Setelah mengatur jalan napas, Pangeran Purbaya berkata, “Dalam keadaan sekarang, ketika hampir setiap mata tertuju padanya, maka tidak banyak yang dapat dilakukan Ki Rangga selain mengamati keadaan sambil tetap melakukan tanggung jawab.”
Angin berdesir tipis di sela tiang beranda.
“Yah, apalagi Swandaru juga tidak terlihat bergerak sama sekali di dua wilayah yang seharusnya diawasinya,” sambung Pangeran Purbaya. “Sebagian orang tentu bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada hubungan mereka? Atau lebih jauh lagi, mereka dapat menduga-duga keberlangsungan yang kurang baik di dalam Sangkal Putung sendiri. Itu semua bukan perkara yang mudah dihadapi Agung Sedayu.”
“Paman,” kata Pangeran Selarong dengan suara sedikit bergetar.
Pangeran Purbaya tersenyum saat merasakan kejanggalan pada keponakannya itu. “Ada apakah Pangeran?”
“Kepergian Swandaru itu, apakah mungkin terkait dengan keadaannya sebagai tahanan rumah?” Setelah kalimat itu terucap, Pangeran Selarong menarik napas panjang seolah baru saja melepaskan sesuatu yang ditahan cukup lama. Lagipula, pertanyaan itu terasa sangat penting baginya karena dia berada di Sangkal Putung ketika Swandaru meninggalkan tempatnya ditahan.
Mengangguk menjadi jawaban pertama Pangeran Purbaya yang tidak dapat dipastikan bentuknya. Apakah Pangeran Purbaya membenarkan pertanyaan Pangeran Selarong atau mengangguk itu tanda mengerti bahwa keponakannya memperlihatkan kemajuan berpikir?
“Pangeran, itulah yang Paman sebut tadi sebagai keberlangsungan yang kurang baik di kademangan,” ucap Pangeran Purbaya sareh. “Paman tidak sekejam itu pada Swandaru meski dia hampir benar-benar mengangkat senjata untuk melawan Mataram. Segala yang terkait dengan dirinya, Paman tidak dapat memutuskan sendiri karena ada Sinuhun dan Mataram sendiri.”
Setelah menepuk bahu Pangeran Selarong, Pangeran Purbaya berkata lagi, “Menghukumnya pada saat itu adalah jalan pintas demi ketertiban dan keamanan perintah panglima tertinggi di wilayah, Nyi Pandan Wangi. Setelah itu, setelah semua selesai termasuk tindakan Ki Rangga terhadap Raden Atmandaru di Gunung Kendi, setiap persoalan akan diurai satu demi satu sehingga tidak ada yang terlewat. Harus ada keadilan yang menyertai pertimbangan.”
Pangeran Selarong menatap lurus ke halaman yang gelap.
“Cukup menarik dan sepertinya memang Ki Rangga itu adalah orang yang selalu pantas menjadi pusat pembicaraan,” katanya dengan senyum tipis. Kelegaan memancar dari raut wajahnya.
Pangeran Purbaya membenahi duduknya, kemudian berkata,”Yang dirasakan Pangeran adalah suatu yang wajar karena memang seperti itulah Ki Rangga dalam pandangan kebanyakan orang.”
Di kejauhan, terdengar bunyi kentongan ronda yang dipukul dua kali putus-putus. Malam tetap mengapung tanpa hambaran seperti awan tipis yang berarak perlahan.
“Paman,” bisik Pangeran Selarong sambil mendekatkan diri pada Pangeran Purbaya. “Apakah Sinuhun ada rencana untuk melantik seseorang dalam waktu dekat ini?”
Pangeran Purbaya tidak langsung menjawab dan wajahnya tampak begitu dingin.
“Apakah Pangeran berharap ada nama Ki Rangga dalam susunan jika seandainya Sinuhun memang mempunyai rencana?”
Putra Panembahan Hanykrawati itu menarik tubuh sedikit. “Saya kira adalah sebuah kepantasan jika Ki Rangga berada di dalamnya.”
Pangeran Purbaya mengangguk. “Kepantasan. Apakah Mataram terikat dengan pantas dan tidak pantas untuk menilai seseorang?’
Pangeran Selarong menjawab dengan nada datar, “Jika seperti itu, orang dapat berkata bahwa Mataram tunduk pada keadaan.”
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem. Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ; Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831 Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem. Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Seorang lurah prajurit memberi tanda meminta izin masuk.
“Pangeran,” katanya setelah memberi sembah singkat. Lurah ini pernah bergerak pula di Tanah Perdikan beberap waktu menjelang pertempuran Gunung Kendil. Orang ini adalah sedikit dari petugas sandi yang dapat selamat kembali ke kotaraja ketika ada temannya yang justru terbunuh di sana.
“Dari penjagaan sisi barat kotaraja diperoleh kabar bahwa seorang lelaki yang mencurigakan terlihat di sekitar pasar belakang istana,” terang lurah prajuirt itu.
Pangeran Purbaya diam sejenak. Dia tahu bahwa penjagaan dan pengawasan masih dalam kesiagaan tinggi karena ada laporan sandi yang menyatakan bahwa ada beberapa pemimpin pemberontakan ternyata lolos dari serangan.
“Bagaimana kecurigaanmu itu?” tanya Pangeran Purbaya kemudian.
“Saya yakin pernah melihatnya dua kali di dua tempat yang berbeda” jawab lurah tersebut. “Dan itu tidak berjarak terlalu lama dari sekarang.”
Ternyata justru bukan Pangeran Purbaya yang bertanya lebih lanjut, tetapi Pangeran Selarong.
“Ki Lurah pernah melihatnya di mana saja?” tanya Pangeran Selarong dengan nada yang cukup tenang.
“Sekitar perkemahan Raden Atmandaru dan pedukuhan induk,” jawab lurah prajurit tersebut.
Pangeran Purbaya merenung beberapa lama, lalu bertanya, “Adakah tambahan lagi?”
Lurah prajurit itu menggeleng dan tampaknya dia sadar bahwa itulah saatnya mengundurkan diri dari beranda.
“Saya mohon izin bila Pangeran sekalian sudah tidak ada keperluan lagi,” katanya.
Pangeran Purbaya mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih sambil memberi izin pada lurah itu untuk meninggalkan mereka.
Setelah bayangan lurah prajurit itu tidak tampak lagi dan ketika suara serangga malam mengambilalih, Pangeran Selarong tampak sedang berpikir keras. Dengan wajah sungguh-sungguh, dia berkata akhirnya, “Paman, ketika pertempuran di Watu Sumping, Ki Lurah Sabungsari pernah menyampaikan sesuatu yang menarik perhatian saya.”
Pangeran Mataram yang berusia sedikit di bawah Sunan Agung berhenti sejenak. Agaknya dia sedang memilih kata, lalu suaranya terdengar lagi, “Dia mengatakan ketika pasukan lawan bergerak mundur, dirinya melihat dua orang yang pernah dijumpainya ketika benturan di sekitar sungai di Jati Anom. Menurutnya, dua orang itu bahkan sempat terlibat perkelahian dengannya, Ki Lurah Panuju dan beberapa prajurit Mataram. Tak lama kemudian, Ki Rangga Agung Sedayu tiba di tempat perkelahian dan melibatkan diri di dalamnya.”
Pangeran Selarong berhenti sejenak, mengingat-ingat sesuatu sebelum benar-benar memastikannya dalam ingatan, lalu berkata lagi, “Perkelahian itu, menurut Ki Lurah Sabungsari, terjadi beberapa saat sebelum api melanda Jati Anom.”
Sambil melemparkan pandangan jauh, Pangeran Selarong meneruskan, ”Setelah pasukan lawan bergerak mundur, kami berdua sempat mendengar seseorang berteriak dari kejauhan, mungkin dari dalam barisan itu sendiri. Orang itu seperti sedang bertanya tentang seseorang.”
Pangeran Purbaya menoleh.
“Apa yang dikatakannya?”
Pangeran Selarong menjawab perlahan, “Dia bertanya ke mana perginya orang yang katanya telah mendalami kitab Kyai Gringsing.” Putra Panembahan Hanykrawati itu kemudian menatap wajah pamannya cukup lama, kemudian mengalihkan pada bebatuan yang menjadi penghias taman.
Setelah berdiam diri cukup lama karena nalar tajam Pangeran Selarong mengurai perkembangan, Pangeran Purbaya pun berkata, “Ngger, Mataram tidak berdiri dalam satu malam. Mataram tidak mungkin dapat bertahan dalam satu tahun yang panjang jika hanya mengandalkan kemampuannya sendiri tanpa dukungan dari dalam dan hubungan batin yang kuat di antara orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kelak, pangeran akan memahami keadaan seperti ini dengan sedikit perbedaan.”
Sambil memandang keponakannya itu, Pangeran Purbaya bertanya lagi, “Adakah Sabungsari mengatakan sesuatu? Maksudku, mungkin dia mempunyai uneg-uneg yang sempat diutarakan pada Ki Tumenggung Untara tapi dengan alasan tertentu, maka uneg-uneg itu tidak dapat ditindaklanjuti.”
Pangeran Selarong berguman sebentar, katanya kemudian, “Yah, ingatan ini bisa saja salah tapi Ki Lurah Sabungsari mengatakan pada Ki Tumenggung Untara, bahwa hanya alasan yang sangat kuat yang sanggup menggerakkan Ki Rangga hingga tiba di sungai. Dia menduga itu ada kaitannya dengan kitab Kyai Gringsing.”
Ucapan terakhir Pangeran Selarong seolah menjadi penutup perbincangan pada malam itu. Pangeran Purbaya seolah sedang mengolah lalu menduga bahwa sesuatu yang dapat menggemparkan sedang mencari jalan untuk menyatakan diri.
Desir langkah peronda bagian dalam samar-samar terdengar. Rembulan tidak begitu kuat memantulkan sinar yang terhalang mendung. Malam mengambang pelan menuju persinggahan berikutnya.
