0%
Still working...

Hari Bising di Bukit Menoreh 102 – Perondaan Ketiga: Pertaruhan Besar Sedang Dimulai

Dilihat 50 kali

Pada hari yang ditentukan oleh Ki Rangga Sanggabaya, di halaman timur, sejumlah prajurit berbaris rapi dengan senjata, panji dan rontek dalam genggaman. Mereka tidak lebih dari tiga puluh orang.

Di samping kiri dan kanan barisan terlihat Ki Demang Brumbung dan Glagah Putih. Berhadapan dengan mereka semua adalah Ki Sanggabaya yang  didampingi oleh Ki Wedoro Anom. Sementara Ki Garu Wesi berdiri dengan bahu bersandar pada tiang penyanggah yang berada di dekat biliknya.

“Perondaan ini, saya hampir dapat pastikan tidak akan berakhir dengan damai. Mereka telah memperdaya kita semua. Teguran keras telah diberikan tapi nyatanya, mereka memilih untuk mengabaikan,” kata Ki Sanggabaya lantang.

Pandangan wakil Agung Sedayu itu lantas menatap lekat wajah-wajah para prajurit yang berdiri tegak di hadapannya.

“Namun demikian,” lanjutnya, “kalian bukan berangkat untuk mencari kematian. Kalian berangkat sebagai orang-orang yang telah digembleng, yang mengerti batas antara keberanian dan kecerobohan. Kita tidak sedang mempertontonkan kekuatan. Barak dan Tanah Perdikan tidak mengenal kata itu. Mataram pun demikian. Kalian di sini untuk menegakkan wibawa Tanah Perdikan dan Mataram. Wibawa itu adalah saat kita mengambil keputusan secara tepat dan dewasa.”

Suasana menjadi sedikit tegang.

“Aku percaya,” kata Ki Sanggabaya, “tidak satu pun dari kalian berdiri di sini tanpa alasan. Maka buktikan bahwa kalian memang pantas berada di barisan ini.”

Ki Wedoro Anom bergeser maju, sedikit.

“Ki Sanggabaya,” ucapnya, suaranya cukup jelas untuk didengar semua orang, “izinkan saya menambahkan.”

Cara Ki Wedoro Anom menyela tidak sepenuhnya lazim dalam susunan seperti itu.

Ki Sanggabaya menoleh singkat, lalu mengangguk. “Katakan.”

“Seluruh yang dikatakan Ki Sanggabaya benar,” katanya. “Saya hanya menambahkan bahwa wibawa terletak pula pada ketegasan dan keberanian kalian menggunakan kekerasan.”

Sisihkan 75 ribu agar blog dapat bertahan dalam sengketa tragis dunia persilatan. Sebagai gantinya, kami akan mengirimkan seluruh koleksi (Buku 1 – 5) langsung ke perangkat Anda.

*Buku 1 & 2 (Kitab Kyai Gringsing):

*Buku 3 (Geger Alas Krapyak) – diambil dari Bab 6 dengan judul yang sama.

*Buku 4 (Bara di Bukit Menoreh) – diambil dari Bab 7.

*Buku 5 (Hari Bising di Bukit Menoreh) – seluruh isi bab 8

Langkah ini adalah cara kami mengajak Anda berpartisipasi menjaga api dunia persilatan tetap menyala.

Transfer Kontribusi:

BCA 822 0522 297

BRI 31350 102162 4530

Roni Dwi Risdianto

Konfirmasi WA 081357609831  Naskah kami kirimkan melalui WA

Matur Nuwun

Beberapa prajurit yang tidak berada di dalam barisan saling bertukar pandang. Mereka tahu yang biasanya disampaikan oleh Ki Rangga Sanggabaya tapi tidak seperti itu. Sambil mengerutkan kening, mereka tetap memandang Ki Wedoro Anom dari kejauhan.

“Kalian sedang berhadapan dengan orang-orang yang sudah memilih untuk menipu dan menguji batas kesabaran kita. Itu berarti mereka tidak lagi berdiri sebagai kawan, melainkan sebagai pihak yang siap mengambil keuntungan dari kelengahan,” lanjut Ki Wedoro Anom.

“Jangan berharap mereka akan bersikap seperti kita yang bertahap sebelum benar-benar menegur keras. Mereka bukan orang yang terbiasa melonggarkan keraguan berkembang. Jika kalian masih menyisakan keraguan saat mereka menyerang, maka kalian sedang membuka jalan bagi kekalahan kalian sendiri. Ketegasan bukan pilihan. Itu keharusan.”

Ki Sanggabaya menatap lurus ke depan, lalu menarik napas dalam-dalam.

“Baik,” katanya kemudian, nada suaranya berubah menjadi lebih tegas dan final. “Dengan mempertimbangkan keadaan yang berkembang, serta kebutuhan akan ketegasan dalam mengambil keputusan di lapangan, perondaan ini akan dipimpin oleh Ki Rangga Wedoro Anom.”

Glagah Putih yang berdiri di sisi barisan sedikit mengangkat wajahnya, jelas terkejut. Sorot matanya bergerak cepat ke arah Ki Demang Brumbung.

Ki Demang Brumbung sendiri tampak mengerutkan kening. Keputusan itu… cara Ki Wedoro Anom menyampaikan pesan dan penetapannya berlangsung tidak seperti biasanya.

Biasanya, penunjukan pemimpin regu dilakukan melalui pembicaraan lebih dahulu, atau setidaknya penambahan pesan atau siasat yang dapat dibaca oleh orang-orang yang berada di lingkar dalam.

Namun kali ini, tidak ada tanda-tanda itu.

Glagah Putih menggeser sedikit kedudukannya seolah ingin memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.

Ki Sanggabaya tetap berdiri tegak dengan sikap seakan tidak yang aneh dengan keputusan itu.

“Ki Wedoro Anom,” katanya kemudian sambil menatap orang yang jarang terlibat dalam pertempuran itu, “tanggung jawab ini saya serahkan sepenuhnya.”

Ki Wedoro Anom menundukkan kepala sekilas sambil meredam gejolak dalam hatinya. “Saya menerima.”

Di sisi lain, Ki Demang Brumbung menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Glagah Putih pun merasakan hal yang sama: kejanggalan dan kecepatan Ki Wedoro Anom menjawab.

Barisan pun kemudian membubarkan diri: mempersiapkan senjata dan segala yang diperlukan dalam perondaan.

Waktu yang sangat singkat pun digunakan oleh Ki Sanggabaya untuk memanggil Ki Garu Wesi.

“Kyai dapat turut serta dalam perondaan jika berkehendak,” kata Ki Sanggabaya. “Kyai juga bebas memilih kawan bila sudah tiba di lereng Kendil. Apakah akan berseberangan atau bertempur di sisi kami? Saya mewakili Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Mataram sudah tentu tidak dapat memaksakan pilihan.”

Kyai Garu Wesi mengangguk lalu berkata, “Terima kasih. Saya akan mengikuti barisan hingga akhir. Dan saya juga belum menentukan pilihan antara kembali ke barak atau meninggalkan barak.”

Senyum Ki Sanggabaya mengembang. Ucapnya, “Saya hanya berharap keputusan Kyai muncul tanpa keterpaksaan atau hutang nyawa.”

“Saya perhatikan itu, Ki Rangga,” sahut Ki Garu Wesi. “Selamat pagi.” Dia pun bergeser tempat.

Barisan itu mulai bergerak.

Tidak ada aba-aba yang panjang. Hanya satu isyarat singkat dari Ki Wedoro Anom, lalu kaki-kaki para prajurit serentak melangkah, meninggalkan halaman timur yang perlahan kembali lengang. Derap langkah mereka terdengar teratur seiring dengan panji dan rontek yang bergoyang pelan di atas kepala mereka.

Dari kejauhan, Glagah Putih mengikuti dengan pandangan tajam. Pikirannya berjalan cepat, menelusuri peta-peta yang telah lama tertanam dalam ingatannya. Pertama, Dusun Benda lalu Kali Tinalah. Yang terburuk, orang-orang Kendil dapat menghantam dari sisi lembah ketika jalan menurun.

Alisnya sedikit berkerut.

Beberapa orang yang pernah terlibat langsung dalam penumpasan gerombolan Raden Atmandaru mulai saling melirik dengan dahi berkerut. Mereka mengenali arah langkah—itu mengarah ke jalur yang memutar. Perjalanan bakal menjadi lebih jauh dan lama.

Sebagian berpikir bahwa peronda mengambil jalur yang terletak di antara batas wilyah dusun-dusun. Selain tidak terpantau oleh lawan, mereka pun dapat lebih cepat mencapai lereng Kendil. Tapi, ini? Barisan itu justru berbelok menuju Dusun Benda.

Salah seorang prajurit yang berada di barisan tengah bahkan sudah memastikan arah. “Memutar,” gumamnya hampir tak terdengar.

Yang lain tidak menjawab, tetapi beberapa di antaranya merasakan hal yang sama. Jalur itu bukan hanya lebih panjang, tapi juga membuka kemungkinan terlihat oleh lebih banyak orang. Membuka kemungkinan untuk diserang terlebih dulu.

Di belakang, seorang prajurit berpengalaman melirik kawannya. “Bukan jalur biasa,” bisiknya.

Kawannya mengangguk. “Bukan tanpa maksud jika orang itu membawa kita memasuki Dusun Benda.”

Mereka kemudian mengangguk bersamaan.

Dua orang itu menduga tujuan Ki Wedoro Anom menempuh jalur yang melintasi Dusun Benda. Mereka berdua tahu gerak gerik rangga tersebut di dusun yang bersebelahan langsung dengan pedukuhan induk.

Di samping barisan, Ki Demang Brumbung yang berjalan bersebelahan dengan kelompok prajurit baru, menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepala. Sebagai senapati pendamping, dia memahami batasnya. Keputusan telah ditetapkan di hadapan barisan.

“Rencana yang bahaya,” desisnya lalu meningkatkan kesiagaan meski mereka belum memasuki Dusun Benda.

Barisan peronda terus bergerak.

Mereka melewati pematang, menyusuri jalan tanah yang mulai ramai oleh orang-orang dusun yang berlalu lalang. Beberapa orang berhenti sejenak memandang barisan bersenjata itu dengan campuran rasa ingin tahu dan waspada.

Di antara orang-orang yang menyaksikan iring-iringan itu, sebagian tampak menahan diri padahal mereka ingin melambai sekadar sapaan. Tapi mereka menahan diri saat melihat Ki Wedoro Anom tampak tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang menatap dirinya.

Pada waktu itu, dada Ki Wedoro Anom menjadi sedikit lebih tegak. Wajahnya terangkat. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya tidak lagi tertuju pada sasaran perondaan.

Dia memperkirakan bahwa orang-orang yang sedang melihat barisan itu akhirnya sadar bahwa dia berkata benar. Ki Wedoro Anom menyadari arti di balik setiap mata yang memandang tapi dia membiarkannya.

Dusun Benda bukan sekadar lintasan.

Beberapa orang tua di pinggir jalan berbisik pelan. Anak-anak berhenti bermain. Sejumlah perempuan dan lelaki muda segera menahan kegiatan menjemur padi.

Di ujung depan barisan, Ki Wedoro Anom tetap melangkah tanpa ragu. Dalam benaknya, jalur yang dikenalnya memang tidak banyak. Hanya dua—jalur langsung yang keras dan sempit, atau jalur memutar yang lebih terbuka.

Dia memilih yang kedua dengan satu alasan kuat: bahwa dia berjalan di depan mereka sebagai pemimpin. Jika ada yang bertanya keberadaan Agung Sedayu maka kehadirannya di barisan sudah menjadi jawaban.

“Inilah aku,” seakan-akan langkahnya berkata tanpa suara.

Barisan itu pun meninggalkan Dusun Benda, bergerak menuju Kali Tinalah.

Tidak lama setelah barisan melewati tepian Dusun Benda, dari arah yang berbeda tampak sekelompok kecil pengawal mendekat. Jumlah mereka tidak banyak—tidak lebih dari delapan orang—tapi dari cara bergerak, jelas bahwa kumpulan pengawal ini adalah orang-orang yang terbiasa bertugas dalam pengamanan yang senyap dan terukur.

Hanya saja, Pandan Wangi mempunyai pikiran lain. Ada kekhawatiran jika nantinya perondaan dipimpin oleh orang yang berseberangan dengan Agung Sedayu. Maka besar kemungkinan jalur yang ditempuh bukanlah jalur yang biasa dilalui pasukan khusus tapi jalur pengawal. Sayoga pun diperintahkan untuk menyisir lorong sunyi hingga mencapai sisi sempit Kali Tinalah.

“Jika kalian tidak menemukan jejak pasukan khusus, itu artinya mereka akan melintasi Dusun Benda,” pesan Pandan Wangi sebelumnya. “Bergabunglah dengan mereka jika bertemu di simpang tiga yang berada di dekat pohon pre.”

Sayoga dan kawan-kawannya sudah pernah bertugas bersama di lereng utara Gunung Kendil. Yah, tentu mereka terbiasa bergerak dalam jumlah kecil, menyusup lewat jalur-jalur sunyi dan medan yang sulit, menghindari pengawasan sandi lawan. Bahkan dalam keadaan yang diperkirakan akan berujung benturan, pendekatan mereka tetap sama: tidak terlihat sebelum benar-benar harus muncul.

Mereka berhenti sejenak ketika melihat arah barisan.

Sayoga, yang tampaknya menjadi kepala regu, menyipitkan mata. Pandangannya menelusuri jalur yang dipilih lalu kepalanya tampak menggeleng. Sekilas dia menoleh ke barisannya, lalu berkata, “Kita tetap bergabung.”

Dengan gerakan yang tetap teratur, kelompok kecil itu mempercepat langkah, lalu menyusul dari sisi belakang barisan pasukan khusus.

Namun begitu mereka mendekat, Ki Wedoro Anom yang berada di depan memberi isyarat singkat—tanpa menoleh sepenuhnya.

“Tahan,” perintah Ki Wedoro Anom. “Ambil jarak lalu kalian tutup bagian belakang.”

Suaranya terdengar biasa saja tapi nada itu seperti mempunyai maksud lain.

Sayoga terdiam sejenak.

Biasanya pengawal langsung menyatu dalam barisan yang sama dengan pasukan khusus kecuali Agung Sedayu menentukan lain. Mereka jarang terpisah jarak kecuali dalam pertempuran yang masing-masing sudah mempunyai tanggung jawab, itu pun jika Agung Sedayu menghendaki.

Maka perintah itu terkesan seperti sekat yang tiba-tiba dipasang oleh Ki Wedoro Anom.

Namun Sayoga cepat menahan salah seorang pengawal yang hendak bertanya.

“Biarlah, kita jalankan perintah nya,” ucap Sayoga.

Dengan wajah gusar, para pengawal Menoreh pun menempatkan diri di barisan belakang, terpisah beberapa langkah dari kelompok prajurit.

Jarak itu terasa seperti tantangan bagi sebagian pengawal yang dipimpin Sayoga.

Dari sisi barisan, Ki Demang Brumbung melihat semuanya dengan jelas. Rahangnya mengeras sesaat, tapi dia cepat menahan diri. Sekali lagi, dia berada dalam batas yang tidak dapat dilampaui.

Kepemimpinan telah ditetapkan. Perintah telah diberikan.

Dan Ki Demang Brumbung tahu bahwa dia tidak akan menentang keputusan Ki Sanggabaya. Lantas dia mengangkat tangan sedikit—hampir tak terlihat oleh orang lain—lalu menundukkan kepala.

Gerakan itu dilihat Sayoga yang cepat membalas pula dengan anggukan kepala dan satu gerakkan tangan.

Isyarat sederhana. Permintaan maaf diterima dan barisan terus bergerak.

Bagi sebagian orang, terutama prajurit yang baru diwisuda menjadi bagian pasukan khusus, susunan itu adalah kewajaran karena memang ada perbedaan.

Tapi tidak demikian dengan prajurit lama. Mereka memandang pengawal Menoreh adalah pasukan khusus yang tidak mempunyai berlencana. Mereka tahu kemampuan dan keberanian pengawal Menoreh yang nyaris setara dengan yang berlatih di barak. Maka perintah Ki Wedoro Anom pun menjadi ganjalan dalam pikiran dan hati setiap prajurit lama.

Dari jarak terukur, seorang penghubung yang sejak awal mengamati pergerakan barisan itu tidak segera melapor ke Pandan Wangi atau Ki Gede. Untuk sejenak, penghubung yang juga pengawal Menoreh itu menahan diri; memastikan yang dilihatnya itu bukan sekadar kesan sesaat.

Jalur terbuka dan pengawal yang ditempatkan di belakang—terpisah.

Setelah yakin dengan yang dilihat, dia berbalik ke pedukuhan induk. Menyusuri jalan pintas, melompati akar-akar pohon dan menembus semak tipis.

Beberapa saat kemudian, dia telah sampai di kediaman Ki Gede.

Pandan Wangi berada di bagian dalam, duduk menghadap halaman yang mulai dipenuhi cahaya siang. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya tidak benar-benar berada di tempat itu.

“Nyi,” sapa penghubung itu sambil menundukkan kepala.

Pandan Wangi menoleh lalu mengangguk.

Penghubung itu tidak berpanjang kata. Dia menyampaikan laporan dengan runtut—jalur yang ditempuh, perubahan arah ke Dusun Benda, lalu menuju Kali Tinalah, kelompok pengawal yang ditempatkan di belakang, terpisah dari barisan utama.

Tidak ada yang dilewatkan.

Pandan Wangi mendengarkan penuh perhatian. Ketika laporan itu sampai pada bagian terakhir, alisnya sedikit berkerut.

“Di belakang?” ulangnya pelan.

“Saya tidak salah melihat, Nyi.”

Pandan Wangi mengalihkan pandangannya ke halaman lalu menarik napas perlahan. “Baik, saya terima laporan sebagai pertimbangan,” katanya kemudian.

Orang itu mundur dengan hormat, lalu pergi ke gardu yang terletak di jalan yang menghubungkan pedukuhan induk dengan Kali Progo.

“Tidak seperti ini…” gumam Pandan Wangi selepas kepergian petugas penghubung dari hadapannya.

Ada kekecewaan karena pembedaan dan itu akan menyakiti hati pengawal Menoreh. Sesuatu yang buruk dapat saja terjadi tapi tidak sepantasnya perlakuan itu berubah menjadi kemarahan.

Pandan Wangi menutup mata sejenak.

“Jika ini cara orang itu memimpin,” bisiknya dalam hati, “maka keselamatan setiap orang pasti terancam di lereng Kendil. Ini dapat menjadi pertaruhan yang sangat membahayakan.”

Matanya kembali terbuka.

Pandan Wangi menemui ayahnya, meminta diri lalu bergeser cepat menuju batas tanah lapang dengan hutan yang berada di belakang kediaman. Sekelompok pengawal sudah diperintahkan untuk menunggunya di sana.

“Marilah, kita percepat langkah,” ucap Pandan Wangi sesaat setelah bertemu dengan kelompok pengawal yang akan dipimpinnya langsung.

“Segera, Nyi,” sahut pengawal serempak.

Iring-iringan Ki Wedoro Anom makin dekat dengan permukiman Gunung Kendil.

Jalur yang menurun dari Kali Tinalah membawa mereka pada bentang yang lebih terbuka. Dari sela pepohonan dan semak yang tidak terlalu rapat, tampak permukiman yang tidak mencolok—rumah-rumah kayu berdiri dengan jarak yang tidak teratur, beberapa bangunan terbuka, dan halaman yang bersih namun tidak berlebihan.

Orang-orang yang pernah melihat tempat itu segera mengenalinya sebagai dusun kecil sebelum lereng barat. Bahkan para prajurit lama dapat merasakan angin yang turun dari lereng barat.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Warning: Undefined array key "cookies" in /home/tansahel/public_html/wp-content/themes/author-personal-blog/inc/comment-functions.php on line 92

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.