Sore telah turun ketika rombongan kembali sepenuhnya ke barak. Kesibukan masih berlangsung, tetapi tidak sepadat siang hari. Beberapa orang mulai menjemput waktu istirahat, sebagaian bersiap untuk giliran jaga. Yang lain juga tampak menyiapkan alat-alat perondaan yang akan dibawa pada wal malam menuju wilayah lainnya.
Di sisi ruang yang ditempati Ki Garu Wesi, dua orang prajurit duduk bersandar pada kayu yang masih berbau segar.
“Menurutmu… apa kira-kira alasan Ki Sanggabaya tidak segera menjatuhkan tindakan?” tanya salah seorang, suaranya rendah.
“Entahlah,” katanya kemudian. “Ki Rangga jelas tidak salah.”
“Ya,” sahut yang lain dengan cepat. “Tidak ada yang salah.”
Sejenak mereka diam.
“Tapi… aku juga mengerti kekhawatiran Ki Wedoro Anom,” lanjut orang pertama pelan.
Prajurit di sampingnya menoleh. “Maksudmu?”
“Bukankah dia pernah mengatakan bahwa sebaiknya barak tidak bersikap lunak terhadap orang-orang Kendil,” kata orang pertama. “Sikap lunak pastinya dianggap dari keputusan yang ragu-ragu. Sedangkan kita tahu keraguan pasti mendatangkan masalah esok hari?”
Prajurit kedua menghembuskan napas pendek. “Atau justru mereka jadi berpikir dua kali karena kita tidak gegabah.”
“Ya, ya, itu juga bisa saja.”
Tiga prajurit itu lalu diam dengan segala prasangka dan pikiran masing-masing.
“Apakah keputusan Ki Sanggabaya itu sudah sesuai dengan arahan Ki Tumenggung?” tiba-tiba orang ketiga bertanya.
“Yah, kita tahu dan melihat bahwa tidak ada orang dari kita yang sadar untuk nekat melangkah keluar dari perintah Ki Tumenggung,” sahut orang pertama.
“Kecuali satu orang,” kata prajurit ketiga setelah agak lama. “Dia pernah mengatakan padaku bahwa sebenarnya dia tidak setuju dengan keputusan Ki Tumenggung, saat itu beliau masih menjadi rangga, yang memberi kelonggaran pada tahanan perang. Seharusnya mereka dihukum mati, katanya.”
“Ki Wedoro Anom?” prajurit kedua memastikan.
“Siapa lagi?” serempak dua temannya menyahut.
Mereka pun mengalirkan percakapan di antara sudut pandang Ki Wedoro Anom dan perintah-perintah Agung Sedayu.
Di balik dinding bangsal yang terbuka sebagian, Ki Garu Wesi mendengar percakapan tiga prajurit dari awal sampai akhir. Dia tidak melewatkan satu bagian pun dan dapat pula membandingkan percakapan mereka dengan kenyataan yang dialaminya sehari-hari.
Agung Sedayu memang tidak ada tapi seluruh keputusannya berjalan tanpa kendala dan bantahan. Ketika orang itu datang, arah angin sudah tidak dapat lagi diperkirakan.
“Ki Tumenggung,” desis Ki Garu Wesi.
Hari-hari sibuk Agung Sedayu di Kepatihan terasa menjadi lebih menegangkan dan pesan-pesan alam yang tidak mudah diartikan begitu saja.
Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Pagi itu belum menunjukkan tanda yang berbeda bagi kebanyakan orang. Matahari masih bergulir pada jalan naik, sementara di halaman-halaman Kepatihan tetap dipenuhi lalu-lalang orang dengan urusan masing-masing.
Menjelang pertengahan hari, tabib dari keraton datang tanpa pengumuman. Dia segera masuk, melewati lorong yang tidak banyak dilalui orang. Beberapa pasang mata mengikuti, tapi cepat berpaling.
Kebanyakan orang bertanya pada diri masing-masing, dan sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah.
Di dalam ruang yang tidak begitu luas, Nyi Banyak Patra berdiri sedikit menjauh ketika tabib itu mulai memeriksa. Nyi Patra tidak dapat menyimpan ketegangan halus yang memancar dari sorot matanya. Sesekali dia menoleh, merasakan sesuatu yang tidak hanya berkaitan dengan keadaan orang yang dirawat.
Agung Sedayu sudah berdiri agak lama di dekat ujung kanan pembaringan. Ketenangan yang biasa memancar dri wajah dan matanya tiba-tiba lenyap. Hanya bola matanya yang bergerak-gerak memandang tabib Keraton yang sedang bekerja.
Baik Nyi Banyak Patra dan Agung Sedayu bukan tidak tahu yang harus diperbuat tapi saat itu adalah kewenangan Keraton yang wajib diberi tempat.
Mereka berdua tidak sedang gelisah tapi seakan menunggu sesuatu yang tidak bakal dihindari maupun diperpanjang.
Di luar ruangan itu, orang-orang paham untuk cepat membatasi diri. Meski mereka tidak mengetahui secara pasti tapi dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya disentuh.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Lingkaran tak tampak oleh mata telah terbentuk.
Peristiwa sakral yang hanya terjadi sekali pada diri manusia pun dialami Ki Patih Mandaraka.
Menjelang sore, kabar lelayu keluar dari ruangan. Suasana terasa semakin berat.
Pada hari itu, Ki Patih Mandaraka berpulang.
Langit belum sepenuhnya berubah warna ketika kabar itu mulai menyebar keluar dari Kepatihan.
Beberapa orang yang keluar dari Kepatihan dengan langkah cepat tapi tidak berlari. Wajah-wajah mereka dirundung duka. Sapaan yang biasa terdengar di antara para abdi menjadi lebih singkat, bahkan kadang hanya berupa anggukan kecil.
Keraton menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penyelenggaraan jenazah. Setiap orang cepat terikat oleh perasaan dan kewajiban.
Di luar kepatihan, kehidupan masih berjalan seperti biasa—setidaknya bagi mereka yang belum tersentuh kabar itu. Pedagang tetap menjajakan dagangannya, suara anak-anak masih terdengar di kejauhan, dan roda-roda kehidupan tidak berhenti hanya karena satu peristiwa.
Di antara kesunyian dan kesibukan yang terpisah oleh batas yang tidak tampak, banyak pikiran mulai bergerak, banyak bibir yang berucap tanpa suara.
Hari itu belum benar-benar berakhir. Belum pula terlambat untuk menghaturkan: selamat jalan, Ki Patih Mandaraka.
Kabar Lelayu Tiba di Tanah Perdikan
Fajar belum benar-benar menyingsing ketika Kinasih keluar dari gerbang Kepatihan. Dia akan menyampakan berita pada Sayoga dan Sukra yang bermalam di sisi Kali Opak.
Di Tanah Perdikan, Sayoga dan Sukra berbagi arah. Satu orang langsung menuju barak pasukan khusus. Sukra akan menyampaikan kabar lelayu itu pada Ki Gede Menoreh.
Beberapa orang pedukuhan induk pun sudah mendengar berita itu dari pedagang dan orang-orang yang datang dari arah kotaraja. Mereka berhenti sejenak dari pekerjaan mereka. Beberapa saling bertanya, sebagian lain hanya mengangguk pelan, seolah mencoba menempatkan kabar itu pada tempat yang seharusnya di dalam hati mereka.
“Dari mana kau dengar?”
“Semua orang di kotaraja sudah mengatakan dan bicara secara terbuka. Persiapan pun tampak jelas sudah berlangsung pada malam sebelumnya.”
Di barak pasukan khusus, suasana berubah tanpa perintah.
Latihan tetap berlangsung, perintah dan kewajiban terus berjalan dengan sesuatu yang turut hilang bersamaan datangnya kabar.
Ki Rangga Sanggabaya menerima kabar dari Sayoga dengan wajah yang tidak banyak berubah. Dia berdiri lebih lama dari biasanya, memandang ke arah yang jauh sebelum kemudian memberi beberapa perintah pendek.
Di rumah Ki Gede, pembicaraan berlangsung lebih tenang.
Pandan Wangi tidak segera berbicara setelah mendengar keterangan dari Sukra. Dia menunduk sedikit, lalu menarik napas perlahan.
Ki Gede berkata, “Besar kemungkinan Ki Wedoro Anom tidak berada di Dusun Benda dalam waktu dekat. Mungkin juga dia akan lama berada di kotaraja.”
“Apakah Ayah juga ke sana menyampaikan duka?”
“Secepatnya, mungkin lusa.”
“Jika demikian, saya akan menjaga rumah,” sahut Pandan Wangi. Setelah mempertimbangkan beberapa keterangan yang telah diterimanya, dia memandang Sukra agak lama.
“Mudah-mudahan engkau tidak kelelahan, Sukra,” ucap Pandan wangi.
Sukra mengangguk lalu menyatakan dirinya siap menjalankan perintah baru.
“Pergilah ke Dusun Benda,” kata Pandan Wangi. “Cobalah bertanya pada Ki Jayaraga barangkali ada satu atau dua tambahan bekal dalam pengamatanmu.”
“Saya berangkat, Nyi,” kata Sukra dengan mantap.
Di sudut-sudut pedukuhan hingga dusun terjauh, kabar itu merambati udara lalu menukik ke jantung setiap orang. Tidak semua orang dapat langsung berbicara. Yah, setelah Panembahan Hanykrawati, kini Ki Patih Mandaraka, selang waktu yang kurang dari tiga atau empat tahun, Tanah Perdikan kembali berduka.
