Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 34 – Di Rumah Agung Sedayu

Pagi menyapa Tanah Perdikan Menoreh dengan kabut tipis yang masih menggantung di pucuk-pucuk dedaunan. Di samping pakiwan, dekat sumur yang dingin airnya dapat merasuki tulang, Sayoga sedang membenahi tali timba ketika Sukra melintas dengan langkah yang tampak berat, membawa tangkapan dari pliridan yang dipasangnya semalam.

Sayoga menghentikan kegiatannya sejenak. Dia memandang Sukra yang masih tampak bersungut-sungut. Barangkali perjumpaannya dengan Ki Rangga Agung Sedayu membuat ketegangannya masih terjaga, pikir Sayoga.

“Hasil tangkapan yang memuaskan,” ucap Sayoga dengan suara terdengar canggung.

Sukra berhenti, meletakkan keranjang bambunya. Dia balas menatap Sayoga. “Memuaskan itu adalah jika Ki Lurah menjelaskan dengan sangat terang,” ucapnya ketus.

Sayoga bergeser lalu duduk di atas batang kayu yang menujul di samping dinding halaman. “Semalam aku melihatmu berpapasan dengan Ki Lurah di longkangan. Kau tampak… masih marah pada beliau.”

Sukra mendongak, matanya sedikit memerah. “Bukan marah. Tapi memang sulit menjelaskannya padamu. Mungkin aku tidak begitu tanggap dan cerdas dengan segala siasat maupun gelar perang, tapi itu….”

Ucapan Sukra terputus di udara. “… siasat itu.” Dia berhenti lagi, kemudian menyambung lagi, “Aku kira tidak sepantasnya menilai beliau. Meski kadang tidak sependapat atau tidak dapat menerima penuh keputusan, tapi Ki Lurah adalah Ki Lurah dan aku adalah Sukra.”

Sayoga mengangguk pelan. Dia dapat menyelami perasaan Sukra. Mereka sudah saling mengenal sejak lama dan terlibat pertempuran di banyak medan yang sama pula. Jika Sukra merasa harus membuang jauh pikiran buruk tentang diri Ki Rangga Agung Sedayu, itu adalah pilihan yang wajar. Jika Sukra merasa harus setia membela Ki Rangga, itu pun pilihan yang dapat dipahami dengan baik.

“Ki Rangga sama dengan kita. Beliau juga berperasaan dan berjalan di atas tanah yang sama dengan kita,” ucap Sayoga mantap. “Yang membedakan antara beliau dengan kita adalah lingkup tanggung jawab.” Sayoga memetik sebatang rumput di dekat kakinya lalu berdiam agak lama.

“Aku membayangkan sedang menjadi Ki Rangga dan melaporkan itu semua pada Sunan Agung. Aku juga membayangkan bagaimana perasaan Ki Rangga saat bertatap muka dengan Nyi Pandan Wangi di Gunung Kendil saat itu? Aku tidak sanggup,” lanjut Sayoga.

“Lalu, jika tidak sanggup, kenapa ada siasat yang membuat kita semua merasa kehilangan arah?” Sukra bertanya, lebih pada dirinya sendiri.

Seperti sedang ingat pada suatu kejadian, Sukra tiba-tiba menatap tajam Sayoga. “Orang berkata kau datang dari arah yang sama dengan Ki Gede. Orang bilang kau bertempur di samping Ki Gede. Apa artinya itu?”

Sayoga menarik napas panjang tanpa berpikir untuk menghindar pertanyaan. “Sebagaimana engkau bersikap pada Ki Rangga, seperti itu pula aku pada beliau.”

Dia berhenti sejenak, mengatur napas agar tidak bergetar di ujung lidah. Begitu pelan dia berkata kemudian, “Kita hanya dapat menunggu sambil berharap Ki Rangga dapat menuntaskan segaanya dengan baik dan sangat baik.”

Sukra terdiam cukup lama dengan arah pandangan ke timur seperti sedang berharap ada hal baik yang mendatangi Tanah Perdikan Menoreh.

Sayoga tersenyum lalu berkata, “Marilah, bantu aku merapikan ini. Mungkin sebentar lagi akan menjadi hari sibuk bagi kita.”

Kedatangan Ki Jayaraga saat sinar matahari sudah hampir setinggi tiang jemuran ternyata cukup mengejutkan Kinasih yang sedang membersihkan halaman depan rumah Ki Gede. Gadis itu tidak dalam keadaan yang memadai untuk membagi perhatian ke sekitarnya. Agaknya suasana sejuk dan lengang membuat gadis itu sedikit terlena. Mereka bertegur sapa dan saling bertanya kabar sekadarnya.

Sudah menjadi kebiasaan Ki Jayaraga untuk melangkah langsung mengarah ke beranda belakang kediaman.

Usai bertukar kata sepantasnya diiringi kicau burung-burung liar di hamparan tanah lapang yang berada di sisi berseberangan, Ki Jayaraga lantas mengungkap pembicarannya dengan Agung Sedayu pada malam sebelumnya.

“Kalau begitu,” kata Ki Gede,”tetap sulit untuk membuat penilaian, bagaimana seorang pemimpin dapat meninggalkan gelanggan perang… ketika wilayahnya sedang terancam?”

Pertanyaan itu tidak terdengar wajar karena diucapkan olej Ki Gede Menoreh. Terselip nada tajam pada suaranya, meski demikian, Ki Jayaraga dapat menerimanya. “Saya tidak mengizinkan diri saya sendiri untuk berat pada salah satu pihak. Memang tidak ada yang berseteru atau saling membenci, tapi tetap tidak dapat saya jadikan alasan untuk memilih salah satu.”

Ki Gede Menoreh mengangguk perlahan sambil menyandarkan punggung, katanya kemudian, “Kita juga tidak dapat menuntut Pangeran Purbaya atau bertanya pada beliau; mengapa tidak mencabut hukuman sementara Swandaru adalah orang yang bertanggung jawab pada dua wilayah, Sangkal Putung dan Menoreh.”

Kalimat itu menggantung. Ki Gede tidak menuduh langsung, tapi cukup untuk meninggalkan pertanyaan yang berat untuk dijawab.

“Waktunya pun cukup berdekatan,” ucap Ki Jayaraga yang tampaknya mulai memperlihatkan kesembuhan pada bagian atas tubuh akibat lontaran pedang Ki Ramapati.

Ki Gede Menoreh menarik napas dalam-dalam, mengangguk lalu berkata lirih. “Benturan keras di Watu Sumping dan Gunung Kendil, cukup berdekatan. Mengerahkan orang untuk mencarinya pun dapat menjadi tindakan sia-sia bahkan seperti membuka celah pertahanan dan aib yang benderang bagi kubu lawan, saat itu.“

Ki Jayaraga terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke depan seolah berusaha menangkap kembali bayangan peristiwa yang masih berjejal di dalam benaknya.

“Karena itu,” ucap Ki Jayaraga, “yang bisa kita lakukan hanyalah menahan diri. Menjaga agar keadaan tidak semakin keruh. Kesalahan kecil dapat disalahpahami dengan akibat yang sulit diraba.”

Ki Gede Menoreh menggeser duduknya. “Menahan diri,” ulangnya perlahan, “adalah perkara yang tampak sederhana, tapi paling sulit dijalani oleh orang yang memikul tanggung jawab. Keadaan yang dapat terjadi pada semua orang, termasuk saya.”

Ki Jayaraga mengangguk kemudian berkata lirih, “Termasuk saya pula.”

Percakapan pun beralih ke persoalan lain. Mendung tampak mulai memenuhi langit Tanah Perdikan meski belum tentu akan turun hujan. Mendung datang seperti gulungan waktu yang akan terbuka dengan kesabaran yang bebas menentukan waktu untuk menampakkan wujudnya.

Pagi di kediaman Ki Gede Menoreh usai Kinasih membersihkan halaman, pada waktu yang bersamaan dengan kedatangan Ki Jayaraga, Pandan Wangi tampak memandang cahaya matahari yang memantul di lembar daun basah. Bau kayu dan daun tua yang basah menjadikan setiap orang merasa satu bagian dengan alam sekitar.

Kinasih berjalan mendekat setelah berbenah diri. Meski agak ragu, tapi dia menguatkan hati untuk menemani Pandan Wangi. Pembicaraan semalam memang bukan untuk menyelesaikan sebagian maupun seluruh persoalan.

“Duduklah,” Pandan Wangi berkata rendah. “Aku senang melihatmu tetap bersemangat dan tidak menujukkan lelah sedikit pun hari pertama mengenalmu. Itu sesuatu yang menyejukkan.”

Kinasih mengangguk sambil tersenyum dengan wajah yang terkesan bersembunyi. “Guru tidak pernah memberi saya perkenan untuk diam dan tunduk pada keadaan.”

“Gurumu adalah orang yang luar biasa,” sahut Pandan Wangi. Sejenak kemudian, dia menghela napas perlahan, mengalihkan pandang dari kilau daun ke wajah Kinasih. Pelan, Pandan Wangi meraih tangan Kinasih. “Ada kehebatan dan kelembutan yang tersimpan di balik telapak tangan ini. Terima kasih telah membantu kami. Selain aku dan orang-orang lain seperti Sukra maupun Sayoga, Kali Tinalah dan Gunung Kendil turut memberi kesaksian terhadap sepak terjang dan juga keberaniamu menerobos lembah terjal yang pekat yang padat.”

Wajah Kinasih semakin tenggelam. Dadanya bergetar ketika merasa perempuan matang di sampingnya itu akan mengutarakan sesuatu yang mungkin dapat mengguncangnya. Getaran itu ternyata sangat kuat hingga terasa di suaranya, ”Saya hanya menjalankan perintah ketua regu. Di Kali Tinalah ada Ki Lurah Sora Sareh, di Gunung Kendil ada Mbokayu Pandan Wangi. Tanpa Panjenengan berdua berdiri di sana, saya bukan siapa-siapa.

“Inilah murid Nyi Banyak Patra,“ ucap Pandan Wangi kemudian tangannya terulur membelai rambut Kinasih. “Beliau pasti bangga padamu.”

Untuk beberapa lama, suasana menjadi hening. Kinasih sulit menata perasannya saat Pandan Wangi menyebut nama gurunya dengan hormat. Rasa hormat, rasa itulah yang juga sering muncul dalam hatinya ketika bayangan seseorang melintas dalam perasaannya.

“Cah ayu, hari ini aku ingin menilai sesuatu dengan jujur,” suara Pandan Wangi sedikit bergetar ketika menerobos keheningan. “Sebagai orang yang mendengar pergunjingan dan juga saksi bahwa banyak yang terluka dengan siasat Ki Rangga.”

Kinasih pelan menarik tangannya lalu melipat rapi di atas pangkuan. Dia siap mendengar segala yang dikatakan oleh Pandan Wangi.

“Siasat Ki Rangga,” lanjut Pandan Wangi, “berjalan nyaris sempurna. Tapi aku tidak sedang membicarakan kemenangan. Hasil akan bergulir dan digantikan keadaan yang menyertai. Hasil adalah sisi lain hidup yang memang harus dijalani dengan berbagai akibat yang mengikuti.”

Putri Ki Gede Menoreh itu berhenti sejenak. Angin pagi menggerakkan dedaunan, menimbulkan bunyi gesek yang lirih.

“Namun kemarahan dan rasa kecewa banyak orang adalah sesuatu yang memang tidak dapat dikuasai seseorang meskipun dia adalah raja Mataram. Di sini, di Tanah Perdikan ini, Ki Rangga adalah orang yang paling mereka cintai dan hormati setelah Ki Gede. Tapi ketika mereka melihat bahwa Ki Gede justru keluar dari arah rumah Ki Rangga, aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.”

Pandan Wangi tidak melanjutkan kalimatnya, hanya hela napas pelan yang keluar darinya diiringi pandangan yang beralih ke halaman yang masih lembap oleh embun.

“Orang-orang tidak tahu harus bersikap bagaimana,” katanya, “marah, mereka sadar itu bukan pada tempatnya dan tidak beralasan. Sedangkan memilih diam pun tidak membuat mereka dapat bertahan. Sebagian akan merasakan bahwa diam justru semakin menyakitkan. Mereka kehilangan pijakan.”

Kinasih mendengarkan tanpa menyela. Dia memahami perasaan kebanyakan orang yang tidak menemukan tujuan atau ruang untuk menampung kegelisahan. Yang mereka rasakan bukan salah atau benar, tapi kepercayaan.

“Di Tanah Perdikan ini,” lanjut Pandan Wangi, “kepercayaan bukan perkara kecil. Kepercayaan ibarat pusaka yang dijaga turun-temurun dan tidak pernah atau jarang dipertanyakan. Ketika pusaka hilang dari tempat penyimpanan, orang-orang seolah kehilangan arah dan pegangan.”

Kinasih mengangguk perlahan. “Saya dapat melihatnya.”

Pandan Wangi mengangguk. “Itulah. Apakah kemenangan yang lahir dari kebohongan, meski untuk menyelamatkan banyak nyawa, layak dibenarkan sepenuhnya?”

Kinasih terdiam cukup lama. Katanya kemudian, “Guru saya selalu berkata, siasat adalah pedang bermata dua. Dua sisi yang sama-sama berbahaya sekaligus sama-sama bermanfaat.”

Darah Pandan Wangi mendesir lebih cepat karena kebenaran ucapan Kinasih.

“Apakah Ki Gede tahu sepenuhnya dari akibat ini sebelum siasat dijalankan?” tanya Kinasih hati-hati.

“Aku belum berbicara dengan beliau tentang persoalan itu,” jawab Pandan Wangi.

Cahaya matahari kini naik lebih tinggi, menembus sela pepohonan. Wajah Pandan Wangi terlihat lebih tegar dengan segala keletihan yang tampak dari matanya.

“Itulah sebab aku memintamu duduk bersama pagi ini, Kinasih. Kita tidak sedang membicarakan perang, kita sedang bicara sesama perempuan yang terlibat dalam perang,” kata Pandan Wangi.

“Aku  mengenal Ki Rangga saat kami masih terlalu muda untuk memahami apa arti siasat.” Senyumnya kembali muncul dengan garis wajah penuh makna. “Sekarang aku cukup tahu: apa yang dilakukannya bukan tanpa alasan, tetapi juga bukan tanpa rasa sakit yang disebabkan luka. Kamu juga tahu bahwa tidak semua luka itu berdarah.”

Kinasih merasakan jantungnya berdetak kencang. Kalimat yang serupa tapi tak sama dengan yang dipikirkannya. Agung Sedayu, bukan hanya sebagai tokoh penting dalam rencana besar, tapi juga kehadirannya mengusik ketenangan batin. Perasaan yang tidak mudah diakui. Getar itu hadir tanpa diminta.

Pandan Wangi merasakan perubahan yang sama. Getar yang sama singgah sebentar, lalu dibiarkan  berlalu tanpa perlu disemati tanda.

“Kadang,” ucap Pandan Wangi pelan, “orang-orang tidak butuh diyakinkan. Mereka hanya ingin tahu bahwa penyanggah kepercayaan itu masih ada.”

Kinasih menunduk sedikit.

Pagi bergerak perlahan; embun mulai surut, cahaya kian mantap. Percakapan pun mereda sebelum beralih pada perkara yang ringan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 2 – Pandan Wangi Gugat

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.