Padepokan Witasem
Bab 3 Bergabung

Bergabung 10

Sejumlah peserta, satu, dua atau lebih dari itu, tampak kesulitan untuk melakukan perburuan kelinci atau binatang yang dapat menjadi obat penawar. Namun mereka tetap berjalan meski dilanda lapar dan haus, dan akhirnya beberapa orang dapat mencapai barak pasukan sebelum matahari berada di puncak langit.

Setelah orang-orang yang berkumpul telah memenuhi harapan para penguji, termasuk yang tidak dapat melanjutkan perjalanan karena mendapat luka yang cukup parah, Ki Lembu Pitungan mengumumkan masa istirahat dan nama-nama peserta yang dapat melanjutkan tahap selanjutnya.

“Sebelum matahari terbit esok hari, kalian harus berada di tempat ini. Pada saat itu, kalian harus dapat menggunakan senjata yang akan disiapkan oleh petugas ujian. Setiap calon prajurit harus mampu menguasai senjata-senjata yang berbeda. Kalian harus mengerti bahwa penerimaan kali ini bukan untuk orang biasa yang akan dididik menjadi prajurit. Kediri membutuhkan orang-orang pilihan,. Kalian berada di tempat ini akan digembleng agar dapat menanjak lebih tinggi. Kalian berada di tempat ini karena undangan yang kami sebarkan. Kami telah mengetahui kemampuan kalian sesungguhnya, dan kami telah mengenal latar belakang kalian semua,” berkata Ki Tumenggung Lembu Pitungan.

“Besok kalian akan membidik sasaran yang akan ditentukan. Dan perlu kalian pahami, para penguji adalah orang-orang yang telah mempunyai pengalaman cukup dalam pertempuran sesungguhnya. Mereka akan menempatkan sasaran mendekati suasana sebenarnya, dan mereka juga akan melakukan perkelahian dengan kalian dengan sungguh-sungguh. Aku katakan itu semua agar kalian mengerti, bahwa, ketika kalian dinyatakan lulus, maka kalian akan bergabung dengan satuan khusus yang dipimpin oleh Ki Rangga Gubah Baleman. Kalian akan berada dalam pengawasan khusus seorang panglima yang membawahi seluruh prajurit Kediri,” kata Lembu Pitungan,  ”aku kira sudah tidak ada lagi yang perlu aku katakan. Kalian dapat beristirahat. Selamat siang!”

Demikianlah kemudian para peserta ujian itu membubarkan diri dan berjalan menuju bangsal yang khusus disediakan bagi mereka. Sementara bagi yang tidak lulus diizinkan untuk menyaksikan tahapan yang diadakan esok hari.

Maka untuk waktu yang tersisa itu, para peserta ujian keprajuritan secara khusus benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Beberapa orang yang terluka mendapat perawatan pengobatan dari prajurit yang ditugaskan untuk mengobati para peserta. Setelah gelap benar-benar turun menutupi permukaan tanah, banyak peserta yang terlelap di atas pembaringan. Sementara di luar bangsal, terlihat beberapa prajurit meronda di sekeliling barak. Di bagian lain juga terlihat prajurit yang bertugas di gardu jaga dengan ketat mengawasi lingkungan barak. Para prajurit yang bertugas sebagai pengawal pendadaran sebelumnya agaknya berbagi cerita dan kesan mereka terhadap calon prajurit yang baru. Sekali-kali terdengar mereka terbahak, dan kadang mereka menahan seruan karena dapat mengerti perasaan mereka yang gagal.

Kesibukan telah meningkat di halaman depan barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Lembu Pitungan. Para petugas memasang patung kayu, papan sasaran yang digantung pada sejumlah tali yang terpasang melintang di tepi halaman. Terlihat juga balok-balok kayu yang merintangi sebuah arena yang terlihat seperti jalan. Agaknya para peserta harus dapat berlari dan meloncati balok kayu itu sambil melepaskan anak panah atau tombak.

Gelora semangat yang membara di dalam dada para peserta tahap akhir ujian keprajuritan semakin menghangatkan suasana pagi yang cerah. Sinar matahari tidak terhalang untuk melintasi langit yang cerah.

Para peserta ujian itu telah bersiap dan mereka berbaris rapi di bagian lain halaman yang luas terhampar di depan bangunan utama barak pasukan Kediri. Mereka dapat melihat kesibukan petugas-petugas yang masih terikat dalam tanggung jawabnya. Mereka membayangkan kesulitan yang akan mereka hadapi. Sedikit peserta merasa yakin dapat lulus dari ujian terakhir itu. Sementara Toh Kuning sendiri sekalipun ia akan dapat melewati tahap terakhir namun ia tidak ingin dikuasai kelengahan.

“Aku tidak boleh gagal karena gegabah menghadapi itu semua. Aku akan melakukan yang terbaik,” desis Toh Kuning dalam hatinya.

Suara terompet yang terbuat dari tanduk kerbau menjadi pertanda untuk dimulainya tahap akhir keprajuritan.

Related posts

Leave a Comment