Padepokan Witasem
KBA Kepak Sayap Angsa Prosa Liris

Dia Bukan Ayunda

DuTa

Di kala sampan beranjak meninggalkan pantai
Usia tidak beringsut menapak maju
Tetapi selalu ada tetapi
Aku ingin berbisik pada semesta, “Selamat untuk kelahiranmu.”

Mengenalmu berbeda dengan memahami Sengkuni. Aku mengerti, bahkan dengan sangat.

Kali ini, aku berkata pada Ayunda, “Kecerdasan terbaik adalah keberhasilan saat menipu.” Itu ucapan Sengkuni yang aku sampaikan pada Ayunda.

Kemudian dia bertanya, “Menipu? Bukankah engkau memuja titik-titik pada wajah dadu?”

“Benar. Sangat, sangat benar. Sebagian mengatakan bahwa kebenaran dapat diubah, lalu aku bertanya pada diriku tentang dadu. Ya, hanya dadu yang selalu berubah sebagaimana perubahan yang menetap untuk terus menerus bergerak.”

“Kali ini, Anda nyaris serupa dengan Sengkuni.”

“Aku tidak menolak anggapan itu. Ayunda, aku tahu engkau bukan dia, hanya saja, sekarang dan seterusnya, ingin aku katakan tentang semesta.”

“Bagaimana itu?”

“Sebanyak mata yang memgerjap, sebanyak itu pula jumlah darah yang mengalir di dalam tubuhmu. Engkau, yang bukan Ayunda, harus tahu tentang itu. Doa dan mantra berpacu, melesat terbang, menyisir tangga agar segera tiba di kaki langit. Lalu…”

“Hmmm…”

“Kecipak samudera tak lagi menggemuruh. Begitu halus. Begitu lurus. Seperti harapan pengembara jantan yang bergumam ‘sejahtera untuk kelahiranmu, semasa yang kau punya, dan penghabisan yang kau harapkan’.”

Dirgahayu, Denok Utaminingtias.

Sejahtera selalu.

Aku sampaikan seperti suara Kepak Sayap Angsa yang tiba di teras pendengaranku.

Related posts

Leave a Comment