Agung Sedayu mengangguk. Sepintas dia menangkap lirik mata Pangeran Selarong saat mengarah pada pintu ruangan yang tertutup rapat. Kemudian terlihat pula olehnya perubahan pada garis wajah Pangeran Selarong yang sedikit menegang.
“Paman, kedai belakang istana itu apakah semacam, yah, seperti banyak obrolan antara penting dan tidak penting?” tanya Pangeran Selarong tiba-tiba.
“Tidak selalu begitu, Pangeran,” jawab Agung Sedayu tanpa bertanya balik maksud Pangeran Selarong. “Saya pernah singgah sekali dan kabar orang yang dicari juga muncul di sana. Seingat saya waktu itu masalah keamanan yang melibatkan anak-anak muda. dan ternyata ada orang yang berusaha menanamkan pengaruh buruk melalui kedai itu.”
“Oh, begitukah? Semalam.., ” Pangeran Selarong tidak meneruskan ucapan. Dia serba sedikit mengetahui kabar bahwa ada sejumlah kecil orang yang membicarakan keberadaan kitab yang hilang di Sangkal Putung. Walau begitu, Pangeran Selarong tahu bahwa mengungkap kabar yang belum pasti di depan Agung Sedayu bukanlah sikap yang segera dapat dilupakan oleh pemimpin pasukan khusus itu. Apalagi kitab yang dimaksudkannya adalah kitab Kyai Gringsing.
“Apakah semalam Pangeran nyaris menabrak paugeran?” tanya Agung Sedayu dengan senyum tanpa dipaksakan. Dia tahu ada semacam larangan bagi putra raja untuk keluar saat malam pada waktu yang sudah ditentukan. Meski begitu, Agung Sedayu paham ada sesuatu yang membuat Pangeran Selarong cepat menahan kelanjutan ucapannya. Hanya saja, dia tidak ingin menebak arah pikiran panageran Mataram tersebut.
Pangeran Selarong tertawa kecil seperti sedang menutup sesuatu. Katanya kemudian, “Ya, nyaris saja ada hukuman untuk itu.”
Tawa kecil lalu menjadi penawar suasana yang sempat membeku sesaat.
Percakapan pun bergeser tempat. Pangeran Selarong membawa Agung Sedayu berjalan di taman-taman yang berada di dalam Keraton. Bahkan mereka sempat menikmati hidangan siang di samping kolam kecil yang berada di belakang dapur istana. Pada waktu itu, tatap mata Agung Sedayu mengenali salah seorang pelayan yang bertemu dengannya sehari sebelumnya.
Kegelisahan Barak Pasukan Khusus
Pegunungan Menoreh sepertinya masih menjaga jarak dengan orang-oarng yang hidup di atasnya. Awan gelap masih menggantung tanpa hujan lebat yang diturunkan.
Bangsal itu tidak megah tapi cukup luas untuk menampung hampir seratus orang di dalamnya. Ki Lurah Sanggabaya berdiri di depan pintu bangsal yang menjadi tempat pertemuan prajurit. Ki Rangga Agung Sedayu atau senapati lainnya kadang menggunakan bangsal itu bila merasa perlu dilakukan pembekalan khusus.
Ki Demang Brumbung berdiri sedikit di samping Ki Lurah Sanggabaya. Mereka berhadapan tapi tidak sejajar dan tidak pula terlalu jauh.
Ki Lurah Sanggabaya memandang ke arah lereng. “Laporan datang dari Dusun Benda.”
“Saya mendengar, Ki Lurah,” ucap Ki Demang Brumbung yang sebenarnya berpangkat rangga itu.
“Ki Wedoro Anom mendatangi Dusun Benda. Dia berbicara kepada bebahu dusun. Meyakinkan bahwa tidak akan ada balas dendam atas benturan yang menewaskan Ki Ramapati.” Ki Lurah berhenti sejenak. “Dan ia menyatakan dirinya sebagai pemimpin pasukan khusus wilayah barat pedukuhan induk.”
Ki Demang Brumbung mengangkat wajah sedikit.”Sudah berapa lama dia berada di sana?”
Ki Lurah Sanggabaya menjawab, “Sejak benturan yang juga melukai Ki Jayaraga, dia jarang terlihat di pedukuhan induk. Kita pun sama tahu dia bahkan jarang terlihat di barak.”
“Yang membuatku ingin menghukumnya adalah dia tidak terlihat di Gunung Kendil,” ucap gemas Ki Demang Brumbung. Sesaat dia berhenti dengan tatap mata tajam pada Ki Lurah Sanggabaya, “Apakah perintah Ki Rangga Agung Sedayu tidak sampai padanya?”
“Itulah yang membuat saya ragu dan bertanya, apakah ada salah satu orang sudah berada di bawah pengaruhnya?“
Ki Demang Brumbung mengerutkan kening. “Berarti yang seharusnya adalah?”
“Seharusnya ketika Ki Rangga memberi perintah semua orang agar bersiap, maka setiap lurah dan rangga di bawah wewenang beliau harus memberi laporan kedudukan terakhir mereka. Pada waktu itu, saya belum menerima kabar dari penghubung jalur Dusun Benda atau wilayah barat pedukuhan induk,” terang Ki Lurah Sanggabaya.
“Saya sempat berpikir bahwa ada kesengajaan mengabaikan perintah itu karena ada tiga rangga di barak ini. Ki Rangga, saya dan Ki Wedoro Anom,” sahut Ki Demang Brumbung.
Ki Lurah Sanggabaya mengatur napas tenang, lalu berkata, “Tapi semua orang paham bahwa Ki Rangga adalah yang tertinggi di barak ini. Tidak ada yang membantah hal itu, bahkan orang-orang dari Keraton maupun Kepatihan,”
“Benar. Saya dari Kepatihan dan juga rangga tapi saya ada di bawah perintah Ki Rangga Agung Sedayu.”
Angin melintas di antara mereka.
Ki Lurah Sanggabaya tidak segera menanggapi. Dia tahu kalimat itu adalah kesadaran dari seorang Ki Demang Brumbung. Seseorang yang seharusnya kepadanyalah kedudukan wakil kepala diserahkan, bukan pada dirinya yang berpangkat lurah.
“Ki Wedoro Anom menyebut dirinya pemimpin pasukan khusus wilayah barat?” ulang Ki Demang perlahan.
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk. Tatapannya tidak lagi jauh; kini tajam dan langsung. “Tanpa sebab dan itu dilakukannya saat Ki Rangga tidak berada di Tanah Perdikan.”
Agung Sedayu memang tidak sedang berada di pedukuhan induk. Ketidakhadiran yang wajar. Sebelumnya, pengikut Raden Atmandaru sudah menjangkau hingga bagian dalam Kepatihan, menguasai sebagian wilayah Sangkal Putung dan berdiam di Gunung Kendil tanpa tersentuh. Berikutnya, dia harus memberi laporan pada Keraton dan Kepatihan di kotaraja, maka kekosongan itu terasa seperti celah yang dimasuki orang lain lalu mengesankan titik lemahnya selama ini: bahwa dia sering bergerak sendiri.
Ki Demang Brumbung menarik napas panjang. “Mengisi ruang kosong.”
Desir langkah kaki kemudian terdengar sedang mendekati mereka berdua.
“Satu hal yang saya ingin katakan pada Angger berdua,” ucap Nyi Banyak Patra. “Saya sering melihatnya berada di sekitar barak. Hal baiknya adalah dia tidak mengenali saya sekalipun sering menyapa.”
“Oh, Nyi Ageng,” sapa dua senapati pasukan khusus nyaris bersamaan, lalu menempatkan diri dengan sangat baik di depan putri Ki Ageng Pemanahan tersebut.
Kerendahan hati Nyi Banyak Patra tampak dari gerak tangannya yang cepat meminta dua senapati kepercayaan Agung Sedayu agar tetap bersikap biasa. Sejenak kemudian, Nyi Banyak Patra mengangguk perlahan dua atau tiga kali.
“Saya sudah banyak mendengar percakapan di antara prajurit,” katanya. ”Kegelisahan kalian memang beralasan. Salah satu dari kalian yang mendapat perintah mendampinginya di Dusun Benda pun sudah melaporkan peristiwa pada Ki Rangga. Jadi, bukan Ki Rangga yang membiarkan kecemasan ini berkembang, tapi saya minta Angger tetap tenang karena Ki Rangga dalam tekanan waktu.”
Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sanggabaya masih mematung dengan segala lompatan pikiran mereka. Ini bukan lagi persoalan Dusun Benda dan segala yang terhubung dengannya pada waktu sebelumnya, tapi batas kewenangan dan kepercayaan seluruh pasukan khusus.
Nyi Banyak Patra memandang dua senapati itu bergantian, tersenyum lalu menepuk pundak mereka bergantian. Meski demikian, dia tidak mengucapkan satu kata pun.
“Saya tidak meminta banyak dari Angger berdua,” ucap Nyi Banyak Patra sebelum meneruskan langkah mengunjungi prajurit dan tahanan yang belum pulih. “Tetap percayakan semuanya pada Ki Rangga, meskipun Angger akan mendengar atau bahkan melihat sendiri orang itu melenggang di antara Keraton dan Kepatihan.”
Walaupun Nyi Banyak Patra tidak menyebut nama atau memberi tanda khusus tentang yang dimaksudkannya sebagai orang itu, tapi Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sanggabaya dapat memahami dengan baik.
Dua pasang mata pemimpin pasukan khusus itu mengiringi Nyi Banyak Patra saat berpindah ruangan.
Ki Demang Brumbung menoleh pada Ki Lurah Sanggabaya dengan tatapan tegas, “Pendengaran beliau justru jauh lebih tajam daripada prajurit sandi kita sendiri.”
Ki Lurah Sanggabaya tersenyum tipis lalu mengangguk. “Saya memahaminya begini, beliau pernah atau sempat mengetahui kehadiran Ki Wedoro Anom di kotaraja. Kita tahu Kepatihan pun mempunyai orang-orang hebat dalam dunia sandi.”
