Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 19 – Aku Berdiri di  Sisimu, Agung Sedayu

Dari jalur yang sama dengan datangnya pasukan Tanah Perdikan sebelumnya, rombongan kecil muncul tanpa aba-aba perang. Tidak ada bende, tidak ada suitan. Hanya derap kaki yang tertib.

Pandan Wangi berjalan di depan. Wajahnya tenang dengan mata menebar; mengamati sisa-sisa benturan: anak panah yang patah, jejak darah yang belum kering, dan gelar pasukan yang masih belum benar-benar cair.

Setengah langkah di belakangnya, Kinasih mengayun kaki lebih lambat. Sikapnya sudah memperlihatkan kewaspadaan seseorang yang tahu sedang memasuki ruang yang berbeda. Beberapa pengawal Tanah Perdikan yang sempat bertempur di kediaman Ki  Gede tampak menyertai mereka.

Kedatangan mereka segera disadari banyak mata. Tidak ada yang bersuara, tetapi para prajurit dan pengawal cepat menyesuaikan  seakan medan sendiri memberi lorong khusus bagi kedatangan rombongan kecil itu..

Nyi Banyak Patra sedikit terpisah dari kerumunan, menghadap arah kedatangan rombongan kecil Pandan Wangi. Dia melihat yang dirindukan, Kinasih.

Kinasih merasakan getar hebat yang datang dari jurusan lain, lalu meraih tangan Pandan Wangi, membisikkan sesuatu. Pandan Wangi mengangguk kemudian memandang arah Nyi Banyak Patra, memberi hormat.

Kinasih melangkah dengan tapak kaki tergesa-gesa. Yah, belasan tahun hidup di bawah perawatan Nyi Banyak Patra dengan segala suka dan duka, dalam hubungan guru dengan murid sekaligus ibu dan anak, maka Kinasih meruntuhkan segala lapis pertahanannya dan mengabaikan keadaan yang sebenarnya sedang siaga penuh.

“Guru,” ucapnya singkat, meraih tangan Nyi Banyak Patra lalu mendekapnya, lama.

Nyi Banyak Patra mengangguk. Tatapan mereka bertaut lama. Tidak saling bertanya kabar. Yang mengalir deras adalah pemahaman: lintasan ruang yang sangat luas dan bentangan waktu yang tidak terlihat.

“Aku sengaja mencarimu,” kata Nyi Banyak Patra dengan nada datar tapi sorot matanya tidak menyembunyikan segalanya. Ada kebanggaan di sana, ada kehormatan yang masih terjaga di sana. Dan, Kinasih telah menjawab itu semua

“Guru membuatku malu,” ucap Kinasih sambil membenamkan muka.

Tidak ada orang yang berani mendekat. Mereka yang melihat tahu, itu pertemuan yang memang harus ada dan wajib dijaga. Satu orang adalah putri Ki Ageng Pemanahan, satu lagi adalah muridnya. Mereka berdua bukan penentu akhir dan juga bukan pembuat keputusan, tapi kehadiran mereka adalah pembeda.

Pandan Wangi berhenti dengan jarak dari tempat Agung Sedayu menuntaskan perintah. Dia mematung demi memastikan tidak ada celah yang bisa disalahartikan sebagai kelemahan.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu menghampirinya. Mereka berdiri berhadapan tapi Pandan Wangi tidak segera bicara. Tatap matanyalah yang kemudian mengungkapkan isi hatinya, “mengapa rencana tentang ‘kematian’ Ki Gede tidak pernah sampai padanya? Apakah karena tidak atau kurang percaya?”

Agung Sedayu memahami arti sinar mata itu.

“Maaf,” ucap lirih Agung Sedayu tanpa alasan demi pembenaran.

Namun sinar mata Pandan Wangi tidak melunak. Yang memancar selanjutnya adalah, “seorang anak muda yang diterima lalu diberi ruang Ki Gede, tapi memberi pembalasan tak bermoral padaku, anaknya. Bahkan diperintahkan bertempur sampai ke Gunung Kendil.”

Agung Sedayu menyadari dan menerima hukuman yang keluar dari sorot mata Pandan Wangi.

Di balik itu, dari kedalaman hati, ada suara tajam yang lebih tajam. Sebuah tanya yang tidak perlu diucapkan: “Bagaimana bila rencana dan usahamu gagal seluruhnya? Bukan hanya Tanah Perdikan yang runtuh, tapi setiap orang akan kehilangan kepercayaan padamu. Dan semua itu, karena hasratmu sendiri.”

Tatapan Pandan Wangi tidak segera menjauh. Dia tidak membenci atau berpikir untuk bermusuhan. Seolah ada kalimat yang tidak untuk diperdengarkan, “Aku ingin kau tahu. Aku berdiri di  sisimu, selalu mendukungmu—bukan karena semua keputusanmu benar, tapi karena jika aku tidak di sana, kau akan berdiri sendirian lalu jatuh.”

Agung Sedayu tetap berdiri di tempatnya. Menunduk, kadang-kadang menatap lekat wajah Pandan Wangi. Dia tidak meminta dimaafkan dan tidak juga tidak menarik kembali perintahnya. Sikap itu sendiri sudah menjadi jawaban—bahwa dia memilih memikul kebencian hari ini demi sesuatu yang belum tentu selamat esok hari.

Pandan Wangi memalingkan wajah lebih dulu. Cukup, dia sudah melihat seluruh perasaan lelaki yang berdiri di depannya.

Gerimis mulai turun. Kabut merambat naik dari lipatan lereng, mengaburkan batas. Cahaya tidak pernah bersikap murah.

Kata Agung Sedayu, “Bergeraklah ke utara. Bawalah Kinasih, Sukra dan Sayoga.”

Pandan Wangi tidak berkata sedikit pun, hanya anggukan kepala.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Banyak orang yang melihat keadaan itu, tapi tidak ada yang mencampuri atau mengatakan sesuatu. Tanpa disuarakan, mereka cukup dewasa untuk menilai bahwa memang sepantasnya tidak perlu karena ‘kematian’ Ki Gede dan larangan sudah nyata, lagipula itu sudah berlalu. Yang dihadapi Agung Sedayu pun sudah semestinya terjadi, demikian pula Pandan Wangi.

Kinasih menyaksikan dua orang yang sedang membeku itu dengan dada bergetar. Perasaannya sedikit terguncang.

“Ketika seseorang telah menjaga kehormatan dan harga diri, sesungguhnya itulah jalan yang tersedia untuk tetap berada di sampingnya tanpa perlu kata-kata,” ucap Nyi Banyak Patra lirih. Dia dapat merasakan yang terjadi dalam diri Kinasih.

Saat mereka melihat Pandan Wangi melambaikan tangan, Nyi Banyak Patra mengangguk, lalu berkata lagi pada muridnya, “Pergilah. Jagalah kepercayaan dan kehormatan itu seperti kau menjaga gurumu selama ini.”

Pelan-pelan mereka berempat disertai lima orang dari pasukan khusus melintasi jalan setapak menuju sabuk utara Gunung Kendil. Pandan Wangi mengerti sabuk utara hanya dipahami oleh orang yang tinggal di Tanah Menoreh sejak lahir. Sukra dan Sayoga adalah salah satu yang sedikit mengenali medan. Di sela cahaya yang mulai meredup, Pandan Wangi berharap dua pengawal Tanah Perdikan itu dapat berteman baik dengan tebing terjal, jurang yang tersembunyi dan jalan setapak yang besar kemungkinan sudah bergeser jalur.

Kepergian mereka meninggalkan kesan lain pada banyak mata yang memandang. Pandan Wangi, Sukra dan Sayoga adalah hidup mereka selama bertahun-tahun. Bukan lagi seperti bagian karena sudah menyatu. Kinasih, meski baru beberapa hari berada di Tanah Perdikan, tapi mempertaruhkan nyawa di Watu Sumping dan Kali Tinalah itu bukan persoalan yang mudah diizinkan untuk pergi.

Bagi pengawal Tanah Perdikan dan pasukan khusus, perjalanan mereka berempat melintas jalan setapak menuju sabuk utara seolah menjadi pemandangan terakhir hari itu.

Tidak ada ruang yang bersahabat bagi para pelintas. Rumput tinggi tidak selelu tumbuh di permukaan tanah yang rata. Cekungan sedalam pinggang lelaki dewasa tetap setia memberi sambutan bersama ujung runcing bebatuan yang berada di dalamnya.

Ada pahit, sedih, bahkan sebagian lelaki perkasa itu merasakan ada embun di balik kelopak mata masing-masing saat melepas iring-iringan kecil itu menapak arah utara.

Perintah Agung Sedayu telah berjalan lebih dulu dari langkah mereka menuju sabuk utara.

Gerimis makin merapat ketika kabut menebal.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 7 – Agung Sedayu Melipat Senja

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.