Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 21 – Benturan Meledak: Agung Sedayu Mendobrak

Jalan Ular Sabuk Utara

Jalan setapak itu tidak lagi menanjak lurus. Ia berbelok, melingkari punggung Gunung Kendil seperti goresan tipis yang dipahat pada tubuh gunung.

Sukra berjalan paling depan. Langkahnya tidak cepat, tapi tidak ada keraguan. Jalan setapak itu benar-benar tidak menyisakan ruang meski sejengkal. Tidak ada batas yang tegas antara tanah dan udara; hanya perasaan satu langkah keliru akan menjatuhkan seseorang ke jurang dengan dasar yang tidak tampak.

Kinasih menjaga jarak satu-dua langkah di belakang. Pandangannya ke bawah; lumpur menutup bebatuan, dan akar-akar tua menjulur dan melengkung. Tanpa pengamatan, seseorang akan tersandung lalu menghilang.

Pandan Wangi bergerak di belakang Kinasih. Sedikit di belakangnya adalah Sayoga. Sesekali mereka melambat bersamaan seolah jalan itu sendiri memberi peringatan. Tidak ada perintah, tidak ada isyarat yang jelas; perubahan kecepatan mereka terjadi serempak, hasil dari kewaspadaan yang sama.

Kabut di punggung gunung lebih tebal. Cahaya siang menjadi abu-abu. Jarak pandang menyusut hingga beberapa langkah, membuat jalan setapak terasa seperti lorong sempit yang tidak berujung.

Beberapa langkah kemudian, jalan setapak terputus oleh sebatang pohon yang melintang rendah. Kulitnya masih cerah di bagian potongan, serat kayu terbuka tanpa sempat menghitam. Air hujan belum cukup lama mengerjakannya.

Sukra berhenti, menjejak batang dengan telapak kaki, merasakan kekerasannya. Dia berlutut sebentar, menyentuh permukaan potongan—dingin, licin, tetapi belum lapuk. “Baru,” katanya.

Pandan Wangi mengangguk sekali lalu berkata, “Seseorang telah mencapai tempat ini.”

Tidak ada perintah lanjutan. Tapi mereka paham: jalur ini bukan sekadar lintasan alam. Ada tangan manusia yang sudah bekerja di sini—dan itu cukup memberi pemahaman bahwa yang mendahului berarti orang itu mengenal kawasan lalu memberi penanda meski sedikit.

Mereka bergerak lagi sedikit lama kemudian berhenti di tempat Sukra memberi tanda berhenti. Mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari bibir lembah. Di depan, tanah turun perlahan lalu menghilang ke dalam lembah. Pohon-pohon raksasa tumbuh acak, batang-batangnya menjadi dinding alami. Tanaman perdu rapat menutup dasar pandang dan permukaan.

Kabut dan gerimis meratakan jarak; jauh dan dekat tidak lagi berbeda jelas.

Pandan Wangi mengangguk lalu memberi tanda dengan gerak tangan pada masing-masing orang untuk memanfaatkan sisa ruang; celah sempit di antara pohon raksasa, akar raksasa yang menjulur, parit dan segala yang mungkin serta aman.

Setelah itu, mereka diam.

Pendobrak

Kabut menutup sisi selatan hingga batas pijakan hilang. Hujan turun rapat, suasana semakin gelap. Cahaya dan waktu seperti sudah menjadi sesuatu yang tidak perlu dibincangkan. Obor tak sanggup menyala. Udara terasa berat, menekan dada, menahan napas.

“Sekarang!” tegas Agung Sedayu pada prajurit di sampingnya yang kemudian memukul bende kedua kali.

Tapi bende terhantam dengan penundaan. Dia tercengang.

Agung Sedayu melesat dengan kecepatan tidak terkira. Dia seakan menghilang sebelum suaranya benar-benar terdengar. Mungkin lebih cepat dari bayangan ketika bayangan sendiri musnah pada saat itu. Tidak ada bunyi yang menyusul; yang tertinggal hanya getaran singkat, merambat di kabut seperti gelombang yang lupa arah.  

Jalur selatan tetap gelap, tetap basah, seakan menelan segala yang melintas. Tapi getaran itu sudah lewat, lebih cepat dari dengung hujan, lebih cepat dari rasa takut yang sempat muncul.

Jarak terlipat. Waktu seakan berhenti.

Ledakan itu datang terlambat. Udara lebih dulu terguncang, lalu dentum memecah hujan. Ujung cambuk menghantam dinding perkemahan! Batang-batang pohon yang ditanam, diikat kuat dan rapat, jebol seketika!

Sentakan maut!

Agung Sedayu melabrak pasukan Ki Garu Wesi – yang ditempatkan pada jurusan menghadap selatan – dengan sentakan cambuk sendal pancing.  Menyambar datar, menyilang, tata gerak yang bersumber dari jalur ilmu perguruan Ki Sadewa pun terungkap dengan cara luar biasa. Satu orang terpental, dua menyusul tumbang, tiga terjungkal. Ada yang tersambar senjata salah sasaran, ada yang terinjak-injak. Yang pasti adalah satu demi satu anak buah Ki Garu Wesi terhantam amuk Agung Sedayu yang seolah tidak terhentikan!

Muncul dari belakang Agung Sedayu adalah Ki Prana Aji. Pembagian pasukan sudah disiapkan sebelumnya, maka kedatangan barisan Menoreh itu datang seperti air bah yang membanjiri lapis depan pasukan Ki Garu Wesi. Gabungan pasukan khusus dengan pengawal pilihan dari Tanah Perdikan menjadi perpaduan yang mematikan. Meskipun lawan mereka juga terlatih dan patuh pada perintah senapati, tapi mereka berangkat dari latar belakang dan perasaan yang berbeda. Hanya dua keadaan tapi membedakan segalanya.

Bende Senyap

Dari medan timur, kedatangan Ki Demang Brumbung dan pasukan gabungan yang dipimpinnya ternyata nyaris tidak disadari oleh pengamat lingkungan. Ketajaman nalar Ki Demang, yang mampu menerjemahkan perintah Agung Sedayu agar mereka menempatkan diri di bawah puncak lengkungan sebelum anak panah menghunjam, ternyata membawa mereka sangat dekat dengan perkemahan.

Ketika bende kedua tidak terdengar karena gaungnya tertelan ledakan cambuk Agung Sedayu, maka kemunculan Ki Demang Brumbung dan pasukannya benar-benar terasa seolah mencabut jantung lawan secara paksa!

Tidak ada jalan lain bagi regu Ki Sambak Kaliangkrik selain menerima serangan dengan segala keterkejutan dan rasa gagap yang luar biasa.

Lereng Barat

Glagah Putih menggerakkan pasukan gabungannya melalui getaran yang tertangkap oleh telapak tangannya. Sebelum bende menggaung, sebelum ledakan cambuk menyentuh garis-garis tangannya, Glagah Putih berani memastikan bahwa kakak sepupunya – Agung Sedayu – telah menggebrak lebih cepat dari pada dugaan Raden Atmandaru.

Mereka sudah melampaui ranjau berupa bambu runcing yang ditanam, maka mendobrak lambung barat perkemahan menjadi pukulan yang mengejutkan lawan.

Dari balik kabut, pasukan Glagah Putih merayap cepat seperti air yang menemukan celah. Mereka tidak berteriak, tapi tiba-tiba muncul merobek lambung barat perkemahan sebelum penjaga sempat membuka mulut dengan benar.

Glagah Putih berada di depan, mengamati sejangkau yang terpandang. Menutup setiap pergerakan lawan, membuat daerahnya menjadi pertahanan di dalam garis serang lawan.

Bermacam-macam umpatan dan caci maki seketika terlontar karena mereka merasa aman; karena mereka mengira lawan akan terhenti di atas ranjau; karena mereka yakin Menoreh tetap menunggu sampai beku di seluruh penjuru lereng Gunung Kendil.

Namun keyakinan itu runtuh sekejap kemudian. Ranjau bambu runcing yang mereka banggakan telah lewat; yang ada di depan mata adalah sekumpulan orang yang dapat mengubah nasib  mereka menjadi seikat kangkung yang pasti terbuang. Umpatan berubah menjadi teriakan peringatan yang terlambat. Caci maki menjadi perintah yang saling menindih.

Sebelah barat perkemahan semakin menegangkan ketika Ki Sor Dondong berusaha keras mengembalikan keseimbangan, membuat batas yang tegas, tapi lumpur dan kabut masih menghalanginya dengan geliat yang tak kalah kuat.

Glagah Putih – yang berada di seberang – berlompatan lincah memimpin kelompoknya menekan lawan dengan gelar yang telah dikembangkan sangat baik. Pasukan Menoreh lambat laun dapat menghimpit; mendesak garis

Dua pemimpin kelompok itu terhalang oleh kabut sehingga sama-sama tidak mengetahui bahwa jarak mereka begitu dekat. Selapis pertahanan lagi mungkin akan menjadi pertemuan yang mereka harapkan.

Pada akhir hari itu, Menoreh bergerak lebih dulu.

Perangkap Ajal

Ini benar-benar menggiriskan! Seperti itulah tandang Agung Sedayu yang seakan berubah menjadi sosok yang tidak lagi dikenal oleh orang dekatnya. Apalagi kabut yang tebal menjadi batas nyata untuk melihat lebih dekat. Tubuh Agung Sedayu lenyap terbungkus putaran cambuk yang berputaran dahsyat! Tanpa lambaran tenaga cadangan yang kuat, cambuk Agung Sedayu seolah menjadi perangkap! Putaran cepat tapi begitu lemah dalam pandangan orang-orang yang merasa berada dalam tataran tinggi.

Seorang senapati pendamping Ki Garu Wesi memandang sejenak, mengakar kemampuan, lalu menerjang Agung Sedayu sepenuh tenaga. Jarak pandang terbatas menjebak orang itu.

Malang tak dapat ditolak!

Dia terpental, roboh.

Ki Garu Wesi meloncat dahsyat. Menghujani Agung Sedayu dengan serangan beruntun yang mematikan. Tapi senapati Mataram itu tidak lekas membalas serangan, tapi lebih banyak menghindar.

 Ki Prana Aji yang menempatkan diri di sekitar Agung Sedayu segera, menjejak tanah berlumpur, memasuki pertempuran hebat itu dengan perhitungan matang.

Agung Sedayu bergeser tempat.

Serangan Ki Garu Wesi terhenti sekejap meski tekanan tidak  begitu kuat. Dia terkejut sekaligus terheran-heran dengan perubahan  Agung Sedayu. Lawannya telah berganti orang!

Dari Ki Prana Aji meluncur tanda khusus: siulan pendek berlapis mendengung rendah, bersahutan dengan gema yang dibalas dari balik kabut. Tiba-tiba pasukan khusus muncul dari segala arah. Langkah mereka tertimpa bunyi lain dan juga terserap permukaan tanah yang melunak.

Cakrabyuha terbentang cepat dan sangat kuat. Kepatuhan tinggi pada aba-aba Ki Prana Aji diungkapkan dengan cara yang hebat. Lingkaran terdalam adalah lapisan pertama yang menutup ruang gerak Ki Garu Wesi. Di belakangnya ada selapis lingkaran untuk menutup jalur keluar. Ujung tombak dan pedang serta senjata lainnya kadang tampak serampangan diayunkan, kadang juga tidak. Itu semua tergantung tanda dari Ki Prana Aji yang bertarung langsung dengan Ki Garu Wesi. Ketinggian ilmu dan kecakapan perang Ki Garu Wesi mendapatkan lawan sepadan. Terkurung dalam gelar yang setiap kali ditembus, Ki Prana Aji menghadang dengan seluruh kekuatan yang ditopang lapisan gelar yang mampu mematahkan nalar Ki Garu Wesi. Dalam waktu itu, perbedaan kemampuan seakan terhapus sama sekali. Kabut yang sangat rapat dan cahaya memangkas segalanya dengan cara yang sangat kejam!

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 16 – Serangan Fajar Hari Sembilan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 6 – Ki Argajaya Menemui Pangeran Purbaya

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 8 – Hari Kedelapan Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.