Benturan itu meledak tanpa suara. Fajar di Menoreh tidak membawa terang, hanya mengubah hitam menjadi abu-abu yang lebam. Di jalur setapak yang melilit pinggang bukit, kabut menggantung rendah, menyam...
Bondan dan Siwagati serta seorang lagi terlihat berlari di bawah remang cahaya menuju tempat Resi Gajahyana. Seketika sekelebat bayangan memotong jalur mereka dari belakang rumah. Bayangan yang tiba-t...
Menjelang senja hari delapan sejak kedatangannya, cahaya di jalan utama sudah kehilangan warna. Bangunan di belakang Agung Sedayu masih menyisakan bayang pintu ketika tubuhnya melesat ke depan. Tidak ...
Riak di Gerbang Istana Dia bangun ketika embun masih menggantung di daun pisang, saat rumah-rumah di pedukuhan induk masih terkatup dan ayam baru sekali berkokok. Tubuhnya tua, tetapi geraknya tidak g...
Agung Sedayu Memahat Luka Sekar Mirah duduk beranda bangunan mungil yang terletak di belakang bangunan inuk kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Di hadapannya, Kyai Bagaswara menata kata-kata seperti or...
Lidah Api di Bukit Menoreh Hari telah naik sepenuhnya. Kabut pagi menipis, membuka jalan-jalan setapak yang menghubungkan kediaman dengan lereng-lereng luar Bukit Menoreh. Di salah satu jalur itulah K...
Kediaman itu terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding-dinding kayu seakan menyerap duka, membuat udara di dalamnya berat dan enggan bergerak. Di luar, orang lalu-lalang dengan langkah terukur, tetap...
Putri Ki Gede Menoreh ini memandang ke arah barisan pasukan, mencari satu wajah yang dikenalnya. Jika Agung Sedayu ada di sana, dia ingin melihat matanya—mencari celah keraguan, atau justru menemukan ...
Nyi Kirana disertai tidak lebih sepuluh orang Pajang bertarung sengit melawan orang-orang padepokan yang dibantu pengawal kademangan. Mereka gigih mempertahankan kedudukan berdasarkan aba-aba Nyi Kira...








