampuan yang sama dengan orang-orang pilihannya.Tetapi Ken Arok masih memutar otak agar ia dan pengikutnya dapat memenangkan pertemuan yang sama sekali tidak ia inginkan.

Toh Kuning tetap pada pendiriannya, kemudian ia berkata, ”Pulanglah kembali ke Tumapel, Ken Arok. Aku akan melepaskanmu untuk kedua kali. Kau jangan memaksa diri untuk meraih harapan yang sebenarnya tidak akan tergapai. Daha adalah tanah terlarang bagimu!”

“Apakah itu ancaman ?”

Related posts

Tanah Larangan 6

kibanjarasman

Tanah Larangan 5

kibanjarasman

Tanah Larangan 4

kibanjarasman

Tanah Larangan 3

kibanjarasman

Leave a Comment