Siang yang tidak begitu panas ketika matahari tampak muram terhalang mendung yang mengapung di bawahnya.
Barak pasukan khusus masih tampak lengang. Keadaan yang dapat dipahami sepenuhnya. Mereka pantas mendapatkan kelonggaran setelah ketegangan yang nyaris tak berujung saat pasukan Raden Atmandaru rajin bergentayangan tiap hari di dusun-dusun. Orang-orang bergerak seperti biasa: bercakap seperlunya, tidak bercanda seperti suasana di saat menjelang panen. Dengan begitu, maka kegelisahan terasa kuat mencengkeram dengan kukunya yang panjang.
Ki Lurah Sanggabaya duduk di atas lincak di lorong yang sebelumnya menjadi tempatnya bicara dengan Agung Sedayu. Di dekatnya, Ki Demang Brumbung duduk tanpa menyembunyikan gelisah yang menguasai perasaannya.
“Kabar itu sudah pasti,” kata Ki Demang Brumbung akhirnya, memecah sunyi. “Ki Wedoro Anom tiba di kotaraja lebih dulu. Langsung menghadap Pangeran Purbaya.”
“Bagaimana dia dapat atau tega melakukan itu? Ki Jayaraga telah mengatakan seluruhnya pada saya. Akhir hidup Ki Ramapati, perlawanan orang-orang di halaman banjar. Bukan hanya Ki Jayaraga, tapi ada Ki Sarwana Tiban yang melaporkan keadaan yang sama dengan keterangan Ki Jayaraga,” ucap Ki Lurah Sanggabaya. “Saya, jujur, sulit membayangkan kedudukan maupun suasana hati Ki Wedoro Anom.”
“Lebih cepat dari Ki Rangga,” ujar Ki Demang Brumbung. “Apakah itu berarti ada manfaat dalam tekanan?”
Mereka diam agak lama. Mematung dengan lintasan pikiran yang dapat dipahami oleh mereka sendiri. Jika seorang bawahan dapat memintas jalan untuk memberi laporan pada atasan yang lebih tinggi, maka ada sesuatu yang memang pantas dikhawatirkan. Bukan hukuman atau teguran, tapi kepercayaan akan terasa seperti angin yang tidak mempunyai pijakan.
“Kalau begitu,” kata Ki Sanggabaya perlahan, “Ki Rangga dalam keadaan yang mencemaskan.”
Ki Demang Brumbung menarik napas dalam. “Itu yang saya pikirkan sejak menerima berita dari kawan di kotaraja. Ada celah untuk menyebut pelanggaran keprajuritan. Ki Rangga tidak memberi laporan sedikit pun ke kotaraja mengenai siasat atau hal lainnya.”
Tatap mata Ki Sanggabaya cukup tajam saat berkata, “Ki Wedoro Anom. Dia tidak ada di Gunung Kendil, tidak terlihat di barak, tidak melapor saat pertempuran usai. Tapi dia ada di kotaraja dan Tanah Perdikan.”
Mereka kembali mematung
“Telik sandi Pangeran Purbaya,” ucap Ki Demang Brumbung dengan punggung bersandar tiang kayu.
Ki Sanggabaya mengerutkan kening tipis. “Ada dua kepentingan yang bertabrakan di wilayah yang cukup luas. Ada tiga pihak yang kehilangan orang.”
“Mati dengan jejak yang belum pasti tapi arahnya sudah jelas, pasukan khusus,” kata Ki Demang Brumbung.
Kali ini tanpa tedeng aling-aling, Ki Lurah Sanggabaya berkata, “Yang dipimpin Ki Rangga Agung Sedayu. Kebetulan yang jelas bukan kebetulan dengan rencana.”
“Apakah Ki Rangga membawa serta lencana itu ke kotaraja?”
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk.
“Seandainya lencana itu dibuang, pasukan khusus tetap akan ditanya,” lanjut Ki Demang Brumbung. “Seandainya ditunjukkan, pasukan khusus juga akan ditanya.”
“Dengan sudut pandang yang berbeda dan penilaian yang dapat digeser cukup mudah,” tambah Ki Lurah Sanggabaya. “Kesetiaan adalah kebenaran yang paling mudah tergelincir di kotaraja.”
Ki Demang Brumbung berkata dengan hati-hati, “Ki Wedoro Anom datang lebih dulu. Membawa laporan. Lalu ada telik sandi Pangeran yang mati. Rangkaian itu terlalu mudah disusun menjadi cerita yang menyudutkan.”
Sesaat Ki Demang Brumbung berhenti, lalu melanjutkan ucapannya, “Tapi kematian petugas sandi itu pasti tidak diketahui oleh Ki Wedoro Anom dan tak mungkin Pangeran Purbaya memberitahukan itu padanya. Maka cerita buruk yang disengaja pun dapat diabaikan sementara.”
“Padahal saya tidak memintanya datang ke kotaraja sambil membawa laporan. Ki Prana Aji pun mengakui bahwa dirinya sempat didesak oleh pengawal Tanah Perdikan untuk melapor. Tapi, semua orang tetap tegak lurus dengan perintah Ki Rangga, kecuali satu orang,” kata Ki Lurah Sanggabaya dengan kening berkerut keras.
“Yah, kecuali satu orang,” ulang Ki Demang Brumbung. “Hanya dua kemungkinan yang tersisa, kepentingan atau menyenangkan.”
Mereka saling pandang dengan kesadaran yang sama.
Ki Sanggabaya mengepal jemarinya lalu berkata, “Maka hanya satu yang bisa kita lakukan: memastikan barak ini tetap tenang, rapi, dan bersih dari gerak yang mencurigakan.”
Ki Demang Brumbung mengangguk. “Dan berharap Ki Rangga tiba di kotaraja dengan cukup ruang untuk bicara.”
Harapan itu tidak diucapkan dengan lantang. Di barak pasukan khusus, harapan selalu disimpan seperti senjata cadangan.
Di luar, langit tampak biasa saja. Namun bagi mereka berdua, segalanya cukup jelas sedang memberi waktu untuk menilai orang yang cukup lama menanggung beban sendirian.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Kinasih: Harapan yang Disusun Rapi
Rumah Ki Gede Menoreh, pada hari itu, terkesan seperti simpul dari banyak jalan: pembagian air, penutupan lahan kering, duka, siasat, dan keberangkatan. Di antara itu semua, Kinasih tetap pada kedudukannya sebagai tamu yang sudah berhari-hari tinggal di kediaman.
Agung Sedayu menghampirinya di gandok tengen. Seperti biasa, setiap orang akan menyentuh lengannya lalu bercakap sedikit atau banyak. Seperti biasanya pula, langkah Agung Sedayu tetap terukur, mantap dan ada wibawa yang tidak muncul seperti memberi perintah.
“Kinasih,” sapa Agung Sedayu pada Kinasih yang sedang membuat anyaman nasi dari batang tipis bambu. Suara yang tak begitu keras tapi cukup membuat Kinasih mengangkat wajah lalu menoleh.
“Ki Rangga,” jawab Kinasih sambil menunduk hormat.
Agung Sedayu berhenti pada jarak yang wajar. “Terima kasih,” katanya. “Atas semua yang kau lakukan untuk Tanah Perdikan. Banyak hal berjalan lebih tenang dan aman karena tanganmu.”
Kinasih terdiam sejenak. Ucapan itu tidak pernah ditunggu atau diharapakan olehnya, tapi ketika datang dari Agung Sedayu, maka terasalah kesejukan seperti air yang jatuh tepat di tanah yang kering setelah kemarau panjang.
“Saya menghormati Tanah Perdikan dan Ki Gede, jadi saya melakukan yang sudah seharusnya, Ki Rangga,” katanya lirih.
“Perbuatan yang seharusnya dilakukan,” ucap Agung Sedayu, “sering kali justru yang paling berat.”
Kinasih tidak ingin menanggapi karena bukan seperti itu yang diajarkan gurunya. Nyi Banyak Patra tidak pernah mengizinkan dirinya untuk menganggap berat atas suatu pekerjaan. Dia tidak ingin menanggapi karena getar kecil sedang memukul rongga dadanya. Dia tahu, pujian dapat bernilai dan dapat pula harus dijadikan buangan, tapi ucapan dari lelaki di hadapannya memang terdengar cukup berat dipikul pundaknya.
“Gurumu,” lanjut Agung Sedayu, “Nyi Banyak Patra, masih berada di barak pasukan khusus. Keadaan di sana belum memungkinkan untuk ditinggalkan.”
Kinasih menahan napas lalu mengangguk. Nama itu selalu menjadi penopang sekaligus panggilan. “Saya mengerti,” katanya. “Beliau tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya.”
Agung Sedayu mengamati wajah Kinasih sesaat, seolah membaca sesuatu yang tidak diucapkan. “Jika ada kabar yang perlu aku sampaikan, aku pasti melakukannya.”
Kinasih mengangguk lagi. Setelah itu, percakapan seperti kehilangan kata-kata tapi tidak seperti itu di dalam diri Kinasih. Dia ingin mengatakan bahwa dirinya ingin turut serta ke kotaraja. Bukan semata karena ingin menantang bahaya seperti di sabuk ular lereng utara Gunung Kendil, bukan untuk menyegarkan jiwani yang lelah, tapi sesuatu yang tidak mungkin terucapkan olehnya: ingin berada cukup dekat untuk memahami, cukup dekat untuk membantu.
Namun pada bagian hatinya yang lain, Kinasih juga ingin menemui gurunya, Nyi Banyak Patra. Tapi barak pasukan khusus bukan tempat yang mudah bagi seorang gadis untuk datang begitu saja. Terlalu banyak mata, terlalu banyak aturan tak tertulis. Keinginan itu harus ditahan, setidaknya untuk saat ini.
Keadaan lain yang paling menggetarkan adalah: setiap kali Agung Sedayu berdiri di hadapannya dengan sikap setenang itu, Kinasih selalu merasa sedang berhadapan dengan jarak dan dinding yang mustahil ditembus. Tanggung jawab yang mengelilingi murid Perguruan Orang Bercambuk itu seperti dinding tak kasatmata.
Kinasih sadar bahwa dirinya tidak diizinkan melampaui batas. Dia paham bahwa ada sisi yang tidak mungkin mengganggu, tapi dapat setia pada arah yang sama.
Agung Sedayu memecah keheningan. “Aku akan berangkat sekarang.”
Kinasih mengangkat wajah. “Semoga perjalanan Ki Rangga selamat.”
Agung Sedayu mengangguk. “Jaga dirimu, Ki Gede, Nyi Pandan Wangi dan Tanah Perdikan.”
“Saya, Ki Rangga,” jawab Kinasih.
Agung Sedayu berbalik dan melangkah pergi. Tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Tapi saat memandang punggung Agung Sedayu, Kinasih merasa orang itu sebenarnya menyimpan lebih banyak makna daripada kata-kata yang bisa diucapkan.
Kinasih tetap berdiri hingga langkah itu benar-benar lenyap. Di dalam dadanya, keinginan-keinginan yang belum waktunya itu disusun rapi kembali, dijaga sampai tiba saatnya.
Saat kesunyian datang menyapa kedalaman rumah Ki Gede Menoreh, Kinasih tahu: kesetiaan tidak selalu berjalan di depan. Kadang berjalan sejajar, dengan jarak yang sopan, menunggu dunia cukup lapang untuk satu langkah kecil ke depan .
