Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 88 – Agung Sedayu Naik, Para Elit Mulai Gelisah

Ki Wedoro Anom Menjalankan Rencana di Kotaraja

Hari pertama di barak pasukan khusus berlalu tanpa gejolak.

Ki Rangga Sanggabaya menunjuk Ki Wedoro Anom dan Ki Prana Aji sebagai wakil barak untuk menyampaikan bela sungkawa. Namun, Ki Wedoro Anom mengajukan keberatan jika harus berangkat bersama dari barak. Dia meminta izin berangkat terpisah, dengan alasan perlu lebih dahulu memastikan Dusun Benda tetap berada dalam kendali.

Ki Sanggabaya mengizinkan.

Maka Ki Prana Aji pun berangkat menuju kotaraja, disertai dua orang prajurit sebagai pengawal.

Baru pada hari kedua, Ki Wedoro Anom meninggalkan Dusun Benda. Di dalam benaknya, waktu yang singkat justru membuka celah—ruang longgar yang dapat dimasukinya tanpa banyak perhatian.

Hari keenam pun tiba tanpa kegaduhan berarti. Penantiannya pun tidak berlarut-larut.

Ki Wedoro Anom akhirnya dipersilakan masuk.

Ki Wedoro Anom membungkuk hormat. “Pangeran.”

Purbaya mengangguk. Bangunlah.”

“Turut berduka dengan wafatnya Ki Patih Mandaraka,” ucap Ki Wedoro Anom kemudian menyusulkan kalimat-kalimat yang pantas diucapkan untuk mengenang penasihat Panembahan Senapati tersebut.

“Terima kasih,” kata Pangeran Purbaya dengan sinar mata yang masih bergelayut duka.

Sejenak suasana hening, sebelum Ki Wedoro mulai berbicara lagi.

“Saya datang tidak dalam waktu yang tepat,” katanya, “hanya saja, perubahan itu cukup membahayakan.”

Pangeran Purbaya menatap lurus, memberi isyarat agar Ki Wedoro Anom melanjutkan.

“Sekelompok orang telah mendirikan beberapa bangunan di sana. Jumlahnya tidak banyak, tetapi mereka mulai berlatih secara terbuka. Sampai saat ini, pasukan khusus hanya memberi teguran.”

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang tetap datar. “Tapi belum ada tindakan tegas.”

Pangeran Purbaya sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Tanah Perdikan dan barak pasukan khusus memiliki tata kelola khusus dan dizinkan untuk mengatur dirinya sendiri.”

“Benar, Pangeran,” sahut Ki Wedoro Anom tanpa membantah. “Namun saya khawatir, bila dibiarkan terlalu lama, keberadaan mereka justru akan menguat. Terlebih jika orang-orang itu tahu bahwa permukiman mereka berdiri di atas tanah yang dulu pernah ditempati oleh orang-orang yang sudah dikalahkan.”

Pangeran Purbaya mengangguk,kemudian bangkit dari duduknya. “Saya terima laporan Ki Rangga. Segera saya perintahkan orang untuk mengamati keadaan lebih dekat.”

Pertemuan itu berlangsung singkat dan Ki Wedoro Anom pun tahu diri. Dia mohon izin untuk kembali ke Tanah Perdikan setelah peringatan tujuh hari selesai ditunaikan.

Bagi orang seperti dirinya, peristiwa wafat Ki Patih tidak dapat berhenti sebagai berita duka saja tapi sesuatu yang besar pasti menyertainya. Seperti itulah jalan pikiran orang yang dipilih dengan tujuan awal menjaga keseimbangan di barak pasukan khusus tapi semakin hari semakin jauh dari niat Pangeran Purbaya.

Ki Wedoro Anom ternyata tidak segera kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Dia justru masih terlihat bergerak di kotaraja beberapa hari sejak berpamitan.

Menurut gambaran yang ada di dalam benaknya, dia merasa perlu untuk mengetahui orang yang akan ditunjuk sebagai Patih Mataram.. Tapi, untuk sementara waktu, dia belum mendapatkan kabar sama sekali. Sejumlah nama memanng disebut sebagai orang yang pantas dan tepat, meski tidak pernah diucapkan dengan suara terbuka.

Sebagian orang mengarah pada putra pertama Ki Patih, Pangeran Adipati Mandureja—sebuah kelanjutan yang dianggap wajar oleh mereka yang memandang garis darah sebagai pijakan utama.

Sebagian lain menyebut Ki Tumenggung Singaranu—orang yang telah lama berada di lingkar dalam kekuasaan, dengan pengalaman dan ketegasan yang tidak diragukan.

Dua arah itu tidak saling bertabrakan di permukaan. Dua nama yang cukup kuat menarik perhatian orang-orang yang tahu arah masa depan Mataram.

Ki Wedoro Anom termasuk di antaranya tapi tidak segera mengambil sikap memperlihatkan kecenderungan.

Sejak keluar dari bilik kerja Pangeran Purbaya, dia lebih banyak bergerak seakan tanpa tujuan terlihat jelas di kotaraja. Kadang berada di sekitar Kepatihan, di lain waktu tampak di lingkungan yang lebih dekat dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan keluarga Ki Patih.

Di hari berikutnya, dia terlihat berbincang singkat dengan seseorang yang dikenal dekat dengan Ki Tumenggung Singaranu. Tidak lama, tidak pula dalam suasana yang mencolok.

Seluruhnya tidak ada percakapan panjang atau sikap yang menunjukkan keberpihakan.

Dari pertemuan-pertemuan singkat itu, Ki Wedoro Anom membicarakan keadaan Tanah Perdikan, termasuk keberadaan orang-orang di bekas perkemahan Raden Atmandaru. Dia tidak menyinggung sisa-sisa pemberontakan, tapi lebih banyak mengemukakan kecemasan sekaligus harapannya terhadap masa depan Mataram.

Menurutnya, keamanan dan ketertiban Tanah Perdikan akan menjadi salah satu pilar penting bagi ketenangan Kotaraja dalam menyusun langkah ke depan.

Sementara itu, mengenai orang yang akan menggantikan Ki Patih Mandaraka, Ki Wedoro Anom sengaja tidak mencari jawabannya. Dia memilih untuk merapatkan diri dan gagasannya kepada yang kelak menjadi pengganti. Baginya, jika Keraton telah memiliki Pangeran Purbaya, maka di Kepatihan pun harus ada seseorang yang mampu menerjemahkan sekaligus menjalankan rencana.

Beberapa hari berlalu dengan tatanan yang hampir serupa. Ki Wedoro Anom datang, mendengar, bicara sedikit, lalu pergi. Kadang dia tampak seperti orang yang tidak mendapatkan atau menginginkan hasil, padahal justru sebaliknya.

Pekan demi pekan terus datang dan pergi dan Ki Wedoro Anom masih beredar di Kotaraja. Bahkan dia pun tak lupa menampakkan diri di dua barak inti, satuan pengawal raja dan keamanan ibukota.

Ki Wedoro Anom tidak lagi sekadar mengamati. Agaknya dia telah menemukan pijakan yang cukup untuk melangkah lebih jauh. Kemampuannya membawa sikap menempatkannya dalam kesan sebagai orang yang tidak sedang membawa atau mempunyai kepentingan.”

Justru dari situlah, sesuatu yang lain mulai bergerak.

Bagi mereka yang terbiasa membaca gerak di balik kata-kata dan sikap, pergerakan Ki Wedoro Anom menjadi cukup terasa.

Meski arah angin mulai berubah dengan cara yang tidak mudah ditunjuk sumbernya dan tidak ada kabar yang datang sebagai berita, tapi Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga dapat membacanya.

Mereka memang tidak bicara atau bertemu langsung dengan Ki Wedoro Anom, tapi mereka banyak mendengar dari orang-orang yang membincangkan sesuatu dan ketika namanya disebut. Dari serpihan kecil yang berserakan dari banyak perbincangan, dua orang itu dapat menyusun gambar yang tidak utuh tapi cukup untuk diperhatikan.

Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Di sebelah barat Kotaraja.

Kegiatan di barak pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh kini berlangsung semakin padat. Bangunan-bangunan baru dan sanggar latihan telah sepenuhnya digunakan, sehingga setiap hari dipenuhi berbagai kegiatan untuk menguji dan menempa para senapati yang kelak akan mengemban tugas-tugas khusus dari Sunan Agung.

Sejumlah prajurit pilihan dari barak Menoreh sendiri telah menerima tanggung jawab baru dan ditugaskan ke luar Tanah Perdikan, sesuai keputusan bersama Pangeran Purbaya dan pihak Kepatihan. Kekosongan yang mereka tinggalkan kemudian diisi oleh prajurit-prajurit dari barak daerah lain—seperti Mangir, Ganjur, Demak, dan beberapa wilayah lainnya—yang telah dinyatakan lolos uji dan layak bertugas.

Namun di sisi lain, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya sejalan.

Perkembangan yang terjadi di barak pasukan khusus Menoreh serba sedikit menjadi perbincangan di Kotaraja. Sebagian menaruh perhatian disertai harapan tapi tidak sedikit yang memandangnya sebagai keadaan yang tidak wajar.

Ketiadaan Agung Sedayu di tengah perubahan itu tentu karena dia menyerahkan sepenuhnya pada para bawahan. Jika seperti itu, apa yang dapat diharapkan di masa mendatang? Setidak seperti itulah menurut pengamatan Ki Wedoro Anom.

Namun, di sisi lain, justru dengan tidak hadir secara badaniah, maka dapat dibayangkan besarnya pengaruh Agung Sedayu di Tanah Perdikan—menurut Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga. Jika demikian, maka benarlah pendapat mereka bahwa Agung Sedayu harus dipisahkan, setidaknya dikucilkan, dari pergaulan di Kotaraja.

Ki Wedoro Anom tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca arah angin di Kotaraja. Dia bukan orang baru dalam lingkar kekuasaan. Dia cukup terlatih sebagai orang yang pernah bertugas di bidang persandian. Kemampuannya sangat baik dalam menyaring kabar dari sela-sela percakapan, dari bisik-bisik abdi dalam, bahkan dari perubahan sikap orang-orang yang tiba-tiba menjadi lebih berhati-hati.

Dalam hitungan hari, kabar itu menjadi jelas baginya—Kepatihan tidak diselenggarakan oleh satu orang saja, tapi dijalankan bersama oleh tiga orang: Pangeran Adipati Mandureja, Ki Tumenggung Singaranu, dan… Agung Sedayu.

Nama terakhir itu membuat berpikir keras dengan perasaan yang agak kacau. Dia duduk di dalam kedai yang terletak jauh di belakang Keraton sambil memandang jalanan tanpa benar-benar memperhatikan.

Pangeran Adipati Mandureja, ya wajar, dia putra mendiang Ki Patih Mandaraka. Ki Tumenggung Singaranu, juga tidak aneh. Dia cakap dan telah bekerja sebagai orang kepercayaan langsung Sunan Agung. Tapi Agung Sedayu? Orang biasa, seorang prajurit yang diangkat atas belas kasih mendiang Panembahan Senapati. Orang lapangan, sejak kapan dia pantas duduk di jantung pemerintahan?

Ki Wedoro Anom terusik, bagaimana Agung Sedayu menjalankan semua itu sambil tetap menyelesaikan sisa tanggung jawab mendiang Ki Patih  Mandaraka yang dibebankan kepadanya? Barak dialih fungsi sebagian untuk menyiapkan lurah-lurah muda yang cakap bertempur.

Kabar tentang barak pasukan khusus di Menoreh datang berulang-ulang, dari orang yang berbeda, dengan nada yang hampir serupa—tentang latihan yang tidak lagi sekadar mengasah ketangkasan, tapi juga tentang pengaturan pasukan, membuka dan mengembangkan gelar perang, bahkan tentang ujian yang tidak semua orang dapat melewatinya.

Ki Wedoro Anom mendengarkan semuanya tanpa banyak bertanya lalu mengumpulkan sangat rapi dalam benaknya.

“Barak,” katanya suatu ketika pada dirinya sendiri, “sejak kapan menjadi tempat orang belajar memerintah?”

Kalau semuanya diserahkan pada orang-orang di sana yang tidak pernah datang di Kotaraja, lalu untuk apa ada aturan? Untuk apa ada jenjang? Perasaan dan pikirannya menanjak tinggi.

“Orang-orang itu ditempa, katanya. Diuji. Lalu dianggap layak.” Dia mengangguk dalam, lalu membuat bantahan sendiri, “Seolah-olah cukup dengan itu seseorang dapat berdiri di dekat pusat kekuasaan.”

Sedayu tidak ada di sana, dia serahkan pada siapa? Ki Sanggabaya jelas bukan yang cakap memimpin, Ki Demang Brumbung adalah senapati berpangkat rangga tapi sama sekali buta tata kelola barak, apalagi itu adalah barak pasukan khusus. Ki Prana Aji dan lainnya? Mereka hanyalah lurah yang menuju tua.

Bagi Ki Wedoro Anom, perubahan di barak pasukan itu bukan tanda kekuatan tapi kejanggalan yang cenderung meresahkan. Sebuah keadaan yang, menurut nalarnya, sulit dipercaya akan bertahan lama tanpa menimbulkan kekacauan. Sama sekali jauh jika disejajarkan langsung dengan kedudukan baru Agung Sedayu sebagai tumenggung.

Tetapi di tempat lain, ada percakapan yang membaca keadaan dengan cara yang berlainan.

“Orang-orang Sedayu memang tidak mudah dipatahkan, “ kata Ki Wira Sentanu. “Kita bahkan tidak mengetahui siapa saja yang bekerja di bawah kendalinya, bahkan sampai sekarang.”

Ki Panji Suralaga bergumam lirih, “Sudah lebih dari sebulan, kita benar-benar terlampaui olehnya.” Kemudian dia mendengus panjang.

“Kita sudah melihat kesibukan di Kotaraja,” lanjut Ki Wira Sentanu, “mungkin seperti itu pula yang terjadi di Tanah Perdikan.”

Dia berhenti sejenak, kemudian katanya lagi, “Mereka tidak lagi membina orang biasa menjadi prajurit tapi prajurit menjadi pemimpin.”

Ki Panji Suralaga menyilangkan tangan di punggungnnya lalu berkata, “Sedayu tidak berada di sana, jadi kita dapat bayangkan pengaruhnya meski kegiatan barak hanya dijalankan oleh bawahannya.”

“Bagaimana bila sebagian anak-anak muda itu kemudian ditempatkan di sekitar Kepatihan atau Keraton?’

Ki Panji Suralaga tidak langsung menjawab. Dia berjalan mondar-mandir sejenak. Setelah berhenti, dia berkata, “Dulu, kekuatan itu mengalir dari pusat. Dari Keraton, dari Kepatihan. orang naik karena diangkat. Tapi sekarang, dua tempat itu dapat dipenuhi anak-anak muda yang tidak ada wawasan dan pengalaman, hanya karena tempaan Agung Sedayu.”

Ucap Ki Wira Sentanu kemudian, “Pengaruh Agung Sedayu tidak membutuhkan kehadiran atau keberadaannya. Anak buahnya dapat membuat keputusan dan bergerak tanpa perintahnya. Benar-benar orang yang berbahaya.”

Dia berhenti sejenak, sorot matanya tajam, lalu berkata dengan nada dingin dan datar, “Aku kira kesetiaan bawahan Sedayu bukan lagi pada kedudukan, tapi pada dirinya sendiri.”. Tetapi kepada orang yang membentuk mereka.”

Ki Suralaga mengangguk-angguk beberapa lama dengan mata terpejam. Dia berkata, “Dia harus dipisahkan dari barak atau diasingkan dari Kotaraja.”

Tidak lama setelah perbincangan itu, Ki Panji Suralaga menemui dua atau tiga orang yang dianggapnya cukup kuat untuk diajukan sebagai pengganti sedayu di barak pasukan khusus.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 60 – Persoalan Ini Tidak Dapat Ditunda Lagi

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 15 – Bentrokan Pecah di Kediaman Ki Gede Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 62 – Masa Lalu yang Mencekam Terungkit di Rumah Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.