Sesaat dia berhenti, kemudian berkata lagi, “Ketika keadaan agak tenang dan perhatian mengarah pada satu gelanggang, seseorang muncul lalu bersikap seperti pahlawan.”
“Bicara tentang Dusun Benda, itu berarti kita menyentuh bebahu dan warga dusun,” sahut Ki Lurah Sanggabaya. Dia menengadahkan wajah sambil memejamkan mata.
Dia berkata selanjutnya, “Ki Gede.”
Ki Lurah Sorah Sareh dan Ki Demang Brumbung mengangguk bersamaan.
Kata Ki Demang Brumbung, “Ki Lurah Sora Sareh atau Ki Prana Aji, hanya beliau berdua yang berada di kedudukan yang tepat untuk mengatakan itu di depan Ki Gede.”
“Bagaimana dengan Ki Demang?” tanya Ki Lurah Sanggabaya.
“Saya?” tanya balik Ki Demang Brumbung kemudian menggeleng. “Saya baru mengenal Ki Gede dan seluruh penghuni kediaman beliau. Beberapa hari terakhir ini, Ki Rangga sedang tidak di Tanah Perdikan. Saya khawatir, jika menemui Ki Gede dalam persoalan Dusun Benda, maka dapat muncul anggapan orang bahwa saya berusaha menggantikan Ki Rangga. Padahal kita tidak begitu.”
Dua orang lainnya membenarkan. Meski niat mereka benar tapi pendapat bisa disimpangkan demi tujuan tertenu.
“Baiklah, saya yang akan mengambil tugas ini,” sahut Ki Lurah Sora Sareh tegas. “Ki Sanggabaya benar bahwa urusan barak tidak boleh menyentuh warga dusun maupun bebahu.”
“Dengan mengatakan yang sebenarnya, saya pikir Ki Gede dapat mendalami perkembangan tanpa perlu pendapat dari kita yang hidup di barak,” ucap Ki Lurah Sanggabaya,” tambah Ki Lurah Sanggabaya seperti sedang menegaskan kembali tujuan percakapan sore itu. “Kita tidak menahan Wedoro Anom, dan juga tidak menghalangi langkahnya. Tapi orang-orang yang berada di bawah naungan Tanah Perdikan tidak boleh disentuh untuk urusan yang sebenarnya berada dalam wilayah keprajuritan.”
“Mudah-mudahan Ki Gede dapat menengahi permasalahan ini dan bebahu pun masih tetap memandang wajah beliau dengan baik,” kata Ki Demang Brumbung.
Ki Lurah Sora Sareh mengangguk lalu menatap Ki Lurah Sanggabaya. “Besok pagi, saya hanya mengatakan yang sebenarnya terjadi. Apakah seperti itu?”
Ki Lurah Sanggabaya tidak lantas menjawab, tapi dia memandang Ki Demang Brumbung sebentar.
“Sebaiknya memang kita berterus terang,” kata Ki Lurah Sanggabaya kemudian. “Dusun Benda, orang yang tepat sebenarnya hanya Ki Rangga Agung Sedayu. Beliau sudah menyatu dengan tanah ini sejak usia belasan tahun. Tapi Dusun Benda juga tidak dapat dibiarkan menunggu lebih lama lagi karena sesuatu sedang mengguncang wibawa Tanah Perdikan.”
Sangkal Putung
Ketika tiba di persimpangan yang menjadi simpul jalur Kotaraja, Jati Anom, dan Sangkal Putung, Agung Sedayu menghentikan kudanya sejenak.
“Saya akan ke Sangkal Putung terlebih dulu, Kakang,” kata Agung Sedayu dengan nada dan sikap penuh hormat pada Ki Untara.
Sebelum menjawab, Ki Untara menoleh terlebih dulu ke belakang untuk memastikan tiga pengiringnya tidak terlampau jauh membayangi mereka. Pemimpin barak prajurit di Jati Anom itu sengaja menempatkan tiga pengiringnya di luar kotaraja dengan pertimbangan khusus.
“Kau dapat mengajak salah satu dari mereka,” ucap Ki Untara.
Agung Sedayu menarik napas pendek, tersenyum, lalu berkata, “Kakang menempatkan mereka di luar kotaraja agar kepergian tidak tampak sebagai perjalanan resmi, lalu sekarang satu orang disertakan ke Sangkal Putung.”
Ki Untara tertawa kecil, lantas ucapnya, “Kau benar. Satu pengawal akan seperti pengumuman kepulanganmu pada semua orang.”
Mereka lantas berpisah. Agung Sedayu menempuh jalur yang mengarahkannya ke Kademangan Sangkal Putung. Sementara Ki Untara dan tiga pengiringnya berkuda pelan menuju Jati Anom.
Senja baru beralih meninggalkan Kademangan Sangkal Putung tapi malam belum benar-benar penuh ketika Agung Sedayu memasuki wilayah pedukuhan induk.
Di kejauhan terlihat dua pengawal tampak berjaga di persimpangan besar yang salah satu cabangnya mengarah ke rumah Ki Demang Sangkal Putung. Semakin dekat jarak Agung, sebagian berada di sekitar gardu jaga yang terletak di seberang jalan. Nyala obor sedikit menerangi lingkungan yang sedang dirundung kabut tipis. Sekali-kali cahayanya bergetar kecil oleh angin yang lewat.
Sejenak mereka bertukar sapa dengan Agung Sedayu saat menantu Ki Demang Sangkal Putung melintasi gardu.
“Ki Rangga,” ucap seorang pengawal.
“Selamat malam,” sahut Agung Sedayu disertai anggukan kepala.
Dia menghentikan langkah lalu menyerahkan tali kekang ketika pengawal yang lain menawarkan bantuan untuk membawa kuda. “Terima kasih,” katanya pada pengawal itu.
Untuk beberapa waktu, mereka berbicara ringan.
Agung Sedayu melangkah lagi hingga tiba di regol kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Dia berhenti beberapa langkah dari gardu. Seperti sebelumnya, seorang pengawal datang menyapa.
“Ki Demang dan keluarga, untuk sementara, tidak di kediaman,” ucap pengawal itu.
Agung Sedayu mengangguk. Bicara ramah seperlunya kemudian mengayun langkah memasuki halaman, menapak tlundakan lalu tiba di depan pintu pringgitan. Ada yang aneh, menurutnya. Dia tidak mendengar suara orang bernapas di bagian dalam rumah.
Sekejap kemudian, seseorang mendekatinya dari arah regol.
“Maaf, Ki Rangga,” ucap lirih penjaga regol. “Nyi Sekar Mirah berpindah ke halaman belakang.”
Agung Sedayu menautkan alis sebentar tapi wajahnya tetap terlihat tenang.
“Mari, saya antar,” kata penjaga regol sambil menggerakkan tangan di depan perutnya.
“Terima kasih,” sahut Agung Sedayu lalu menyentuh perlahan pundak anak muda itu. Senapati Mataram itu kemudian memasuki pringgitan, terus berjalan melewati beberapa ruangan lagi hingga pintu belakang. Dia mendorong pelan. Sebentang tanah lapangan menjadi pemisah antara dirinya dengan bangunan kecil yang ditempati Sekar Mirah dan putrinya.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Di atas atap kediaman tampak kabut tipis mengapung pelan tanpa sentuhan angin. Beberapa sudut tampak terang dari nyala obor dengan api kecil menari-nari. Suasana sunyi di depannya tidak berbeda dengan bagian dalam rumah utama.
Agung Sedayu menapak halaman dengan langkah tenang, wajah sedikit merunduk memandang permukaan tanah. Setibanya di depan pintu rumah kecil itu, dia berhenti, mengetuk perlahan dengan nada yang tidak pernah berubah setelah belasan tahun lamanya.
Terdengar gerak kaki berayun dari balik daun pintu. Pintu bergeser perlahan seakan ingin menahan derit agar tidak keluar semena-mena lalu terbuka sedikit dan suara Sekar Mirah terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Kakang,” ucap Sekar Mirah
Agung Sedayu menangguk. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya dan tertahan.
“Mirah,” kata Agung Sedayu.
Tidak banyak yang diucapkan Sekar Mirah. Setelah membersihkan meja, dia pergi ke belakang, menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Agung Sedayu.
Sejenak kemudian, mereka sudah duduk berdampingan, menghadap hidangan lalu menyantap perlahan.
“Apakah Kakang singgah di Kepatihan? Bagaimana keadaan Ki Patih Mandaraka?” tanya Sekar Mirah dengan nada rendah.
Agung Sedayu sedikit mengangkat wajah, tertahan sebentar lalu mengangguk. Setelah mengunyah lalu menelan makanan, jawabnya, “Beliau dalam keadaan baik. Ki Patih mengatakan ingin lebih banyak mengurangi beberapa kegiatan.”
Malam bergerak sunyi.
Setelah usai menikmati awal pertemuan, dari balik bilik kecil, terdengar isak pelan anak perempuan mereka. Agung Sedayu dan Sekar Mirah beranjak bangkit, memenuhi kebutuhan Sekar Wangi, lantas membicarakan hal lain yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.
Seperti malam-malam sebelumnya, rumah itu tetap menjadi tempat mereka kembali hingga fajar datang lalu menyapa seisi kademangan. Rumah Ki Demang Sangkal Putung bergerak dengan kegiatan pagi yang tidak berisik.
“Kakang, Kyai Bagaswara ada di gandok tengen sejak pertempuran Watu Sumping,” ucap Sekar Mirah pada Sedayu yang sedang menimang-nimang putrinya di beranda.
