Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 103 – Pandan Wangi Datang Membalikkan Keadaan!

Perguruan di lereng Kendil.

Langkah Ki Wedoro Anom terhenti beberapa tombak dari batas luar permukiman. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat agar barisan berhenti. Derap kaki serentak mereda.

Beberapa prajurit mengalihkan pandangan, mengamati sekitar dengan lebih waspada. Mereka tidak melihat banyak orang di luar, tapi sadar bahwa di bawah ketenangan itu mungkin ada banyak mata panah yang mengawasi dari balik setiap dinding dan celah.

Di belakang, kelompok pengawal tanpa diperintah mulai  sedikit menyebar dengan jarak aman dari barisan utama. Mereka siap melindungi barisan pasukan khusus dari serangan yang datang dari belakang dan samping. Kebiasaan yang tidak dapat ditahan dengan sedikit perbedaan, tentu saja. Perbedaannya adalah sebaran itu tetaplah pembauran antara pengawal dan pasukan khusus, tapi sekarang hanya pengawal saja.

Barisan depan yang diisi prajurit-prajurit lama nyaris serentak menoleh ke belakang dengan cepat.

Bukan karena mereka meragukan para pengawal Menoreh. Selama ini, dalam setiap gerak bersama, tidak pernah ada batas yang tegas antara pengawal dan pasukan khusus. Mereka membaur dalam satu barisan, dan setiap orang yang berada di belakang secara alamiah menjadi perisai bagi yang di depan. Itulah kebiasaan yang telah terbangun lama—tanpa perlu diperintah, tanpa perlu diingatkan.

Namun kini ada jarak yang memisahkan.

Beberapa prajurit yang baru diwisuda sempat tertegun melihat gerakan serentak itu. Bagi mereka, susunan seperti sekarang justru terasa wajar—memang ada perbedaan antara pasukan khusus dan pengawal. Maka mereka tidak segera menangkap alasan para prajurit lama itu menoleh begitu cepat seolah memastikan sesuatu yang tak terlihat.

Namun ketika mereka ikut melirik ke belakang, pandangan  mereka membentur garis setengah lingkaran yang disusun oleh pengawal Menoreh. Itu adalah tameng hidup jika ada serangan mendadak dari belakang, pikir sebagian prajurit baru.

Sesaat sebagian sadar bahwa ada sesuatu yang tidak berlangsung sebagaimana mestinya—sesuatu yang belum pernah mereka kenal, tapi sudah lama hidup dalam kebiasaan para prajurit lama dan pengawal Tanah Perdikan.

Dalam hati prajurit lama timbul rasa semakin kagum dan hormat pada pengawal Menoreh meski mereka menerima perlakuan yang tidak semestinya.

Pada kesempatan itu, Ki Demang Brumbung memandang ke depan dengan wajah menahan kenangan. Ada penumpasan pemberontak dan baru beberapa hari yang lalu dia tertipu. Segera saja dia abaikan itu semua dengan membuang pandangan ke arah timur—arah kedatangan Pandan Wangi dan kelompok pengawal lain.

Dari jalur selatan, Ki Garu Wesi yang sejak awal mengikuti barisan, kini berhenti sambil menyandarkan tubuh pada batang pohon kecil di tepi parit purba. Pandan matanya cukup tajam dan tampak sedang mengamati suasana.

Aba-aba dan sejumlah teriakan menggema hingga keluar permukiman. Bunyi ledakan yang keluar dari ujung cambuk pun turut memenuhi udara lereng Kendil.

Di dalam permukiman itu sendiri, belum ada tanda-tanda pergerakan besar.

Beberapa orang kemudian sadar bahwa ada sekelompok orang sedang mengawasi mereka. Sejenak, mereka berhenti dari pekerjaan lalu memandang barisan bersenjata itu dengan sikap waspada.

Sementara itu, di bagian lain dari permukiman—agak jauh dari halaman belakang—Swandaru tidak berada di tempat itu.

Dia berada di dekat aliran air dangkal yang biasa digunakan untuk berlatih. Tubuhnya masih bergerak dalam latihan yang berat dan terpusat. Kakinya menapak di atas batu-batu licin, menjaga keseimbangan sambil mengolah napas, menjaga tingkat kedalaman tenaga cadangan yang sudah dikuasainya.

Dalam waktu itu, dia tidak mendengar derap langkah barisan. Dia juga tidak melihat panji yang bergoyang di batas permukiman. Dia belum sadar bahwa keberadaan perkumpulan tiga jalur ilmu dan perguruannya sudah diketahui dan terpantau oleh Mataram serta Tanah Perdikan.

Suara lantang Ki Wedoro Anom kemudian mengudara.

“Orang-orang Kendil, atas nama Prabu Pandita Hanykrakusuma, saya perintahkan kalian untuk keluar dan meninggalkan tempat ini.”

Sesaat perintah itu menjadi gema yang memantul lalu hening.

Tidak ada jawaban.

Di bagian dalam permukiman, beberapa orang hanya berhenti sejenak dari pekerjaannya. Seorang lelaki tua menyandarkan cangkul di bahunya, memandang sekilas, lalu kembali mengayunkannya ke tanah seolah tidak ada yang terjadi. Dua orang lain berjalan melintas tanpa menoleh. Bahkan seekor anjing kurus melintas di antara kaki mereka, menggonggong pendek lalu menghilang di balik pagar bambu.

Seakan-akan orang perguruan yang tidak menganggap perintah itu ada.

Alis Ki Wedoro Anom sedikit berkerut. Dadanya mengembang, lalu melangkah setapak ke depan.

“Dengarkan baik-baik!” suaranya kembali meninggi. “Kalian telah diberi kesempatan. Tinggalkan tempat ini sebelum kami mengambil tindakan!”

Beberapa orang yang sedang membenahi pagar permukiman tampak menoleh. Tapi raut wajah mereka memperlihatkan pertanyaan, siapa dan apa mau mereka? Bahkan seorang lelaki muda menatap barisan prajurit dari kejauhan sambil tersenyum miring lalu tertawa pendek.

Disusul satu lagi. Beberapa orang kemudian ikut tertawa.

Ki Wedoro Anom maju lagi selangkah. Berkacak pinggang lalu mengangkat tangannya.

“Peringatan terakhir!” teriaknya. “Atas nama Mataram, kalian diperintahkan untuk keluar sekarang juga!”

Tetapi tawa itu tidak mereda. Bahkan justru bertambah kencang. Seorang lelaki melangkah keluar dari bayangan rumah, mengusap wajahnya seolah menahan geli. Yang lain menepuk bahu kawannya sambil menunjuk ke arah barisan. Tidak ada yang bergerak mendekat, tidak pula mundur. Mereka hanya berdiri di  tempat sambil memandang barisan peronda.

Itu merendahkan.

Di antara mereka, seseorang berkata cukup keras untuk didengar, “Perintah siapa itu?”

Yang lain menyahut dengan nada ringan, “Biarkan saja. Mereka akan lelah sendiri.”

“…tidak perlu didengar.”

Gelak tawa pecah lebih besar.

Ki Wedoro Anom menarik napas dalam-dalam. Sekilas dia  berpaling ke belakang, mencari-cari Ki Demang Brumbung. Tapi Ki Demang Brumbung tampak mematung. Sepertinya dia sedang menunggu bersama puluhan pasang mata yang sedang menunggu perintah terakhir.

Namun aba-aba itu tidak datang.

Ki Wedoro Anom kembali menatap ke depan dengan keris siap di tangan.

“Orang-orang Kendil!” serunya lagi. “Jangan menguji kesabaran kami!”

Tawa itu kini terdengar lebih bebas. Lebih keras. Bahkan ada yang bertepuk tangan pelan seperti menyambut pertunjukan. Dan tidak ada seorang pun yang patuh perintah lalu keluar. Mereka tidak menganggap perintah itu sebagai ancaman.

Hanya suara tawa yang bergaung dan memantul, menampar  wibawa dan menginjak harga diri laskar gabungan Menoreh.

Tawa itu masih bergaung ketika seseorang bergerak dari barisan belakang peronda.

Sayoga melangkah ke depan tanpa menunggu aba-aba. Langkahnya terlihat tenang. Pedang kayunya telah tergenggam. Beberapa pengawal Menoreh berjarak dekat berjalan di belakangnya. Mereka tetap menyebar setengah lingkaran tanpa suara.

Barisan prajurit sedikit bergeser. Beberapa kepala menoleh.

“Sayoga…” desis pelan terdengar dari antara prajurit lama, tapi tidak ada yang mencegah.

Ketika Sayoga berjalan di samping barisan tengah yang tersusun dari prajurit baru, tatap mata terkejut bercampur kagum pun mengikutinya. Siapa sangka?

Kepala regu pengawal itu kemudian berhenti beberapa langkah di depan garis pasukan khusus. Tatapannya lurus menembus batas permukiman.

“Kalian telah diperintahkan,” kata Sayoga percaya diri. “oleh Ki Gede Menoreh untuk pergi.”

Senjatanya, pedang kayu, terangkat lurus tanpa keraguan. Sayoga menerjang maju. Di belakangnya, pengawal Menoreh tidak menunggu perintah kedua. Mereka langsung menyusul, menyusup cepat melewati batas permukiman dengan gerak yang terukur.

Di belakang pengawal Menoreh, prajurit lama yang sudah mengenal baik Sayoga, segera menempel ketat derap kaki orang-orang Tanah Perdikan. Mereka semua berhamburan ke batas permukiman, menghunjamkan serangan tanpa rasa gentar!

Dalam sekejap, barisan peronda pun turut menyerang permukiman. Mengalirkan kekuatan ke depan, mengikuti celah yang dibuka oleh pengawal Menoreh.

Ki Wedoro Anom tetap berdiri di tempatnya.

Tangannya sempat terangkat sedikit—entah untuk menahan atau perintah menyerang— yang pasti perubahan sangat cepat terjadi. Hanya sorot matanya bergerak cepat, membaca arah yang tidak lagi berada dalam kendalinya.

Ki Demang Brumbung melampauinya dengan gerakan seakan terbang. Begitu cepat, menerobos masuk permukiman. Aba-aba dilantangkan, gelar perang pun tersusun dalam jumlah banyak meski dengan sedikit prajurit. Dia tidak menoleh pada Ki Wedoro Anom. Tidak ada penegasan, tidak ada pengambilalihan yang diumumkan.

Namun dari setiap perintah yang keluar, dari setiap langkah yang mulai kembali serempak—jelas bahwa kendali telah berpindah tangan.

“Supit Urang!” suaranya terdengar jelas, memotong kegaduhan yang mulai tumbuh.

Beberapa prajurit segera menyesuaikan langkah. Yang tadinya bergerak tanpa arah akhirnya terhimpun dalam satu perintah.  Perkelahian yang sempat liar perlahan berubah menjadi gelar yang lebih teratur.

Di depan, Sayoga dan pengawal Menoreh serta prajurit lama dari pasukan khusus telah lebih dulu memecah kekuatan perguruan bayangan dari Orang Bercambuk.

Beberapa orang Kendil yang tadi tertawa kini berhenti. Alis mereka terangkat. Tangan yang semula santai mulai bergerak, mencari pegangan pada senjata yang tidak terlihat sebelumnya.

Dan kali ini, orang-orang Kendil tidak dapat tertawa. Wajah-wajah itu berubah pucat. Beberapa di antaranya bahkan mundur setapak tanpa sadar, bukan karena serangan yang sudah terjadi, tapi oleh sesuatu yang datang dari arah yang tidak mereka perhitungkan.

Dari sisi timur—dari jalur yang tidak termasuk dalam perhitungan mereka—terdengar derap kaki menjejak tanah. Cukup banyak dan berisik..

Dinding pembatas permukiman tiba-tiba terbelah. Papan-papan terlepas, beterbangan. Dari baliknya, sesosok tubuh melesat deras.

Bayangan itu tidak berhenti di ambang. Tubuhnya seperti tidak menyentuh tanah—melayang rendah, lalu menghantam tepat ke arah sekelompok orang yang sedang berusaha membentuk barisan. Dua orang terpental ke samping. Satu lagi jatuh terduduk tanpa sempat mengangkat senjata. Yang lain tersibak, bergulingan, bangkit tapi kehilangan jarak dan arah dalam sekejap.

Pandan Wangi telah tiba.

Kakinya menapak ringan di antara serpihan kayu dengan sorot mata yang tajam. Membaca keadaan yang mulai gempar dan morat marit ketika .belasan pengawal Menoreh cepat menyatu dalam pertempuran.

Seorang prajurit dari pasukan khusus yang melihat kedatangan Pandan Wangi dan pengawal Menoreh segera berseru keras, “Supit Urang, Supit Urang!”

Pandan Wangi mengangguk, lalu perintah pun dilantangkan. Pengawal Menoreh bergeser tempat, menutup sisi yang terbuka, menguatkan tekanan yang telah lebih dulu dibuka oleh Sayoga dan laskar gabungan yang kini dipimpin oleh Ki Demang Brumbung. Meski begitu, senapati yang diperbantukan pada pasukan khusus itu melihat bahwa sayap yang dipimpin Pandan Wangi tidak mencukupi dari segi jumlah.

Perintah dengan isyarat tertentu pun diteriakkan olehnya. Sejumlah prajurit lama cepat menjawab denan cara bergeser tempat  ke arah Pandan Wangi.

Beberapa prajurit baru tampak kebingungan. Sebagian malah sudah hampir bergerak ke sayap timur, tapi Ki Demang Brumbung cepat menyusulkan perintah.

“Tahan, Menjangan. Tetap di tempat,” dia berseru.

Para prajurit baru yang hendak bergerak pun kembali pada kedudukan semula, bertahan di sana.

Salah seorang pasukan khusus yang melapis Sayoga berkata, “Kalian tetap di sini sampai ada perintah.”

Nyatalah kemudian setelah sekian waktu lamanya bertarung di belakang Sayoga—prajurit yang baru itu tahu bahwa kemampuan pengawal Menoreh tidak kalah dengan prajurit Mataram. Orang-orang Tanah Perdikan mungkin hanya setingkat di bawah pasukan khusus.

Sementara itu, di pihak lain.

Orang-orang Kendil yang semula mencoba membentuk barisan kini terpaksa bertahan dalam pecahan-pecahan kecil. Gerak mereka menjadi terbatas. Mereka bukan orang-orang yang terbiasa berkelahi dalam kelompok. Setiap yang terpisah segera dilumat oleh laskar gabungan Mataram. Sejengkal demi sejengkal, selangkah demi selangkah, garis pertahanan perguruan bayangan itu terdesak munduk.

Seorang di antara mereka berusaha memberi isyarat—mengumpulkan kembali kawan-kawannya—namun gerak tangannya terhenti di tengah udara ketika sebuah bayangan melintas cepat di hadapannya.

“Pertahankan barisan! Tahan kedudukan!” seru orang itu memberi perintah.

Sekejap kemudian semacam cahaya putih tampak bergulung-gulung dahsyat. Ternyata dia adalah Ki Kamejing yang secara tiba-tiba langsung menyerang Pandan Wangi dengan serangan yang sangat deras dan berbahaya.

Sorak sorai pun terdengar dari setiap mulut orang-orang yang juga bekas anak buah Raden Atmandaru itu. Semangat mereka  kembali terisi, kekuatan terhimpun, maka perlawanan keras pun dilancarkan.

Ki Kamejing sadar bahwa tekanan laskar gabungan itu sangat berat dan mungkin kelompoknya akan musnah dalam waktu singkat. Dengan sebab itulah, dia tiba-tiba melepas ikatan perkelahiannya melawan Pandan Wangi. Tubuhnya melayang jauh, mendobrak barisan pengawal dari samping.

Tapi yang dihadapinya adalah sekumpulan orang yang berpengalaman menerima tekanan dari  jawara pilih tanding. Ikatan pengawal Menoreh tidak serta merta terputus. Justru mereka makin rapat dan bertarung semakin garang.

“Gila kalian ini!” umpat Ki Kamejing.

Ketika dia akan menambah tekanan, Pandan Wangi datang menyapu lambungnya dari samping.

“Licik!” Ki Kamejing berseru.

“Diam, akulah lawanmu,” tantang Pandan Wangi.

Namun begitu, Ki Kamejing masih tampak berusaha keras mempertahankan barisan kelompoknya. Dia berloncatan ringan di sela-sela perkelahian dan senjata yang berayun-ayun sangat deras. Hanya saja, lawan yang dihadapinya adalah singa betina Tanah Perdikan. Yah, tentu Pandan Wangi tidak akan membiarkan pengawal Menoreh lenyap dimangsa hewan buas tanpa pertaruhan.

Ketika satu pengawal atau prajurit terpental oleh kekuatan Ki Kamejing, Pandan Wangi melakukan hal yang sebanding. Maka Ki Kamejing pun menjadi geram. Usahanya seolah tidak mengubah keadaan karena Pandan Wangi pun tanpa ragu menebas lawan yang berada di dekatnya.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 64 – Keberanian Ki Hariman Menampakkan Diri di Depan Swandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 76 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 45 – Pelayan itu, Siapa Dia?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.