Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 38 – Persiapan Agung Sedayu Menjelang Pertemuan di Keraton

Matahari sudah agak sedikit lebih tinggi daripada gejolak perasaan para pedagang di pasar-pasar  ketika Agung Sedayu berbicara sedikit dengan Ki Lurah Sanggabaya di bilik kerjanya.

“Bagaimana Ki Lurah akan mengendalikan Ki Wedoro Anom sepeninggal saya?” tanya Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya tidak langsung menjawab. Dia mengerutkan kening. “Apakah Ki Rangga akan berpergian dalam waktu dekat?”

“Laporan,” sahut cepat Agung Sedayu sambil mengangguk. “Keraton dan Kepatihan pasti sudah menunggu. Dan, lebih baik saya berangkat lebih awal daripada muncul sesuatu yang mendahului kita meski sudah nyata pada hari kemarin.”

“Benar,” ucap Ki Lurah Sanggabaya. “Yang termudah dan teraman adalah saya memasangkan Ki Wedoro Anom dalam perondaan bersama Ki Lurah Sora Sareh. Bukankah keadaan itu yang diinginkannya saat Ki Rangga membagi tugas?”

Agung Sedayu mengangguk. “Ki Demang Brumbung dapat menjadi salah satu penyegaran jika Ki Sanggabaya ada kebosanan.”

Mereka pun bertukar senyum.

“Ki Rangga,” lirih Ki Sanggabaya berkata sambil bergeser lebih dekat. “Bagaimana dengan petugas sandi istana yang terbunuh di Tanah Perdikan?”

Satu tarikan napas Agung Sedayu terdengar seakan ruang diangkat setingkat lebih tinggi.

“Lencana itu milik satuan sandi yang langsung berada di bawah kendali Pangeran Purbaya,” kata Agung Sedayu kemudian. “Saya tidak menilai ada kesalahan karena wilayah sandi adalah ruang kerja yang sunyi. Seharusnya hanya ada dua pihak yang berbenturan, tapi keadaan itu adalah pengecualian. Kita tidak dapat mengatakan ada campur tangan orang luar. Pangeran Purbaya adalah Mataram dan kita bukan orang luar.”

Beberapa pesan diterangkan pada Ki Lurah Sanggabaya oleh Agung Sedayu sebelum dia beranjak pergi meninggalkan barak pasukan khusus.

Matahari tepat berada di samping puncak Merapi bersamaan dengan Agung Sedayu membedal kuda. Tanah di bawah kakinya tetap tenang seolah menjadi tanda bahwa segala sesuatu di Tanah Perdikan sedang memasuki masa tenang. Tapi Ki Lurah Sanggabaya dan Nyi Banyak Patra tahu bahwa ada sesuatu yang telah bergeser.

Jauh di bagian dalam barak pasukan khusus, Ki Garu Wesi seperti sedang bersiap memasuki suasana batin yang lebih dalam.

Pembuktian di Balik Bayang-Bayang

Perjalanan Agung Sedayu tidak dapat dilakukan dengan cepat karena beberapa orang yang berpapasan selalu menghentikannya untuk sekadar bertegur sapa atau bertanya kabar. Kehidupan di Tanah Perdikan memang tidak selalu tampak tergesa. Segalanya mengalir dengan sedikit hambatan yang tidak cukup untuk mengubah kebiasaan orang-orang. Pepohonan yang berdiri tenang dan burung-burung yang nyaring nyanyian seakan menunjukkan: inilah kami di Tanah Perdikan.

Oleh sebab itu, derap kuda pun tidak banyak menghamburkan tanah basah ke segala arah saat dia menuju rumah Ki Gede Menoreh.

Ketika regol halaman Ki Gede sudah berjarak sekitar dua puluh langkah, dari arah samping, sedikit dari belakang kuda, seseorang melesat, menghampiri Agung Sedayu. Tiba-tiba Sukra, menempel sambil memegang kendali kuda. Agung Sedayu berhenti tapi Sukra menatap kuat beberapa lama sebelum melepaskannya. Murid Kyai Gringsing itu mengangguk, menyentuh lengan kemudian mengusap punggung Sukra.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu lurus mengarahkan kuda menuju kediaman Ki Gede Menoreh.

Di regol kediaman Ki Gede, pengawal hanya menunduk singkat. Agung Sedayu menyerhakan kekang kuda pada pengawal kediaman, lalu melangkah ke pendapa dan mendapati Ki Gede duduk sendirian dengan sorot mata yang menyimpan lebih banyak rahasia dan pengalaman sulit daripada orang-orang di sekitarnya.

“Apakah Angger akan berangkat ke kotaraja?” tanya Ki Gede lebih dulu setelah Agung Sedayu menghormat lalu mapan dalam duduknya.

“Saya melakukan yang seharusnya, Ki Gede,” jawab Agung Sedayu disertai anggukan kepala.

Ki Gede memandang punggung Merapi sebentar lalu mengalihkannya pada lantai pendapa. “Untuk sebuah akibat, kita tidak dapat menyalahkan seseorang.”

Agung Sedayu tidak langsung menjawab. Dia tahu Ki Gede berkata benar. “Begitulah, Ki Gede. Tidak ada orang yang benar dan salah. Keadaan memang sulit pada waktu itu. Jika seseorang mendahului sebuah peristiwa, maka sebenarnya orang itu pun berpijak pada kebenaran.”

Raut wajah Ki Gede belum bergeser dari ketenangan. “Ki Argajaya. Aku mendengar sendiri darinya setelah pertempuran Gunung Kendil. Dia menyatakan penyesalan karena tidak bertanya atau mencari tahu terlebih dulu. Ki Argajaya mengatakan bahwa setelah mengetahui lalu menyimpulkan seluruhnya, maka dia dapat membayangkan keadaan pelih yang bakal Angger hadapi saat Angger memasuki halaman Keraton. Untuk itu, dia menitipkan sesalnya padaku untuk Angger pertimbangkan. Aku hanya dapat menenangkan bahwa keamanan dan kedaulatan Tanah Perdikan justru masih tegak berdiri karena keputusannya untuk melaporkan peristiwa tersebut pada Pangeran Purbaya.”

Agung Sedayu mengangguk pelan saat nama Ki Argajaya disebut oleh Ki Gede.. “Ki Argajaya tidak perlu menyesal. Keputusan dan langkah beliau adalah adat yang memang harus dijaga dan dilindungi oleh semua orang meski tidak setiap orang dapat berbuat yang seperti beliau lakukan.”

Ki Gede menarik napas panjang. Usia dan pengalaman membuatnya paham bahwa sebagian orang tidak bergerak karena siasat, melainkan karena adat dan luka batin.

“Adikku itu,” ujar Ki Gede pelan, “bukan orang yang pandai menyusun laporan dan bukan orang yang gemar menjual omongan. Tapi justru karena itu, kata-katanya mudah dipercaya. Hanya saja, Pangeran Purbaya adalah orang pertama yang mendengarnya di kotaraja, bukan yang lain.”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ki Gede,” sahut Agung Sedayu. “Bukan saya bermaksud meremehkan perkembangan yang bakal terjadi, tapi justru akan menjadi lebih buruk jika yang menerima laporan itu bukan Pangeran Purbaya. Misal, orang Raden Atmandaru yang masih bersembunyi di kedalaman Keraton.”

Agung Sedayu menarik napas panjang, lalu ucapnya, “Yah, siapa tahu memang masih ada di salah satu sisi dinding istana yang gelap.”

Ki Gede terdiam sejenak, menimbang sesuatu yang tidak dapat diubah. “Jika Ki Argajaya sudah  bicara,” katanya, “aku memang tidak dapat memeriksa kesalahannya. Tapi ada akibat yang muncul ke permukaan.”

Agung Sedayu mengangguk lalu menunduk hormat. “Kewajiban saya telah dibatasi aturan dan larangan. Beberapa orang mungkin akan mengadakan peninjauan meski kadang-kadang, bahkan sering, kebenaran selalu datang terlambat.”

Ki Gede melonggarkan urat saraf sambil mengatur pernapasan. Tidak ada nasihat panjang, tidak ada larangan. Hubungan mereka tidak memerlukan itu. “Belajar dari pengalaman yang lalu, aku pernah mengalami keadaan bahwa kadang ada persoalan yang tidak membutuhkan orang untuk membuktikan kebenaran, tapi bagaimana penilaian itu berkembang.”

Agung Sedayu meraih telapak tangan Ki Gede. Ucapnya, “Restu, Ki Gede.”

Mereka saling berpandangan sebentar—dua orang yang sama-sama tahu bahwa setelah hari ini, maka segalanya akan mengarah pada banyak hal tak terduga.

 Agung Sedayu melangkah, menuruni tlundak, bergeser ke bagian lain dari kediaman pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu.

Di belakangnya, Ki Gede tetap duduk, menatap tenang ke arah regol yang sedikit ada kerumunan anak-anak muda. Dalam hatinya, dia sudah menerima satu kemungkinan: jika ada orang selain Ki Argajaya yang telah melapor pula ke kotaraja, maka perjalanan Agung Sedayu adalah pembuktian sekaligus perlawanan terhadap bayang-bayang penilaian orang terhadap dirinya. Sunan Agung, Pangeran Purbaya dan Pangeran Mangkubumi serta beberapa lainnya. Mereka semua bukan lawan yang harus dihadapi, tapi juga bukan pemimpin yang harus ditakuti. Ki Gede memahami itu sangat baik.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 7 – Agung Sedayu Melipat Senja

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 39 – Gelisah di Lorong Barak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.