Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 11 – Jaring Siasat Ki Patih Mandaraka

Kepatihan masih basah ketika pagi baru menyapa. Hujan sepertinya turun merata di banyak tempat dengan nada yang sama.

Di dalam ruang tengah, Ki Patih Mandaraka duduk dengan tatap mata sareh. Ketenangan tampak jelas dari raut wajah yang penuh dengan garis-garis kehidupan. Duduk di hadapannya, Nyi Ageng Banyak Patra,  bersandar kursi kayu berukir halus berwarna gelap.

“Tanah Perdikan tidak pernah meminta bantuan,” ujar Ki Patih akhirnya. Suaranya tenang, tapi ada jeda yang sengaja dibiarkan menggantung. “Sebelum Mataram ada, Menoreh sudah cukup tangguh melampaui banyak masalah. Keadaan itulah yang membuatnya berbahaya.”

Nyi Ageng Banyak Patra mengangguk perlahan. “Kalau mereka meminta, itu berarti keadaan sangat genting. Lebih-lebih barak pasukan khusus berada di tengah-tengah mereka. Menghitung pasukan adalah pekerjaan gampang, tapi mereka mendiamkan golongan makar, itu urusan lain.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk lalu menarik napas panjang. “Mereka memilih diam di permukaan tapi orang-orangnya menyebar. Berapa banyak orang yang dikirim Tanah Perdikan ke Alas Krapyak? Kita tidak tahu karena mereka tidak pernah melaporkan secara resmi. Ki Gede sadar dengan batasan. Tapi Mataram justru diam ketika beliau dijadikan sasaran. Ini bukan lagi permainan. Semua menunggu ketika tahu Menoreh menempuh jalan yang tidak biasa.”

“Mengosongkan gardu jaga, menggeser kedudukan prajurit, menukar dengan pengawal Menoreh… Keputusan atau siasat yang sulit dipahami meski saya bukan bagian dari Keprajuritan, tapi siasat itu adalah kejutan,” kata Nyi Banyak Patra. “Agung Sedayu berada dalam kedudukan yang sangat sulit. Buruknya, itu seperti sengaja dipilihnya.”

“Saat aku mendengar penerapan itu, sejujurnya, akibat buruk sudah dapat dibayangkan. Hanya saja, wafatnya Ki Gede menjadi suatu hal yang tidak terjangkau siapa pun.” Hela napas panjang terukur terdengar dari Ki Patih Mandaraka.

Setelah berhenti sejenak, Ki Patih meneruskan ucapan, ”Mengirim pasukan terbuka… sudah tentu akan membuat seseorang merasa tidak nyaman.” Tidak ada nama yang disebut tapi udara seperti terhisap oleh kekuatan asing yang sedang membayang.

“Tidak mengirim pun dapat menjadi pilihan,” balas Nyi Ageng Banyak Patra. “Dan setiap pilihan akan dibaca dengan arti yang berbeda. Menolong berarti menjatuhkan, mendiamkan seperti menghancurkan padahal tidak semuanya seperti itu.”

Hujan makin rapat. Seorang abdi lewat di kejauhan, berhenti sejenak, lalu menghilang lagi. Tidak ada yang memanggilnya.

“Kita tidak bisa membiarkan Tanah Perdikan merasa ditinggalkan,” kata Ki Patih, lebih kepada dirinya sendiri. “Tapi aku juga tidak ingin Kepatihan menjadi pemicu.”

Beberapa saat berlalu tanpa kata. Bunyi hujan mengisi ruang.

“Izinkan saya untuk berangkat. Bagaimanapun, Kinasih juga berada di sana,” ujar Nyi Ageng Banyak Patra akhirnya. “Saya datang sebagai guru. Eyang beri saya beberapa orang sebagai pemandu. Selebihnya akan mengalir seiring dengan waktu.”

Ki Patih Mandaraka mengangkat wajah, memandang langit-langit ruangan lalu berkata,. “Itu artinya kau membawa lebih banyak beban daripada seratus prajurit.”

“Jika tidak ada jalan lain,” jawabnya singkat. “Berat masih bisa dibagi.”

Ki Patih terdiam, mengangguk kecil. “Baik. Kau berangkat. Tapi hanya satu pengiring.”

“Siapa?”

“Ki Lurah Plaosan,” jawab Ki Patih. “Dia mengenal baik Agung Sedayu dan Tanah Perdikan. Orang-orang di sana masih mendengarnya.”

Nyi Ageng Banyak Patra mengerutkan dahi. “Bukankah Ki Lurah ada di Sangkal Putung?”

“Kita atur perjalanan, kalian dapat bertemu di Kali Progo,” kata Ki Patih. “Aku akan mengirim utusan khusus.”

“Bagaimana bila Ki Plaosan menolak?” tanya Nyi Banyak Patra.

“Dia teman baik Agung Sedayu dan tidak akan menolak,” tegas Ki Patih Mandaraka. “Ki Lurah Plaosan hanya butuh tahu bahwa waktunya sudah tiba.”

“Berarti tetap terkesan perpanjangan tangan Kepatihan,” gumam Nyi Ageng Banyak Patra.

“Tidak ada yang dapat disembunyikan, tapi Keraton pun tidak atau belum mengirim bantuan pasukan secara terbuka. Keberadaan Pangeran Selarong di Sangkal Putung bukan untuk persiapan menghadapi pemberontakan,” balas Ki Patih. “Kalau upaya ini berhasil, semua orang akan bilang itu berjalan dengan sendirinya. Kalau gagal, setidaknya Kepatihan tidak tercatat mendorongnya. Di luar pembahasan ini, aku tidak tahu apakah Pangeran Purbaya mengirim petugas sandi atau tidak.”

Untuk sesaat Nyi Ageng Banyak Patra memandang lantai, kemudian berkata, “Dia dapat melakukan segala yang dia mau tanpa perlu menunggu izin Sinuhun. Ki Patih, saya dapat berangkat sendiri seandainya jalan buntu secara tiba-tiba.”

“Itu dapat dipikirkan lagi,” jawab Ki Patih tanpa senyum.

 “Baik,” kata Nyi Ageng Banyak Patra. “Saya berangkat sebentar lagi.”

Ki Patih merenung sejenak, mengangguk, lalu berkata lirih, mengulang untuk dirinya sendiri, ”Keruntuhan medan utara menjadi titik lemah Sedayu dan yang paling mencemaskan adalah wafatnya Ki Gede. Dua persoalan yang dapat digunakan untuk melemahkan kedudukannya atau mengikis kepercayaan Keraton padanya.” Sesepuh Mataram ini memejamkan mata sejenak, lalu ucapnya, “Meski tidak mudah untuk menggeser Agung Sedayu, tapi satu atau dua orang pasti mengincar kedudukan itu.”

“Eyang sudah menempatkan Ki Demang Brumbung sebagai jangkar,” kata Nyi Banyak Patra.

“Mereka mempunyai Ki Wedoro Anom,” sahut Ki Patih Mandaraka. “Aku juga sudah mengetahui laporan yang masuk ke istana berasal darinya dan Ki Argajaya.”

“Larangan yang tidak semestinya dinyatakan tegas oleh pasukan khusus membuat segala sesuatu tampak lemah,” kata Nyi Banyak Patra. “Aturan yang membangkang adat dan kepantasan.”

“Mungkinkah Sedayu mempunyai rencana susulan?”

“Maksud Eyang?”

“Seperti sengaja memicu kemarahan Menoreh lalu mereka berpaling serentak ke lereng Gunung Kendil,” jelas singkat Ki Patih Mandaraka. Sepintas pikiran melayang secepat kilat di dalam benak patih Mataram tersebut tapi dia memilih diam.

Nyi Banyak Patra mengangkat pundak, menarik napas kemudian berkata, “Kita tidak pernah tahu sebelum waktu memberikan hasil akhir.”

Tak lama kemudian, pembicaraan berakhir. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 7 – Agung Sedayu Melipat Senja

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 8 – Hari Kedelapan Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.