Laskar gabungan yang dipimpin Pandan Wangi di sayap timur mulai berhasil mendesak mundur orang-orang perguruan bayangan. Pasukan ini bertarung dengan cara yang telah menjadi napas mereka; berkelompok dan berpindah kedudukan dengan luwes mengikuti perubahan gelar perang.
Sebaliknya, kubu lawan—yang merupakan gabungan pengikut Ki Ajar Poh Kecik dan Ki Kamejing—tampak kesulitan mengimbangi. Mungkin karena berasal dari dua jalur ilmu yang berusia tua dengan dasar kemampuan tempur yang tidak kalah dari lawan, maka orang-orang dari kelompok ini lebih cenderung bertarung terpisah. Mereka tidak larut dalam satu kesatuan sehingga memudahkan laskar gabungan Mataram untuk mematahkan perlawanan.
Kekacauan juga mendera orang-orang yang bergabung karena ajakan Ki Garjita dan Ki Astaman itu. Kelompok yang dipimpin oleh Ki Wiraditan banyak mengalami kesulitan menghadapi sepak terjang laskar gabungan yang dikendalikan oleh Ki Demang Brumbung. Meski laskar gabungan itu berkurang tiga orang karena menghadang orang-orang yang memburu Ki Wedoro Anom, tapi kekuatan mereka belum berkurang.
Namun keadaan yang tidak seimbang itu hanya berlangsung singkat meski dirasakan cukup lama oleh orang-orang perguruan bayangan.
Dari belakang mereka, bunyi ledakan beruntung terdengar menghantam garis serang yang dipandegani Sayoga di bagian depan.
Ki Garjita tiba-tiba menerjang barisan depan laskar gabungan dengan kekuatan yang cukup hebat. Tapi Sayoga cepat menghadangnya dengan ilmu Serat Waja. Meski awal mulanya barisan itu keteteran, tapi Sayoga cekatan berusaha mengikat Ki Garjita dalam perang tanding—perkelahian satu lawan satu.
“Apakah kau sudah bosan hidup, anak muda?” tanya Ki Garjita dengan seringai tipis pada wajahnya.
Sayoga menggeleng, jawabnya, “Aku sudah lupa rasanya menjadi orang yang hidup.”
“Sombong,” seru Ki Garjita lalu melompat, menerjang dengan sepenuh tenaga.
Sayoga mengelak, berlompatan ke kiri dan kanan sambil berupaya melancarkan serangan balik dengan pedang kayunya. Dikerahkannya segenap kemampuan yang bersumber pada ilmu yang diajarkan ayahnya, Serat Waja, dan telah diperdalam oleh Kyai Bagaswara di Sangkal Putung. Maka serangan demi serangan pun menjadi semakin berbahaya dan mematikan.
Ki Garjita terbelalak kagum dengan kemampuan anak muda yan gmenjadi lawannya itu, tapi dia adalah petarung yang berpengalaman luas. Dua ujung selendangnya pun tiba-tiba menjadi ular berkepala dua yang dapat mematuk dari segala arah.
Sayoga bertarung dengan cara yang berani dengan keputusan-keputusan yang cerdas. Dia tak segan menjauh supaya selendang musuhnya terulur lebih jauh lalu mendadak menyerang balik. Kadang dia merangsek lebih dekat, menantang Ki Garjita berkelahi pada jarak kurang dari tiga langkah atau seukuran dengan pedangnya jika seluruh lengan terjulur penuh.
Pertarungan yang sengit itu mampu memaksa orang-orang di sekeliling mereka untuk menjauh. Gelanggang pun meluas dengan sendirinya seolah sedang membuka diri agar dua petarung itu dapat bergerak leluasa di ruang yang lebih lapang.
Sadar dengan bahaya yang dapat disebabkan ujung selendang lawan yang salah sasaran atau sengaja memukul kawannya, Sayoga bergeser. Di antara perkelahiannya itu, Sayoga memperhitungkan jika pertarungan dapat dipindahkan ke sekitar parit purba, maka pengawal dan pasukan khusus dapat diamankan dari lecutan liar Ki Garjita. Selanjutnya, dia mulai menarik Ki Garjita selangkah demi selangkah ke bagian depan permukiman.
Ki Garjita memburu Sayoga dengan rasa geram yang tidak main-main. Dia sadar bahwa dengan mengikuti Sayoga maka dirinya akan menjauh dari kelompok Ki Wiraditan. Tapi jika dia bertahan di tempat itu sambil membiarkan Sayoga lepas, tentu saja orang-orang akan menganggapnya penakut karena lawannya masih begitu muda. Tak hanya itu, dalam pertimbangannya, Ki Wiraditan dapat menahan Ki Demang Brumbung hingga Ki Astaman datang dari penjuru yang lain.
Demikianlah kemudian dia menekan Sayoga dengan meningkatkan tenaga cadangan pada setiap serangan. Ledakan selendangnya pun berubah menjadi dentuman yang nyaris sama dengan Swandaru atau Agung Sedayu. Tidak lagi meledak tapi mampu menjatuhkan lutut yang mulai goyah
Sayoga pun tampak gigih dalam perlawanannya. Pedang kayunya berputar hebat, menimbulkan gaung yang terdengar seperti dengung ratusan ekor lebah, mengimbangi setiap dentum ledakan Ki Garjita.

Dapatkan gratis 5 buku pdf Kitab Kyai Gringsing untuk pembelian novel Penaklukan Panarukan senilai 75 ribu. Pembayaran ke BCA 822 0522 297 Roni Dwi Risdianto. Segera kami kirimkan melalui WA setelah konfirmasi transfer dilakukan. Mohon sertakan pula alamat email Ki Sanak yang masih aktif supaya kami dapat kirimkan link menuju bangsal pustaka yang didalamnya sudah berisi seluruh naskah yang kami sebutkan di atas.
Rahayu – Matur nuwun
Dari tempatnya, Ki Garu Wesi mengamati pertempuran sejak awal. Kedatangan Pandan Wangi dan kiprah hebat Sayoga mengawali pertempuran.
Namun saat melihat Ki Kamejing, dia mengerutkan kening seperti pernah melihat wajah yang sama tapi tata geraknya cukup berbeda. Adakah dia adalah orang yang sama atau adakah penjelasan lain? Ki Garu Wesi sedikit ragu dengan ingatannya.
Wajahnya pun mendadak terkejut saat terlihat dengan jelas Ki Garjita yang bertarung sengit meladeni Sayoga di sekitar regol permukiman. Ki Garu Wesi ingat bahwa orang itu mendapatkan tugas khusus dari Raden Atmandaru untuk menjatuhkan Sangkal Putung dengan cara membunuh Sekar Mirah. Dia tahu Ki Garjita adalah pemimpin regu pembunuh yang berkeahlian khusus. Tapi, mengapa dia kembali berada di lereng Kendil?
Dalam beberapa lompatan panjang, Ki Garu Wesi mendadak berada di belakang Sayoga.
“Menepilah, anak muda,’ ucap tegas Ki Garu Wesi. “Dia bukan lawan yang sebanding denganmu.”
Sayoga tidak begitu mengenal suara itu tapi dia melompat surut cukup jauh lalu berpaling ke arah suara. Ki Garu Wesi, batin Sayoga.
Ki Garu Wesi maju selangkah demi selangkah, perlahan sambil memberi tanda agar Sayoga menjauh.
Katanya, “Kembalilah ke barisanmu. Di sana kehadiranmu lebih dibutuhkan oleh teman-temanmu.”
Sayoga menatap bergantian dua wajah yang kini saling berhdapan dengan wajah tegang. “Aku tidak pernah meninggalkan lawan tanpa alasan,” sahut Sayoga.
“Satu-satunya alasanmu adalah selamatkan pengawal Menoreh yang datang bersamamu. Kalian pergi bersama, maka pulanglah bersama-sama pula,” kata Ki Garu Wesi dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Ki Garjita masih lurus memandang Ki Garu Wesi yang tiba-tiba berdiri tegak di depannya. Dia seolah tidak peduli dengan Sayoga yang hanya sejangkuan saja dari uluran selendangnya.
“Pergilah, jaga teman-temanmu,” lanjut Ki Garu Wesi menyadari Sayoga belum beranjak setapak pun. “Orang ini akan menjadi urusanku sampai akhir.”
“Aku tidak mengerti,” sahut Sayoga sambil menggelengkan kepala. Namun demikian, dia pun menghamburkan diri ke dalam permukiman, menyatukan kemampuan dalam gelar perang di bawah perintah Ki Demang Brumbung.
“Salah seorang kawanku di masa lalu, yang telah mati karena keyakinan, pernah berkata padaku bahwa dia ingin mengguncang Sangkal Putung sebagai jalan untuk merebutnya secara penuh dari Mataram,” kata Ki Garu Wesi dengan dada tegak dan sorot mata berwibawa. “Tapi orang yang diperintahkannya itu masih hidup dan sedang berjuang demi hal yang mungkin berbeda.”
“Siapakah yang kau katakan itu?” tanya Ki Garjita tajam.
“Tentu saja dirimu, Kyai,” sahut cepat Ki Garu Wesi. “Siapa lagi? Aku tahu dan mendengar sendiri Raden Atmandaru memberimu tugas untuk membunuh Sekar Mirah dengan imbalan dua bukit di selatan Sangkal Putung. Tapi sejak pertempuran Watu Sumping, kau tidak pernah menampakkan diri hingga kematiannya.”
“Hmm,” gumam Ki Garjita sambil sedikit mendengus. “Lalu?”
“Apakah Sekar Mirah berhasil kau bunuh?”
“Apakah Raden Atmandaru menanyakan itu padamu?”
Ki Garu Wesi tetap tenang meski Ki Garjita tampaknya sedang berusaha menghindar.
“Aku hanya bertanya, sejauh mana engkau berusaha menjalankan perintahnya? Terlepas berhasil atau tidak, tapi keberadaanmu di lereng ini sudah menjadi tanda kegagalanmu.”
“Tidak ada yang berhak menilai pekerjaanku, termasuk Kyai yang sudah jelas mengkhianati kepercayaan Raden Atmandaru,” tukas Ki Garjita. “Seandainya Sekar Mirah mati, itu tidak akan mempengaruhi hasil pertempuran Watu Sumping. Kita sudah kalah waktu itu. Untuk apa tugas tetap dijalankan? Seandainya perempuan itu hidup, aku juga tidak akan menderita. Justru karena menjalankan perintah, aku kehilangan banyak orang yang setia.”
“Kata-kata seorang pengecut tidak pantas untuk didengarkan,” sahut Ki Garu Wesi.
“Pengecut? Lihatlah diri Kyai sekarang,” kata Ki Garjita, “berdiri di seberang, makan dan tidur dengan segala pemberian Mataram. Apakah itu bukan pengecut? Mencari selamat dengan membaikkan diri di depan Agung Sedayu?”
“Aku tidak akan membela diri di depanmu karena tidak ada nilai dan harganya,” jawab Ki Garu Wesi. “Setidaknya aku tidak pernah meninggalkan perintah dan kepercayaan seseorang.”
Pekik sorak terdengar dari bagian depan, dari tempat Sayoga bertempur bersama pengawal dan pasukan khusus. Mereka perlahan kembali memukul mundur orang-orang perguruan bayangan.
Ki Garjita menarik napas panjang yang nyaris tak terdengar. Tatapannya tetap lurus dengan pikirannya yang berputar cepat. Orang yang berbahaya. Jika Ki Garu Wesi benar-benar telah berdiri di sisi Mataram, maka kelak dia akan menjadi ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar seorang lawan di medan tempur. Bukan hanya karena kedalaman kanuragannya, tetapi juga karena kecakapannya membaca gelar perang dan menggerakkan orang-orang di dalamnya.
Ucapan Ki Garu Wesi juga menyentuh bagian yang ingin disembunyikannya. Tugasnya yang belum selesai yang diucapkan di hadapan orang lain adalah aib besar. Jika kabar itu menyebar di kalangan orang-orang persilatan, maka nama dan wibawanya akan runtuh tanpa perlu ditebas senjata.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Satu-satunya jalan adalah membungkamnya di sini.
Ki Garjita tiba-tiba menyerang Ki Garu Wesi dengan putaran selendang yang menyambar dahsyat.
Satu lompatan ke samping dengan tubuh sedikit merendah, Ki Garu Wesi menghindari serangan, lalu dengan kecepatan tidak terkira tiba-tiba kerisnya terjulur lurus ke arah lambung Ki Garjita.
Ki Garjita cukup tenang seakan-akan sudah menduga bahwa Ki Garu Wesi akan cepat menyerang balik. Perkiraannya benar, dia cepat menghindar—menjatuhkan diri, berguling sambil menyentak selendang yang kemudian meledak di atas kepala musuhnya itu.
Perkelahian semakin sulit dimengerti ketika dua orang itu sama-sama menggandakan kecepatan. Gerakan mereka semakin lama semakin tampak seperti bayangan yang berkelebatan tanpa keteraturan walau sebenarnya tidak begitu.
Keris Ki Garu Wesi berayun-ayun dengan kekuatan penuh, memutar seperti gasing sehingga tampak seperti gulungan sinar berwarna gelap yang rapat membungkus tubuhnya. Sedangkan Ki Garjita, dengan selendangnya, adalah tokoh yang sudah berada di puncak ilmu sehingga selendangnya kadang menjadi benda lentur, tapi juga dapat berubah kaku dan keras seperti baja.
Setiap serangan yang luput mengenai sasaran akan mendapatkan balasan yang setimpal meski pada akhirnya sama-sama meleset. Yah, itu adalah perkelahian yang seimbang dari banyak segi. Kecepatan, kekuatan dari tenaga cadangan dan pengalaman mereka akhirnya merobohkan sebagian dinding kayu yang membatasi wilayah permukiman di bagian selatan. Tidak hanya itu, hantaman yang meleset pun sanggup melubangi tanah hingga lebih dalam dari mata kaki. Jelas sudah ketika Ki Garu Wesi meminta Sayoga menepi adalah keputusan yang benar. Jika Sayoga ngeyel dan bertahan, maka…
Lingkar perkelahian mereka pun bergeser sedikit demi sedikit hingga mencapai jalur selatan yang penuh dengan lubang-lubang yang memanjang.
Senjata Ki Garjita benar-benar luar biasa. Menyulitkan Ki Garu Wesi untuk mengembangkan tata gerak. Saat mereka berjarak, selendang terulur panjang. Ketika Ki Garu Wesi menipiskan jarak, selendang tiba-tiba menjadi kaku ibarat golok tipis tapi mampu menembus batang raksasa pohon ketapang. Walau begitu, pergerakan mantan penasihat Raden Atmandaru pun tak kalah luwes. Dia mampu meliuk-liuk di antara belitan selendang yang kadang lentur memanjang, kadang juga seperti bila belati yang siap menikam jantungnya.
Demikianlah pertarungan itu semakin membenamkan mereka pada kedalaman yang sulit dinalar. Kecepatan gerak mereka mampu menggerakkan udara. Itu terlihat dari debu dan daun kering yang terangkat, berputar seperti gasing lalu meledak.
