Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 106 – Pandan Wangi vs Ki Kamejing: Siapa yang Lebih Unggul?

Di mana Ki Astaman?

Yah, orang ini tidak melontarkan diri pada pergumulan hebat di halaman. Setelah berpisah dari Ki Garjita, Ki Astaman mengambil jalan memutar, mengarahkan perhatiannya pada tempat latih dua orang yang dijadikannya sebagai peletak dasar perguruan—Swandaru dan Ki Hariman. Dalam pikirannya, dia sudah mempunyai gambaran bahwa jika ada benturan keras maka Swandaru akan mengambil kitab gurunya dari Ki Hariman secara paksa. Atau sebaliknya, Ki Hariman akan memanfaatkan keadaan untuk menyudutkan Swandaru sebelum benar-benar menghabisinya.

Ki Astaman sadar bahwa kemampuan Ki Hariman tidak terbatas pada ilmu yang disadapnya dari kitab Kyai Gringsing. Maka kemungkinan keras dapat terjadi dengan sebab dari Ki Hariman sendiri. Tentu saja, siapa yang mau berbagi ilmu kanuragan tingkat tinggi?

Sesaat dia berhenti ketika teringat Ki Ajar Poh Kecik. Di mana orang itu sekarang? Maka langkah Ki Astaman segera berbalik, menuju sayap timur dengan pertanyaan baru: siapa yang memimpin pertempuran di sana? Ki Kamejing atau Ki Ajar?

Sewaktu langkah kakinya melintas di atas jalan setapak, sudut matanya dapat menangkap kelebat cepat yang saling memotong dan menekan.

Dia berhenti sejenak.

Seru, Dia pasti menghadapi lawan yang tangguh pikirnya dengan sedikit dugaan bahwa itu adalah pertarungan yang melibatkan Ki Garjita.

Ki Astaman kemudian berjalan dengan langkah lebar menuju sayap timur permukiman. Dan benarlah kemudian salah satu dugaannya: Ki Kamejing bertarung habis-habisan melawan perempuan yang tak kalah tangguh. Ki Astaman dapat memastikan bahwa wanita itu adalah Pandan Wangi.

“Baiklah, semua orang sudah sibuk dengan nyawa masing-masing,” ucapnya dalam hati.

Dia berbalik, langkahnya tertuju pada bagian permukiman yang terpisah, bilik Ki Hariman. Ketika tiba di depan bilik itu, Ki Astaman berhenti sejenak. Memastikan tidak ada orang yang mengikuti atau melihatnya.

Ketegangan sedikit terasa di sekitar bilik Ki Hariman.

Ki Astaman membuka pintu, melangkah masuk tapi tidak lama. Sebelum keluar, dia membenahi pakaian terlebih dulu seperti sedang menempatkan benda penting di balik kain.

Beberapa saat kemudian, Ki Astaman keluar kembali. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan berarti. Tidak ada kegelisahan, tidak pula kepuasan. Hanya sedikit ketegangan yang sama seperti ketika datang. Sikapnya hampir seperti seseorang yang hanya memastikan sesuatu benar-benar aman di tangannya.

Tanpa menoleh lagi, dia segera menjauh, menyusuri sisi barat permukiman. Geraknya menjadi semakin hati-hati. Ki Astaman memotong jalan melalui semak-semak, rumput liar dan sela-sela pohon yang mulai meranggas. Dari sana, arah yang ditujunya semakin jelas—perbukitan di sebelah barat, menuju Gunung Kunir.

Gerak kaki Ki Ajar Poh Kecik mendadak terhenti. Dia melihat orang sosok yang bergerak tenang  menjauh dari bilik Ki Hariman. Alisnya berkerut saat secara pasti mengenali orang itu adalah Ki Astaman.

“Ki Hariman jelas tidak ada di dalam biliknya, lalu apa yang dilakukan orang itu?” dia bertanya sendiri dengan kening berkerut.

Pikirannya hanya sibuk sesaat tapi kecurigaan mulai tumbuh dalam hatinya. Sebenarnya dia hendak mengejar tapi dia teringat dengan janjinya pada Ki Kamejing.

Dari sayap timur, suara benturan belum mereda tapi itu bukan kepastian ada yang sudah terdesak. Ki Ajar pun bergerak ke sana lalu melihat kelompoknya terdesak. Garis pertahanan mereka goyah, dan beberapa orang sudah mulai tercerai-berai.

“Tak lama lagi mereka akan tumbang satu per satu,” desisnya.

Sejenak dia meraba kemungkinan lain: Ki Astaman sudah pasti semakin jauh dan tak mungkin kembali ke permukiman lereng  Kendil. Jika dia memutar, maka pastilah akan tampak perubahan di medan tempur.

Lalu dengan satu lompatan panjang, dia meluncur ke sayap timur, menyatu kembali dengan kelompoknya yang sedang berada di bawah tekanan.

Seperti dugaan Ki Ajar Poh Kecik, pada saat itu, Ki Astaman telah lenyap di balik lereng-lereng kecil yang mengarah ke barat, meninggalkan permukiman yang masih bergolak, menuju jalur  sunyi yang akan membawanya ke Gunung Kunir.

Dapatkan gratis 5 buku pdf Kitab Kyai Gringsing untuk pembelian novel Penaklukan Panarukan senilai 75 ribu. Pembayaran ke BCA 822 0522 297 Roni Dwi Risdianto. Segera kami kirimkan melalui WA 081357609831 setelah konfirmasi transfer dilakukan. Mohon sertakan pula alamat email Ki Sanak yang masih aktif supaya kami dapat kirimkan link menuju bangsal pustaka yang didalamnya sudah berisi seluruh naskah yang kami sebutkan di atas.

Rahayu – Matur nuwun

Beberapa waktu sebelum Ki Ajar tiba di sayap timur, pertarungan Pandan Wangi benar-benar berlangsung menegangkan. Senjata Ki Kamejing ternyata bukan logam yang kaku tapi mempunyai kelenturan yang tidak bisa. Pedang itu mampu membuat belitan seperti juntai cambuk yang berukuran pendek. Tapi Pandan Wangi telah bersiap dari segala segi, termasuk jiwani, Maka kejutan itu pun tidak berjalan lama.

Ketika tubuhnya bergerak surut, Pandan Wangi mengubah tata gerak dasarnya. Kurang dari sekejap mata, dia meloncat sambil memutar sepasang pedang kembar miliknya yang telah terisi tenaga cadangan.

Bila sebelumnya Pandan Wangi masih menjajagi kemampuan lawan meski sudah menggunakan tenaga cadangan, tapi sekarang pertarungan meningkat setapak lebih tinggi. Angin yang  terhempas oleh gerakannya sudah bukan sekedar ayunan udara kosong tapi seperti bilah dari belati yang tajam. Meski hanya udara yang bergerak sangat cepat tapi kekuatannya sanggup merobek kulit pohon dari jarak satu setengah langkah.

Ki Kamejing yang sudah cukup berhati-hati sejak awal juga terkejut ketika sambaran angin pedang Pandan Wangi ternyata mampu menjangkaunya. Satu sabetan sanggup menggurat panjang meski tak sampai menjadikan lengannya berdarah, tapi itu cukup membuat lebih waspada.

Dengan gerakan lincah, Ki Kamejing segera melancarkan tipu daya. Pedangnya tampak mengarah ke bawah, seolah hendak menghantam tanah. Namun gerakan itu ternyata siasat yang matang: ketika bilahnya benar-benar menghantam permukaan, dia memanfaatkan pantulan tersebut untuk menambah daya dorong,  lalu meningkatkan tekanan serangan dalam satu ayunan yang lebih kuat karena lambaran tenaga cadangan.

Pandan Wangi nyaris terjebak!

Semula dia menganggap pukulan musuhnya ke bawah itu menjadi celah untuk menyerang darinya. Tapi rupanya Ki Kamejing adalah petarung yang lihai. Sehingga kurang dari seperempat jarak kejapan mata, pedangnya telah kembali ke atas, terayun sangat kuat dengan suara mendesing tajam!

Pandan Wangi masih mampu mengelak. Tumitnya cepat menghantam tanah, lalu menggulingkan tubuh ke samping. Sejenak dia berdiri, lalu sudah menyerang lagi dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Ki Kamejing kini tak lagi berusaha menerobos garis serang Pandan Wangi.

Dan ternyata Pandan Wangi pun lebih berhati-hati ketika mulai mengurangi usahanya menyusup di antara sela gerak pedang lawannya itu.

Sehingga masing-masing dari mereka mulai menjaga jarak. Namun demikian, tubuh mereka masih tampak seperti bayangan yang berkelebat saat senja—samar untuk dapat dilihat tapi ada dan masih berbahaya didekati.

Demikianlah, dua kemampuan tinggi yang terungkap, baik Pandan Wangi dan Ki Kamejing mengayun senjata semakin kuat dan cepat sehingga pertarungan mereka semakin lama semakin dahsyat. Yang berterbangan dan berhamburan bukan lagi debu dan daun kering tapi juga bebatuan atau gumpalan tanah yang terangkat oleh ujung pedang, oleh tumit yang menjejak. Bahkan  jika dilihat dari kejauhan, lingkar perkelahian itu sudah seperti dua pusaran angin yang saling bertumbukan dengan tenaga raksasa.

Ki Ajar Poh Kecik berhenti di tepi sayap timur. Pandangannya mengedari semua bagian yang terjangkau tapi tidak ada perubahan yang mencolok. Artinya adalah Ki Astaman meninggalkan pertempuran. Dia mengangguk lalu melihat ke lingkungan parit purba. Itu Ki Garjita dan dia belum selesai, pikirnya.

Perguruan bayangan bukan dibangun olehnya, bukan pula dari gagasannya. “Maka mengeluarkan seluruh orang-orang yang bukan kelompok perguruan, itu adalah pertimbangan yang wajar,” katanya dalam hati.

Ki Ajar menarik napas pendek. “Bukan urusanku,” katanya lirih.

Sejenak dia melihat kemungkinan—benturan di depan semakin keras dan sayap timur makin terdesak. Kelompoknya mulai kehilangan bentuk. Setiap orang masih bertarung dengan caranya sendiri tapi keadaan sudah menjadi parah.

“Mundur!” Ki Ajar Poh Kecik meneriakkan perintah. Dia melompat masuk ke arena—menghalau pengawal dan pasukan khusus yang terus menekan dengan kekuatan penuh.

Sepasang lengan Ki Ajar terus bergerak—memukul, menampar dan juga sebagai tanda bagi orang-orangnya agar segera keluar dari permukiman. Kedatangan Ki Ajar membuat laju laskar gabungan melambat tapi belum berhenti.

Mengetahui perubahan mendadak itu, meski masih terlibat pergumulan sangat hebat melawan Ki Kamejing, Pandan Wangi melantangkan perintah. Gelar berubah. Perlambatan bergeser menjadi pengepungan.

“Luar biasa,” desis Ki Ajar Poh Kecik lalu dia meningkatkan serangan. Meski bertangan kosong tapi dia adalah orang yang juga sudah berada di puncak kanuragan. Putaran lengan dan tata gerak Ki Ajar hebatnya bukan main! Setiap kakinya bergeser, setiap kali itu pula kepungan laskar gabung menjadi longgar.

Di bagian tengah agak ke barat, keadaan sedikit berbeda.

Banyak orang bertanya dan berteriak sepanjang pertempuran. Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat.

“Kenapa tidak ada perintah?”

“Tahan di mana?”

“Kita dibiarkan begini saja?”

“Ki Swandaru di mana?”

“Aku tidak melihat Ki Astaman!”

“Jangan terpencar!”

Ki Wiraditan tidak dapat menjawab. Dia pun tak kalah gugup dan bingung atas keadaan yang berkembang. Kebanggaan yang sempat menguasai hatinya tiba-tiba musnah. Rasanya belum lama dia melabrak Perguruan Jati Anom tapi sekarang keadaan berbalik. Bahkan menyedihkan ketika orang yang diharapkan dan dibanggakan, Swandaru, justru tidak hadir dalam pertempuran. Demikian pula Ki Hariman yang tidak muncul sejak sore sehari sebelumnya. Padahal pada dua orang itulah Ki Wiraditan serta kawan-kawannya menaruh harapan besar.

Suara-suara itu terus bersahutan tanpa arah. Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang memberi aba-aba.

Ketika nama Swandaru disebut-sebut oleh kawanan Ki Wiraditan, beberapa pengawal merasa heran tapi mereka tidak sempat bertanya. Begitu pun yang berasal dari pasukan khusus, mereka tak kalah terkejutnya.

Swandaru ada di belakang perguruan atau gerombolan ini? Sejak kapan? Sebagai apa? Tapi jika namanya disebut saat benturan, apakah itu berarti Swandaru menjadi salah seorang pemuka? Pertanyaan masih tersimpan dalam pikiran masing-masing. Jawaban pasti muncul kemudian.

Pada waktu itu, ketika matahari agak menghangatkan lereng Kendil, laskar gabungan yang Sayoga berada di dalamnya berhasil menguasai keadaan. Beberapa lawan terluka. Empat atau lima orang berhasil diringkus. Sementara di antara mereka yang dipandang sebagai tetua, Ki Wiraditan, sedang terikat perkelahian dengan Sayoga.

Maka aba-aba Pandan Wangi pun terdengar oleh Ki Demang Brumbung yang melapisi kelompok Sayoga.. Setelah menilai sejenak bagian yang ditempati Sayoga, maka dia pun membawa beberapa orang untuk mendekati sayap timur.

Pada pertempuran kali ini, Ki Kamejing melihat satu kenyataan yang bertentangan. Dia mendapati lawannya adalah perempuan jelita meski tak dapat disebut muda tapi memiliki simpanan ilmu yang luar biasa. Dalam hatinya, dia merasa sayang jika membuat Pandan Wangi terluka. Tapi jika dia mengendurkan tekanan, pedang Pandan Wangi pasti menebas urat lehernya.

Mau tidak mau, Ki Kamejing harus kembali pada kenyataan bahwa Pandan Wangi bukan wanita yang mudah menerima belas kasihan atau patut dimanja dalam pertempuran hidup mati. Keterpaksaan lain adalah dia tidak dapat bergerak sekehendak hati karena Ki Demang Brumbung mulai memperlihatkan tanda-tanda akan mendekat.

“Mundur, jangan bertahan!” perintah Ki Ajar Poh Kecik yang terdengar dari arah belakang. “Lemparkan senjata kalian!”

Untuk sesaat, dua kelompok itu kebingungan tapi ketika melihat isyarat Ki Kamejing agar mereka mematuhi Ki Ajar, maka pergerakan pun akhirnya terarah. Melepas ikatan perkelahian dengan cara yang tidak biasa, lalu mundur selangkah demi selangkah kemudian berbaris memanjang di samping bangunan terbuka.

“Nyi Sanak,” seru Ki Ajar. “Mohon untuk melepaskan anak-anak kami dari tekanan. Kami bersedia mundur.”

“Lalu kalian menipu kami kedua kali,” sahut tegas Pandan Wangi sambil membacokkan pedang ke arah Ki Kamejing.

Ki Demang Brumbung tampak berlompatan panjang menuju sayap timur. “Nyi, orang itu jangan dilepaskan,” dia berseru. 

“Dialah yang menemui saya pada perondaan kedua,” lanjut Ki Demang Brumbung ketika sudah berada di samping Pandan Wangi.

“Begitukah?” Pandan Wangi melompat surut.

Ki Kamejing tidak menyia-nyiakan sela yang terbuka. Tubuhnya melenting ringan ke belakang, menjauh dari pusat perkelahian. Jarak di antara mereka cepat terbentang beberapa langkah.

“Aku tidak berniat memperpanjang benturan ini,” katanya dengan napas terjaga. “Di tempat ini, aku datang sebagai tamu. Bukan sebagai orang yang sudah berniat untuk bergabung.”

Sejenak kemudian dia melihat pada Ki Demang Brumbung yang baru saja mendarat di sisi Pandan Wangi. Setelah emngamati tanda pangkat Ki Demang Brumbung, dia berkata lagi, “Anda, Ki  Rangga, menegur kami denagn cara yang pantas. Tapi, saat itu dan sekarang, kami adalah tamu dan kedudukan itu belum berubah.”

“Tamu?” suara Ki Demang Brumbung terdengar tegas tapi bukan bentakan. “tamu yang justru memakasa kami dengan kata-kata agar menggunakan kekerasan. Tapi, bagaimana kami tahu kalian tidak berbohong?”

Ki Kamejing mengalihkan pandangannya pada orang-orangnya yang mulai mundur teratur di bawah aba-aba Ki Ajar. Dia harus meredam rasa geram dan kemarahan pada banyak orang-orang perguruan bayangan. Betapa tidak, terutama pada Swandaru yang sesumbar bahwa keberadaan mereka tidak akan diusik oleh Menoreh dan Mataram. Nyatanya? Hari ini?

Sesaat Ki Kamejing menatap permukaan tanah, memperhatikan bekas-bekas pertarungannya. Lalu perhatiannya kembali pada dua orang di hadapannya. Dia berkata, “Kami terpaksa berbohong karena tuan rumah tidak bersedia menemui Anda. Sejujurnya, yang terjadi di sini bukan urusan kami sepenuhnya.”

“Ki Sanak menyebut tuan rumah dan tamu,” ucap Ki Demang Brumbung lalu maju selangkah. “Siapakah yang menjadi tuan rumah? Menurut ukuran saya, tuan rumah wilayah ini adalah Ki Gede Menoreh. Kami datang mewakili tuan rumah untuk mengusir Ki Sanak dan orang-orang itu.”

Dada Ki Kamejing tampak terangkat, mengedarkan pandangan sekali lagi lalu berkata, “Tuan rumah kami adalah Ki Astaman dan Ki Garjita. Lagipula, kami bahkan belum sempat bicara banyak dengan ketua dari orang-orang yang berkumpul di sini.”

Pedang Pandan Wangi sudah masuk ke dalam wrangkanya. Saat itu dia menatap tajam setiap wajah yang menghadap padanya.

“Ketua dari perkumpulan ini, siapakah dia?” tanya Ki Demang Brumbung.

Jika sebelumnya dia merasa pantang untuk menyebut nama puncak—seperti kebiasaan perguruannya sendiri, maka demi keselamatan kawan-kawan dari Ki Jambuwok dan usaha mencari tongkat perguruan, Ki Kamejing menjawab tegas, “Ki Swandaru yang kami ketahui sebagai murid langsung Kyai gringsing. Seorang lagi adalah Ki Hariman. Ketua perkumpulan ini hanya seorang, tapi Ki Hariman mendapatkan kitab Kyai Gringsing secara langsung dari guru Ki Swandaru itu.”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 33 – Gaung Keras dari Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 71 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.