“Apakah ada kabar baru dari Dusun Benda?” tanya Ki Demang Brumbung dengan senyum meski kepalanya menggeleng.
“Seharusnya kita sudah menerima laporan dari sana pada pagi ini,” sahut Ki Lurah Sanggabaya,” atau selambatnya nanti siang.”
Untuk beberapa waktu, kesunyian datang menyapa mereka.
“Ki Demang,” kata Ki Lurah Sanggabaya dengan tatap mata cemas. “Jika dia ke kotaraja, maka Pangeran Purbaya adalah orang pertama yang menerima laporan. Dan ada kemungkinan itu tidak utuh sesuai urutan peristiwa.”
Untuk sejenak waktu, dia membayangkan Ki Wedoro Anom membawa berita tentang benturan, tentang kematian Ki Ramapati, tentang pasukan khusus yang bergerak tanpa Ki Rangga, maka bayangan yang terbentuk bisa sangat berbeda dari kenyataan di Dusun Benda. Jumlah kecil pasukan khusus di Dusun Benda adalah perintah langsung atasan mereka, Ki Rangga Agung Sedayu.
“Tapi Ki Rangga belum kembali,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
“Tapi kita tetap harus percaya,” tegas Ki Demang Brumbung. Dia belum pernah sekalipun meragukan Agung Sedayu bahkan saat mendapatkan kabar kematian Ki Gede yang ternyata palsu.
Ucap Ki Demang Brumbung kemudian, “Tindakan apa yang diterima Ki Rangga di kotaraja, kita belum tahu. Bagaimana pendapat Sinuhun dan Pangeran Purbaya, kita belum tahu. Yang sedikit menenangkan adalah kita sudah menduga kedudukan Ki Patih Mataram dalam memandang persoalan ini.”
Sorot mata Ki Lurah Sanggabaya kembali menatap lereng, lalu arah awan gelap yang belum menjatuhkan hujan.
“Menoreh belum selesai berduka dan baru mulai berbenah,” katanya lirih. “Tapi orang sudah menata langkah untuk esok.”
Ki Demang Brumbung bergumam, “Selalu ada orang melihat lalu mengisi setelah melihat luas ruangan dari dalam.” Kemudian sebelah tangannya memegang bahu Ki Lurah Sanggabaya.
Pada ruangan lain di dalam barak, ketelatenan dan kegigihan Nyi Banyak Patra serta ketekunan Glagah Putih dalam merawat sehari-hari banyak membantu Ki Sor Dondong menjadi semakin baik. Bila sebelumnya hanya matanya saja yang berkedip, kini dapat menggerakkan jari dan kepala. Itu kemajuan yang luar biasa, demikian Nyi Banyak Patra memberi penilaian.
“…Itu kemajuan yang luar biasa,” ucap Nyi Banyak Patra singkat.
Glagah Putih tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menunduk pada lengan Ki Sor Dondong yang terbuka hingga siku. Luka orang itu terletak di bawah permukaan kulit, sobekan urat akibat tenaga cadangannya yang menggelepar liar di antara jalur darah. Sepupu Agung Sedayu itu sadar bahwa pada hari benturan di Gunung Kendil, bahwa sebenarnya tidak ada persoalan pribadi di antara mereka tapi keadaan terus memaksakan terjadinya benturan ilmu yang dahsyat.
Glagah Putih membantu pekerjaan Nyi Banyak Patra dengan hati-hati, mengganti kain pembalut dengan yang baru, membalurkan ramuan di sepanjang lengan, bagian dada, lalu menutup lagi dengan kain baru.
Sangat cepat, pikirnya. Beberapa hari sebelumnya, mereka adalah lawan di medan laga dalam perkelahian antara hidup dan mati. Pukulan demi pukulan Glagah Putih menggedor pertahanan Ki Sor Dondong, tapi kini tangan yang sama justru berusaha keras untuk memulihkan keadaan bekas musuhnya sekaligus menahan agar nyawa itu tidak melayang.
Ki Sor Dondong mengerjap. Jari-jarinya bergerak sedikit seperti akan menyatakan sesuatu.
Glagah Putih menatap wajah itu sejenak lalu menarik napas. Tidak ada kebencian dalam hatinya. Hanya sebuah pendapat seorang prajurit yang teguh pada keyakinan sendiri.
“Tidak ada yang salah atau keliru di antara kita,” ucap Glagah Putih dalam hati.
Dua pertarungan pernah terjadi di antara mereka dan masing-masing tidak disebabkan sakit hati atau dengam. Mereka berdiri berseberangan karena sama-sama meyakini sesuatu yang dianggap benar.
Nyi Banyak Patra mengawasi cermat. “Tekanan secukupnya saja,” katanya tenang.
Glagah Putih mengangguk lagi. Dia paham maksud perempuan agung itu. Luka dalam bukan sekadar sobekan kulit. Ada benturan tenaga yang menghantam isi dada, merusak aliran napas dan urat-urat halus yang tak tampak.
Dia berpindah pada pangkal pinggang, mengoleskan ramuan, lalu mengganti kainnya juga. “Seandainya saja pertempuran bisa diselesaikan seperti ini,” pikirnya. “Dibersihkan sekali, ditekan pelan, dibalut lagi lalu dibiarkan pulih.”
Namun suasana medan perang tidak pernah memberi waktu bergerak pelan untuk bertahan ketika senjata dan tekanan kejam terlalu cepat datang tanpa hitungan.
Ketika kain terakhir dililitkan, Glagah Putih merasakan sesuatu yang tidak nyaman menjalari dadanya. Bukan penyesalan karena dia adalah prajurit dan juga orang Mataram. Seandainya waktu dapat diputar, maka dia pun tetap akan mengangkat senjata.
Ada kesadaran yang merambat. “Bila kau mati sekarang, justru aku akan menyesal. Bukan tidak mungkin, aku malah kehilangan,” katanya dalam hati lalu menarik napas pelan.
Seakan dapat mendengar ucapan Glagah Putih dalam hati, Ki Sor Dondong menggerakkan kepala sedikit. Tatapan mereka sempat bertemu, singkat. Tidak ada kata yang terucap. Namun Glagah Putih merasa seperti membaca sesuatu di sana: pengakuan bahwa mereka tahu batas dan tahu makna dari kata seandainya.
Ujar Nyi Banyak Patra memecah kesunyian, “Dia cukup kuat dan masih ingin hidup.”
Glagah Putih menatap luka yang telah tertutup rapi. “Mungkin seperti itu jika dibandingkan dengan kemauannya saat di medan pertarungan,” sahutnya singkat.
“Sebaiknya Angger tetap bersikap seperti sebelumnya,” lanjut Nyi Banyak Patra, “masih ada kemungkinan dia menyimpan bahaya lalu mengeluarkan pada saat yang tepat. Tapi juga bisa saja, dia justru memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Yang pasti, saya dan Angger serta sekalian isi barak tidak boleh berharap imbal balik darinya.”
Glagah Putih berdiri perlahan setelah selesai, mengangguk pelan lalu memandangi Ki Sor Dondong yang kini bernapas lebih teratur.
“Kyai, Anda tetap akan menjadi lawan dengan pendirian yang sama,” ucap Glagah Putih. “Jika kelak kita kembali berhadapan di medan terbuka, saya harap tidak ada keraguan dalam hati saya, begitu juga dengan Anda.”
Nyi Banyak Patra tersenyum sementara raut wajahnya tidak ada perubahan.
“Tetapi saat ini, kewajiban Angger adalah menemaninya bertahan dalam tekanan yang sama. Setidaknya hari ini, kita melakukan yang semestinya,” pungkas Nyi Banyak Patra lantas beralih ke ruangan Ki Garu Wesi.
Glagah Putih mengangguk. Kehormatan dapat menjaga dirinya agar tidak membuat lawannya mati tanpa perawatan. Tapi rasa iba? Apakah perasaan itu dapat diizinkan hadir di dalam ruang hatinya? Glagah Putih memalingkan wajah, menenangkan diri. Dia ingin tetap jernih. Murid Ki Jayaraga ini sadar apabila Ki Sor Dondong benar-benar pulih, maka segala sesuatu di luar ruangan ini tidak secara tiba-tiba menjadi lunak dan lembut.
Ruang tahanan itu memang berbeda. Pintu dan jendela dibiarkan terbuka. Ki Garu Wesi duduk di tepi pembaringan. Di sisi lain ada Ki Prana Aji berdiri beberapa langkah di belakang Nyi Banyak Patra.
Nyi Banyak Patra menyerahkan mangkuk ramuan pada Ki Prana Aji.
“Mohon Ki Lurah berkenan membantu,” katanya.
Ki Prana Aji bangkit dari duduk lalu menerima. Berjalan pelan ke pembaringan. Untuk pertama kali sejak pertempuran Gunung Kendil, mereka berhadapan lagi tapi tidak dalam suasana perkelahian. Tatap mata dan raut wajah mereka tampak tegang padahal sisa gerimis belum benar-benar kering.
“Ki Sanak,” ucap Nyi Banyak Patra. “Sikap Ki Sanak berdua itu, apakah ungkapan dari keinginan untuk bertarung lagi?”
