Ki Garu Wesi tidak menyahut. Hanya lengannya yang terjulur menerima mangkuk dari Ki Prana Aji. Demikian pula Ki Prana Aji yang seperti lupa cara menjawab pertanyaan.
Tanpa menoleh pada dua lelaki yang berada di belakangnya, Nyi Banyak Patra berkata lagi, “Ki Sanak berdua dapat mengulang jika daya tahan telah pulih dalam arti sebenarnya. Saya akan menjadi penguji jika Ki Sanak berdua sudah benar-benar siap. Setelah ujian itu, saya akan menentukan kelayakan: apakah pertarungan ulang memang pantas digelar?”
Dua lelaki masih menjadi patung yang tidak dapat bersuara.
“Kyai,” ucap Nyi Banyak Patra. Kali ini seluruh dirinya menghadap penuh pada Ki Garu Wesi. “Anda dapat mencoba untuk keluar dari barak selagi Ki Rangga tidak berada di tempat. Anda dapat melihat bagaimana prajurit di barak ini mengatur penjagaan, tapi ruangan yang Anda tempati tidak pernah dikuci dari luar. Bahkan Anda bebas menengok keadaan kawan Anda di ruang lain.”
Tidak ada yang terucap dari Ki Garu Wesi. Dia mengangguk perlahan.
“Baiklah,” kata Nyi Banyak Patra setelah membiarkan keadaan cukup hening beberapa lama. “Saya sudah selesai.”
Setelah memandang Ki Garu Wesi agak lama—untuk menimbang keadaan, Nyi Banyak Patra kemudian berkata, “Ki Garu Wesi, Anda dapat berlatih dalam satu atau dua pekan mendatang. Saya tidak menuntun karena Kyai sudah paham sebagaimana mestinya.”
Ki Prana Aji agaknya dapat menenangkan diri. Senapati pasukan khusus ini mampu melihat sisi lain dari yang diucapkan Nyi Banyak Patra.
“Akibat perang, banyak orang yang kehilangan nyawa dan keluarga yang kehilangan anak atau ayah,” ucap Ki Prana Aji pada waktu yang diperkirakan langkah Nyi Banyak Patra sudah cukup jauh.
Dia berhenti sejenak, bergeser tempat, lalu berkata lagi, “Di luar, orang-orang tidak banyak menyebut Anda, Kyai. Tidak pula mereka menyebut lagi nama Raden Atmandaru. Selain nama Anda dan Raden Atmandaru, saya tidak mendengar nama lain yang disebutkan. Oleh sebab itu, saya menduga bahwa Anda dan Raden Atmandaru mempunyai hubungan dan kedekatan yang cukup kuat. Dari mereka, saya mengira hubungan Raden Atmandaru dengan Anda jauh lebih terukur dibandingkan Raden Atmandaru dengan Ki Manikmaya atau Ki Sonokeling. Meski begitu, saya tidak ingin mencari tahu penyebab atau apa saja yang dapat dikaitkan dengan kedekatan itu.”
“Tidak perlu Ki Lurah memutar kata,” tukas Ki Garu Wesi.
Ki Prana Aji menggeleng, lantas mengatakan, “Saya hanya berharap Kyai mengingat sesuatu yang penting saat menjalani kehidupan bawah tanah.”
Ki Garu Wesi bangki dari pembaringan, melangkah ke arah jendela, lalu berdiri mematung dengan tatap mata jauh melampuai atap barak pasukan khusus.
“Saya pamit dulu,” ucap Ki Prana Aji kemudian.
Derap langkah Ki Prana Aji terdengar semakin jauh dan samar-samar.
Sesampainya di persimpangan, Ki Prana Aji menengok sepintas ke dalam bilik kecil yang berdinding pendek. Ki Lurah Sanggabaya duduk sendirian di dalamnya.
“Ki Lurah,” sapa Ki Prana Aji. “Adakah sesuatu yang mungkin dapat saya lakukan?”
“Terima kasih,” sahut Ki Lurah Sanggabaya kemudian satu gerak tangan menjadi jawaban
Ki Prana Aji mengangguk lalu meneruskan langkah menuju sanggar terbuka yang terletak di tenggara bangunan induk barak pasukan.
“Adakah perkembangan baru dari penghubung Dusun Benda?” tanya Ki Demang Brumbung yang datang tak lama setelah Ki Prana Aji berlalu.
Ki Lurah Sanggabaya menoleh pada Ki Demang Brumbung kemudian mengiyakan sambil berkata, “Ki Wedoro Anom dilaporkan ada pergerakan. Dari bebahu, penghubung mengatakan bahwa dia akan pergi ke kotaraja. Selambatnya setelah matahari tergelincir hari ini.”
Ki Demang Brumbung tidak langsung menjawab. Dia memandang keluar sebentar, lalu menatap lurus Ki Lurah Sanggbaya. “Saya ingin pertimbangan,” katanya.
“Ki Demang dapat memutuskan.”
“Tidak seperti itu meski saya berpangkat lebih tinggi dari Ki Lurah.”
Hening menyapa sesaat.
“Baiklah” ucap Ki Lurah Sanggabaya. “Ki Demang dapat katakan terbuka.”
“Ki Wedoro Anom,” lanjut Ki Demang Brumbung dengan suara datar. “Dia bergerak tanpa pemberitahuan untuk barak ini.”
Ki Lurah Sanggabaya masih memberi waktu untuk menngar.
“Tentu akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan karena Ki Rangga pun masih berada di sana,” ucap Ki Demang Brumbung lalu seolah teringat sesuatu. “Mungkin juga sudah dalam perjalanan ke Tanah Perdikan atau Sangkal Putung.”
Ki Lurah Sanggabaya berkata pelan, “Meskipun Ki Wedoro Anom sudah menjadi bagian dari barak ini, tapi saya kira dia mempunyai tujuan jika tidak meminta izin terlebih dulu pada Ki Rangga Agung Sedayu. Pantas jika menjadi sesuatu yang membuat kita semua merasa khawatir.”
“Untuk itulah saya datang ke sini,” Ki Demang Brumbung mengangguk pelan. “Glagah Putih dapat Ki Lurah perintahkan untuk membayangi Ki Wedoro Anom. Hanya membayangi saja, tidak lebih.”
“Tapi dia sedang menderita luka dalam,” ucap Ki Lurah Sanggabaya.
“Saya kira bukan termasuk luka yang membahayakan,” sahut Ki Demang Brumbung. “Glagah Putih dapat menjaga diri selama perjalanan.”
Setelah menjeda sejenak, dia menyambung lagi, “Ini bukan penyergapan. Kita tidak berniat menjatuhkan seseorang, hanya membayangi karena kita butuh keterangan untuk mengalihkan prasangka.”
Ki Lurah Sanggabaya akhirnya mengangguk. “Baik. Saya segera perintahkan padanya.”
Ki Demang Brumbung menunduk hormat. Tanpa kata perpisahan, mereka cepat meninggalkan bilik itu.
Tidak lama dari percakapan dua pemimpin pasukan khusus itu, seekor kuda tampak meninggalkan barak pasukan khusus dari pintu utara. Glagah Putih menuju kotaraja tidak dalam kedudukan sebagai prajurit. Dia akan menyamar setibanya di tambatan perahu di sisi timur Kali Progo.
Sore itu angin dari barat membawa bau tanah basah dan sisa jerami terbakar. Ki Lurah Sora Sareh berdiri di samping Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sanggabaya. Mereka sedang memandang pada arah Dusun Benda yang belakangan seakan meminta perhatian.
“Ki Wedoro Anom membunuh Ki Ramapati saat terjatuh dalam pertarungannya melawan Ki Jayaraga,” kata Ki Lurah Sora Sareh pelan. Dia menyampaikan keterangan dari Ki Sarwana Tiban. “Sepanjang pertempuran itu, menurut Ki Sarwana Tiban, Ki Wedoro Anom tidak berada di garis serang atau kedudukan yang seharusnya. Maka kendali pun akhirnya diambil alih oleh Ki Sarwana Tiban.”
Ki Demang Brumbung mengangguk, begitu pula KI Lurah Sanggabaya.
“Seperti itu pula yang diungkapkan Ki Jayaraga pada saya di saat terakhir di Gunung Kendil.” Ki Lurah Sanggabaya menghela napas.
Terlihat gerak tangan Ki Demang Brumbung yang menutup mulutnya, menahan tawa meski kecil. Setelah mengatur napas, dia berkata, “Lalu dia datang menghadap Pangeran Purbaya, mengatakan bahwa dialah yang menyelesaikan urusan Ki Ramapati.”
“Itu dapat terjadi, Ki Demang,” ucap Ki Lurah Sora Sareh hati-hati.
Kali ini, Ki Demang Brumbung menarik napas panjang seolah menyadari ada sesuatu yang dapat dibenarkan dari ucapan Ki Lurah Sora Sareh.
“Ya, setiap orang berhak membuat penilaian dari pendapatnya saat memandang sebuah persoalan,” kata Ki Demang Brumbung. Sejenak kemudian dia memandang Ki Lurah Sanggabaya, lalu ucapnya, “Ki Lurah, saya kira barak ini dapat hanyut pada keadaan yang tidak diinginkan oleh semua orang.”
Ki Lurah Sanggabaya mengangguk lalu berkata, “Oleh sebab satu orang maka banyak pintu yang kemudian menjadi terbuka.”
“Yang terburuk adalah orang-orang di luar barak menjadi terlibat,” gumam Ki Lurah Sora Sareh. “Mereka bukan tidak tahu tapi tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.”
“Dusun Benda?” tanya Ki Demang Brumbung.
Ki Lurah Sora Sareh menjawab dengan anggukan kepala yang mantab. “Mereka bukan orang yang paham kanuragan dan tidak semuanya melihat peristiwa yang berlangsung sangat cepat di tengah kekacauan. Ada pasukan berkuda, ada benturan antarorang dan juga perkelahian yang sangat hebat.”
