Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 101 – Menoreh Datang Menjawab Ancaman

Hari berikutnya, dalam waktu yang hampir bersamaan dengan rencana Ki Sanggabaya bicara dengan sebagian orang, Ki Gede dan Pandan Wangi duduk di bagian dalam kediaman.

Suasana tenang mengalir pelan seperti hembus angin yang menyisir lereng perbukitan.

“Keadaan ini sudah jelas berbeda dengan waktu ketika kita bergerak menuju perkemahan Raden Atmandaru,” ucap Ki Gede ketika persoalan bergeser pada perihal yang mengancam ketertiban Tanah Perdikan.

Pandan Wangi bernapas panjang, lalu berkata, “Ada yang menjadi ganjalan dalam pikiran saya, Ayah.”

Ki Gede menyimak sungguh-sungguh ucapan putrinya itu.

“Senjata orang-orang di Kendil itu dikabarkan sama dengan yang digunakan murid-murid Kyai Gringsing,” kata Pandan Wangi yang seakan sedang menghindari menyebut nama orang.

Ki Gede tetap bersikap siap mendengar lebih lanjut.

“Menurut saya hanya ada dua kemungkinan,” sambung Pandan Wangi. “Yang pertama, orang yang mengambil kitab Kyai Gringsing berada di balik itu semua. Dia mengumpulkan pengikut dengan menggunakan kitab sebagai alat. Yang kedua…”

“Swandaru,” kata Ki Gede melanjutkan tanpa keraguan..

Pandan Wangi memandang ayahnya dengan kening berkerut. Kemudian bertanya, “Bagaimana jika dugaan ayah itu benar?”

Ki Gede menggeleng tanpa kata-kata terucap. Swandaru, dalam pikirannya, telah meninggalkan Tanah Perdikan tanpa kabar atau pun pesan. Tanpa berpamitan atau yang senada dengan itu. Ketika benar dirinya muncul kembali di Menoreh dengan sejumlah orang  yang mengelilinginya di lereng Kendil, Ki Gede seakan mengalami kebuntuan nalar.

“Wangi, sejujurnya, ayah sudah tidak sanggup memikirkan itu tapi bukan menyerah,” ucap Ki Gede. “Ayah membatasi diri bahwa itu adalah kehidupan kalian. Swandaru mempunyai pandangan dan alasan, demikian pula dirimu. Ayah tidak akan memaksa kalian kembali atau selamanya berpisah.”

Pandan Wangi tidak segera memberi tanggapan. Tatap matanya beralih ke halaman yang disapu cahaya pagi. Daun-daun yang basah oleh embun memantulkan kilau tipis seperti tanda bahwa maam yang panjang tetaplah menjadi awal suatu kehidupan.

“Wangi?” Ki Gede mengulang pelan.

Pandan Wangi menarik napas lalu menghembuskan perlahan.

“Saya tidak sedang menunggu penjelasan atau keputusan, Ayah,” kata Pandan Wangi dengan nada tenang tapi terasa lebih dalam dari sebelumnya. “Karena yang terjadi bukan sesuatu yang butuh penjelasan.”

Ki Gede sedikit mengernyitkan kening. “Maksudmu?”

Pandan Wangi menunduk seolah memilih kata-kata agar tidak salah arti.

“Kepergian itu bukan kebetulan. Bukan pula karena terdesak,” lanjutnya. “Kakang Swandaru pergi dengan kesadaran dan kebebasan. Tidak ada orang yang menindas atau mempengaruhinya melalui ramuan. Saya harus sebut ramuan karena itu menjadi salah satu cara Raden Atmandaru menjebaknya di masa lalu. Saya dapat merasakannya.”

Ki Gede menyandarkan punggung lalu meluruskan kaki.

“Sebagai istri,” Pandan Wangi meneruskan, “saya mengenalnya bukan dari kata-kata, tapi dari keputusan-keputusan yang tidak diucapkan. Untuk kali ini, saya pikir Kakang Swandaru sudah melampaui batasan.”

“Batas?” tanya Ki Gede lirih.

Pandan Wangi mengangguk.

“Sekian lama, mungkin empat bulan lebih, dia meninggalkan saya dan kewajibannya yang lain tanpa berita. Saya kira itu sudah cukup.”

Ucapan Pandan Wangi terasa seperti dinding tebal yang membatasi halaman Keraton dengan jalan umum.

Ki Gede menarik napas dalam-dalam. “Jadi,” katanya hati-hati, “engkau tidak berkeinginan untuk menyusulnya?”

Pandan Wangi menggeleng perlahan. “Tidak, Ayah.”

Tidak ada getar ragu dalam suaranya, lalu dia melanjutkan, “Jika saya pergi untuk mencari atau menemukannya, maka orang itu bukan lagi saya sepenuhnya. Saya tidak ingin lagi hidup di antara bayangan atau sesuatu yang meragukan.”

Ki Gede menatap putrinya. Dia dapat merasakan sesuatu yang berubah—bukan pada sikap luar, tetapi pada keteguhan yang kini tidak lagi mencari sandaran. Apakah ini yang pernah dikatakan Ki Waskita sebagai mendung hitam? Ki Gede mengingat kata-kata yang diucapkan belasan tahun silam.

“Ayah harap keputusanmu itu tidak berawal dari kemarahan yang tertahan dan tersimpan cukup lama,” kata Ki Gede.

Pandan Wangi tersenyum tapi bukan karena kelegaan dirinya mendapat dukungan. Senyum perempuan tangguh itu justru wujud dari kekuatan hati yang lama merawat luka.  

Menggeleng adalah jawaban yang pertama setelah senyum itu bergeser.

“Saya tidak lagi menunggunya bersama harapan yang terjaga, Ayah,” ucap Pandan Wangi. “Harapan lain telah tumuh dan saya sedang merawatnya dengan sangat baik. Perenungan saya pun mengungkapkan bahwa keteguhan adalah sesuatu yang layak untuk ditunggu. Saya tidak mengatakan Kakang Swandaru tidak mempunyai hati yang teguh tapi biarlah makna itu tetap bersama saya tanpa perlu menampakkan diri.”

Suasana menjadi hening beberapa lama.

“Dan ketika seseorang sudah memutuskan dalam dirinya, maka tidak ada yang bisa menahannya. Bahkan orang yang paling dekat sekalipun tidak dapat menghalanginya,” lanjut Pandan Wangi. “Maka tidak ada harapan bagi orang lain untuk menatap penuh pada arah kepergiannya.”

Ki Gede memejamkan mata sejenak. Ucapan itu tidak hanya tentang Swandaru, tapi juga tentang sesuatu yang lebih luas—tentang pilihan hidup yang tidak dapat dipaksa kembali secara mutlak.

“Tanah Perdikan ini masih membutuhkan pijakan yang tidak goyah. Dan saya tidak ingin menjadi bagian dari sesuatu yang bergerak pada arah dengan cara yang tidak dapat saya pahami,” lanjut Pandan Wangi.

Ki Gede mengangguk perlahan.

Di bawah regol kediaman,  terdengar suara dua atau tiga orang bercakap—mungkin bertanya jawab. Sejenak kemudian, langkah kaki berdesir cepat pun tertangkap pendengaran Pandan Wangi.

“Ki Gede, seseorang dari barak mohon izin untuk bertemu,” ucap seorang penjaga regol dari balik pintu dengan nada hormat.

Pandan Wangi dan Ki Gede segera membenahi diri lalu mengatakan bahwa mereka berkenan untuk bertemu.

Tak lama kemudian, langkah mantap seseorang terdengar menaiki tlundakan. Ternyata orang itu adalah Ki Lurah Semangkak, prajurit sepuh yang juga orang asli Tanah Perdikan Menoreh.

Sejenak waktu mereka gunakan untuk bertukar kabar dan berita ringan. Hidangan sepantasnya pun kemudian tersaji di atas tikar pandan.

Dengan wajah sungguh-sungguh, Ki Lurah Semangkak lantas berkata, “Saya membawa pesan dari Ki Rangga Sanggabaya dan beliau mengatakan agar secepatnya dikembangkan.”

Ki Gede dan Pandan Wangi mengangguk setelah bertukar pandang.

“Ki Rangga menyetujui permintaan Nyi Pandan Wangi agar menyertakan pengawal Perdikan dalam perondaan ketiga. Tapi beliau meminta agar jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang.” Ki Semangkak lantas menerangkan bagian-bagian penting yang terkait dengan jumlah itu dan penjagaan di beberapa tempat, termasuk jalur yang menghubungkan pedukuhan induk dengan Ringinlarik.

“Bersama dengan saya menuju ke sini, tiga kelompok kecil dari barak telah menuju ke tempat-tempat yang telah ditentukan oleh Ki Sanggabaya,” lanjut Ki Semangkak.

Setelah menambahkan keterangan yang lain, Ki Semangkak pun meminta diri kembali ke barak.

“Lakukan sesuatu melalui Prastawa,” kata Ki Gede pada putrinya setelah kuda Ki Semangkak telah menjauh dari regol. Lantas pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu mengusulkan agar Prastawa tetap berada di Dusun Benda. Selain mengawasi perbaikan-perbaikan rumah dan sawah, dia tetap dapat menjadi penyeimbang seandainya Ki Wedoro Anom ternyata tidak ikut dalam perondaan.

Pandan Wangi setuju.

Seorang pengawal pun datang setelah melihat tanda dari Pandan Wangi. Dia berdiri agak membungkuk sambil mencatat perintah-perintah yang harus disebarkannya pada sejumlah kepala pengawal di dusun sekitar pedukuhan induk.

Pengawal itu lantas mengulang pesan-pesan Pandan Wangi supaya tidak salah dipahami oleh para kepala pengawalyang mendapatkan perintah. Berbeda dengan Ki Semangkak yang tampak keluar dari kediaman melalui gerbang utama, maka pengawal ini justru keluar dengan cara melompati halaman belakang.

Benar, tentu saja Pandan Wangi tidak ingin pergerakan pengawal Tanah Perdikan diketahui oleh orang-orang Kendil yang mungkin berada di sektar mereka. Bahkan putri Ki Gede itu meminta seorang pelayan perempuan untuk mengundang Sayoga dan Sukra agar cepat datang menemuinya. Kehati-hatian Pandan Wangi terlihat sangat jelas dari setiap ucapan dan keputusannya.

Dalam waktu itu, Ki Gede menumpahkan penuh perhatiannya pada setiap yang dilakukan Pandan Wangi.

Pesan telah disampaikan, Sayoga dan Sukra pun tiba-tiba muncul dari halaman belakang, lalu segera masuk ke ruangan dalam.

“Aku tidak ingin kegiatan ini diketahui banyak orang,” kata Pandan Wangi menjelaskan. “Kali ini, Sayoga yang mengiringi regu peronda bersama pasukan khusus.”

Tatap mata Pandan Wangi lantas beralih pada Sukra. “Untukmu, pergilah ke jalur Ringinlarik. Bawalah dua atau tiga pengawal kediaman. Lakukan seperlunya mengikuti arahan Ki Sanggabaya melalui pasukan khusus yang akan kau temui di sana.”

Sukra mengangguk. Sayoga menarik napas pendek.

“Sukra,” lanjut Pandan Wangi,”beritahulah Ki Jayaraga agar pulang ke rumah ini. Ki Gede sedang membutuhkan lawan untuk bermain macan-macanan.”

“Itu berarti rumah Ki Lurah kembali kosong?” tanya Sukra.

“Rumah beliau tidak akan pergi jauh,” sahut Sayoga. “Lagipula, Nyi Sekar Mirah dan Sekar Wangi pun tidak bertempat di sana. Ada Kyai Bagaswara yang menjaga mereka berdua di Sangkal Putung.”

Sukra mendengus, lalu berkata, “Yah, tapi kasihan rumah itu sudah terlalu sering ditinggalkan sendiri.”

Ki Gede dan Pandan Wangi pun tersenyum mendengarnya.

Pada waktu itu, Ki Gede memandang tepat atas keputusan Pandan Wangi yang menempatkan Sukra di perbatasan wilayah.

Pandan Wangi mempunyai penilaian khusus tentang keadaan itu. Keberadaan Sukra dalam gabungan laskar peronda yang juga terdapat prajurit baru tentu dapat berpengaruh pada keseimbangan. Sukra lebih cenderung bertempur mengikuti naluri. Dia berbeda dengan Sayoga yang dapat bertahan lebih lama dalam kepatuhan gelar. Sejak masuk Kademangan Sangkal Putung hingga pertempuran di Watu Sumping, mereka sudah bahu membahu sebagai pasangan tempur.

Sepanjang waktu itu pula, dua pengawal Tanah Perdikan itu sering terlibat dalam kegiatan keras secara berpasangan.

Malam baru saja datang ketika semua perintah Pandan Wangi diterima oleh sejumlah orang.

Sukra menyelinap keluar dari pedukuhan induk. Dia berjalan terpisah dari tiga pengawal kediaman. Mereka bergerak menuju tempat yang sudah ditentukan Ki Sanggabaya untuk memantau jalur penghubung Ringinlarik. Sedangkan Sayoga bersiap pula dengan tiga kepala pengawal dari di sebuah gardu yang terletak di sisi timur Dusun Benda.

Mpu Wisanata dan Nyi Dwani ada di beranda belakang. Sedikit tersembunyi dari jalan setapak yang menjulur di samping rumah Ki Gede Menoreh.

Yang menarik dari semua kegiatan itu adalah yang dilakukan Ki Gede bersama Ki Jayaraga. Mereka hanya duduk santai di pendapa sambil berbincang banyak hal, seperti obrolan yang tidak mempunyai tujuan, seperti dua orang usia senja yang sedang menikmati waktu tersisa.

Cukup menarik karena ada dua orang dari lereng Kendil yang ternyata mengamati kediaman Ki Gede sejak siang hari. Di simpang tiga, bahkan ada pula orang asing yang seksama memperhatikan jalur yang menghubungkan rumah Agung Sedayu dengan rumah Ki Gede Menoreh.

Mungkin orang-orang itu tidak tahu atau sengaja meremehkan kekuatan yang disimpan Tanah Perdikan. Kehadiran mereka justru telah diketahui oleh petugas sandi dari barak pasukan khusus dan pengawal pedukuhan. Hanya saja, jauh hari sebelumnya, Ki Gede meminta agar pengawal dan petugas sandi dapat menahan diri dengan tidak menegur secara langsung. Tapi tetap berhubungan wajar dengan orang-orang yang telah ditandai.

Malam sebelumnya di barak pasukan khusus—di dalam ruang rawat yang ditempati Ki Garu Wesi—Ki Sanggabaya bicara empat mata dengan Ki Demang Brumbung.

“Dia meminta saya, tepatnya mungkin mendorong, agar pasukan khusus segera meronda ke lereng Kendil dalam waktu dekat,” kata Ki Sanggabaya yang duduk di kursi yang bersebelahan dengan pintu ruangan.

Ki Garu Wesi ternyata ada di dalam dan tidak diminta untuk keluar dari tempatnya. Ini sungguh menarik! Percakapan mengenai siasat dan banyak hal justru terjadi depan tahanan perang.

“Sedangkan, tanpa ada seorang pun yang meminta, perondaan ketiga itu sudah semestinya dilakukan,” kata Ki Sanggabaya. “Ada waktu tiga atau empat hari untuk bersiap karena mereka pun tampaknya bukan kelompok penjahat biasa.”

Ki Demang Brumbung mengangguk, lalu menghembus napas pelan, kemudian berkata, “Begitulah yang seharusnya, Ki Rangga.”

Tanpa sadar, dua pemimpin barak pasukan khusus itu sama-sama menatap lekat Ki Garu Wesi. Sadar sedang menjadi perhatian, entah sengaja atau tidak, dia berkata, “Saya tidak seharusnya berada di sini, di depan Ki Rangga sekalian.”

Ki Sanggabaya cepat mengangkat tangan.

“Tidak’” dia menyahut cepat. “Justru saya sengaja memilih tempat ini karena sudah pasti tidak terpikirkan oleh prajurit yang mungkin terpengaruh oleh orang itu. Lagipula, saya yakin bahwa kami tidak sedang membuka keretakan yang terjadi di dalam barak. Saya tidak perlu menyembunyikan gerak gerik orang itu di depan Kyai. Latar belakang Kyai adalah panglima perang jadi saya anggap bahwa kita berada pada kedudukan yang sama.”

Ki Demang Brumbung tampak manggut-manggut dengan mata terpejam. Agak lama kemudian, dia berkata, “Ki Rangga, kita tidak sedang menghadapi ratusan orang seperti masa lalu di lereng Kendil.”

Ki Sanggabaya segera mengalihkan perhatian, tertuju pada Ki Demang Brumbung. Begitu pula dengan Ki Garu Wesi yang mulai menunjukkan kesungguhan menyimak pembicaraan.

“Saya sedang mempertimbangkan perpaduan kelompok peronda,” terang Ki Demang Brumbung. “Satu regu diisi lima belas orang dari inti pasukan khusus, dua puluh lima dari prajurit baru yang dinyatakan lulus atau mendekati akhir penempaan. Selebihnya adalah pengawal Tanah Perdikan. Tapi jumlah itu dapat bertambah atau berkurang sesuai keinginan Ki Rangga tentunya.”

“Perpaduan itu tidak akan mengurangi kekuatan induk seandainya mereka tiba-tiba menyerang,” ucap Ki Sanggabaya.

Lantas dia menguraikan siasat: tempat-tempat yang mungkin menjadi jalur pelarian meski mereka tidak bermaksud menangkap,  tapi agar tidak kembali seperti perondaan kedua serta beberapa rencana yang dirangkai menjadi satu kesatuan.

“Inilah yang mungkin menjadi keunggulan barak ini saat menghadapi Raden Atmandaru,” desis Ki Garu Wesi kemudian memandang Ki Sanggabaya dan Ki Demang Brumbung bergantian.

Dia memperhatikan sangat terang: gagasan yang diuji dari berbagai segi, pertimbangan ulang dengan memasukkan kemungkinan-kemungkinan buruk dan sebagainya. Dia juga mengamati bahwa hampir tidak ada keraguan atau pertanyaan dari dua pemimpin itu pada pelaksanaan dan bawahan. Kepercayaan yang bulat dapat menjadi penentu hasil akhir, demikian kesimpulannya.

Yang ditetapkan kemudian adalah seluruh latihan di barak berada di bawah kendali Glagah Putih. Dia diputuskan untuk tinggal karena Ki Sor Dondong dapat saja diambil paksa oleh kelompok Kendil yang mantan anak buah Raden Atmandaru. Ki Lurah Sora Sareh tetap berjaga-jaga di sekitar Kali Tinalah dan sekitarnya. Jalur-jalur lain akan diawasi oleh Ki Prana Aji yang nantinya berkeliling dalam penyamaran. Sedangkan Ki Demang Brumbung akan menjadi senapati pendamping bagi Ki Wedoro Anom.

Sementara itu, pengawal Tanah Perdikan juga bergerak sesuai wewenang. Itu berarti Ki Gede atau Pandan Wangi akan memimpin para pengawal dalam siasat yang sudah ditetapkan di barak pasukan khusus.

Demikianlah, pada awal hari esok, hasil pembicaraan itu akan disampaikan oleh Ki Sanggabaya pada setiap orang yang disepakatinya bersama Ki Demang Brumbung.

Oleh karenanya, kedatangan Ki Semangkak di kediaman Ki Gede adalah pelaksanaan dari rancangan malam itu. Termasuk pula pesan-pesan Pandan Wangi pada sebagian kepala pengawal Tanah Perdikan, Sukra dan Sayoga adalah pengembangan dari yang telah ada di barak.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 39 – Gelisah di Lorong Barak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 69 – Tongkat dari Kali Tinalah: Serupa Pusaka Macan Kepatihan?

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 91 – Membersihkan Nama Ki Gede Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.