Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 46 – Ketika Kesetiaan Agung Sedayu Dipertanyakan

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Untara berpaling pada Ki Patih Mandaraka, lalu berkata, “Saya pikir Ki Gede bukan hanya menjadi seorang pemimpin di Tanah Perdikan, tapi pengayom dan sekaligus pelindung. Bahkan, mungkin, beliau sudah berkedudukan seperti seorang ayah bagi Sedayu, Ki Patih.”

Ki Patih mengangguk lantas menatap Agung Sedayu. “Apakah ada kegaduhan di antara bebahu?”

Agung Sedayu memandang arah Ki Patih tapi tidak langsung pada wajahnya. Setelah menunduk sesaat, melirik sepintas pada Ki Untara, Agung Sedayu kemudian menjawab, “Saya tidak mendengar pembicaraan yang menyentuh persoalan itu, Kakang.”

Pemimpin pasukan khusus itu menggeser duduknya, lalu sepenuh hati berkata pada Ki Patih Mandaraka, “Tidak ada kegaduhan dengan pengertian orang-orang membicarakan itu tidak secara sembarangan di pasar, gardu atau tempat lain. Tapi saya tidak dapat menjangkau pembicaraan di dalam rumah.”

“Tapi, serba sedikit atau banyak, mereka mungkin menyebut nama Swandaru,” sahut Ki Untara.

“Itu kemungkinan yang terbuka, Kakang,” ucap Agung Sedayu.

Ki Patih Mandaraka tampak memejamkan mata, merenung sebentar, kemudian bertanya, “Siasatmu itu, melarang Pandan Wangi melihat jasad ayahnya. Bagaimana orang-orang berpendapat?”

“Saya,“ Agung Sedayu menghentikan ucapan, menarik napas sesaat. “Saya harus mengakui bahwa ada kebiasaan mulia yang dilanggar. Saya melakukan dengan sadar dengan pertimbangan bahwa itu bukan kematian yang sesungguhnya.”

“Ki Rangga, Anda terlalu berani bersinggungan dengan sesuatu yang sepatutnya dijaga dengan nyawa sendiri,” ucap Ki Untara lirih tanpa bernada menyalahkan atau menyudutkan adiknya.

“Pertimbangan,” ulang Ki Patih Mandaraka pelan.”Pertimbangan yang tentu ada alasan atau suatu keadaan yang membuatnya tegar berdiri.”

Agung Sedayu menunduk. “Keadaan, Ki Patih.”

Ki Untara, yang juga seorang prajurit Mataram, berkata lirih, “Keadaan yang membuatmu merasa tersudut atau merasa harus tanpa menunggu disudutkan?”

“Saya tidak melihat cara yang lebih baik untuk membuat mereka keluar. Ruang gerak mereka pun seluas wilayah Tanah Perdikan itu sendiri,” jawab Sedayu. 

“Bagaimana Ki Gede bisa menerima pendapat itu? Sedayu, saya tidak berhak mengatakan ada kesepakatan karena Angger cukup paham Ki Gede sangat baik, ” kata Mandaraka.

“Ki Gede menyatakan bahwa beliau sadar seharusnya perkemahan itu dilarang sejak awal, tapi mereka adalah orang yang pandai menempatkan diri,” ucap Sedayu datar. “orang-orang itu melebur sepenuhnya dalam keseharian orang-orang di Tanah Perdikan.

Ki Untara menoleh lekat lalu menghela napas. “Benar, Ki Gede tidak mengubah sedikit pun dari pandangan hidupnya. Orang baik tidak boleh diraba niat dan tujuannya. Yah, begitulah Ki Gede,” ucapnya begitu lirih lalu menggelengkan kepala sekali.

“Apakah kedekatan itu sudah  cukup kuat untuk dijadikan dasar larangan bagi Pandan Wangi melihat jasad Ki Gede?” tanya Ki Untara lebih lanjut.

Ruangan terasa lebih sunyi. Bahkan bunyi serangga malam seperti menjauh.

Agung Sedayu menatap lantai sejenak sebelum menjawab. “Mereka adalah orang yang juga setiap hari melihat, bicara dari jarak dekat dengan Ki Gede.”

Ki Patih Mandaraka memandang Ki Tumenggung Untara, katanya, “Ki Tumenggung, saya pikir kedekatan itu mempunyai kemungkinan yang sangat terbuka bahwa mereka hafal warna rambut atau bentuk tangan Ki Gede.”

Ki Untara mengangguk lalu menyandarkan punggung.

Ki Patih Mandaraka lantas menoleh pada Agung Sedayu, ucapnya kemudian, “Ada kekhawatiran dan kecemasan yang mungkin sudah terbaca saat mengamati keamanan lingkungan Tanah Perdikan yang dijejali pengikut Raden Atmandaru. Ki Rangga dapat katakan itu.”

“Orang-orang itu berada di sekitar para bebahu dan pengawal Tanah Perdikan,” kata Agung Sedayu. Sejenak dia memandang wajah Ki Untara.

“Apabila Pandan Wangi memperoleh izin khusus,” kata Agung Sedayu setelah merenungkan jawaban agak lama, “maka kerabat dan bebahu Tanah Perdikan bisa menuntut hak yang sama. Saya tidak pernah meragukan Pandan Wangi. Keyakinan saya padanya tidak berubah.”

Agung Sedayu berhenti sejenak, kemudian ucapnya, “Tapi apakah keyakinan itu juga dapat saya sandarkan pada semua orang yang berada di sekitarnya? Bebahu atau kerabatnya?”

Di luar, malam tetap sunyi.

Tapi di bagian dalam Kepatihan, Agung Sedayu sedang menerangkan keadaan di Tanah Perdikan dengan hati yang cukup bising dengan gemuruh!

“Sedayu, ada kepercayaan yang memiliki nilai lebih tinggi dari benda apa pun di dunia ini,” ucap Ki Untara.

“Seandainya waktu itu saya tidak yakin dan percaya pada Pandan Wangi, dan Pandan Wangi sedikit bergeser kepercayaan maupun keyakinannya pada saya. Itu bukan tidak mungkin, dia mampu menggerakkan seisi Tanah Perdikan untuk menghalangi saya,” kata Agung Sedayu dengan napas tertahan. Dia tidak sedang gugup tapi dirinya sedang terikat dengan masa sulit itu.

Suasana menjadi hening untuk waktu yang agak lama. Tiga orang tersebut agaknya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Ki Patih Mandaraka tampak mengangguk berulang, lalu menoleh pada dua bersaudara yang ada di dekatnya. Kemudian ucapnya pada Agung Sedayu, “Keyakinanmu juga bersandar pada kerelaan Ki Gede”.

Ki Untara mengangguk pelan seakan menganggap kalimat itu ditujukan pada dirinya.

Saat Malam di Beranda Samping Keraton

Pada malam Agung Sedayu berada di Kepatihan, Pangeran Purbaya terlihat sedang duduk berdampingan dengan salah satu putra Sunan Agung, Pangeran Selarong.

Lampu minyak di beranda samping keraton menyala tenang. Cahaya kekuningan itu tidak cukup terang untuk menembus pekat malam ketika udara masih basah setelah hujan mengguyur tipis kotaraja.

Pangeran Selarong duduk dengan sikap tegak, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Tatapannya tidak berkelana, melainkan terarah, seperti orang yang sedang menimbang waktu untuk menyelipkan satu pertanyaan di antara jeda.

“Mungkin tidak sepantasnya untuk dibicarakan,” ucap Pangeran Selarong pelan. “Tapi saya juga penasaran.” Dia tersenyum kemudian.

Pangeran Purbaya mengangguk lalu menoleh sedikit. “Tentang Ki Rangga?”

Terdengar hela napas dari Pangeran Selarong, lalu dia berkata, “Benar, tentang Ki Rangga Agung Sedayu.”

“Paman kira Ki Rangga sedang bermalam di Kepatihan sekarang,” ucap Pangeran Purbaya. “Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak muda. Bahkan sejak awal Mataram berdiri.”

Pangeran Selarong manggut-manggut meski belum ada hal penting yang dibicarakan oleh pamannya itu.

“Apakah ada yang ingin Pangeran ketahui?” tanya Pangeran Purbaya pada putra Sunan Agung tersebut.

“Saya tidak tahu harus berkata seperti apa atau bagaimana,” jawab Pangeran Selarong dengan nada suara yang sengaja ditahan. Ada kesedihan yang belum beranjak dari matanya. “Ki Rangga berhasil memadamkan api yang dinyalakan Raden Atmandaru. Jika saya berjalan mundur, Ki Rangga bahkan sudah mengawalinya jauh sebelum kakek pergi berburu di Alas Krapyak.”

Pangeran Purbaya diam. Bergumam pun tidak dilakukannya.

“Lalu sekarang, beliau dikatakan banyak orang sebagai orang yang paling mungkin melakukan makar atau kekacauan lain yang sejenis,” ucap Pangeran Selarong sambil menggelengkan kepala.

 “Seandainya benar,” sambungnya dengan suara lebih pelan dan terdengar cukup berhati-hati, “meski saya tidak dapat percaya, apakah secepat itu Ki Rangga mengubah dasar keyakinannya? Untuk apa?”

Pangeran Purbaya tidak segera bersuara. Putra Panembahan Senapati sekaligus paman Sunan Agung ini juga merasakan hal yang sama: wajib berhati-hati. Menurut penilaiannya, Agung Sedayu tumbuh tidak dengan perintah langsung dari Keraton maupun Kepatihan. Pengaruh dan kekuatan Agung Sedayu justru muncul secara wajar di Tanah Perdikan dan Mataram sendiri. Ada sejarah panjang, ada kesetiaan dan keberanian seorang anak muda yang kemudian menjadi senapati andalan Mataram itu.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 34 – Di Rumah Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 2 – Pandan Wangi Gugat

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.